Selasa, 11 Juni 2013

Dibalik Kegelapan Berselimut Cahaya

Di bawah lindungan bintang aku melangkah
Menyusuri trotoar yang penuh sesak
Entah kemana langkahku membawa
Aku hanya menikmatinya
Bersama taburan bintang yang gemerlap
Namun perlahan lenyap dari pandangan

Hai manusia sadarkah kalian
kau mencoba cipta apa yg sudah ada
Cahaya palsu yang silaukan mata
Pernahkah kalian mencoba
Pejamkan mata sebentar saja
Rasakan hadir-Nya dalam gelap malam
Dia akan datang bersama bintang

Tapi mungkin ini yang terbaik
Meski jutaan bintang harus menangis
Tersapu oleh cahaya yang dingin
Yang kalian ciptakan dengan tangan kotor kalian ini
Aku hanya bisa merasa pedih
Dalam cahaya yang palsu di muka bumi

Nah manusia di bumi yang sekarat
Bisakah aku rasakan lagi gemerlap bintang di sisi bulan
Untuk sekali ini saja
Tepat sebelum aku hilang
Dibalik cahaya palsu kalian
Dibalik cahaya dingin dunia
Dibalik kegelapan yang berselimut cahaya
Aku akan hilang bersama semua bintang
Perlahan dan perlahan
Hingga kalian sadar mata kalian lah yang telah tenggelam
Dalam kegelapan yang kalian cipta

Debu Es

Dalam lautan api aku membeku
Merasa ada yang hilang dariku
Entah apa itu, aku tak pernah tahu
Yang aku tahu, aku sekarat menjadi debu
Debu es dalam api yang memburu

Di sini tak ada yang tersisa
Hanya kenangan yang tak akan hilang
Dari semua manisnya hari yang telah lewat
Bolehkah air mataku jatuh dalam duka?
Memecah kenangan indah yang telah ku cipta
Hancur menjadi debu es di udara

Kini api kepedihan membakar jiwaku
Namun hatiku tak akan meleleh dan terus membeku
Tak satu pun rasa dapat menyentuhku
Aku hanya terpecah menjadi debu

Seorang yang tak pernah di sana...
Pernahkah kau mencoba menyentuh aku yang terluka?
Aku selalu menanti dalam duka
Padamu yang tak pernah ada
Ya... Padamu yg hanya sebuah khayalan belaka

Dan hati ini pun membeku ketika kau hilang
Dari pikiran dan rasaku untuk selamanya
Semakin dingin jiwaku terasa
Semakin gelap mata yang selalu kau tatap
Dalam ketiadaan yang kau coba cipta
Dengan segala harap untuk menjadi ada

Biarkan ku tulis sebuah surat
Untukmu yg tak pernah di sana
Biarkan aku sekali lagi merasakan engkau ada
Dalam serpihan hati yang membeku
Biarkan aku kembali mencintai sebuah bayang
Meski itu hanya memberiku luka
Dan merubah hatiku menjadi es dalam gelap
Yang kemudian terpecah menjadi debu es yang beterbangan di udara

Melebur Dengan Ketidak Pastian

Dalam gelap ku meraung
Merasa ada dalam kepalsuan ini
Tubuhku terasa kosong dari kehidupan
Mungkin aku hanya cangkang yang terbuang
Satu-satunya yang terbuang

Hanya terdengar suara angin yang berlarian
Tanah ini terasa gersang dalam jiwa
Semua yang ku lihat adalah kesalahan
Hidupku adalah sebuah kesalahan
Keberadaanku pun hanyalah sebuah kesalah

Dan ketika langit menangis dalam gelapnya pagi
Aku ikut bersamanya
Menengis mengejang dalam leburnya kesakitan
Jatuh menjadi air mata yang kering
Karena bahkan air mata pun tak dapat melepas pedih

Mata yang menatapku rendah
Tertawa dalam semua ketidak adilan ini
Aku bersumpah akan merebut semuanya
Membungkam bibir busuk mereka dengan mencabut jantungnya
Semua akan berakhir dalam satu detik
Dan mereka akan kembali
Kepada ketidak adaan

Karena hanya ada satu yang pasti dari hidup ini
Ketidak pastian...
Tidak ada yang pasti selain ketidak pastian
Dan begitu juga dengan apa yang ada
Semua tawa yang akan hilang itu
Karena yang ada hanyalah ada

Padam Oleh Waktu

Dalam bisu aku terdiam 
Menatap lekat dedaunan yang gugur 
Gelap... 
Tempat ini gelap 
Tanganku mencoba meraih 
Tapi tak satu pun tersentuh 
Semuanya lenyap perlahan 

Dapat ku rasa darah segar menetes 
Perlahan membasahi dadaku yang berlubang 
Semua tangisan itu... 
Aku tak dapat melihatnya 
Namun suara yang menyayat itu 
Terngiang jelas di telingaku 
Juga di hatiku 

