Jumat, 30 Juli 2010

Kegelapan

Aku hanya melangkah
Perlahan namun pasti
Dalam mimpi-mimpiku
Bersamamu...
Kegelapan

Kau yang selalu temani jiwaku
Kau yang lewati suka dan dukaku
Kau yang selalu disampingku sejak ku memijak tanah
Dan kau yang telah membuatku kuat
Hanya bersamamu...
Kegelapan

Kau adalah separuh ragaku
Tapi mereka mengusirmu
Membuangmu
Kini aku hampa tanpamu
Bagai jasad tanpa nyawa
Aku ingin kembali
Bersamamu...
Kegelapan

Berikan aku nafas untuk bersanding denganmu
Coba bertahan lagi bersamamu
Dan kembali melawan dunia
Bersamamu...
Hanya bersamamu...
Kegelapan

Meski hanya di alam baka

Terik matahari menyengat jiwa
Ku tatap pohon-pohon kering yang terkapar
Begitu rapuh tanpa daya
Daunnya pun hilang tersapu angin gurun
Perlahan roboh dan hancur

Kegelapan menusuk hati
Menghasut merayuku ikut kedalamnya
Tapi batinku tidak buta
Biarkan aku hancur bersama cahaya
Bukan hidup dalam kelamnya kegelapan

Aku tak kan kabur dari kenyataan
Setelah bertarung sekian lama
Dan aku tak kan berhenti melangkah
Tuk dapatkan kebenaran yang ku cari

Biar tuhan membenciku
Dia pun tak kan hentikan diriku
Biar dosa membeban ragaku
Kakiku akan tetap kuat melangkah
Dengan darah yang akan terus mengalir

Kali ini ku tantang kau
Kau bisa rebut nafas dan jiwaku
Tapi kau tak bisa tutupi kebenaran
Karna hatiku tahu dan percaya
Kebenaran akan terpecah
Dan damai akan kucapai
Meski hanya di alam baka

Tenggelam bersamamu

Gelap meraung meronta
Langit tetap menangis tiada henti
Sang surya tak lagi terbit di langit kelabu
Darah pun menetes perlahan
Dari jantung dunia ini
Yang akan berhenti berdetak

Lelah sudah ku melangkah
Perlahan menjauh mengecil
Mataku sayu gelap tanpa asa
Hatiku remuk menangis
Jiwaku terjatuh tersungkur
Tergores waktu yang hilang dari hidup

Biarkan jiwa ini menangis
Rasakan tiap gores luka waktu
Nikmati gelap dan buram mataku
Juga udara yang sesakkan nafasku

Darah dunia yang menggenang
Hatiku tenggelam bersamamu
Dalam beribu duka yang ku rasa
Dalam berjuta luka yang ku dapat
Dari semua perjalanan yang sia-sia
Yang tak pernah sampai pada cahaya
Dan selalu jatuh dihempas waktu
Yang perlahan mengubur jiwaku
Dan perlahan leburkan hatiku

Angin sejuk yang terlupakan

Ku tatap langit ini untuk yg terakhir
Esok kan ku lihat langit yang berbeda
Dengan udara yang berbeda
Juga tanah yang berbeda

Kau tahu ku akan pergi
Tapi senyummu tak tersirat untukku
Kau tetap tak perduli padaku
Inikah balasan dari semua pengorbananku?

Ku tahu dia telah ada di sampingmu
Temani hatimu yang dulunya mati
Dan akan selalu disana
Dengan semua kehangatan tuk hatimu

Aku hanya bisa tersenyum pahit
Mengingat semua bahagiamu bersamanya
Aku kan pergi tanpa ada hadirmu sedetik pun
Aku tak ingin kau melihatku
Pergi dengan semua luka yang tanpa sadar telah kau beri
Dengan semua beban jiwa yang terus menghantuiku
Ku harap kau tak pernah tahu
Dan ku harap kau tetap simpan senyum itu bersamanya
Bukan denganku
Sang angin sejuk yang terlupakan

Dalam sesat gelap hatiku

Ku tatap awan hitam
Perlahan teteskan tangisnya
Aku hanya menunduk
Merasakan tetes-tetes tangis langit
Dalam semua gemuruh di hati

Percuma saja aku bertarung
Itu tak akan bisa mengubah apa pun
Kekalahan yang selalu bersamaku
Dan luka yang selalu menyelimutiku

Haruskah aku menangis disini?
Menunduk dan memohon?
Belum cukupkah semua penderitaanku?
Atau memang ini yang terbaik?
Persetan!

