Jumat, 20 Juli 2012

acrophobia


Aku berdiri di sini. Sebelumnya, tidak pernah aku mau berada di tempat setinggi ini. Aku takut ketinggian. Kalau tidak karena dia, aku tidak akan pernah mau.
     “Kamu siap?” kata pembimbing di belakangku. Aku hanya mengangguk perlahan tanpa menoleh. Aku berusaha menenangkan hatiku sekali lagi. Aku yakin tidak akan apa-apa. Bungee jumping ini dapat mematahkan Acrophobia ku.
     “Ikuti aba-abaku! Satu.. Dua… Lompat!” dan aku melompat sesuai dengan aba-aba itu. Aku merasa seperti terbang dan ini menyenangkan.
     Tiba-tiba firasatku merasakan hal tidak baik. Beberapa pantulan setelahnya terdengar suara panik dari  orang di bawah. Talinya terputus. Aku mulai panik. Aku cari sosoknya di dalam kepanikanku. Aku sangat berharap dia tidak melihat ini.
     Aku menutup kedua mataku. Semuanya terasa lamban. Sangat lamban. Teriakan panik mereka bahkan hampir menghilang. Berakhir sudah…

*   *   *

Hari itu, 10 bulan yang lalu. Koridor sekolah terasa sangat sepi. Aku tahu kalau ini masih terlalu pagi, tetapi biasanya juga tidak terlalu sepi seperti ini. Mungkin karena tadi sempat hujan sebentar, yang lain jadi punya alasan untuk datang telat.
     Ketika aku sampai di kelas, rupanya masih kosong juga. Aku sempat curiga ini sebuah jebakan atau aku masuk ke dunia lain di mana teman-temanku yang lain tidak bisa masuk. Oke, itu terlalu berlebihan. Kembali ke masalah awal kita, kemana yang lainnya? Aku tahu ini hujan pertama setelah kemarau panjang kemarin, tetapi masa harus bolos semua gini? Aku jadi heran sama pola pikir mereka.
     “Pagi…” seseorang masuk. Itu Gadis. Wajahnya ceria seperti biasa.
     “Pagi” balasku “Kering nih? Hahaha…”
     “Iya dong. Kan dianter naik mobil” dia tersenyum jenaka. Menunjukkan sederet giginya yang dibehel hijau tosca. “Situ sendiri juga kering kan?”
     “Lah kan kelas ini emang pengering yang baik. If you know what I mean sih…” lalu kita berdua ngakak mengingat kemarin kelas ini sudah kayak oven.
     “Eh, sekarang sudah masuk musim hujan kali. Gak mungkin lah panasnya kayak kemarin lagi. By the way… Rani belum datang ya?”
     “Oh si rambut berantakan itu? belum. Aku yang pertama datang nih” aku diam sebentar. “Iya juga ya… Kan biasanya dia yang datang pertama” aku jadi ingat anak itu. satu-satunya perempuan yang rambutnya tidak pernah rapi. Pendiam dan polos banget. Kalau bukan karena aku dan Gadis, pasti tidak ada yang tahu kalau dia itu pemain saxophone yang hebat. Berkulit lumayan putih dengan mata agak sipit. Kadang kepolosannya itu bikin ngakak Aku dan Gadis.
     Bengongku buyar karena tiba-tiba Rani datang dengan basah kuyup dan bibir yang membiru. Badannya yang mungil itu menggigil. Satu-satunya darinya yang tidak basah hanya ranselnya yang ditutupi raincoat.
     “Ran! Kamu gak apa?” Gadis langsung panik. Rani hanya menggeleng tanda dia tidak mau di tanyai apa-apa. Dia termasuk anak yang tertutup pada orang lain. Gadis jadi makin panik. Bisa mati nih anak.
     Aku langsung melemparkan jaket tebalku, kemudian aku membongkar tasku untuk mengambil handuk yang sudah aku siapkan dari kemarin karena sebenarnya hari ini ada olahraga. Aku lemparkan saja pada Gadis. Dengan cekatan dia membungkus Rani dengan jaket kulit itu dan mengeringkan rambut dan badan Rani dengan handukku. Aku hanya geleng-geleng kepala.
     “Makasih ya… Kalian berdua” ucapnya sambil masih gemetaran karena kedinginan. Aku dan Gadis tersenyum mendengarnya. Dasar anak ini, bikin panik saja.
       “Iya Rani, sama-sama. Kamu bilang dong kalau butuh sesuatu! Biar kita gak panik gini. Liat tuh bibir kamu sampai jadi biru gitu” rani terkekeh mendengar ucapan Gadis. “Ih, malah ketawa dia…” Gadis cemberut. Dasar anak perempuan.
     Sejak saat itu Rani jadi lebih terbuka, meskipun hanya pada kita berdua sih. Aku tetetap saja senang dengan perkembangannya. Entah sejak kapan dia jadi anti sosial seperti ini.
     “Ozzy… Kamu kapan mau ngamen sama Gadis lagi? Aku ikut boleh?” Rani bertanya saat aku sedang ngomongin musik sama Gadis dan yang lain.
     “Sabtu malam mungkin. Kamu serius mau ikut?” Rani mengangguk.
     “Rencananya dimana, Zy?” tanyanya lagi.
     “Di taman kota. Aku nanti bawa sound system kecil yang nanti disambungin ke pick up. Kayak biasanya”
     “Oh… Iya nanti berangkat bareng ya?”
     “Ada syaratnya, Ran!”
     “Apa?”
     “Rambutmu nanti disisir yang rapi ya?” ujarku sambil menunjuk ke rambutnya.
     “Hehehe… Iya tenang aja. Aku bakal rapi nanti” dia mengacungkan jempol sambil tersenyum. Aku terkesima. Manis banget!

*   *   *

Sabtu malam. Aku dan Gadis sudah di depan rumah Rani. Perlengkapan yang dibutuhkan sudah di pick up semua. Tinggal Rani dan alto saxophone-nya aja nih.
     “Hai! Hehehe… Lama ya?” Rani keluar dari rumahnya. Dia mengenakan jeans biru gelap dan kemeja flanel kotak-kotak biru favoritya. Kali ini dia memakai kacamata, tidak seperti biasanya yang memakai soft lens bening. Rambutnya yang panjang tertata dan diikat rapi tanpa ada sehelai pun yang tampak berantakan. Tak pernah aku melihat dia semenawan ini.
     Gadis menangkap maksud bengongku ini. Dia tertawa geli. Sambil nyenggol dia bisik-bisik “Cakep ya? Kesengsem ya?” wajahku langsung berubah merah. Sial!
     “Ayo berangkat” seru Rani bersemangat. Kita bertiga pun berangkat ke taman kota.
     Di taman kota tampak banyak orang yang sedang berpacaran. Kami pun memulai instrumen kita masing-masing. Gadis dengan gitar akustiknya, aku dengan bass kesayanganku, dan rani dengan alto saxophone yang tampak mewah itu. Alunan musik jazz yang kita bawakan saat itu cukup mengundang pengunjung. Berulang kali Gadis menyenggolku saat Rani sedang jamming. Sialan banget! Aku ketahuan merhatiin Rani terus.
     Sesudah ngamen, kita biasa main ke rumahnya Gadis. Uang yang kita dapat selalu kita beri pada panti asuhan atau panti jompo yang sudah kita survei sebelumnya.
     Aku sedang tiduran di sofa depan tv ketika tiba-tiba Rani datang dan memandangku dengan aneh. Semakin lama semakin aneh saja cara menatapnya.
     “Kenapa Ran?” akhirnya aku bertanya. Kuubah posisiku menjadi duduk biasa. Memberi ruang pada Rani.
     “Enggak…” dia cuma menggeleng. Lalu duduk di sebelahku. Aku yakin kalau Gadis tau, dia bakalan ngeledekin aku habis-habisan sampai Rani paham. Rambutnya mulai berantakan lagi. Aku menghela nafas.
     “Kayaknya rambutmu itu memang ditakdirkan selalu berantakan ya?” mendengar hal itu, Rani terkekeh. Dia amat suka mendengar hal tentang rambutnya yang berantakan.
     “Bukannya kamu ya dulu yang bilang untuk jadi senyaman mungkin sama diri kita sendiri?” Rani menyindir. Tawanya yang renyah itu memenuhi seluruh ruangan ini. Aku sangat menyukai momen seperti ini.
     “Hayooo lagi pacaran ya?” tiba-tiba Gadis muncul dari belakang. Tampaknya dia sudah mengintai dari tadi.
     “Eh, uh… Endak kok. Kita Cuma lagi bercanda aja, Gadis!” ucap Rani sedikit terbata-bata.
     “Alah gak usah bohong lagi. Itu wajah kamu merah” Gadis menunjuk ke wajah Rani. Benar, wajahnya merah sekali.
     “Udah ah! Kenapa jadi absurd sih?” ujarku mencoba netral.
     “Ih ini juga gak mau jujur sama perasaannya sendiri” aku terdiam. Dia menghujamku tanpa basa-basi. To the point.
     “Eh? Ozzy?” Rani langsung menoleh ke arahku. Aku membuang muka.
     “Yeeeeeey! Berhasil!” Gadis langsung lari dengan bahagianya. Sungguh biadab!
     “Kamu… Apa itu bener, Zy?” aku masih belum berani menoleh. Sialan si Gadis! Dia terlalu mudah buka aib orang!
     “Iya…” aku jawab dengan sangat pelan. Entah mengapa, aku malah terasa lega.
     “Syukur deh” apa? Aku tidak percaya dengan apa yang aku dengar barusan. “Aku juga sama kok, Zy” itu menjelaskan semuanya.
     “Kamu… Serius?” aku membalikkan badanku. Dia mengangguk. Wajahnya yang polos itu sangat meyakinkan kalau dia tidak berbohong.
     “Tapi… Aku lebih suka seperti ini”
     “Sama” potongku cepat. “Karena cinta sebagai sahabat itu lebih agung dari cinta sebagai kekasih” Rani tersenyum.
     “Seperti apa yang kamu katakan dualu kan?” dia tersenyum. Aku mengangguk mengiyakan.
     “Sekarang mana itu Gadis? Aku mau kasih pelajaran buat dia.” Segera aku mencari si gadis untuk membalas dendam. Menggelitikinya.

