Aku berdiri di sini. Sebelumnya, tidak pernah aku mau berada di tempat setinggi ini. Aku takut ketinggian. Kalau tidak karena dia, aku tidak akan pernah mau.
“Kamu siap?” kata pembimbing di belakangku. Aku hanya mengangguk perlahan tanpa menoleh. Aku berusaha menenangkan hatiku sekali lagi. Aku yakin tidak akan apa-apa. Bungee jumping ini dapat mematahkan Acrophobia ku.
“Ikuti aba-abaku! Satu.. Dua… Lompat!” dan aku melompat sesuai dengan aba-aba itu. Aku merasa seperti terbang dan ini menyenangkan.
Tiba-tiba firasatku merasakan hal tidak baik. Beberapa pantulan setelahnya terdengar suara panik dari orang di bawah. Talinya terputus. Aku mulai panik. Aku cari sosoknya di dalam kepanikanku. Aku sangat berharap dia tidak melihat ini.
Aku menutup kedua mataku. Semuanya terasa lamban. Sangat lamban. Teriakan panik mereka bahkan hampir menghilang. Berakhir sudah…
* * *
Hari itu, 10 bulan yang lalu. Koridor sekolah terasa sangat sepi. Aku tahu kalau ini masih terlalu pagi, tetapi biasanya juga tidak terlalu sepi seperti ini. Mungkin karena tadi sempat hujan sebentar, yang lain jadi punya alasan untuk datang telat.
Ketika aku sampai di kelas, rupanya masih kosong juga. Aku sempat curiga ini sebuah jebakan atau aku masuk ke dunia lain di mana teman-temanku yang lain tidak bisa masuk. Oke, itu terlalu berlebihan. Kembali ke masalah awal kita, kemana yang lainnya? Aku tahu ini hujan pertama setelah kemarau panjang kemarin, tetapi masa harus bolos semua gini? Aku jadi heran sama pola pikir mereka.
“Pagi…” seseorang masuk. Itu Gadis. Wajahnya ceria seperti biasa.
“Pagi” balasku “Kering nih? Hahaha…”
“Iya dong. Kan dianter naik mobil” dia tersenyum jenaka. Menunjukkan sederet giginya yang dibehel hijau tosca. “Situ sendiri juga kering kan?”
“Lah kan kelas ini emang pengering yang baik. If you know what I mean sih…” lalu kita berdua ngakak mengingat kemarin kelas ini sudah kayak oven.
“Eh, sekarang sudah masuk musim hujan kali. Gak mungkin lah panasnya kayak kemarin lagi. By the way… Rani belum datang ya?”
“Oh si rambut berantakan itu? belum. Aku yang pertama datang nih” aku diam sebentar. “Iya juga ya… Kan biasanya dia yang datang pertama” aku jadi ingat anak itu. satu-satunya perempuan yang rambutnya tidak pernah rapi. Pendiam dan polos banget. Kalau bukan karena aku dan Gadis, pasti tidak ada yang tahu kalau dia itu pemain saxophone yang hebat. Berkulit lumayan putih dengan mata agak sipit. Kadang kepolosannya itu bikin ngakak Aku dan Gadis.
Bengongku buyar karena tiba-tiba Rani datang dengan basah kuyup dan bibir yang membiru. Badannya yang mungil itu menggigil. Satu-satunya darinya yang tidak basah hanya ranselnya yang ditutupi raincoat.
“Ran! Kamu gak apa?” Gadis langsung panik. Rani hanya menggeleng tanda dia tidak mau di tanyai apa-apa. Dia termasuk anak yang tertutup pada orang lain. Gadis jadi makin panik. Bisa mati nih anak.
Aku langsung melemparkan jaket tebalku, kemudian aku membongkar tasku untuk mengambil handuk yang sudah aku siapkan dari kemarin karena sebenarnya hari ini ada olahraga. Aku lemparkan saja pada Gadis. Dengan cekatan dia membungkus Rani dengan jaket kulit itu dan mengeringkan rambut dan badan Rani dengan handukku. Aku hanya geleng-geleng kepala.
“Makasih ya… Kalian berdua” ucapnya sambil masih gemetaran karena kedinginan. Aku dan Gadis tersenyum mendengarnya. Dasar anak ini, bikin panik saja.