Cukup sudah!
Aku muak!
Aku lelah harus selalu merasakan kekalahan!
Aku lelah harus selalu dipandang sebelah mata!
Tanpa perduli seperti apa pengorbananku!
Cukup!

Tak kan ada lagi aku disini
Aku akan pergi menghilang
Dengan semua luka
Dengan semua penderitaan
Yang akan selalu temani jiwaku
Dalam sesat gelap hatiku

Sebelum...

Ku genggam pasir di tanganku
Coba redam semua yang kurasa
Mataku menatap kosong
Hilang asaku tuk tetap berjuang

Hancur sudah pedang ini
Remuk sudah prisai ini
Yang tersisa hanya ragaku
Yang telah hancur tercabik

Nafasku kian berat
Dalam tiap langkah kakiku
Dalam jalan yang sepi menanti
Dengan pandangan yang kian kabur
Angin dingin menerpa
Menghempas tubuhku tersungkur

Aku tahu kan berakhir begini
Terjatuh dan terus terjatuh
Tanpa bisa bangkit berdiri
Untuk kembali menarik nafas

Gelap...
Semakin gelap terasa
Nafas pun kian berat tuk berhembus
Ku ingin kau disini
Temani jiwa sepiku
Sebelum mata ini tertutup
Sebelum jantung ini berhenti berdetak
Sebelum jiwaku melayang pergi

Tanpa ada sebuah kenangan

Dalam sepi ku melangkah
Menerjang kabut yang menghalang
Gelap malam yang tak terelak
Aku rasakan lagi kehancuran

Semakin lama terasa
Semakin dalam luka ini
Aku hanya bisa tertunduk
Menangis dalam guyuran hujan
Tanpa seorang kan peduli

Dalam langkah yang kian berat
Lidahku kelu tak dapat berucap
Terlalu pedih untuk diungkap
Dan aku hanya bungkam
Simpan semuanya sendirian

Dalam jalan yang sepi ku pergi
Tinggalkan semua yang ku punya
Ku harap ku bisa pergi tanpa bayang
Tanpa beban yang selalu ku bawa sendirian
Tanpa ada sebuah kenangan
Yang akan semakin melukaiku

Tak kan terhapus oleh waktu

Ku tatap tubuh dingin itu sekali lagi
Bibirmu yang biru
Wajahmu yang pucat
Ku tahu kau akan pergi
Tinggalkan semua yang ada disini

Aku tak akan menangisimu
Karena itu sama halnya menghinamu
Menghina semua perjuanganmu
Menghina semua yang kau pertaruhkan
Yang hanya bisa sampai disini

Masih ku ingat semuanya
Saat kau berjuang membawa senapan
Berperang tanpa ada rasa takut
Memberantas semua yang telah buta hatinya
Tapi semua hanya kenangan
Yang tak akan mengubah keadaanmu

Sekarang tubuhmu berlapis kain putih
Ragamu kan tertimbun tanah merah
Walau kau tak kan bisa bersama lagi
Namamu kan selalu terukir di hatiku
Seorang sahabat seperjuangan
Yang berani menantang maut
Untuk mengejar satu kata merdeka

Terima kasih kawan
Kini tak ada lagi senapan yang berbalas
Tak ada lagi pertumpahan darah
Kau adalah seorang pahlawan
Terima kasih...