*   *   *

Sejak saat itu, kita bertiga jadi makin kompak. Kita memang punya kepribadian yang berbeda. Gadis yang Sanguinis. Rani yang Melankolis. Dan aku… Aku apa ya? Hahaha… sudahlah, itu tidak terlalu penting. Kami selalu ngamen setiap malam minggu kalau tidak sedang hujan. Lokasinya pun selalu berganti-ganti. Aku sendiri selalu menunggu saat ngamen itu, karena hanya pada saat itu, aku bisa melihat sosok Rani yang lebih cantik dari biasanya.
     Suatu malam ketika kita habis ngamen. Seperti biasa, kita selalu mampir ke rumah Gadis untuk beristirahat sejenak. Aku mengajak Rani tuduran di rumput di taman belakang rumah Gadis. Malam itu bintang tampak dengan jelas karena sebenarnya sedang lampu mati. Di sini hanya ditemani butiran bintang dan sinar sang rembulan yang tampak lebih terang. Romantis. Itu mungkin kesan yang terasa.
     “Indah yah?” kata rani dengan wajah polosnya yang tetap menghadap ke langit.
     “Kamu tahu? Sinar yang kita lihat detik ini, bisa saja sinar yang bintang itu pancarkan beberapa hari lalu. Bahkan bisa juga beberapa tahun yang lalu. Itu karena jarak antara bintang itu dan bumi ini sangatlah jauh. Dan bersyukurlah kamu karena kita masih bisa melihat keindahan ini. Sering kali cahaya itu terhalang oleh cahaya yang memenuhi langit dari lampu-lampu gedung yang terang itu…”
     “Polusi cahaya…” desisnya.
     “Tepat sekali. Asap dari kendaraan bermotor juga dapat menutupi langit sehingga cahaya bintang yang hanya tersisa sedikit itu jadi makin tak tampak. Sangat disayangkan bukan?” aku menghela napas. “Aku ingin merubah dunia ini…”
     “Aku juga. Bumi ini sudah terlalu tercemari. Global warming, pencemaran air di laut dan di saugnai, pencemaran udara, pencemaran udara, bahkan yang simpel seperti polusi cahaya. Aku merindukan bumi yang dulu”
     “Bumi yang hijau dan damai seperti saat kita kecil, bukan?” Rani mengangguk.
     Keadaan senyap kembali. Lama kita diam tanpa ada sehuruf pun keluar dari bibir kita berdua. Sama-sama menikmati keindahan dari ciptaan Tuhan yang sering kali tidak kentara.
     “Menurutmu mengapa Tuhan mencipkana dunia ini? Mengapa diciptakan manusia seperti kita? Dan… Siapa kita?” aku melontarkan pertanyaan itu begitu saja. Tanpa aku pikir dulu sebelumnya. Aku sendiri juga kaget kenapa aku bisa bertanya tentang hal itu.
     “Aku tidak tahu. Oleh sebab itu aku ada. Aku ada untuk mencari jawaban atas pertanyaan itu. Cogito ergo sum. Kamu tahu kata-kata itu kan, Zy?”
     “Aku berfikir maka aku ada… Plato” timpalku. “Sebenarnya manusia itu diciptakan untuk berfikir. Oleh karena itu manusia memiliki kelebihan berupa akal. Tidak seperti binatang yang hanya memiliki nafsu dan naluri. Manusia yang tidak pernah berfikir itu ibarat seonggok daging yang punya nama dan bisa jalan. Hihihi…”
     “Hihihi… Bisa aja kamu, Zy. Jadi intinya, kita diperintahkan untuk berfikir dari semua kejadian dan benda yang ada di muka bumi ini kan?”
     “Bukan hanya bumi, tapi seluruh alam semesta ini”
     “Kamu memang bukan orang biasa, Zy. Kamu memiliki pemikiran yang berbeda dari orang lain. Sudut pandang, pola pikir. Semuanya berbeda. Itu yang membuatku kagum. Kamu selalu punya caramu sendiri”
     “Well… Setiap orang selalu punya caranya sendiri untuk melakukan suatu hal” ucapku sambil tersenyum. Rani pun juga tersenyum.
     “Eh, ada semut” dia menunjukkan jarinya yang dilewti oleh semut hitam kecil itu. “Geli. Hihihi…”
     “Kenapa semut yang sekecil itu tidak takut pada manusia yang sebesar ini padahal hewan lain yang lebih besar semacam burung pipit dan kucing langsung lari ketika didatangi oleh manusia? Kamu tahu jawabannya?”
     “Yaaaa mungkin seperti roll permainan manusia-gajah-semut itu kan? Manusia mengalahkan semut. Gajah mengalahkan manusia. Semut mengalahkan gajah. Seperti itu kan?”
     “Sebenarnya bukan itu yang aku maksud, tetapi itu pemikiran yang benar. Jadi burung dan kucing itu memiliki brain power yang kaya secara metabolis, yang lebih kuat daripada semut. Itu menyebabkan burung dan kucing punya kemampuan yang lebih dalam memahami bahaya seperti manusia. Mereka jadi bisa membedakan mana yang berbahaya, mana yang tidak”
     “Oh… Jadi gitu ya? Kamu tahu banyak hal”
     “Hehehe… Berkat internet sih” aku menunjukkan muka jenakaku.
     “Eh? Dasar… Aku kira tahu dari mana gitu” dia memukul pundakku pelan. Kita lalu tertawa bersama. Tidak lama kemudian lampu menyala kembali. Bintang-bintang mulai ‘hilang’. Bersembunyi di balik gemerlap bumi ini.

*   *   *

Beberapa bulan kemudian. Ujian sekolah telah usai. Tepat hari ini adalah hari terakhir ujian kenaikan kelas. Semua tampak senang dan pergi enath kemana. Aku sih cuma di kelas. Ngobrol dengan teman-teman tentang ujian tadi. Memang itu ujian paling biadab menurutku. Matematika. Aku yakin kalau yang membuat soal bukan manusia. Sangat yakin! Tiba-tiba ponselku berbunyi. Ada pesan dari Rani. Dia minta aku naik ke atap sekolah.
     Deg! Tiba-tiba keringat dinginku meleleh. Tempat itu… Kenapa harus tempat itu?
     “Eh, aku mau keluar dulu. Dah…” aku keluar kelas menuju tempat yang diminta Rani. Dengan langkah yang diseret tentunya. Hatiku gusar tak karuan. Jantungku berdebar hingga hampir copot.
     Akhirnya aku sampai di pintu untuk ke atap. Aku buka perlahan. Tampak Rani yang berdiri menanti. Senyumnya merekah melihatku datang. Aku memaksakan bibirku untuk tersenyum.
     “Hai… Ada apa, Ran?”
     “Enggak hehehe… Cuma mau ngajak kamu duduk berdua aja. Ngeliatin langit. Kota keliatan bagus loh dari sini” dia berjalan ke ujung lalu menunjuk ke arah kota. Aku hanya tersenyum. Senyum yang dipaksa sih. Keringat dingin ini tidak mau berhenti menetes.
     “Sini deh, Zy” dia menghampiriku lalu menarikku. Aku ikut saja, tetapi ketika sampai di tepi, aku  langsung meloncat mundur. Jantungku serasa mau meledak. Nafasku memburu. Rani sedikit terkejut akan reaksiku. Dia lalu menghampiriku yang terjatuh ke belakang.
     “Kamu kenapa, Zy?” wajahnya tampak heran. Keringat dinginku terus menetes. Sial!
     “Aku…” aku menghentikan kalimatku. Badanku jadi gemetaran.
     “Kenapa, Zy? Bilang aja” wajahnya berubah khawatir. Terpaksa aku jujur.
     “Aku Acrophobia…” ujarku pelan. Malu.
     “Apa itu?” dia tampaknya tidak tahu apa itu Acrophobia.
     “Takut ketinggian. Aku takut berada di tempat tinggi, Ran” mendengar itu dia melongo.
     “Kamu serius?” aku mengangguk. Dia tampak sangat menyesal “Aku minta maaf ya, Zy?”
     “Iya… Gak apa kok. Toh emang aku gak pernah kasih tahu kalian kan?”
     “Maaf banget lho, Zy. Ayo kalau gitu kita turun” dia memberikan tangannya. Membantuku berdiri. Kami lalu turun.
     “Gak usah di pikirin, Ran. Gak apa kok. Serius deh” ucapku menghiburnya. Senyumku tidak terlepas sedetik pun. Dia jadi tampak tenang. Sudah ada senyum lagi di bibirnya.
     “Eh dari mana aja kalian? Pacaran mulu nih! Ayo pulang” Gadis langsung ngomel. Aku dan Rani hanya berpandangan terus ketawa. Mencoba melupakan hal tadi. Kita pulang bertiga dengan sepeda pancal kita masing-masing.

*   *   *

“Eh, Zy, entar ikut yuk” ajak Gadis saat di telfon.
     “Ha? Kemana?” jawaku sedikit malas. Ini masih pagi sekali.
     “Udah ikut aja. Rani juga ikut kok. Bawa mobil ya, Zy? Hehehe…”
     “Ish… Jadi kalian cuma mau manfaatin mobilku? Biar ku tebak. Mau shoping kan nanti?”
     “Hehehe…Tau aja. You know me so well lah, Zy. Entar ya jam 11-an ke rumah. Mobilmu kan yang paling kece”
     “Oke deh. Bensin di traktir ya?”
     “Gampaaaang…”
     “Deal. Jam 11 di rumahmu. Udah, mau tidur lagi nih. Dasar rese”
     “Iya iya sana tidur lagi. Entar dandan yang ganteng biar Rani seneng. Hahaha… Thanks ya bassis kece” telfon itu di tutup oleh Gadis. Aku menghela nafas lalu tidur lagi.
     Jam 11. Aku sampai di depan rumah Gadis. Polo shirt hijau lumut, celana jeans gelap dan sepatu casual lah yang aku pakai saat itu. aneh memang, aku jarang sekali memakai polo shirt.
     “Hai…” Sapaku saat memasuki ruang tamu.
     “Ecieee… Ozzy pake polo shirt. Hahaha…” ejek Gadis.
     “Ssst! Udah deh…” ucapku dengan wajah dibuat sok polos. Mereka berdua malah ketawa. Aku jadi ikut ketawa.
     “Ayooo berangkat. Aku ada beberapa barang yang harus dibeli”
     “Buka usaha sembako, Dis?” Rani membuatku tertawa terbahak-bahak. Aduh, kadang kepolosannya itu menghibur sekali. Gadis Cuma cemberut dibilang seperti itu.
     5 manit kemudian, kita sudah berada di atas mobil. Gadis yang nyetir. Entah kesambet apaan anak itu sampai mau-maunya nyetirin mobil.
     Di perjalanan firasatku mulai tidak enak. Aku coba menenangkan diri dengan memutar musik di mobil. Tetap saja tidak enak. Sesampai di Mal, perasaanku semakin tidak enak. Mobilku memasuki parkiran mobil. Naik. Terus naik hingga lantai yang paling atas. Keringat dinginku mengalir deras. Aku panik. Apalagi saat Gadis memarkirkan mobilku di ujung pas. Menempel ke pagar pembatas. Sial! Jadi ini maksudnya mau menyetirkan kita semua.
     “Kenapa kamu, Zy?” tanya Gadis cengengesan. Senang.
     “S… Sialan kamu, Dis!”
     “Hahaha… Ayo keluar! Ayou liat ke bawah dari sini, Zy. Bagus loh! Hahaha…” Sialan dia mengejekku terus. Terpaksa aku keluar dari mobil. Mataku kupejamkan agar tidak melihat pemandangan mengerikan itu. Aku berbalik dan langsung lari ke dalam mal. Berlari menjauh dari mereka. Sejauh mungkin. Aku kapok disetirin dia. Gak bakal lagi!

*   *   *

Liburan kenaikan kelas. Kami seangkatan mengadakan rekreasi ke pulau tetangga, Bali. Sudah lama aku ingin pergi berlibur ke sini, tetapi tidak pernah kesampaian. Baru sekali ini saja. Aku sudah senang setengah mati. Kamera DSLR ku tidak berhentimenjepret panorama-panorama yang begitu asing di mataku.
     “Zy…” Gadis meneriaki dari jauh. “Sini deh” aku menghampirinya.
     “Apaan?”
     “Liat tuh” dia menunjuk ke belakangnya. “Bungee jumping. Ayolah Zy… Biat takutmu hilang. Ini karena aku peduli, bukan karena aku mau usil sama kamu. Serius”
     “Ogah!” aku langsung lari menjauh. Gadis paham kalau aku tidak suka dipaksa, tapi tanganku tiba-tiba digenggam. Aku menoleh. Rani. Wajahnya tampak memelas. Aku luluh saat itu juga.
     “Oke, oke… Aku mau, tapi gak hari ini juga. Aku belum siap…”
     “Baiklah… Besok. Kita berangkat bareng. Oke?” kata gadis.
     “Oke…” aku yakin besok akan jadsi hari yang besar untukku.