“Iya Rani, sama-sama. Kamu bilang dong kalau butuh sesuatu! Biar kita gak panik gini. Liat tuh bibir kamu sampai jadi biru gitu” rani terkekeh mendengar ucapan Gadis. “Ih, malah ketawa dia…” Gadis cemberut. Dasar anak perempuan.
Sejak saat itu Rani jadi lebih terbuka, meskipun hanya pada kita berdua sih. Aku tetetap saja senang dengan perkembangannya. Entah sejak kapan dia jadi anti sosial seperti ini.
“Ozzy… Kamu kapan mau ngamen sama Gadis lagi? Aku ikut boleh?” Rani bertanya saat aku sedang ngomongin musik sama Gadis dan yang lain.
“Sabtu malam mungkin. Kamu serius mau ikut?” Rani mengangguk.
“Rencananya dimana, Zy?” tanyanya lagi.
“Di taman kota. Aku nanti bawa sound system kecil yang nanti disambungin ke pick up. Kayak biasanya”
“Oh… Iya nanti berangkat bareng ya?”
“Ada syaratnya, Ran!”
“Apa?”
“Rambutmu nanti disisir yang rapi ya?” ujarku sambil menunjuk ke rambutnya.
“Hehehe… Iya tenang aja. Aku bakal rapi nanti” dia mengacungkan jempol sambil tersenyum. Aku terkesima. Manis banget!
* * *
Sabtu malam. Aku dan Gadis sudah di depan rumah Rani. Perlengkapan yang dibutuhkan sudah di pick up semua. Tinggal Rani dan alto saxophone-nya aja nih.
“Hai! Hehehe… Lama ya?” Rani keluar dari rumahnya. Dia mengenakan jeans biru gelap dan kemeja flanel kotak-kotak biru favoritya. Kali ini dia memakai kacamata, tidak seperti biasanya yang memakai soft lens bening. Rambutnya yang panjang tertata dan diikat rapi tanpa ada sehelai pun yang tampak berantakan. Tak pernah aku melihat dia semenawan ini.
Gadis menangkap maksud bengongku ini. Dia tertawa geli. Sambil nyenggol dia bisik-bisik “Cakep ya? Kesengsem ya?” wajahku langsung berubah merah. Sial!
“Ayo berangkat” seru Rani bersemangat. Kita bertiga pun berangkat ke taman kota.
Di taman kota tampak banyak orang yang sedang berpacaran. Kami pun memulai instrumen kita masing-masing. Gadis dengan gitar akustiknya, aku dengan bass kesayanganku, dan rani dengan alto saxophone yang tampak mewah itu. Alunan musik jazz yang kita bawakan saat itu cukup mengundang pengunjung. Berulang kali Gadis menyenggolku saat Rani sedang jamming. Sialan banget! Aku ketahuan merhatiin Rani terus.
Sesudah ngamen, kita biasa main ke rumahnya Gadis. Uang yang kita dapat selalu kita beri pada panti asuhan atau panti jompo yang sudah kita survei sebelumnya.
Aku sedang tiduran di sofa depan tv ketika tiba-tiba Rani datang dan memandangku dengan aneh. Semakin lama semakin aneh saja cara menatapnya.
“Kenapa Ran?” akhirnya aku bertanya. Kuubah posisiku menjadi duduk biasa. Memberi ruang pada Rani.
“Enggak…” dia cuma menggeleng. Lalu duduk di sebelahku. Aku yakin kalau Gadis tau, dia bakalan ngeledekin aku habis-habisan sampai Rani paham. Rambutnya mulai berantakan lagi. Aku menghela nafas.
“Kayaknya rambutmu itu memang ditakdirkan selalu berantakan ya?” mendengar hal itu, Rani terkekeh. Dia amat suka mendengar hal tentang rambutnya yang berantakan.
“Bukannya kamu ya dulu yang bilang untuk jadi senyaman mungkin sama diri kita sendiri?” Rani menyindir. Tawanya yang renyah itu memenuhi seluruh ruangan ini. Aku sangat menyukai momen seperti ini.
“Hayooo lagi pacaran ya?” tiba-tiba Gadis muncul dari belakang. Tampaknya dia sudah mengintai dari tadi.
“Eh, uh… Endak kok. Kita Cuma lagi bercanda aja, Gadis!” ucap Rani sedikit terbata-bata.
“Alah gak usah bohong lagi. Itu wajah kamu merah” Gadis menunjuk ke wajah Rani. Benar, wajahnya merah sekali.
“Udah ah! Kenapa jadi absurd sih?” ujarku mencoba netral.