Sekarang kau akan tenang
Dalam tidur abadimu
Dalam lubang peristirahatanmu
Nama dan jasamu kan selalu kami kenang
Dan tak kan terhapus oleh waktu

Yang bebaskan jiwaku

Sinar sang surya
Mulai muncul dari sela awan hitam
Yang sebelumnya menangis
Terisak di langit pucat

Aku hanya terdiam
Coba rasakan kesedihan bumi
Coba dengar jeritan angin yang dilupakan
Coba mengerti apa yang langit rasa

Dengan para jiwa yang terluka
Aku tetap bisa bernafas
Meski sering kali terasa berat
Dan terkadang terasa memuakkan

Biarkanlah aku menangis
Bersama langit hitam di langit
Biarkanlah aku menjerit
Bersama angin yang kadang dilupakan
Biarkanlah aku merasakan pedih
Bersama bumi dan langit yang pilu

Aku tak akan berlari
Karna aku tahu itu akan makin pedih
Juga jiwaku yang mulai melemah
Yang mulai muak dengan takdir
Yang hanya bisa bertahan di setiap hembusan nafas
Tanpa sebuah jawaban yang pasti
Tanpa sebuah keyakinan yang benar

Dan nafasku kan berakhir disini
Bersama awan hitam yang terus menangis
Bersama angin yang terlupa yang terus menjerit
Bersama bumi dan langit yang terus murung
Bersama para jiwa yang terluka yang selalu bersamaku
Sampai ku hembus nafas terakhirku
Yang berat dan panjang
Yang bebaskan jiwaku

Untuk cahaya di hati dan jalanku

Ku buka mataku sekali lagi
Dalam gelap malam ini
Ku coba tuk melangkah perlahan
Dalam jalan setapak
Yang akan menuntunku kembali

Aku bersimpuh di hadapan-Mu
Menangis ratapi masa laluku
Hatiku telah buta oleh muslihatnya
Aku terjatuh tersungkur
Dalam sumur gelap penuh derita
Dan baru ku sadar
Semua ini salah
Dan aku telah jauh tersesat

kini aku hanya bisa memohon ampunan
Dari semua perbuatanku
Dari semua kesalahanku

Dalam setiap ruku' dan sujudku
Dan dalam setiap hembus nafasku
Ku berdo'a kepada-Mu
Untuk cahaya di hatiku
Juga cahaya di jalanku

Kebebasan untukmu

Desir angin malam yang menusuk tulang
Ku lihat tubuh-tubuh tak bernyawa di hadapanku
Darah segar pun berceceran
Mengalir perlahan dari jantung yang tertembus

Hatiku terus mencari jawaban
Kapan ini akan berakhir?
Kapan suara senapan yang berbalas itu berhenti?
Kapan darah segar itu berhenti mengalir?
Kapan nyawa-nyawa tak berdosa itu bisa merasakan perdamaian?
Kapan mereka bisa terlelap dengan senyum di wajahnya?
Kapan...

Aku tahu apa yang kau rasa...
Aku tahu sakit karena mereka pergi
Meninggalkan beribu memori di hatimu
Aku tahu apa yang kau rasa...
Luka yang terus membekas
Dan pedihnya yang masih terasa
Aku tahu apa yang kau rasa...

Tolong hapus tangismu
Karna sekarang kami disini
Membelamu hingga tetes darah penghabisan
Kami tidak takut kalau nyawa kami taruhannya
Kami akan memperjuangkan kebebasan untukmu
Melawan mereka yang telah buta hatinya
Dan menunjukkan kebebasan padamu
Tanpa perlu ada lagi pertumpahan darah

Ketidak pastian

Aku terdiam disini
Mataku terpejam
Bibirku terkatup rapat
Hatiku hanya bisa menjerit
Dalam sunyi gurun ini

Aku melihat sesuatu yang tak nyata
Tapi kenyataan tak dapat ku lihat
Hanya bisa bertahan
Dalam setiap ketidak pastian
Yang terkadang memberi luka

Apa aku harus selalu merasakan kekalahan?
Apa aku harus selalu merasakan luka-luka itu?
Apakah ini takdirku?
Merasakan ketidak pastian?
Aku tak mau!

Dinginnya angin menusuk hati
Tanpa perapian
Yang bisa hangatkan jiwaku
Yang membeku dalam sunyi
Dalam ketidak pastian

Haruskah aku menyerah pada hidup?
Haruskah aku akhiri disini?
Dalam gurun yang dingin ini?
Dalam ketidak pastian?
Ku harap tidak
Dan kuharap dengan pertaruhan nafasku
Ku temukan jalan keluar
Dari semua ketidak pastian

Tanpa kalian

Aku berdiri disini
Sendirian tanpa kawan
Tanpa tahu arah tujuan
Hanya terdiam mematung

Ku rasa kalian pergi tinggalkanku
Aku memang tak berguna untuk kalian
Aku hanya beban
Aku hanya sampah
Itu benar bukan?