*   *   *

“Uwaaaaaaaaaaaaaaah!” Gadis meloncat dari ketinggian 40 meter. Wajahnya tampak bahagia. Bagaimana bisa!? Aku menjambaki rambutku. Frustasi.
     “Oke, sekarang kamu, Zy” kata rani dengan senyum. Berusaha meyakinkanku.
     “Baiklah…” aku mulai mengenakan perlengkapan pengaman dan naik ke atas. Jantungku serasa mau meledak. Ini pengalaman pertamaku berada di ketinggian 40 meter. Semua ini untuk Rani. Hanya karena dia aku mau melakukan hal gila seperti ini.
     “Kamu siap?” kata pembimbing di belakangku. Aku hanya mengangguk perlahan tanpa menoleh. Aku berusaha menenangkan hatiku sekali lagi. Aku yakin tidak akan apa-apa. Bungee jumping ini dapat mematahkan Acrophobia ku.
     “Ikuti aba-abaku! Satu.. Dua… Lompat!” dan aku melompat sesuai dengan aba-aba itu. Aku merasa seperti terbang dan ini menyenangkan.
     Tiba-tiba firasatku merasakan hal tidak baik. Beberapa pantulan setelahnya terdengar suara panik dari  orang di bawah. Talinya terputus. Aku mulai panik. Aku cari sosoknya di dalam kepanikanku. Aku sangat berharap dia tidak melihat ini.
     Aku menutup kedua mataku. Semuanya terasa lamban. Sangat lamban. Teriakan panik mereka bahkan hampir menghilang. Apakah aku berakhir? Aku membuka mataku lagi.
     “Huh?” aku masih berada di atas. Apa ini? Déjà vu? Aku takut. Sangat takut.
     “Kamu tidak apa, dik?” tanya pembimbing.
     “Aku…” kepalaku terasa amat sakit.
     “Kalau kamu tidak sehat, lebih baik adik turun saja. Daripada nanti adiknya makin sakit”
     “Aku gak apa kok”
     “Yakin?” aku mengangguk. “Oke, ikuti aba-abaku. Satu.. Dua… Lompat!” Aku melompat. Mataku terpejam karena takut hal tadi benar-benar terjadi. Tetapi tidak. Aku mulai berani membuka maataku dan, hey… Ini sangat menyenangkan. Aku tertawa lepas. Berteriak sesuka hatiku. Aku sudah tidak takut!
     “Gimana? Enak kan?” tanya Gadis sambil memasang senyum jenaka yang menunjukkan sederet gigi yang dibehel hijau tosca itu.
     “Hehehe… Not as bad as I thought. Hehehe…”
     “Bener kan kataku?”
     “Iya iya nona gitaris” Gadis tersenyum bangga.
     “Yeeeey… Ozzy sudah gak takut ketinggian lagi. Hahaha…” teriak Rani senang.
     “Eh, lihat tuh rambutmu berantakan banget. Hahaha…”
     “Biarin! Kena angin nih. Tapi seneng kok. Hihihi…”
     “Makasih ya kalian berdua… Aku berhasil mematahkan ketakutanku” kami pun tertawa lepas. Menikmati liburan yang panjang ini. 

Minggu, 01 Juli 2012

Aku berlari sekuat tenaga untuk dapat keluar dari lorong yang penuh dangan genangan darah dan mayat teman-temanku yang berserakan bagai sampah.
Aku terus berlari dan berlari. Tak peduli jantungku serasa mau meledak. Tak peduli tubuhku sudah capai. Tak peduli hujan semakin deras. Yang penting bisa keluar dari tempat mengerikan ini.
“Hah… hah… hah…” nafasku tak beraturan, tapi tubuhku ini tetap kupaksa berlari. Ya tentu. Kalau tidak, nasibku akan sama dengan teman-temanku ini.

Entah sudah berapa jauh aku berlari menyusuri lorong yang gelap ini. Tiba-tiba saja tubuhku terjatuh. Aku tidak tersandung apapun. Hanya kakiku yang sudah tak kuat lagi berlari. Lututku lemas. Bahkan sudah kucoba berdiri dengan bertengger di tembok. Tapi tetap saja. Aku terjatuh lagi.
Tap… tap… tap…
Terdengar langkah kaki dari kegelapan. Suara itu semakin mendekat, sampai akhirnya tampak seorang lelaki mengenakan pakaian dan jubah berwarna hitam. Di tangan kanannya terdapat pedang berwarna hitam sedang di tangan kirinya berwarna putih. Kedua pedang itu berlumuran darah. Wajahnya tertutup oleh penutup kepala dari jubah hitamnya. Tak salah lagi, pasti dia penyebab adanya genangan darah dan mayat-mayat temanku ini.
“S-siapa kau? A-apa mau mu?” tanyaku takut.
Dia tetap melangkah mendekatiku.
“Berhenti!” aku benar-benar takut.
Dia samasekali tidak menghiraukan ku. Tetap melangkah kearahku.
“Kuperingatkan sekali lagi, BERHENTI!” teriakku ketakutan. Tamat sudah riwayatku.
Dia sekarang berdiri tepat di hadapanku. Lalu membuka tutup kepalanya.
“Hah!” aku seakan melihat diriku sendiri. “ A,apa? Apa maksudnya ini?” tanyaku bingung.
Dia hanya tersenyum pahit lalu mengangkat kedua pedangnya tinggi-tinggi. “Good bye!” katanya dan kemudian menebaskan kedua pedang itu bersamaan kearahku.
Aku menutup kedua mataku sebelum pedang itu benar-benar mengenaiku, dan saat aku membuka kelopak mata ini, aku melihat sesuatu yang berbeda dari yang aku lihat tadi. Ya, kamarku.
“Hah… hah… hah…” aku berusaha mengatur nafasku yang tidak karuan.

Aku berusaha meyakinkan diriku kalau aku bukan berada di alam lain. Aku masih hidup dan yang tadi itu hanya mimpi buruk.
“Rox!? Kau sudah bangun?” seseorang berteriak dari lantai bawah. Pasti Leon.
“Hoamh… Sudah!” balasku malas.
“Cepat turun! Kostum kita untuk pesta perpisahan nanti sudah datang!” teriaknya.

“Iya! Tunggu! Aku mau mandi dulu!”
“Cepet ya!?”
“Haduh! Nanti kan bisa? Nyantai dikit kenapa sih? Kaya aku bakal mati besok aja!” aku benar-benar jengkel. Dia selalu berlebihan.
Setelah mandi, aku melihat kostumku untuk pesta perpisahan nanti malam.
Betapa kagetnya aku melihat kostum milikku. Pakaian dan jubah serba hitam. Seperti dalam mimpiku semalam. Membayangkannya saja aku mau muntah, mengingat genangan darah dan mayat-mayat teman-teman yang berserakan, siapapun juga akan muntah.
“Kenapa Rox? Kekecilan? Atau malah kedodoran?” tanya Leon.
“Ah… enggak kok. Cuma…” aku tak melanjutkan kalimatku.
“Cuma apa?” leon bertanya sedikit memaksa.
“Cuma… kayak dalam mimpiku semalam” ujarku ragu.
“Mimpi? Emang semalam kamu mimpi apa?” Leon jadi heran.
“Ah… Lebih baik nggak aku ceritain. Abis itu mimpi buruk”
“Oh…” katanya lalu pergi meninggalkanku disini sendirian. Kami memang bersaudara. Lebih tepatnya bersepupu. Orang tuaku meninggal hampir 7 tahun yang lalu, karena kecelakaan pesawat bersama dengan orang tua Leon. Dan sekarang, harta warisannya yang seabrek adalah hakku. Aku dirumah ini berempat bersama Leon dan 2 pembantu kakak beradik yang sudah mengabdi pada keluargaku sebelum kedua orang tuaku meninggal.
Pagi ini aku sudah berada di dalam kelas. Duduk di bangkuku yang letaknya tepat di sebelah jendela yang mengarah keluar.
“Yo, Rox. Selamat pagi…” seseorang menyapaku. Itu Zack.
“Pagi juga” jawabku singkat lalu membuang pandanganku ke luar. Aku begitu resah. Entah mengapa? Aku tak tahu.
“Kenapa kamu? Pagi-pagi udah murung. Nggak kamu banget” Zack kayaknya khawatir padaku.
“Entahlah Zack. Aku juga nggak tahu. Ada sesuatu hal yang membayangiku” kataku tetap resah.
“Ada yang kamu sembunyikan dari aku. Aku bisa menciumnya”
“Tidak. Hanya saja, mungkin tentang mimpiku semalam”
“Hm… Jadi mimpi. Mimpi apa sih? Jadi pacarnya Marry ya?” ledek Zack yang langsung digugat sama yang bersangkutan. Ya, Marry.
“Apa tadi kamu bilang? Aku hajar kamu kalau berani ngomong gitu lagi” sembur Marry yang langsung menbuat Zack mengkeret. Aku Cuma tertawa melihat adegan ini.
“Jadi bener kamu mau tau zack?” tanyaku
“Ngomongin apa sih? Aku jadi penasaran” Marry yang tadi ngamuk-ngamuk gak karuan, eh, sekarang malah ikutan.
“Mimpinya semalam” jawab Zack hati-hati biar gak kena sembur lagi.
Marry Cuma mangut-mangut.
“Sudah ah. Percakapan ini lebih baik nggak dilanjutkan” ujarku.
“Ah, kamu Rox. Selalu bikin orang penasaran” keluh Marry.
“ Bukan gitu Mar. aku takut kalian shock mendengarnya dan bisa-bisa malah nggak mau ngomong lagi sama aku. Pokoknya ngeri. Ngingat aja takut” kataku. “ Tolong biarkan aku sendiri!” aku pergi meninggalkan mereka.
“Dasar! Selalu begitu!” kata Mary dongkol lalu kembali ke bangkunya.

* * *

Di atap sekolah. Aku melamun sendirian sambil menatap langit yang biru. Hari ini aku fakultatif karena aku memang sudah mau lulus. Lebih baik bolos saja.
Tak lama, Evan tiba-tiba sudah ada di sampingku. Menatapku lekat-lekat.
“Kenapa kamu?” tanya Evan mengagetkanku.
“Wa…!!!” jeritku “ Duh, kamu ini ngagetin aja!” kataku sambil mengelus dada karna jantungku hampir copot. Mana tadi hampir jatuh kebawah lagi.
“Hahahaha…” dia menertawakanku.
“Hei! Apa maksudmu meng endap-endap kesebelahku?” kataku kesal.
“Kamu sendirinya ngelamun aja. Dari tadi aku panggil-panggil kamu tapi kamunya nggak nyahut” bantah Evan sewot. “ Lagian ngapain sih disini?”
“Aku lagi… mikirin sesuatu. Entah aku ngerasain firasat buruk. Bakal terjadi sesuatu yang nggak biasa”
“Yah… aku juga ngerasain hal yang sama Rox. Dan tampaknya bakal terjadi nanti malam. Itu yang hatiku katakan” Evan menunduk.
“Tapi nanti kau akan datang `kan`,Van?” tanyaku pelan.
“Entahlah… Aku usahain datang” katanya. “ Ke kelas yuk! Anak-anak pada asyik mainan. Kamu nggak mau ikutan?” tambahnya.
“Mainan? Mainan apa?” aku penasaran juga.
“Bunuh-bunuhan…” katannya ceria.
“Hah!? Apa kamu bilang?”
“Ya mainan doang kok! Gak mungkinlah sampai bunuh-membunuh sungguhan” jelasnya.
“Maksudmu… perang-perangan gitu?” tanyaku mencoba menebak.
“Yup! Bener 100%”
“Ye… kayak anak kecil aja” ledekku.
“Ikut nggak? Kalo enggak ya udah”
“Eh… ikut deh. Daripada pusing sendiri disini”
Aku mengikuti Evan turun ke kelas, menuruni 3 lantai sekaligus dengan berlari membuatku capek. Dan saat sampai dikelas, anak-anak yang lain sedang asyik main perang-perangan sama anak kelas B, C dan H. sedang kelas D, E, F dan G bermain sepak bola dan basket di lapangan. Sebenarnya, aku ingin ikut main basket diluar. Tapi… ya udah terlanjur perang-perangan. Ya udah nikmatin aja.
Sudah berlangsung satu setengah jam peperangan 4 kelas ini berlang sung sampai akhirnya, kami memutuskan untuk pindah lokasi ke tempat yang lebih luas. Ya, kami pindah ke taman belakang sekolah yang luasnya sama kayak satu lantai sekolah kami.
Setelah puas bermain perang-perangan yang akhirnya dimenangkan oleh gabungan kelas A dan H yang berarti kelasku yang menang, kami mengemasi buku dan pulang ke alamnya masing-masing.