“Ih ini juga gak mau jujur sama perasaannya sendiri” aku terdiam. Dia menghujamku tanpa basa-basi. To the point.
“Eh? Ozzy?” Rani langsung menoleh ke arahku. Aku membuang muka.
“Yeeeeeey! Berhasil!” Gadis langsung lari dengan bahagianya. Sungguh biadab!
“Kamu… Apa itu bener, Zy?” aku masih belum berani menoleh. Sialan si Gadis! Dia terlalu mudah buka aib orang!
“Iya…” aku jawab dengan sangat pelan. Entah mengapa, aku malah terasa lega.
“Syukur deh” apa? Aku tidak percaya dengan apa yang aku dengar barusan. “Aku juga sama kok, Zy” itu menjelaskan semuanya.
“Kamu… Serius?” aku membalikkan badanku. Dia mengangguk. Wajahnya yang polos itu sangat meyakinkan kalau dia tidak berbohong.
“Tapi… Aku lebih suka seperti ini”
“Sama” potongku cepat. “Karena cinta sebagai sahabat itu lebih agung dari cinta sebagai kekasih” Rani tersenyum.
“Seperti apa yang kamu katakan dualu kan?” dia tersenyum. Aku mengangguk mengiyakan.
“Sekarang mana itu Gadis? Aku mau kasih pelajaran buat dia.” Segera aku mencari si gadis untuk membalas dendam. Menggelitikinya.
* * *
Sejak saat itu, kita bertiga jadi makin kompak. Kita memang punya kepribadian yang berbeda. Gadis yang Sanguinis. Rani yang Melankolis. Dan aku… Aku apa ya? Hahaha… sudahlah, itu tidak terlalu penting. Kami selalu ngamen setiap malam minggu kalau tidak sedang hujan. Lokasinya pun selalu berganti-ganti. Aku sendiri selalu menunggu saat ngamen itu, karena hanya pada saat itu, aku bisa melihat sosok Rani yang lebih cantik dari biasanya.
Suatu malam ketika kita habis ngamen. Seperti biasa, kita selalu mampir ke rumah Gadis untuk beristirahat sejenak. Aku mengajak Rani tuduran di rumput di taman belakang rumah Gadis. Malam itu bintang tampak dengan jelas karena sebenarnya sedang lampu mati. Di sini hanya ditemani butiran bintang dan sinar sang rembulan yang tampak lebih terang. Romantis. Itu mungkin kesan yang terasa.
“Indah yah?” kata rani dengan wajah polosnya yang tetap menghadap ke langit.
“Kamu tahu? Sinar yang kita lihat detik ini, bisa saja sinar yang bintang itu pancarkan beberapa hari lalu. Bahkan bisa juga beberapa tahun yang lalu. Itu karena jarak antara bintang itu dan bumi ini sangatlah jauh. Dan bersyukurlah kamu karena kita masih bisa melihat keindahan ini. Sering kali cahaya itu terhalang oleh cahaya yang memenuhi langit dari lampu-lampu gedung yang terang itu…”
“Polusi cahaya…” desisnya.
“Tepat sekali. Asap dari kendaraan bermotor juga dapat menutupi langit sehingga cahaya bintang yang hanya tersisa sedikit itu jadi makin tak tampak. Sangat disayangkan bukan?” aku menghela napas. “Aku ingin merubah dunia ini…”
“Aku juga. Bumi ini sudah terlalu tercemari. Global warming, pencemaran air di laut dan di saugnai, pencemaran udara, pencemaran udara, bahkan yang simpel seperti polusi cahaya. Aku merindukan bumi yang dulu”
“Bumi yang hijau dan damai seperti saat kita kecil, bukan?” Rani mengangguk.
Keadaan senyap kembali. Lama kita diam tanpa ada sehuruf pun keluar dari bibir kita berdua. Sama-sama menikmati keindahan dari ciptaan Tuhan yang sering kali tidak kentara.
“Menurutmu mengapa Tuhan mencipkana dunia ini? Mengapa diciptakan manusia seperti kita? Dan… Siapa kita?” aku melontarkan pertanyaan itu begitu saja. Tanpa aku pikir dulu sebelumnya. Aku sendiri juga kaget kenapa aku bisa bertanya tentang hal itu.
“Aku tidak tahu. Oleh sebab itu aku ada. Aku ada untuk mencari jawaban atas pertanyaan itu. Cogito ergo sum. Kamu tahu kata-kata itu kan, Zy?”