Apa aku harus pergi? 
Apa aku telah roboh? 
Di sini amat gelap dan dingin 
Tanpa ada seorang pun menggenggamku 
Aku kedinginan... 
Dimana kalian, kawan? 
Dalam kegelapan ini, Aku takut untuk tahu 

Butiran bening yang menetes 
Dari kedua bola mata ini 
Bahkan tak seorang pun mendengarku 
Menangis menjerit dalam sakit 
Dalam ketakutan akan kebenaran 
Bahwa aku kini telah pergi 
Telah lenyap dalam mimpi yang abadi 

Kini hanya ada remah akan memori 
Semua perlahan terhapus dan enyah 
Entah apa kalian akan mengingatku 
Kesatria berpedang pena dan bertameng kertas 
Yang selama ini selalu di sini 
Berperang dengan lukisan dari rangkaian kata 
Dan akhirnya kalah mencium tanah 
Oleh takdir yang rebut semua 
Kebanggaan, kehidupan, dan bahkan harapan 
Semuanya telah hilang... 
Termakan oleh waktu

Semua Ini Hanya Kepalsuan

Di sini ku terdiam
Memandang layar yang entah apa isinya
Cahaya yang terang terasa gelap
Hanya ada senyum dalam ruang
Semua sepi dalam diam

Mata yang merekam kejadian
Sedihnya ini hanya sebuah kepalsuan
Semua terdiam
Semua terenyak
Lalu kita melihat
Dia tidak tahu aku tidak benar-benar di sana

Jejeran angka dan kata tak berakhir
Semua hanya akan terkikis
Perlahan meredup dalam sebuah memori
Bukan itu yang sebenarnya ku cari
Memang bukan takdirku berada di sini

Dan hanya ada umpatan di akhir cerita ini
Hatiku pun melemah melihat lembaran yang tak lagi bersih
Dan berapa banyak gores yang hilangkan putih
Cerita ini tak akan jadi suci
Karena ini hanyalah ilusi yang butakan hati
Ketika aku pergi dan menghilang dari sini

Sebuah Melodi Untuk Hati

Pagi yang dingin di sebuah ruang 
Alunan musik dari piano perlahan berdenting 
Dalam sekejap aku menoleh ke ruang itu 
Dan... Mataku meneteskan air mata 
Betapa indahnya melodi ini 

Namun semua itu perlahan menghilang 
Hatiku menjadi resah dan inginkan lagi 
Namun yang ku dapat hanyalah sebuah ruang penuh debu 
Semua yang ku harap ada telah hilang 
Dan yang tersisa hanya bekas-bekas melodi di dinding 

Hati ini perlahan meredup 
Merasakan semua pedih dalam kekosongan 
Rasanya hatiku remuk hingga tulangku pun merasakannya 
Semuanya terlihat sangat menyakitkan 

Namun kan ku pungut serpihan hati ini 
Dalam ruang yang mulai gelap 
Aku akan tetap menunggu 
Hingga melodi itu beralun kembali 
Meskipun harus penuh dengan kepedihan 
Aku tetap akan bertahan dalam kekosongan 
Demi untuk mendengarnya lagi 
Demi alunan piano penuh cinta itu lagi

Akhir Dari Seorang Kesatria

Berjalan perlahan di bawah lindungan mendung 
Aku mencoba kembali meraba apa yang telah ku lewati 
Semua terasa hilang tak bersisa 
Kenangan dan harapan yang lama ku simpan 
Juga bahkan aku kehilangan diriku sendiri 

Sakit terasa ketika ku mencoba memegang pena 
Senjata yang selalu ada ketika aku dalam duka 
Namun sekarang dia tak lebih dari sebuah pena 
Bukan... Bukan penanya yang salah 
Ini semua karena aku dan hanya aku 

Hatiku membeku seiring kertas yang tetap bersih 
Teriris akan masa lalu saat semua mengelu-elukan namaku 
Kini aku hanya batu yang tak berhati 
Tenggelam dalam cahaya 
Dan perlahan, aku hancur tak bersisa 

Langit pun menangis menemaniku 
Air mata yang tak dapat lagi ku tahan 
Aku merasa benar-benar musnah dari dunia kalian 
Sakit yang bahkan tidak bisa ku rasakan lagi 
Mungkin ini sebuah akhir dari seorang kesatria 
Kesatria bersenjata pena dan bertameng kertas

Mengapa Aku Berbeda?

Putih kertas di genggamku 
Aku terus menulis, tetapi tak sehuruf pun muncul 
Penaku masih penuh dengan tinta 
Lantas mengapa kertas ini tetap kosong? 
Mengapa aku tetap gerakkan penaku? 