* * *

Ditengah jalan, aku berhenti karna ada yang menepuk pundakku. Dan saat aku menoleh terlihat wajah Leon yang ngos-ngosan. Kayak habis lari marathon gitu.
“Sialan! Kok aku ditinggal sih?” katanya dongkol. Aku cuma tertawa.
“Salah sendiri tadi ditungguin nggak muncul-muncul!”
“Ya, tadi `kan` aku lagi main basket sama yang lain. Kamu aja yang nggak mau nunggu!” ujar Leon sewot.
“ ya deh, iya! Yang waras ngalah!”
“Lama-lama aku tonjok juga kamu nanti!!!” ancam Leon, tapi aku malah melengos ninggalin dia dan seperti tadi, dia mengejarku.
Sampai di depan rumah, Marin pelayan wanita yang muda membukakan kami pintu “selamat siang tuan” ujarnya datar.
“Selamat siang juga” jawab Leon
“Tuan mau apa? Nanti saya buatkan” tanyanya.
“Aku sedang tidak menginginkan apapun. Mungkin kamu leon?” tanyaku pada Leon.
“Aku sedikit haus. Mungkin segelas capucino dingin?”
“Baik tuan” katanya lalu pergi ke dapur membuatkan capucino dingin untuk Leon.
Aku langsung naik ke kamarku lalu mandi. Seusai mandi, aku ingin meliha-lihat isi gudang. Sudah lama aku tidak kesana. Sejak orang tuaku meninggal.
Baru saja aku memegang ganggang pintu gudang, ada yang menegurku “Tuan, untuk apa tuan pergi ke gudang? Kalau perlu sesuatu, biar saya yang mengambilkan” itu Rana kakaknya Marin.
“Tidak. Hanya saja aku ingin melihat-lihat isi gudang ini” kataku.
“Nanti asma tuan kambuh?” katanya khawatir.
“tidak apa-apa kok!” ktaku lalu langsung masuk tanpa meperdulikan Rana.
Aku mulai melihat-lihat. Banyak sekali barang antik di dalam sini, sampai akhirnya aku menemukan sebuah benda yang besar ditutupi oleh kain berwarna putih.. penasaran aku bula saja kain itu.
Aku benar-benar shock melihat sebuah lemari kaca yang berisi dua buah pedang yang cukup besar. Yang satu berwarna hitam, yang satu berwarna putih. Bentuknya persis seperti pedang yang didalam mimpiku.Ah… aku ingat. Ayah membelinya di pelelangan 8 tahun yang lalu. Itu berarti saat umurku masih 10 tahun. Aku meneliti pedang itu secara mendetail. Hm… tempaannya benar-benar bagus.
Aku tertarik untuk mencoba pedang itu, aku keluarkan saja. Ternyata cukup berat tapi entah mengapa sangat mudah menebas-nebaskannya. Terasa ringan jika digunakan.

Aku mulai berfikir untuk membawa pedang ini, entah mengapa ada sesuatu yang membuatku ingin membawanya. Mungkin karena bentuk dan warnanya yang cocok dengan kostumku.
Malam hari. Aku sudah siap dengan kostum hitamku ini. Pedang itu juga ada di dalam tas panjang yang memang dibuat khusus untuknya. Sebenarnya ada 2 jenis. Yang dimasukkan dan yang untuk langsung digunakan. Aku bawa saja dua-duanya.
Aku berangkat bersama Leon naik mobil. Didalam mobil, Leon terus memandangi tas panjang berwarna hitam ini. Sampai akhirnya dia bertanya “ Apa itu isinya Rox? Kok besar?”
“Pedang. Kenapa?” aku balas bertanya.
“Ha!? Pedang sungguhan?”
“Ya iya lah! Masa mau pedang mainan!?” katkaku sewot.
“Buat apa kamu bawa-bawa pedang?”
“Buat ngelengkapin kostumku. Biar keliatan keren”
“Sinting kamu ya?”
“Gak aku buat yang aneh-aneh kok. Cuma buat pajangan aja” kataku lalu menggunakan tutup kepala jubah ini.

* * *

Sampai di tempat pesta. Di depan tampak lorong yang luas dan panjang. Aku mengeluarkan pedangku, lalu menaruhnya di tas yang satunya.
Semua orang melihat ke arahku. Aku tak memperdulikannya. Tetap berjalan menuju gedung. Di dalam gedung juga sama. Semuanay menatapku dengan pandangan heran. Semua tidak tahu kalau ini aku. Sampai akhirnya Marry menyapaku. Ya tentu saja dia tahu, dia yang merancang semua kostum untuk kelas A.
“Ada apa Mar?” kataku sambil membuka tutup kepala ini.
“Ngapain kamu bawa-bawa pedang segala? Mau bunuh siapa kamu?” ujar Marry.

“Enggak kok. Cuma buat pajangan” jawabku enteng.
“Emm… kalo diliat-liat sih memang cocok. Kamu jadi keliatan tambah keren” Marry mengacungkan jempol.
“Hehehe…”
“Eh, ayo! Udah ditunggu yang lain”
“Oke bos!”
Aku mengikuti Marry ke deretan kelas A yang memang udah ramai. Tapi sebelum sampai ke deretan kelasku, aku ditarik seseorang. Itu Ferre. Cih! Mau diapain lagi aku!?

Aku sampai di toilet. Mau apa lagi sih dia? Perasaan aku nggak punya salah sama dia, tapi kok dia benci banget sama aku?
“Hei, apa sih salahku?” bentakku padanya.
“Apa salahmu? Hahaha… aku mau kamu babakbelur. Karna besok aku udah nggak bisa lagi” enak sekali dia ngomong!
Aku coba melepaskan tangannya dan dia melepaskan begitu saja. “ Kena pa sih kamu ini? Orang nggak salah apa-apa juga!”
Bhug!!!
Perutku dipukul. Aku Cuma meringis kesakitan. Dia tertawa senang. Pandanganku kabur lalu gelap sekejap. Tapi hanya sekejap.
Tanpa sadar, aku sudah mencabut kedua pedangku dan… cras!!! Dia kena. Langsung roboh seketika. Tampaknya dia mati.
“Tidak mungkin! Aku membunuhnya!? Ini bohong… aku… bukan… pembunuh…”
Belum sempat aku menenangkan diriku, ada seseorang yang masuk ke toilet ini. Dia melihatku dan mayat ferre. Dia berteriak histeris lalu berlari keluar memina tolong. Tanpa piker panjang, aku penggal kepalanya. Tapi saying, aku sudah diluar toilet. Semua orang melihatku, sedetik kemudian mereka berteriak meminta tolong dan berusaha menyelamatkan diri dariku dengan berlari keluar.
Aku melihat orang yang mau kabur, aku potong tubuhnya menjadi dua, lalu ada lagi di pojok sana, langsung saja aku penggal kepalanya. Di dekat pintu masih banyak lagi, dan yang pertama kutemui adalah Marry. Tanpa berfikir, tanganku mengayunkan pedang itu ke tubuhnya sehingga ada sobekan besar, lalu Zack, Evan dan Leon. Mereka semua mati. Lalu aku habisi mereka satu persatu. Ruangan ini pun menjadi lautan darah. Pikiranku masih kacau. Aku mulai berlari dan menebas kepala mereka yang mencoba lari dariku. Tak kan kubiarkan mereka lolos dan memberi kabar kepada polisi kalau aku telah membantai semua orang disini. Aku sudah di ujung lorong, lalu kembali ke gedung untuk memastikan masih ada orang yang hidup atau tidak. Lantai penuh dengan genangan darah dan mayat-mayat, dinding penuh dengan bekas percikan darah. Bau amis itu menusuk hidungku. Serasa seperti waktu itu. Ya… sama seperti… mimpiku.
Di ruangan besar itu, aku berdiri terdiam di tengah-tengah mayat-mayat ini. Tiba-tiba kepalaku terasa sangat sakit. Pusing serasa disayat-sayat. Serasa kepalaku ini mau meledak. Aku terjatuh dan tak sadarkan diri.

* * *

Ku buka lagi kedua kelopak mataku, aku sudah di ruang putih rumah sakit. Disebelahku ada Leon dan kawan-kawan yang lain. Mereka bercerita akalau aku pingsan saat di toilet karna beban pedang dan pukulan di bagian kepala oleh salah satu teman Ferre.
Ternyata hanya mimpi. Lagi-lagi mimpi. Yah untung lah, aku bukan seorang pembunuh. Lalu aku lihat pedang dari ayah. Aku tercengang seketika. Darah… Ada darah di pedangku. Apa mungkin? Kucoba lagi tatap mereka. Dan… Aku lihat mereka semua tanpa kepala. Mereka semua… Mati… Apa ini hanya mimpi? Apa aku akan terus terjebak dalam mimpi buruk ini? Aku hanya bisa berlari dan berteriak. Berharap ada yang menyadarkanku. Dan mengeluarkanku dari mimpi buruk ini.

kasih tak sampai

Nightmare dari Avenged Sevenfold bergedobrakan dari netbook HP hitamnya. Ditatapnya layar itu lekat-lekat. Sudah sejam dia duduk di hadapannya, tapi MS Word 2010 itu belum banyak terisi. Baru 2 lembar yang terisi oleh cerita yang sekiranya biasa-biasa saja. Dia berpikir keras. Padahal biasanya sejam sudah menghasilkan 4 sampai 5 lembar cerita yang alur dan kisahnya jauh lebih baik daripada ini. Otaknya buntu! Dilihatnya Nokia X3-00 merahnya. Ada pesan masuk. Dibukanya pesan itu. Pikirnya hanya spam dari teman-temannya. Benar saja. Cuma pemberitahuan untuk membawa beberapa artikel untuk mading kelas. Hhh… Gara-gara akan ada validasi sekolah agar menjadi Sekolah Bertaraf Internasional atau SBI, Sekolahnya jadi sibuk mempersiapkan segalanya. Mulai dari jurnal, absensi, kelengkapan kelas, sampai tugas-tugas yang masih belum terkumpulkan. Para guru-guru menuntut semuanya untuk melengkapi semua itu. Dia menghela nafas panjang. Dia memang bukan anak yang pintar, apalagi rajin, setidaknya dibandingkan teman-temannya yang lain. Dia malas sekali untuk membuka buku tugasnya dan mengerjakan tugasnya yang seambrek, tapi mau apa lagi? Itu adalah tuntutan bagi seorang pelajar sepertinya. Dia mulai membuka-buka buku tugasnya dan mulai mengerjakannya. Perlahan namun pasti, soal-soal biadab itu mulai berhasil terjawab. Tak sampai 2 jam, semua tugasnya bisa terselesaikan. Ada gurat puas di wajahnya. Apalagi setelah menyelesaikan desain rumah yang sudah lama dikerjakannya. Kini kembali ditatapnya layar HP hitam itu. Dia masih bingung mau membuat cerita seperti apa. Tiba-tiba X3 itu bergetar. Ada 1 lagi pesan masuk. Dibukanaya pesan itu. Ternyata dari Nila, teman sekelasnya yang sedang dekat dengannya. Dibacanya pesan itu.

“Ner, aku pinjem novelmu boleh gak?” sms Nila.

“Boleh. Novel yang mana?” balas Nero.

“Kamu punyanya apa aja?”

“Banyak lah. Tapi aku gak punya Harry Potter. Gak suka soalnya”

“Terus apa?”

“Ada 5 cm, Perahu Kertas, Supernova, Negri 5 menara, Raditya Dika, Lupus, sama beberapa noven roman, fantasi dan kawan-kawannya. Kamu mau yang mana?”

“Supernova aja lah. Kayaknya asik”

“Bacaannya agak berat loh. Gak apa-apa kan?”

“Iya. Eh besok gak ada ulangan kan? Aku males belajar soalnya. Hahaha…”

“Tetep aja kamu itu. Malesnya gak ilang-ilang. Hahaha…”

“Aku males kayak gini, kamu tetep suka aja lho. Hahaha…” Nero tercekat melihat balasan sms Nila.

“Kamu juga suka sama aku aja lho” Balas Nero.

“Iya sih. Hahaha…”

“Dasar. Eh, tugas-tugasmu sudah selesai semua belum?”

“Belum. Kenapa? Mau nyontekin? Hahaha…”

“Ye… Enak aja. Aku udah mikir susah-susah, kamu malah nyontek. Lagipula kamu kan pinter. Ngapain nyontek aku? Entar kamu malah salah”

“Gak apa-apa dong. Aku males liat angka-angka gak jelas itu. Bukunya tebelnya gak kira-kira pula. Hahaha…”

“Eswete Nil…”

“Enakan juga es krim. Hahaha…”

“Maunya. Hahaha…”

“Hahaha… Kamu lagi apa Ner?”

“Lagi nulis cerita. Kenapa?”

“Gak apa-apa sih. Takutnya kamu sibuk”

“Barusan sibuk. Sekarang udah enggak”

“Ya udah, lanjutin nulismu, gih. Aku mau garap PR sama habis ini aku mau diajak keluar”

“Keluar sama ‘dia’?”

“Iya. Sama orang tua ku juga sih. Mau dinner di rumah ‘dia’ soalnya”

“Oh… Ya udah. Selamat bersenang-senang”

“Jangan ngambek lho Ner? Hahaha… Bye”

“Bye…” Nero menghela nafas. Dia tau Nila sudah punya kekasih, namun dia juga tau kalau Nila sering disakiti oleh kekasihnya. Nila sendiri mengaku sudah lelah terus disakiti, namun orang tuanya memaksanya berpacaran dengan kekasihnya itu hanya karena orang tua mereka adalah teman dari kecil. Nila sendiri orang yang pendiam kalau berada di kehidupan sebenarnya. Dia takut untuk mengatakan sejujurnya pada mama dan papamya. Dia tidak ingin terus disakiti, namun dia juga tidak ingin menyakiti siapa pun. Menolak kekasihnya saat ini berarti dia akan melukai perasaan kedua orang tuanya. Ini berat untuknya.