“Aku berfikir maka aku ada… Plato” timpalku. “Sebenarnya manusia itu diciptakan untuk berfikir. Oleh karena itu manusia memiliki kelebihan berupa akal. Tidak seperti binatang yang hanya memiliki nafsu dan naluri. Manusia yang tidak pernah berfikir itu ibarat seonggok daging yang punya nama dan bisa jalan. Hihihi…”
“Hihihi… Bisa aja kamu, Zy. Jadi intinya, kita diperintahkan untuk berfikir dari semua kejadian dan benda yang ada di muka bumi ini kan?”
“Bukan hanya bumi, tapi seluruh alam semesta ini”
“Kamu memang bukan orang biasa, Zy. Kamu memiliki pemikiran yang berbeda dari orang lain. Sudut pandang, pola pikir. Semuanya berbeda. Itu yang membuatku kagum. Kamu selalu punya caramu sendiri”
“Well… Setiap orang selalu punya caranya sendiri untuk melakukan suatu hal” ucapku sambil tersenyum. Rani pun juga tersenyum.
“Eh, ada semut” dia menunjukkan jarinya yang dilewti oleh semut hitam kecil itu. “Geli. Hihihi…”
“Kenapa semut yang sekecil itu tidak takut pada manusia yang sebesar ini padahal hewan lain yang lebih besar semacam burung pipit dan kucing langsung lari ketika didatangi oleh manusia? Kamu tahu jawabannya?”
“Yaaaa mungkin seperti roll permainan manusia-gajah-semut itu kan? Manusia mengalahkan semut. Gajah mengalahkan manusia. Semut mengalahkan gajah. Seperti itu kan?”
“Sebenarnya bukan itu yang aku maksud, tetapi itu pemikiran yang benar. Jadi burung dan kucing itu memiliki brain power yang kaya secara metabolis, yang lebih kuat daripada semut. Itu menyebabkan burung dan kucing punya kemampuan yang lebih dalam memahami bahaya seperti manusia. Mereka jadi bisa membedakan mana yang berbahaya, mana yang tidak”
“Oh… Jadi gitu ya? Kamu tahu banyak hal”
“Hehehe… Berkat internet sih” aku menunjukkan muka jenakaku.
“Eh? Dasar… Aku kira tahu dari mana gitu” dia memukul pundakku pelan. Kita lalu tertawa bersama. Tidak lama kemudian lampu menyala kembali. Bintang-bintang mulai ‘hilang’. Bersembunyi di balik gemerlap bumi ini.
* * *
Beberapa bulan kemudian. Ujian sekolah telah usai. Tepat hari ini adalah hari terakhir ujian kenaikan kelas. Semua tampak senang dan pergi enath kemana. Aku sih cuma di kelas. Ngobrol dengan teman-teman tentang ujian tadi. Memang itu ujian paling biadab menurutku. Matematika. Aku yakin kalau yang membuat soal bukan manusia. Sangat yakin! Tiba-tiba ponselku berbunyi. Ada pesan dari Rani. Dia minta aku naik ke atap sekolah.
Deg! Tiba-tiba keringat dinginku meleleh. Tempat itu… Kenapa harus tempat itu?
“Eh, aku mau keluar dulu. Dah…” aku keluar kelas menuju tempat yang diminta Rani. Dengan langkah yang diseret tentunya. Hatiku gusar tak karuan. Jantungku berdebar hingga hampir copot.
Akhirnya aku sampai di pintu untuk ke atap. Aku buka perlahan. Tampak Rani yang berdiri menanti. Senyumnya merekah melihatku datang. Aku memaksakan bibirku untuk tersenyum.
“Hai… Ada apa, Ran?”
“Enggak hehehe… Cuma mau ngajak kamu duduk berdua aja. Ngeliatin langit. Kota keliatan bagus loh dari sini” dia berjalan ke ujung lalu menunjuk ke arah kota. Aku hanya tersenyum. Senyum yang dipaksa sih. Keringat dingin ini tidak mau berhenti menetes.
“Sini deh, Zy” dia menghampiriku lalu menarikku. Aku ikut saja, tetapi ketika sampai di tepi, aku langsung meloncat mundur. Jantungku serasa mau meledak. Nafasku memburu. Rani sedikit terkejut akan reaksiku. Dia lalu menghampiriku yang terjatuh ke belakang.