Hanya lilin dengan api kecilnya 
Ruangan ini masih terasa gelap 
Bagai mataku tak dapat menangkap cahaya 
Apa aku telah buta? 
Ataukah hanya pantulan dari khayalku? 

Langit tampak begitu gelap tertutup mendung 
Hujan mulai turun setitik demi setitik 
Ketika menjadi badai pun, aku tetap bertanya 
Mengapa aku tetap kering 
Mengapa terasa begitu gersang? 

Bumi yang ku injak tiap waktu 
Yang menjadi tempatku menghabiskan hidup 
Dimana semuanya dapat ku sentuh 
Namun mengapa terasa jauh? 
Mengapa malah langit yang terasa dekat? 

Ketika aku berlari mengejar 
Aku tahu itu engkau yang ku lihat 
Hanya diam dan memandangku 
Lantas mengapa tak terkejar? 
Mengapa semakin jauh dari genggamku? 

Hidup yang terikat oleh waktu 
Semua berjalan dalam setapaknya 
Mereka tahu mereka ada 
Mengapa aku tidak? 
Mengapa aku merasa tidak ada? 

Semua telah ku tanyakan 
Tak seorang pun dapat menjawabku 
Semua terdiam membisu 
Mengapa hanya aku yang dapat bersua? 
Mengapa hanya aku?

Indonesia

Tanah lapang nan hijau 
Aku berdiri di tengahnya 
Dengan bangga ku busugkan dada 
Menatap cahaya yang gelapkan ruang 
Aku tau aku akan menang 

Dan di sini ku berdiri 
Berteriak dalam riuhnya bumi pertiwi 
Garuda di dadaku, garuda di jiwaku 
Dari matamu yang memandang dengan tajam 
Sayap yang mengepak indah dan gagah 
Kau genggam sang merah dan putih 
Kibarnya kobarkan semangat 

Jiwa yang lapar atas kemenangan 
Aku berdiri di sini 
Berlari dan memburu 
Berjuang untuk negeri tercinta 
Hanya satu nama, satu makna, satu nyawa 
Indonesia! 
Berkibarlah selamanya 
Dan dunia akan takluk pada kita 
Pada Indonesia

Buatlah Aku Ada

Matahari telah hilang di ujung sana 
Lampu jalanan pun menyala bergantian 
Tetapi aku tak merasakan cahaya itu 
Kegelapan telah merasuk ke dalam jantungku 
Menyeruak dalam hatiku 
Dan mengalir bersama darahku 

Aku hanyalah bayangan diantara cerahnya dunia 
Keberadaanku tidak nyata diantara kefanaan 
Tak seorang pun melihatku 
Aku tak pernah benar-benar ada 
Lalu untuk apa aku tetap mencoba? 

Ribuan bahkan jutaan langkah di bumi ini 
Aku bahkan tak tahu mengapa aku menghitung 
Semuanya terasa tak berarti 
Mengapa dan mengapa 
Aku tak pernah tahu... 

Semua terasa kosong 
Tuhan, berkatilah aku 
Meski dengan kutukan sekali pun 
Biarkan aku merasa ada 
Merasa nyata... 
Meski dalam semua kepedihan ini 
Buatlah aku ada... 
Dalam semua kebohongan ini 
Dalam bayangan ini

Bahagialah

Mata ini kembali terbuka 
Kembali dari dunia mimpi yang fana 
Matahari bersinar menerangi bumi 
Sekarang bukan waktunya tuk mengeluh 
Tapi sekarang waktunya untuk bangkit dan percaya 

Rasakan hembusan angin yang terbangkan anganmu 
Melayang-layang di antara awan putih di angkasa 
Langkahkan kakimu di bumi pertiwi ini 
Rasakan kuatnya energi dalam tiap getar tubuhmu 
Tuhan lah yang beri semua karunia ini 

Jadi kenapa kau masih bersedih? 
Kau menyesali masa lalumu? 
Itu tak berguna, kawan... 
Lihatlah ke depan dan kejar cita di hatimu 
Tak perlu menengok lagi 
Itu hanyalah masa lalu yang tak kan pernah bisa kau rubah 
Dan kita hidup bukan untuk meratapi hal yang lalu 
Kita hidup untuk bergerak maju ke depan 

Genggamlah erat tanganku 
Kan ku bawa ke tempat kau akan bahagia 
Dimana anganmu melayang dan tertawa 
Bahagia yang telah lama hilang, akan dapat kau rasakan lagi 
Ingatlah untuk tetap hidup kawan 
Bukan untuk aku... 
Tapi untuk dirimu sendiri dan masa depanmu 
Biarkan khayalmu memenuhi jiwamu 
Rasakan bahagia itu sekali lagi 
Dan hidup akan selalu seperti itu 
Bahagialah kawan! 
Bahagialah...