“Nila, Nila… Kasihan kamu” Nero berbicara pada dirinya sendiri. Dia menjatuhkan tubuhnya pada kasur itu. Mencoba merenggangkan otot-ototnya, juga menenangkan pikirannya. Barusaja HP hitam itu dimatikan. Seperti apa pun dia mencoba, pikirannya akan tetap buntu. Lebih baik dia tidur.



* * *



Nero membuka ranselnya, lalu mengeuarkan novel bersampul biru bertajuk supernova itu. Dicarinya sosok Nila di kelas yang tidak begitu ramai itu. Didapatinya sosok yang dicarinya sedang duduk mendengarkan teman-temannya berbicara, Dia hanya diam dan mendengarkan, tidak banyak bicara. Seperti itulah sosok Nila di kehidupan nyata. Perlahan Nero berjalan menuju Nila.

“Nil, ini supernova-nya” ucap Nero sambil memberikan novel itu pada Nila. Tidak seperti saat ber-sms ria atau lewat facebook dan twitter, Nero lebih diam pada Nila, begitu juga sebaliknya.

“Iya. Makasih , Ner” Nero mengangguk lalu balik kanan dan kembali ke bangkunya. Duduk dan memasang headphone di kepalanya. Lagu yang diputarnya kali ini adalah Tears Don’t Fall-nya Bullet for My Valentine. Tba-tiba kepalanya terasa begitu sakit, begitu sakitnya hingga wajahnya menjadi pucat seketika. Lagu yang di putarnya berhenti seketika karena ada sms masuk. Diangkatnya kepalanya dan dibukanya sms itu. Dari Nila.

“Nero, kamu sakit ya?”

“Aku gak tau. Tiba-tiba pusing”

“Pergi ke UKS aja Ner”

“Nggak usah. Aku masih kuat kok ”

“Tapi mukamu pucet lho, Ner”

“Aku gak apa-apa kok, Nil. Tenang aja”

“Please Ner, Don’t make me sad”

“Hhh… Ok, I’ll be go there” Nero berusaha bangkit dari bangkunya. Meminta tolong pada sahabatnya, Yoga untuk membawanya ke UKS. Dia takut tidak kuat berjalan hingga sampai di UKS. Setelah sampai di UKS, dia meminta obat dan berbaring di sana. Matanya seakan berat. Perlahan dia terlelap dan benar-benar tertidur.



* * *



Matanya kembali terbuka setelah beberapa jam yang lalu tertutup rapat. Dilihatnya jam dinding yang menggantung di dinding UKS itu. Sudah jam 3 sore. Berarti dia tertidur selama 2 jam. Kepalanya yang pusing sudah agak mendingan. Sebentar lagi bel pulang sekolah berbunyi. Sebaiknya dia kembali ke kelasnya.

“Permisi bu, saya mau kembali ke kelas dulu” ucap Nero pada penjaga UKS itu.

“Oh, iya silakan”

“Terimakasih bu”

“Iya, sama-sama” Nero pun meninggalkan UKS itu. Dengan perlahan dia melangkah menuju kelasnya yang tak jauh dari UKS tadi. Dibukanya pintu kelasnya. Ternyata tidak ada guru yang mengajar. Jam kosong. Segera dia duduk di bangkunya di sebelah Barra.

“Ner, masih hidup? Hahaha…” ucap Barra sumringah seperti biasanya.

“Iya. Barusan aja tewas, tapi hidup lagi” jawab Nero

“Kenapa hidup lagi sih? Padahal aku ngarep tahlilannya loh. Hahaha…”

“Sialan! Hahaha…”

“Udah, cepet duduk. Sebenernya aku mau ajak kamu keluar sama Yoga, sama Guntur. Tapi kamu sakit gitu, jadinya nanti cuma bertiga aja”

“Emang mau ke mana?”

“Aku mau beli OS Windows 7 yang asli. Yang download gak bisa diinstall. Kalo Yoga sama Guntur katanya mau nyari Headphone, Flash Disk sama CD game PC”

“Jadi ke hi-tech mall?”

“Iya. Kemungkinan besar mau ke sana”

“Oh… Ya sudah”

“Nggak mau nitip apa-apa?”

“Nggak. Nggak punya uang. Hahaha…”

“Suram hidupmu, Ner. Hahaha…”

“Ya tau lah. Hahaha…” Nero mulai membereskan buku-bukunya. Tepat setelah bukunya sudah di masukkan ke dalam ranselnya, bel pulang berbunyi. “Aku pulang duluan ya, bro” Nero pun pergi ke lar kelas lengkap dengan jaket hitamnya dan ransel jeansnya.

Sesampai di parkiran, dia segera menghampiri Satria F hitamnya dan segera melesat meninggalkan sekolahan itu. Di tengah jalan, tiba-tiba pandangannya menjadi buram dan Jantungnya terasa amat sangat sakit. Tak ada pilihan lain, dia terpaksa melarikan motornya lebih cepat. Setelah sampai di rumah, di langsung menuju kamarnya, melempar tasnya dan mejatuhkan tubuhnya di atas kasur. Dia tak akan bilang pada Nila tentang ini. Mungkin kalau sakit yang lain, dia akan bilang. Tapi ini? Tidak akan! Sudah lama dia merasakan sakit ini, tapi Nila belum tau juga. Itu jauh lebih baik, karena kalau dia tau, dia akan memaksanya untuk bilang pada kedua oran tuanya. Dia lelah untuk menghadap orang tuanya, dia malas selalu diomeli dan disalahkan atas sesuatu yang tidak diliakukannya, dia sudah amat sangat lelah diperlakukan tidak adil bahkan ketika dia sedang sakit keras sekali pun, dia tetap diperlakukan tidak adil, dia juga sudah lelah tidak diperdulikan dan ‘ditiadakan’ oleh mereka. Bagi Nero sekarang, orang tuanya tidak lebih dari dua orang yang telah membawanya ke dunia yang kejam ini lalu membuangnya dalam bentuk yang sangat halus. Sungguh memuakkan.

Dirasanya jantungnya semakin sakit, tubuhnya tak bisa digerakkan. Seakan diikat oleh rantai dengan sangat kuat. Nafasnya tersendat di tenggorokan. Pandangannya tiba-tiba memburam. Perlahan gelap. Benar-benar gelap. Nero kehilangan kesadarannya.



* * *



Dia terbangun lagi dari tidurnya. Sekarang sudah pukul 7 malam. Tubuhnya sudah kembali normal, jantungnya pun sudah tidak terasa sakit. Dia diam sesaat, lalu melihat X3 merahnya. Ada pesan masuk. Dari Nila.

“Ner, kamu masih sakit ya?” sekitar 2 jam yang lalu.

“Maaf Nil, aku ketiduran. Udah enggak kok. Nggak usah khawatirin aku”

“Oh, okay. But don’t push your self too hard, ok?” jawab Nila 5 menit kemudian

“Fine”

“Kamu besok gak usah masuk aja dulu, Ner. Istirahat aja di rumah”

“Enggak. Aku mau sekolah. Aku masi kuat kok. Beneran. Kalo gak kuat aku tinggal ke UKS kaya tadi kan?”

“Iya deh. Nuruti kamu aja”

“Nyerah?”

“Iya. Hahaha…”

“Gampang nyerah. Apa itu? Hahaha…”

“Hei, jangan ngejek. Meski aku kayak gini, kamu suka aja”

“Hahaha… Iya memang”

“Eh, Ner, kamu udah makan kan?”

“Udah tadi siang. Hahaha…”

“Kamu ini lagi sakit. Ayo cepet makan!”

“Iya, Nila. Tenang aja. Ini aku mau ngambil makan kok” Nero langsung bangkit dan berjalan menuju dapur, mengambil piring lalu mengambil nasi dan lauk, setelah itu memakannya pelan-pelan. Entah mengapa tubuhnya sangat lemas. Mungkin karena bangun tidur itu? Pikirnya. Setelah selesai melahap habis makanan itu, dia segera meraih X3 merah itu. Membuka inbox lalu mengirim pesan pada Nila.

“Eh, udah kelar nih” SMS itu dikirim pada Nila. Nero menunggu semenit, lima menit, lima belas menit, setengah jam, tak juga ada balasan. Nero mencoba berpikir positif. Mungkin di sedang sibuk. Nero beranjak dari meja makan menuju kamarnya. Dicarinya netbook HP hitamnya. Ternyata ada di atas meja belajarnya. Dinyalakannya netbook itu. Setelah booting selesai, dia segera membuka folder-folder itu dengan cekatan, lalu membuka file word berisi cerpennya dan melanjutkan tulisannya. Dia membuka winamp lalu memutar lagu. Lagu yang di pilihnya untuk didengar adalah Gunslinger dari Avenged Sevenfold, dan 21 guns dari Green Day. Dua lagu itulah yang sering dia putar untuk menenangkan hatinya yang terkadang gundah.



* * *



Sudah 7 bulan setelah itu, Nero sudah amat sangat dekat dengan Nila, bahkan Nero sudah tidak malu-malu lagi saat berbicara dengan Nila. Begitu juga sebaliknya. Ujian kenaikan kelas pun sudah selesai, bahkan rapot mereka sudah dibagikan. Pikir Nero, ini waktu yang tepat untuk mengatakannya. Mengatakan sesuatu yang sudah lama dipendamnya. Hari itu hari pertama liburan kenaikan. Nero mengambil Nokia X3 merah itu, lalu mencari kontak Nila dan menelponnya.

“Halo, Nil, ini Nero’

“Iya Ner. Ada apa?”

“Aku butuh ngomong penting secara langsung. Bisa gak?”

“Bisa aja. Di mana?”

“Di taman deket rumahmu. Gimana?”

“Hm… Oke deh. Aku tunggu di sana”

“Thank you”

“Anytime” Nila menutup panggilan itu. Dia juga ingin mengatakan sesuatu yang penting pada Nero. Teramat sangat penting sampai dia tidak bisa tidur semalam karena memikirkannya. Hatinya berdebar-debar menanti waktu dia mengatakan ‘itu’ pada Nero.



* * *



Setengah jam kemudian, Nero menemukan sosok Nila yang duduk di bangku yang tersedia di taman itu.

“Nil…” sapa Nero. Nila langsung mendangak melihat Nero lalu tersenyum manis padanya. Nero pun membalas senyuman gadis manis ini.

“Hai, Ner…”

“Udah lama nungguin?” Nero duduk di sebelah Nila

“Enggak kok. Baru juga setaun. Hahaha…” Nila tertawa renyah.

“Ye… Gak selama itu juga kali. Hahaha…”

“Udah ah. Katanya mau ngomong penting? Langsung aja” ujar Nila menghentikan tawa Nero.

“Iya… Nil, aku mau ngomong penting sama kamu. Mungkin agak sedikit egois tapi…” kata-katanya terhenti di tengggorokan.

“Tapi apa?”

“Nila…” Nero menarik nafas panjang “Aku… Aku…” Nero menatap langit yang mulai mendung. Ya Tuhan… susah sekali untuk mengatakan itu. Batin Nero.

“Kamu kenapa? Ayo Ner”

“Aku…” Nero menarik nafas panjang sekali lagi, berusaha mengumpulkan kekuatan untuk mengatakannya. “Aku gak bisa sama kamu, Nil” akhirnya keluar juga. “Aku gak mau buat kamu jadi orang yang ngelawan orang tua. Aku gak mau orang tuamu memperlakukan kamu kaya orang tuaku memperlakukan aku, Nil. Sekarang terserah kamu mau benci aku, mau maki-maki aku, mau tampar aku, mau pukul aku. Terserah kalau itu bisa membuatmu merasa lebih baik. Maafkan aku, Nila…”

Nila terdiam sesaat, lalu berkata sangat pelan. “Enggak Ner. Aku hargai itu. Jujur aku juga nggak akan bisa sama kamu” air mata Nila mulai leleh. “Orang tuaku memaksa aku bersama ‘dia’, kalau tidak, mereka tidak akan merestui hubunganku dengan siapa pun. Aku sangat menyayangimu, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa, Ner. Aku yang harusnya minta maaf, Ner…” hujan pun turun mengguyur mereka berdua. Akhirnya… Kejujuran itu keluar juga. Nero tersenyum pada Nila. Dibukanya mulut itu lalu…



Indah...