“Kamu kenapa, Zy?” wajahnya tampak heran. Keringat dinginku terus menetes. Sial!
“Aku…” aku menghentikan kalimatku. Badanku jadi gemetaran.
“Kenapa, Zy? Bilang aja” wajahnya berubah khawatir. Terpaksa aku jujur.
“Aku Acrophobia…” ujarku pelan. Malu.
“Apa itu?” dia tampaknya tidak tahu apa itu Acrophobia.
“Takut ketinggian. Aku takut berada di tempat tinggi, Ran” mendengar itu dia melongo.
“Kamu serius?” aku mengangguk. Dia tampak sangat menyesal “Aku minta maaf ya, Zy?”
“Iya… Gak apa kok. Toh emang aku gak pernah kasih tahu kalian kan?”
“Maaf banget lho, Zy. Ayo kalau gitu kita turun” dia memberikan tangannya. Membantuku berdiri. Kami lalu turun.
“Gak usah di pikirin, Ran. Gak apa kok. Serius deh” ucapku menghiburnya. Senyumku tidak terlepas sedetik pun. Dia jadi tampak tenang. Sudah ada senyum lagi di bibirnya.
“Eh dari mana aja kalian? Pacaran mulu nih! Ayo pulang” Gadis langsung ngomel. Aku dan Rani hanya berpandangan terus ketawa. Mencoba melupakan hal tadi. Kita pulang bertiga dengan sepeda pancal kita masing-masing.
* * *
“Eh, Zy, entar ikut yuk” ajak Gadis saat di telfon.
“Ha? Kemana?” jawaku sedikit malas. Ini masih pagi sekali.
“Udah ikut aja. Rani juga ikut kok. Bawa mobil ya, Zy? Hehehe…”
“Ish… Jadi kalian cuma mau manfaatin mobilku? Biar ku tebak. Mau shoping kan nanti?”
“Hehehe…Tau aja. You know me so well lah, Zy. Entar ya jam 11-an ke rumah. Mobilmu kan yang paling kece”
“Oke deh. Bensin di traktir ya?”
“Gampaaaang…”
“Deal. Jam 11 di rumahmu. Udah, mau tidur lagi nih. Dasar rese”
“Iya iya sana tidur lagi. Entar dandan yang ganteng biar Rani seneng. Hahaha… Thanks ya bassis kece” telfon itu di tutup oleh Gadis. Aku menghela nafas lalu tidur lagi.
Jam 11. Aku sampai di depan rumah Gadis. Polo shirt hijau lumut, celana jeans gelap dan sepatu casual lah yang aku pakai saat itu. aneh memang, aku jarang sekali memakai polo shirt.
“Hai…” Sapaku saat memasuki ruang tamu.
“Ecieee… Ozzy pake polo shirt. Hahaha…” ejek Gadis.
“Ssst! Udah deh…” ucapku dengan wajah dibuat sok polos. Mereka berdua malah ketawa. Aku jadi ikut ketawa.
“Ayooo berangkat. Aku ada beberapa barang yang harus dibeli”
“Buka usaha sembako, Dis?” Rani membuatku tertawa terbahak-bahak. Aduh, kadang kepolosannya itu menghibur sekali. Gadis Cuma cemberut dibilang seperti itu.
5 manit kemudian, kita sudah berada di atas mobil. Gadis yang nyetir. Entah kesambet apaan anak itu sampai mau-maunya nyetirin mobil.
Di perjalanan firasatku mulai tidak enak. Aku coba menenangkan diri dengan memutar musik di mobil. Tetap saja tidak enak. Sesampai di Mal, perasaanku semakin tidak enak. Mobilku memasuki parkiran mobil. Naik. Terus naik hingga lantai yang paling atas. Keringat dinginku mengalir deras. Aku panik. Apalagi saat Gadis memarkirkan mobilku di ujung pas. Menempel ke pagar pembatas. Sial! Jadi ini maksudnya mau menyetirkan kita semua.
“Kenapa kamu, Zy?” tanya Gadis cengengesan. Senang.
“S… Sialan kamu, Dis!”
“Hahaha… Ayo keluar! Ayou liat ke bawah dari sini, Zy. Bagus loh! Hahaha…” Sialan dia mengejekku terus. Terpaksa aku keluar dari mobil. Mataku kupejamkan agar tidak melihat pemandangan mengerikan itu. Aku berbalik dan langsung lari ke dalam mal. Berlari menjauh dari mereka. Sejauh mungkin. Aku kapok disetirin dia. Gak bakal lagi!