Tak ada lagi tempat untukku
Di antara kalian hanya benci yang ku lihat
Dinginnya malam kini kurasa sendiri
Tanpa api kasih kalian
Hanya gelap malam yang pekat

Aku tak akan lagi bertanya
Karena aku sudah tahu jawabannya
Aku harus pergi
Arungi sungai yang gelap
Dengan luka menghujam
Yang semakin pedih terasa
Mira sedang suntuk di depan laptopnya. Bosan berat. Mau nulis kok buntu, mau ngerjain tugas biadab dari guru-guru tak berkeprimanusiaan itu juga males. Mira berfikir sejenak. Akhirnya setelah bertapa selama 5 menit, mira mengambil modem dari laci meja belajarnya.

“Mira, lagi ngapain kamu?” teriak mama dari luar kamar.

“Ngerjain pe-er ma...” Mira berbohong.

“Ngerjain pe-er ato facebook-an? Kok dari tadi dengernya cuma lagu doang?” mama mulai curiga.

“Ya... biar gak suntuk ma!” jawabnya beralasan.

“Suntuk sih suntuk Mir, tapi kok lagu rock yang kamu denger?” mama masih tak percaya.

“Habis kalo Mira puter lagu yang kalem-kalem malah ngantuk... Udah deh, mama nih cerewet amat sih!?” Mira mulai jengkel.

“Iya deh... Awas kalo kamu bohong ya?” mama mengancam.

“Iya nyonya!” ujar Mira kesal.

Mama beranjak pergi dan Mira kehilangan napsu untuk ber-facebook-ria mengingat kalo mama marah bisa nggak dapet jatah makan 7 hari 7 malem (Ih! Sadis ya?). Akhirnya Mira mengerjakan tugas yang sudah menggunung itu. Tak peduli mata mungilnya mulai sayu, mulai ngantuk, Mira tetap mengeerjakan tugas-tugas tersebut sampai kelar. ya, mau gimana lagi? Kalo nggak kelar bisa-bisa dikuliti atau lebih parah dicincang hidup-hidup sama Pak Eko, guru biadab bin killer yang ngasi tugas fisika yang susahnya ngalah-ngalahin makan lemper pake hidung sambil bersepeda roda 1 itu.

Keesokan paginya di dalam kelas, banyak anak laki-laki yang bingung nyari contekan. Di sekolah Mira kejadian begini sih wajar-wajar aja.

“Eh, Mir, aku nyalin pe-er kamu yang fisika ya?” seorang anak bernama Wahyu memohon pada Mira.

“Boleh. Per kata lima rebu ya?” ujar Mira santai.

“Buset! Jangan gitu dong Mir... kamu kan anak baek. Anak baek itu harus menolong teman yang kesusahan” Wahyu berusaha merayu.

“Tapi ini ceritanya beda lagi Yu. Ini tentang masa depan kamu” Mira berusaha menasehati.

“Ah, sebodo teing tentang masa depan! Yang penting sekarang!” Wahyu tetap bersih keras mencontek PR Mira.

“Iya deh... Ini Yu. Inget! Jangan dimakan!”

“Lo kira gue ape kok makan kertas, hah!?” Wahyu mulai keki. Mira ngikik kaya kuda.


* * *

Sekarang Mira sedang berkaca di toilet sambil membetulkan kerudungnya yang berantakan karna ditarik-tarik sama sohib tersayangnya, si buta dari gua hantu... Eh, si Dewi. Setelah membenahi kerudung putihnya, Mira segera menuju kantin untuk acara kuliner. Setelah acara kuliner selesai, Mira mencari-cari sohibnya itu di berbagai penjuru sekolah tapi nggak ketemu. Kemana si Dewi? Ya wallahu alam, enggak ding. Dewi ada di atap sekolah. Lagi ngelamun.

“Hayo, Dewi, ngelamunin apa?” Mira mengagetkan Dewi.