Terasa indah...

Bila kita terbuai dalam alunan cinta...

Sedapat mungkin terciptakan rasa...

Keinginan saling memiliki

Namun bila,

Itu semua dapat terwujud

Dalam satu ikatan cinta

Tak semudah seperti yang pernah terbayang...

Menyatukan perasaan kita



Tetaplah menjadi bintang dilangit

Agar cinta kita akan abadi

Biarlah sinarmu tetap menyinari alam ini,

Agar menjadi saksi cinta kita

Berdua...

Berdua...



Sudah...

Terlambat sudah...

Kini semua harus berakhir

Mungkin inilah jalan yang terbaik

Dan kita mesti relakan kenyataan ini



Tetaplah menjadi bintang dilangit

Agar cinta kita akan abadi

Biarlah sinarmu tetap menyinari alam ini,

Agar menjadi saksi cinta kita

Berdua...

Berdua...



Menjadi saksi kita berdua...



Kasih Tak Sampai-nya Padi melantun dari bibir Nero. Nila tercekat mendengarnya. Dia pun jatuh dalam pelukan Nero.

“Maafin aku ya, Ner…” ucap Nila masih dalam isakannya.

“Iya, Nil… Aku juga minta maaf. Hapuslah air mata itu, Nil. Aku yakin kamu pasti bisa tegar melewati semua itu” Nero melepas dekapan itu dan menghapus air mata Nila. “Maaf Nil, aku harus balik… Aku harap kita masih bisa berteman sampai nanti" Nero pun bangkit lalu melangkah perlahan meninggalkan Nila.

“Nero…” ucap Nila membuat Nero berhenti dan menoleh. “Hati-hati di jalan… Aku menyayangimu, Nero”

“Aku juga” ucap Nero sambil tersenyum penuh arti, lalu melanjutkan langkahnya. Meninggalkan Nila sendirian, terisak dibawah hujan.

* * *



Sebulan kemudian. Ini hari pertama masuk sekolah. Nila tidak sekelas dengan Nero. Ada sedikit rasa kecewa saat dia mengetahuinya. Dia segera mencari tempat duduk di kelas barunya. Dijalaninya hari baru tanpa Nero itu.

Sepulang sekolah, Nila bertemu dengan Barra. Dia menyapanya.

“Hey, Bar...” sapa Nila. Barra menoleh, lalu raut mukanya berubah lemas.

“Hai, Nil…” ujar Barra tidak bersemangat.

“Kenapa kamu Bar? Gak biasanya?”

“Gak apa-apa kok, Nil”

“Oh, ya, Nero kok gak kelihatan? Kemana anak itu?”

Nero tak menjawab, dia malah meninggalkan Nila.

“Hey! Kamu kenapa? Ada masalah sama Nero?” Nila menarik tubuh Barra. Raut mukanya berubah serius. Itu juga yang terjadi pada Barra.

“Kamu mau tau Nero bagaimana? Ikut aku!” Barra menarik tangan Nila.

“Hey, tenang sedikit dong!” Nila menarik tangannya dari genggaman Barra.

“Kamu mau tau Nero gak!?” ucap Barra sedikit membentak. “Kalau iya, ayo ikut aku” Barra melangkah menuju motornya. “Tutup matamu dengan ini” Barra memberikan sebuah saputangan hitam pada Nila setelah mereka sampai pada motor Barra.

“Baiklah…” ucap Nila malas. Setelah Nila memakainya, Barra segera melarikan motornya itu.

Tak lama setelah itu, motor itu berhenti berlari. “Jangan dibuka. Kamu aku gendong saja” ucap Barra lalu menggendong tubuh Nila. “Buka sapu tangan itu” ucap Barra setelah menurunkan Nila.

Nila begitu terkejut melihat pemandangan di depannya. Sebuah makam dengan batu nisan bertuliskan nama orang yang dikasihinya. Nero.

“Tidak mungkin!” Nila berusaha menepis kenyataan ini. “Ini gak mungkin Nero!”

“Sadar, Nil! Ini makam Nero! Dia sudah nggak ada!” Barra berusaha menyadarkan Nila.

“Bagaimana bisa?” air matanya mulai meleleh. “Bagaimana bisa ini terjadi pada Nero?” ucap Nila sambil terisak.

“Dia sakit. Sakit keras” Nila langsung menatap Barra dengan tatapan heran. Sakit? Sakit apa dia? Batin Nila. “Kamu nggak tau kan kalo dia sakit?” Nila menggeleng, lalu membenamkan wajahnya pada telapak tangannya.

“Jantungnya. Itu kata dokter saat mengotopsi jasad Nero. Dia sudah menderita sakit jantung yang cukup parah. Dan dia seenaknya sendiri tidak mau memberi tau yang lain kalau dia menderita penyakit seperti itu. BODOOOOH!” Barra terlihat geram. “Aku pergi saja” Barra lalu pergi meninggalkan Nila di makam Nero.

“Nero… Kenapa kamu tidak mau mengatakannya? Mengapa kamu tidak mau jujur padaku? Kau selalu memikirkan orang lain, tapi dirimu sendiri tak pernah kamu pikirkan” Nila tetap terisak. “Selamat tinggal kasih. Aku akan merindukanmu” Ujar nila lalu bangkit. “Kasih tak sampai kita… Akan selalu ku kenang di benakku. Dan Nero… Kau akan tetap hidup di sini. Di dalam hatiku”

Edelweiss


Malam yang dingin di gunung Semeru. Laki-laki berumur hampir 20 tahun itu tetap melangkahkan kakinya yang mulai lelah di jalan setapak kecil itu. Matanya tampak sayu tak bertenaga, tubuhnya yang tinggi namun agak kurus itu terus dipaksanya bekerja melawan hawa dingin di sekitarnya. Dia hanya sendirian di sana. Ya… Sendirian.
     Ditatapnya jam tangan miliknya. Sudah pukul 10 malam rupanya. Dia terpaksa berhenti, menyalakan api unggun dan menyiapkan kantung tidur untuknya. Mungkin orang-orang akan menganggapnya bodoh karena berani menaiki gunung Semeru sendirian, tetapi bocah yang masih remaja itu memiliki tujuan sehingga mendorongnya untuk menghiraukan anggapan orang-orang. Ya… Tujuan yang menurutnya sangat penting.
     Dia mengadah menatap langit yang gelap. Hanya ada bulan sabit dan beberapa bintang. Langitnya berawan. Termos yang dari tadi berada dalam carrier besarnya itu kini dikeluarkan. Dituangkannya air panas itu pada gelas aluminium yang ukurannya cukup besar. Diteguknya sedikit demi sedikit air panas dalam gelas itu. Sejenak badannya tersa hangat kembali. Di dalam hatinya dia terus berdo’a. Ya, berdo’a pada tuhan yang selama ini dia hiraukan.

*   *   *

Tiga hari yang lalu. Senin 21 September 2015, Surabaya.
     “Kakak…” ucap gadis berumur 14 tahun itu. “Kakak besok kuliahnya libur gak?”
     “Kakak libur kok dek. Ada apa?” dia menghampiri adiknya yang terbaring di ranjang itu. sudah beberapa bulan dia sakit, namun gadis berambut cokelat kemerahan itu menolak untuk dibawa periksa ke dokter.
     “Aku pengen sesuatu kak. Sebentar lagi kan aku ulang tahun yang ke 15. Aku mau kakak kasih sesuatu buat aku”
     “Kamu mau apa dek?”
     “Edelweiss… Aku mau bunga Edelweiss. Kakak mau gak ambilin bunga Edelweiss buat aku?” dia tersenyum melihat kakaknya itu.
     “Edelweiss? Bukanya kamu gak pernah suka bunga?”
     “Iya kak. Tapi satu kali ini saja kak. Aku pengen banget bisa dapet bunga, yaitu bunga Edelweiss”
     “Iya, Anggun. Kakak akan bawain kamu Edelweiss. Kakak janji!” Ucapnya pada sang adik yang bernama Anggun itu.

*   *   *

Dia terbangun dari tidurnya. Api unggun yang tadi dia nyalakan, kini hanya menyisakan abu. Dilihatnya jam tangan itu. Pukul 03.30 pagi. udara terasa amat dingin. Tetapi mau bagaimana lagi? Mau kembali juga tidak mungkin. Ini sudah tinggal sedikit lagi. Ya! Sedikit lagi...
     Dikemasi lah kantung tidur dan beberapa peralatan yang sempat dia keluarkan semalam. Segera mungkin setelah semuanya beres, pria berperawakan tinggi dan agak kurus dengan rambut yang sengaja dipanjangkan depan dan sampingnya saja itu mulai melangkahkan kakinya lagi. Langit pun masih gelap. Bahkan burung-burung masih tertidur di sarangnya yang hangat, tetapi tekad pemuda itu tidak goyah sedikit pun. Dia, dengan nafas yang mulai berat karena jumlah oksigen yang semakin menipis itu mulai terengah-engah. Nafasnya bahkan mengeluarkan asap karena dinginnya hawa pegunungan ditambah matahari yang belum mau memunculkan diri juga.
     Beberapa kali pemuda itu berhenti untuk sekedar mengambil nafas. Inhaler miliknya pun terkadang dia semprotkan ke dalam mulutnya. Pemuda ini memang memiliki penyakit Asma sejak lahir. Penyakit keturunan. Ini juga yang menjadi hambatan baginya mencapai puncak Mahameru untuk mengambil seikat bunga Edelweiss.

*   *   *

Di rumah yang bercat putih pucat itu, seorang gadis bernama Anggun tengah memejamkan matanya dan berdo’a. di tengah do’a nya, muncul bayang sang kakak yang tengah tersenyum. Badannya yang tinggi agak kurus, rambutnya yang panjang di depan dan samping, bola mata hitam yang ketika menatap dapat membuat orang merinding, bekas luka yang berada di alis kanannya, bekas jerawat remaja yang samasekali tidak mengurangi kadar ketampanannya, bulu-bulu halus yang tumbuh samar-samar di sekitar wajahnya. Dia melihat setiap detail kakaknya dengan jelas. Air matanya pun meleleh. Dia thu jika itu hanya bayangannya, tetapi dia sangat menyesal. Ya… Amat sangat menyesal. Dia merindukan kakaknya. Sangat merindukannya. Ditatapnya foto nya bersama kakaknya beberapa tahun yang lalu saat berwisata ke Karimunjawa. Dia masih mengingat semuanya. Saat kakaknya mabuk laut ketika menyebrang dari pelabuhan Jepara ke Karimunjawa, saat dia menginjakkan tanah pertama kali di tanah yang amat sangat asing, saat mereka melihat indahnya matahari tenggelam dari pantai yang berpasir putih, saat dia diselamatkan kakaknya karena hampir tenggelam yang meninggalkan bekas luka gores di pelipis kakaknya, saat mereka makan ikan laut bakar hanya berdua. Anggun mengingat semuanya. Setiap detail kecil saat itu. dia bahkan masih ingat baju apa yang kakaknya kenakan pada hari pertama hingga hari terakhir di sana. Dia sangat ingat. Air matanya yang terus meleleh membuat dadanya sesak.
     “Kakak… Maafkan aku…”

*   *   *

Nafasnya terengah-engah lagi. Ini sudah hamper tengah hari namun dia masih belum juga menemukan Edelweiss. Dia menggerutu kesal.
     “Harus berapa lama lagi aku mendaki untuk mendapatkan Edelweiss?” gumamnya sambil mengelap keringat di dahinya.
     Tiba-tiba kakinya yang berjalan sekenanya itu menginjak sebuah lubang. Dia terjatuh, terperosot hingga beberapa meter ke bawah. Dia mengerang kesakitan. Kaki kirinya terkilir, lengan kanannya juga terluka terkena batang kayu yang patah. Darah segar keluar dari luka yang cukup dalam itu. Secepat mungkin remaja itu mengambil kotak P3K dalam carrier hitamnya. Dengan cekatan dia mengonbati lukanya sendiri. Meskipun sedikit kesusahan, tetapi akhirnya dia berhasil walaupun masih terasa nyeri di kaki dan lengannya. Dia juga sadar telah keluar dari jalur pendakian. Dia sendirian di tempat yang dia tidak tahu. Itu mengerikan. Beruntung ini masih siang. Bagaimana jika ini sudah malam? Akan jadi sangat berbahaya.
     Dengan langkah terseok-seok sambil merintih pelan, dia berusaha melanjutkan pendakiannya. Tidak ada jalan setapak. Tidak ada arah atau petunjuk yang jelas. Dia hanya mengikuti nalurinya. Dia menerobos jalanan yang tertutup oleh ranting-ranting pohon. Membuat jalur baru. Mau bagaimana lagi? Bisa dibilang bahkan dia kini telah tersesat. Hanya dia, pepohonan, dan bayangannya. Luka yang kini tertutup perban itu pun masih sedikit mengeluarkan darah segar. Dia sadar ini sangat berbahaya, tetapi untuk adiknya? Dia tidak akan menyerah. Tidak akan pernah!