* * *
Liburan kenaikan kelas. Kami seangkatan mengadakan rekreasi ke pulau tetangga, Bali. Sudah lama aku ingin pergi berlibur ke sini, tetapi tidak pernah kesampaian. Baru sekali ini saja. Aku sudah senang setengah mati. Kamera DSLR ku tidak berhentimenjepret panorama-panorama yang begitu asing di mataku.
“Zy…” Gadis meneriaki dari jauh. “Sini deh” aku menghampirinya.
“Apaan?”
“Liat tuh” dia menunjuk ke belakangnya. “Bungee jumping. Ayolah Zy… Biat takutmu hilang. Ini karena aku peduli, bukan karena aku mau usil sama kamu. Serius”
“Ogah!” aku langsung lari menjauh. Gadis paham kalau aku tidak suka dipaksa, tapi tanganku tiba-tiba digenggam. Aku menoleh. Rani. Wajahnya tampak memelas. Aku luluh saat itu juga.
“Oke, oke… Aku mau, tapi gak hari ini juga. Aku belum siap…”
“Baiklah… Besok. Kita berangkat bareng. Oke?” kata gadis.
“Oke…” aku yakin besok akan jadsi hari yang besar untukku.
* * *
“Uwaaaaaaaaaaaaaaah!” Gadis meloncat dari ketinggian 40 meter. Wajahnya tampak bahagia. Bagaimana bisa!? Aku menjambaki rambutku. Frustasi.
“Oke, sekarang kamu, Zy” kata rani dengan senyum. Berusaha meyakinkanku.
“Baiklah…” aku mulai mengenakan perlengkapan pengaman dan naik ke atas. Jantungku serasa mau meledak. Ini pengalaman pertamaku berada di ketinggian 40 meter. Semua ini untuk Rani. Hanya karena dia aku mau melakukan hal gila seperti ini.
“Kamu siap?” kata pembimbing di belakangku. Aku hanya mengangguk perlahan tanpa menoleh. Aku berusaha menenangkan hatiku sekali lagi. Aku yakin tidak akan apa-apa. Bungee jumping ini dapat mematahkan Acrophobia ku.
“Ikuti aba-abaku! Satu.. Dua… Lompat!” dan aku melompat sesuai dengan aba-aba itu. Aku merasa seperti terbang dan ini menyenangkan.
Tiba-tiba firasatku merasakan hal tidak baik. Beberapa pantulan setelahnya terdengar suara panik dari orang di bawah. Talinya terputus. Aku mulai panik. Aku cari sosoknya di dalam kepanikanku. Aku sangat berharap dia tidak melihat ini.
Aku menutup kedua mataku. Semuanya terasa lamban. Sangat lamban. Teriakan panik mereka bahkan hampir menghilang. Apakah aku berakhir? Aku membuka mataku lagi.
“Huh?” aku masih berada di atas. Apa ini? Déjà vu? Aku takut. Sangat takut.
“Kamu tidak apa, dik?” tanya pembimbing.
“Aku…” kepalaku terasa amat sakit.
“Kalau kamu tidak sehat, lebih baik adik turun saja. Daripada nanti adiknya makin sakit”
“Aku gak apa kok”
“Yakin?” aku mengangguk. “Oke, ikuti aba-abaku. Satu.. Dua… Lompat!” Aku melompat. Mataku terpejam karena takut hal tadi benar-benar terjadi. Tetapi tidak. Aku mulai berani membuka maataku dan, hey… Ini sangat menyenangkan. Aku tertawa lepas. Berteriak sesuka hatiku. Aku sudah tidak takut!
“Gimana? Enak kan?” tanya Gadis sambil memasang senyum jenaka yang menunjukkan sederet gigi yang dibehel hijau tosca itu.
“Hehehe… Not as bad as I thought. Hehehe…”
“Bener kan kataku?”
“Iya iya nona gitaris” Gadis tersenyum bangga.
“Yeeeey… Ozzy sudah gak takut ketinggian lagi. Hahaha…” teriak Rani senang.
“Eh, lihat tuh rambutmu berantakan banget. Hahaha…”
“Biarin! Kena angin nih. Tapi seneng kok. Hihihi…”
“Makasih ya kalian berdua… Aku berhasil mematahkan ketakutanku” kami pun tertawa lepas. Menikmati liburan yang panjang ini.