*   *   *

Pukul 19.45 WIB, Ditengah hutan, Semeru, Jawa Timur.
     Kini pemuda itu sudah amat sangat sakit. Wajahnya bahkan tampak pucat. Lukanya sudah mulai tertutup, tetapi tetap saja darah yang tadi sempat keluar sudah cukup banyak. Dia sudah tidak mampu lagi. Tampaknya dia gagal. Tubuhnya terjatuh lelah. Ditatapnya bulan yang hampir hilang tertutup itu. Air matanya menetes membasahi wajahnya. Dia merasa amat sangat hancur. Hancur lebur bagaikan gelas kaca yang dihantamkan pada tembok beton yang keras. Dia hanya bangkit dan menatap kosong. Dia akan pulang dengan tangan kosong. Sebenarnya tempat dimana ia berpijak saat ini sudah dekat dengan puncak mahameru, namun mentalnya sudah roboh. Harapannya sirna. Tekadnya hilang bagaikan debu yang tertiup angin.
     Langkah kakinya itu semakin lambat saja. Tapi mata tajam itu menangkap sesuatu yang tidak asing baginya. Tumbuhan berbunga putih mungil nan indah. Itu yang selama ini dia cari. Edelweiss! Sorot mata yang sempat padam itu kini kembali menyala. Senyumnya merekah bagaikan bunga sakura yang bersemi. Segera diambilnya bunga abadi itu dan di simpannya dalam carriernya. Dia tahu itu illegal, tetapi dia berani melakukannya. Demi Anggun!
     Segera dia melangkah dengan pasti. Dia kini begitu merasa percaya diri. “Anggun, Tunggulah aku! Aku sudah membawakan hadiah untukmu!” katanya dalam langkahnya pulang.

*   *   *

Surabaya, Senin 28 September, 2015 pukul 04.00 WIB
     Dia baru saja memasuki rumah yang asri dengan pohon mangga besar di halamannya saat tiba-tiba sang ibu keluar dengan wajah panik.
     “Nak! Adikmu nak!” kata ibunya.
     “Ibu… Ibu! Tenang dulu! Ada apa dengan Anggun, Bu?”
     “Anggun kritis, Nak. Dia harus segera dibawa ke rumah sakit!” mendengar itu raut wajah pemuda yang hari iru berulang tahun yang ke 20 itu langsung berubah. Segera dia mengeluarkan mobil kecil dalam garasi untuk mengantar adik kesayangannya itu.
     30 menit kemudian, mereka sudah sampai di rumah sakit terdekat. Anggun langsung masuk ruang UGD. Setelah diperiksa, dokter keluar dengan menggelengkan kepalanya.
     “Anak ibu mengidap kanker otak yang sudah sangat parah. Sudah sangat terlambat ibu membawanya kemari. Kami sudah tidak dapat menangani yang satu ini lagi, bu. kami sangat minta maaf”
     “Tapi dok, masih ada harapan kan? Masih mungkin kan?”
     “Kami sangat minta maaf, mas. Kami tidak sanggup. Sudah terlalu parah adik anda ini. kami minta maaf…”
     “TIDAK MUNGKIN!!!” kini dia sangat marah. Dia bahkan mencengkram kerah baju sang dokter. “TIDAK MUNGKIN ANGGUN MATI! TIDAK MUNGKIN!”
     “Nak, sudahlah…” Ibu yang sedari tadi menangis berusaha menenangkan anak pertamanya itu. Akhirnya dilepasnya cengkraman itu pada kerah sang dokter. “Dok, boleh kami menemuinya?” dokter itu hanya mengangguk. Mereka berdua langsng menerobos masuk ke ruangan tempat Anggun dirawat.
     “Anggun…” ucap kakaknya pada anggun. Suara itu terdengar sangat lirih. Sangat pelan. Bahkan hamper tidak terdengar.
     “Kakak… Kakak sudah pulang?” tanya anggun sambil mencoba tersenyum.
     “Iya, Anggun. Kakak sudah pulang…” dia menggenggam tangan adik perempuannya itu. air matanya sudah tidak dapat di bendungnya lagi.
     “Kakak, Maafin Anggun ya? Anggun sudah buat semuanya khawatir, buat semuanya sedih”
     “Anggun, kenapa kamu tidak bilang? Kenapa kamu selalu menutupi semua rasa sakit yang kamu rasakan?”
     “Aku hanya tidak mau membuat orang lain khawatir, kak. Ayah dulu juga seperti itu. Aku gak mau bikin kalian repot. Aku… Aku hanya ingin seperti ini…”
     “Anggun…” dia menagis sejadi-jadinya. Kepalanya ditenggelamkan kedalam tangan adiknya.
     “Kakak, Ibu… Terima kasih ya buat semuanya? Terima kasih…Anggun tau kok kalau ibu sama kakak pasti sedih, tapi mau gimana lagi kan? Ini sudah terjadi. Dan kalian pasti paham kalau waktu’ tidak akan bisa diputar kembali. Dan kalian juga pasti tau kalau kematian tidak dapat diundur sedetik pun. Saudahlah… Mungkin ini yang terbaik buat aku. Oh iya, selamat ulang tahun ya kakak? Maaf nih, Anggun gak bisa kasih apa-apa ke kakak”
     “Hari ini kamu juga ulang tahun, Anggun… Oh iya, Ini Edelweiss yang kamu minta tempo hari” dai mengambil Edelweiss itu bdari carriernya.
     “Indah… Bunga yang indah…” Anggun tersenyum manis. Air matanya pun meleleh juga.
     “Maaf hanya sedikit yang kakak bisa bawa buat kamu. Ini pun sudah mati-matian kakak mencarinya” Ucap kakaknya sambil mencoba tersenyum di tengah lelehan air matanya. Dia begitu menyayangi Anggun, bahkan melebihi dia menyayangi dirinya sendiri.
     “Iya kakak. Tidak apa-apa… Ini saja sudah cukup buat Anggun. Terima kasih, kakak. Terima kasih banyak…” Anggun memeluk kakaknya. Begitu erat. Begitu hamgat.
     “Kakak akan selalu menyayangi kamu apa pun yang akan terjadi nanti. Tidak aka nada yang bisa mengubah itu sekali pun itu kematian”
     “Boleh kan Anggun memeluk kakak seperti ini? Anggun tidak mau melepas pelukan Anggun karena mungkin ini akan jadi terakhir kalinya Anggun memeluk kakak” Kakak yang amat menyayanginya itu hanya memeluknya lebih erat. Tuhan, kenapa secepat ini? Dia bertanya dalam benaknya.
     “Kakak… Tolong simpankan Edelweiss ini untukku. Mungkin tubuh ini akan hancur di dalam tanah tempatku beristirahat nanti, tetapi jiwa dan semua kenangan tentang aku akan selalu hidup di dalam pikiran dan hati kakak dan ibu. Bagaikan Edelweiss ini, dia mati tetapi dia tetap ada dan tidak hancur. Terima kasih untuk semua belas kasih kalian padaku. Aku sungguh menyayangi kalian… Amat sangat sayang pada kalian, ibu, kakak…” air mata itu tidak dapat berhenti meluber. Dia hanya ingin seperti itu. menikmati detik-detik terakhirnya dengan orang yang amat dia sayangi, yaitu ibu dan kakaknya…

*   *   *

Sore kelabu di hari yang sama. Pemakaman berlangsung dengan cepat. Kini hanya ada tanah pemakaman yang masih basah, batu nisan, ibu dan kakaknya. Mereka berdo’a dengan amat tenang. Tidak ada tangis. Hanya ada do’a dan keikhlasan.
     Pria yang hari itu berulang tahun untuk yang ke 20 tahun itu mengadah menatap langit. Mendung… Rintik hujan pun mulai turun. Langit pun menangis akan kepergian Anggun.
     “Selamat ulang tahun yang ke-15, Anggun. Tidurlah dengan tenang… Kakak akan selalu mengingatmu dengan menjaga Edelweiss ini. Dan hiduplah dalam pikiran dan juga hatiku ini untuk selamanya… Seperti apa yang telah kamu katakana sebelumnya…” dia lalu berbalik dan melangkah meinggalkan makam itu. Separuh dari bagian hidupnya telah hilang tetapi tidak benar-benar hilang. Dan bayang Anggun yang selalu yang dia sayangi itu akan selalu muncul dalam tiap hembusan nafasnya. Hidup bagaikan Edelweiss yang abadi dalam tidurnya…

Bloody story


“Aduuuh… Siapa yang mau ikut organisasi ini?” dia tampak bingung sendiri di depan kelas. Aku mulai capek mendnegarkan celotehannya dari tadi. Dari tadi moodku sangat jelek. Banyak penyebabnya. Aku ingin pulang. Sangat ingin. Tapi karena cewek satu ini bawel banget, kita semua gak bisa pulang.
      “Kamu mau ikut, Jeng? Ya mau ya?” dia memintaku. Aku hanya jawab dengan anggukan. Yah, dari pada lebih lama lagi, mending aku turuti saja. Lagi pula hanya organisasi sekolah. Paling juga begitu-begitu aja.
     “Yaudah, sekarang baru boleh pulang. Dan Ajeng… Kamu harus bener-bener ngikutin organisasi ini!” ancamnya.
     Aku hanya melengos meninggalkannya pergi. Kepalaku sudah panas sekali karena ulangan mendadak tadi. Aku mendengar dia membicarakanku saat aku meniggalkan kelas. Emang apa peduliku? Mau ngomongin aku? Terserah kamu aja. Aku gak peduli!
     “Hey, Ajeng…” seseorang dari belakang memanggilku. Itu Dio.
     “Ada apa Dio?”
     “Kamu beneran ikut Rantai Merah?” dia menyebutkan nama organisasi sekolah tadi.
     “Iya. Kamu ikut juga?” tanyaku.
     “Enggaaak… Aku mana suka sama organisasi kayak gitu. Tapi kenapa kamu ikut organisasi kayak gitu? Biasanya kamu paling males sama kegiatan sekolah?”
     “Terpaksa, io…. Kalo gak gitu aku gak bisa cepet pulang”
     “Kamu bakal keluar?”
     “Iya. Pasti lah…” Dio tampak tersenyum mendengarku. Dia memang sahabatku sejak dari SMP. Sekarang aku sudah duduk di bangku SMA.
     “Nanti main ke rumahku yuk? Aku punya film yang pasti kamu suka banget”
     “Resident Evil?” tebakku.
     “Hahaha… Bukan, Jeng”
     Aku mengerutkan dahi. “Terus apa dong?”
     Dio tersenyum iblis. “Lihat aja nanti…” dia lalu berlari pulang mendahuluiku. “Aku tunggu nanti malem ya, Jeng?” teriaknya sambil berlari.
     Aku cuma geleng-geleng kepala. Aku hanya berjalan kembali menju rumah.

*   *   *

“Aku pulang…” aku menutup pintu rumah. Tak ada jawaban. Tampaknya mereka belum pulang.
     Aku melihat ke dapur. Tampaknya aku harus masak sendiri lagi hari ini. Aku coba buka kulkas. Ada ikan salmon, daging sapi, telur, dan banyak lagi. Tapi mataku hanya terfokus pada 1 hal. Lobster? Tiba-tiba ponselku bergetar. Itu ibu.
     “Halo… Ada apa ibu?”
     “Ajeng, hari ini kamu masak sendiri lagi ya? Ibu ada meeting mendadak nih. Tadi mama beliin lobster buat kamu. Dimakan ya? Ajak Dio juga kalo mau”
     “Iya, bu…”
     “Ya sudah… Ibu tutup dulu ya? Bye sayang…” aku menutup telponnya. Lalu segera menelpon Dio untuk datang ke rumahku.
     Tak lama kemudian, Dio datang ke rumahku dengan basah kuyub. Ternyata tiba-tiba hujan. Aku segera mengambilkannya handuk kering.
     “Waaah… Enak ya makan lobster. Untung nih diajakin. Hehehe…” Dio terkekeh. “Sambil liat film yuk?” dia menodongkan flashdisknya. Kami pun menonton film The Number 23 dari laptopku. Setelah itu Dio segera pulang dan aku juga harus segera tidur. Ini sudah malam.

*   *   *

Pagi ini… Seperti biasa. Aku berangkat sekolah. Pelajaran. Istirahat. Pelajaran lagi. Pulang.
     “Hey! Mau kemana kamu!?” Seseorang meneriakiku dari belakang. Tampaknya itu Winda. Ketua Rantai Merah.
     “Aku? Aku mau pulang. Ada masalah?” jawabku datar dan menantang.
     “Kamu berani sekali!?” dia tampak marah dan penuh benci. Tapi… Aku tidak takut. “Ikut aku!” dia lalu menarik dan memaksaku masuk ke dalam ruang Rantai Merah. Dia mendudukkanku dengan paksa.
     “Kamu gak akan bisa keluar dari organisasi ini. Gak akan bisa! Dan kalau kamu mau keluar dari Rantai Merah, itu sama aja kayak kamu minta dikeluarin dari sekolah…”
     “Baik-baik… Aku mengerti….” Dengan terpaksa aku mengikuti rapat ini. Lama sekali. Kepalaku mulai sakit. Syukurlah tak lama setelahnya rapat ini selesai. Ini sudah jam 9 malam. Pasti aku dimarahi.

*   *   *

Brak!!! Ayah menggebrak meja di depanku. Dia marah besar karena aku pulang sangat malam. Belum lagi dia sedang ada masalah dengan orang kantornya. Aku yang akan jadi pelampiasannya.
     “Ngapain aja kamu sampai pulang malam begini, hah!?”
     “Ajeng ada kegiatan sekolah, yah…” aku mencoba menjelaskan pada ayah.
     “Alah! Alasan aja! Pasti kamu ngeluyur sama temen-temen kamu! Kamu tahu? Kamu ini perempuan. Bahaya pulang malam sendirian! Kamu bisa dirampok, bahkan bisa diperkosa atau dibunuh!”
     “Iya, yah… Tapi—”
     “Gak usah banyak alasan!  Pokoknya ayah gak mau tahu. Kamu gak boleh pulang malem lagi. Titik!” dia lalu meninggalkanku sendirian di ruang tamu. Sendirian. Dia bahkan menarik ibu dan mematikan lampu. Di saat seperti ini… Aku hanya dapat menangis.
     Mungkin sebagian orang menganggapku tidak punya perasaan, cuek setengah mati dan sebagainya. Tapi mereka tidak tahu kalau aku selalu membendung perasaanku. Aku tak dapat menunjukkan pada mereka perasaanku yang sesungguhnya. Aku selalu memakai topeng tanpa ekspresi yang sangat menyiksa. Mereka tak akan pernah tahu. Bahkan Dio sekali pun.
     Di tengah isakku, aku mencoba membuka ponselku. Aku membuka foto kakak. Lebih tepatnya mendiang kakak. Dia sudah tidak ada karena semua tekanan yang dia terima membuatnya menembakkan peluru dari pistol kaliber 9mm yang selalu ada di laci mejanya. Sampai sekarang pun masih berada di sana.
     “Kakak… Aku sudah sangat sakit, kak. Tapi kenapa tak ada yang mau peduli padaku? Tak ada yang mau menanyakan kabarku? aku sudah terlalu sakit, kak. Dan aku sudah tidak tahan lagi…” air mataku menetes perlahan. Tetes demi tetes. “Aku merindukanmu… Kakak” bisikku lirih.

*   *   *

“Ajeng?” Dio tiba-tiba sudah duduk di bangku sebelahku.
     “Ada apa, Dio?”
     “Matamu kenapa? Kok bengkak gitu?”
     “Gak apa kok, Dio…”
     “Oh iya, katanya kamu gak bisa keluar dari Rantai Merah ya?”
     “Iya nih…” aku tersenyum kecut. Dio mengelus punggungku. Dio amat baik. Kalau saja dia cowok, pasti aku udah jatuh cinta padanya. Sayangnya dia cewek.
     “Sabar ya, Ajeng…” dia menunjukkan raut muka simpatik.
     “Iya Dio sayang. Nanti kita jalan-jalan yuk. Aku lagi pingin duduk-duduk di taman nyari udara segar nih”
     “Oke Ajeng. Kita ketemu pulang sekolah nanti ya? Janji?” dia menodongkan jari kelingkingnya.
     “Oke…” aku melingkarkan jari kelingkingku di jari kelingkingnya. “Janji kelingking!”
     “Janji kelingking!” Dio tersenyum puas. “Udah dulu ya, jeng? Aku mau balik ke kelas dulu. Bye…”
     “Bye…” aku melambaikan tanganku padanya. Dia lalu hilang di ujung lorong. Waktu kembali beku.

*   *   *

“Jeng, nanti ada rapat. Maaf mendadak. Kepsek sendiri yang mau ngomong” tiba-tiba salah seorang anggota Rantai Merah datang menghampiriku dan mengatakan itu tadi.
     “Apa!?” aku menggebrak mejaku. Aku sangat marah.
     “Ada apa?” jawabnya santai.
     “Tidak bisa! Aku tidak bisa!”
     “Ah... Aku tidak peduli. Yang penting kamu harus ikut. Kalau tidak... Lihat saja akibatnya” dia lalu meninggalkan kelas. Aku terdiam. Aku sudah muak! Aku pasti mengecewakan Dio...
     Benar saja. Saat aku bicara padanya tentang ini, dia tampak amat sangat kecewa. Tapi dia selalu mencoba memahamiku. Aku benar-benar bahagia bisa memiliki teman sebaik dia. Tapi... Di dalam hati, aku masih menangis. Aku butuh kebebasan. Aku menyesal karena terlalu meremehkan. Bodohnya aku...
     Beberapa menit kemudian para anggota Rantai Merah sudah berkumpul. Ada pak kepala sekolah yang aku tidak pernah akrab dengannya. Dia mulai berceloteh tentang rencananya. Aku sama sekali tidak peduli dengan apa yang dia ucapkan. Aku cuma diam pura-pura mendengarkan. Tampangnya itu semakin membuatku enek. Aku paksa saja...
     Akhirnya selesai juga. Aku lihat jam tanganku. Pukul setengah 6 sore. Beruntung tidak terlalu malam. Aku merasa sedikit lega. Segera kulangkahkan kakiku menuju rumahku.
     Rupanya ayah sudah sampai di rumah. Dia tau aku belum keluar dari organisasi sekolah ini. Dia lagi-lagi marah besar padaku. Bahkan aku ditamparnya 2 kali. Pipiku terasa panas. Itu tidak seberapa. Tetapi hatiku benar-benar sakit. Sekarang aku benar-benar membenci ayah. Benar-benar benci. Semua ini berakhir seperti kemarin. Ayah pergi dan mematikan lampu. Ruangan ini sekarang sangat gelap. Dan aku kembali merindukan kakak.

 *   *   *

“Dio...” sapaku pada Dio.
     “Oh... Ajeng. Ada apa?”
     “Aku sudah gak kuat lagi, Dio. Aku sudah terlalu sakit...” rintihku padanya.
     “Udah-udah ajeng. Nanti aku temani kamu bolos aja. Kalo kamu dihukum, aku bakal minta dihukum juga kok” Dio tersenyum padaku. Dia memang sahabat sejatiku.
     “Tapi… Aku gak mau kamu dihukum, Dio…”
     “Gak apa, Ajeng. Kamu butuh kebebasan. Dan tampaknya sekarang kamu sudah sampai pada batasnya. Kamu gak boleh maksain dirimu, Ajeng sayang. Kasian kamu…” Dio tampak sedih.
     “Baiklah… Terima kasih, Dio…” Aku memeluknya. Benar-benar pelukan yang erat.
     Sorenya saat kita mau bolos, tiba-tiba tanganku ditarik oleh kakak kelas berwajah garang dengan tangan yang gempal. Aku ditarik paksa kembali ke sekolah untuk rapat Rantai Merah. Aku tidak bisa melawan. Dio tampak sangat sedih. Bahkan menangis. Dalam hati… Aku juga menangis.

*   *   *

Aku ambil pistol kaliber 9mm milik kakak di lacinya. Ayah dan ibu masih tertidur pulas di kamarnya. Masih kurasakan bekas dan aroma darah di bibirku karena semalam ayah menghajarku habis-habisan. Dan aku sudah tidak kuat lagi. Ini masih pukul 4 pagi. Aku pun segera pergi dari rumah. Mungkin untuk selamanya…
     Ku langkahkan kakiku menuju gedung sekolah. Masih sepi. Jelas saja. Ini baru pukul 5 pagi. aku sengaja mengambil jalan memutar agar perjalanan terasa agak jauh. Aku tak ingin cepat-cepat sampai di sekolah.
     Aku segera menuju ke atap sekolah. Aku dapat melihat seluruh kota dari sini. Dan semua orang dapat melihatku yang tengah berdiri di sini. Aku lihat jam tanganku. Pukul 6.05 pagi. Aku sudah mendengar banyak orang yang berteriak-teriak dari bawah. Mereka berkumpul memperhatikanku. Mereka tidak akan menyangka apa yang akan aku lakukan bukan? Sesaat kemudian aku melihat Dio dan kedua orang tuaku di bawah. Dio dan ibu tampak menangis. Sedang ayah… Dia hanya menatapku tajam. Aku balas menatapnya. Tatapan tajam penuh benci. Aku yakin dia menyadarinya.
     “Semuanya…” aku berbicara dari atas. Semua tampak mendengarkan. “Sekarang kalian dapat melihat aku berada di atas. Aku bisa saja melompat sekarang juga. Tapi… Aku mau mengucapkan beberapa hal”
     Keadaan bertambah ricuh. Semua tampak panik. Aku sudah tidak peduli lagi. Mereka sudah sangat membuatku muak.
     “Terima kasih untuk kalian semua. Terlebih untuk Dio. Aku sangat menyayangimu, Dio. Akmulah yang selalu memperhatikanku. Lebih dari sekedar teman. Bahkan lebih dari keluarga. Aku sudah tidak kuat lagi menahan semua beban ini. Dan oleh karena itu…” aku menodongkan pistol kaliber 9mm milik kakak di pelipisku. Aku rasakan air mata membasahi wajahku. Ini pertama kalinya aku menangis di depan mereka semua. “Aku tidak bisa apa-apa lagi”
     Aku mendengar di belakang pintu sedang didobrak. Tapi itu sia-sia. Aku sudah mengganjalnya dengan besi dan kayu.
      “Maaf… Aku harus menunjukkan pertunjukan yang mengerikan seperti ini. Tapi aku sudah cukup sakit. Bahkan sangat sakit! Aku ingin semuanya berakhir sekarang juga. Di sini…”
     Aku menarik pelatuknya “Maaf semuanya… Aku selalu mengecewakan kalian” dan peluru itu menembus kepalaku. Aku rasakan darahnya mengalir deras dan sensasinya yang menakjubkan. Aku merasa… Bebas. Mungkin ini juga yang kakak rasakan.
     Aku rasakan tubuhku terhempas jatuh ke bawah tanah. Begitu cepat. Tapi aku merasakan seperti dalam slow motion. Darah segar yang terus menetes dari pelipisku. Aku pasti tak terselamatkan lagi. Itu membuatku merasa lega.
     Aku dapat mendengar mereka semua. Berteriak. Ketakutan. Menangis. Aku dapat melihat mereka semua sampai akhirnya gelap. Dan tak ada lagi suara yang dapat aku dengarkan.
     Kakak. Tunggulah aku. Aku akan segera menyusulmu. Ke tempat yang tenang. Dimana aku Cuma bisa bersamamu. Berdua. Di tempat yang sangat jauh dari sini. Aku pasti akan datang. Tunggulah aku… Kakak