“Astagfirullah... Mira!!! Jangan ngagetin orang dong!” sembur Dewi galak.

“Hahaha... lagian ngapain juga di sini?”

“Aku lagi ngeliatin awan... indah banget Mir...” Dewi mengadah.

“Perlu diambilin buku? Kamu kan jago nulis puisi Dew” sindir Mira.

“Apaan sih? Lagi pula puisi buatanmu lebih bagus dari puisi buatanku. Harusnya ya kamu yang ngambil buku tulis Mir”

“Alah, jangan merendah kamu!”

“Siapa juga yang merendah? Itulah faktanya. Kamu jauh lebih baik dari aku. Dari sudut manapun, Mir”

“Tapi wajahku nggak secantik dan semanis kamu Wi!” Mira merasa tak enak pada Dewi. Tapi memang Dewi adalah primadona di sekolah Mira. Cakep banget.

“Mira, Mira... Thank you very much” Dewi tersenyum lemah.

“Ayolah Wi... nggak usah kayak gitu!”

“Aku Cuma bilang makasih kok? Nggak boleh emang?”

“Nggak gitu juga sih. Ya udah deh. Nggak usah dibahas lagi, oke?” Mira mengajak Dewi kembali ke kelas. Maksudnya suruh ngebantuin nyapu kelas sih. Hehehe...

Sepulang sekolah, seperti biasa, Mira sedang duduk santai di tugu pahlawan. Sedang memikirkan sohibnya, si Dewi yang belakangan ini murung mulu. Kaya’ TKI abis dianiaya ama majikannya. Kira-kira kenapa ya Dewi yang biasanya ceria bisa jadi pemurung gitu? Batin Mira bertanya-tanya. Ya, akhirnya daripada bengong, Mira menyalakan laptop hitam kesayangannya itu dan melihati foto-fotonya dan Dewi. Di foto, wajah Dewi tampak berseri-seri, beda dengan yang sekarang. Apa karna sebentar lagi UNAS? Entahlah, hanya tuhan yang tau.

“Eh, Mira, Kaya’ biasanya ya? Nongkrong di tugu pahlawan. Lagi ngapain nih?” Dewi sudah ngejongkrok di sebelah Mira.

“Eh, Dewi, nggak ngapa-ngapain kok. Cuma liat-liat foto kita” Mira menatap wajah Dewi. Bibir Dewi memang tersenyum, tapi Mira dapat melihat kesedihan di matanya.

“Oh... Waktu study tour di Malang dulu ya?”

“Iya... Eh, Wi, aku lihat belakangan ini kamu murung mulu. Kenapa sih? Cerita aja! Rahasia dijamin!”

“Kamu kira on-clinic apa? Hahaha... Nggak ada apa-apa kok Mir”

“Jangan bohong, ah! Apa kamu stress gara-gara UNAS bentar lagi?”

“Aku bilang nggak ada apa-apa, Mir!” Dewi sedikit emosi.

“Ya udah, terserah kamu. Okelah kalo begitu” mereka berdua tertawa.


* * *

Mira baru sampai rumah tepat jam 3 sore, padahal dia sudah keluar dari sekolahnya dari jam 12 siang. Dengan basah kuyub, Mira memasuki halaman rumahnya. Di depan pintu masuk mama sudah menunggu sambil bawa cobek dan ulekan. Dengan muka garang ala Bison lagi ngamuk, mamanya mendekat ke arah Mira.

“Dari mana aja kamu? Jam segini kok baru pulang. Kenapa nggak sekalian aja kamu nggak usah pulang?” kata mama sambil nodongin ulekan ke wajah Mira.

Mira berkeringat dingin, dengan menggigil dia menjawab “Maaf ma... Tadi Mira abis dari tugu pahlawan sama Dewi. Mau istirahatin otak sejenak. Masa gak boleh ma?”

“Terus kenapa pas baru ujan kamu pulang? Apa kalo nggak ujan kamu nggak pulang, hah?” mama masih marah.

“Ya nggak gitu juga, ma... Tadi pas lagi jalan pulang, tiba-tiba ujan angin” Mira mencoba menjelaskan pada mama.

“Ya udah, sekarang kamu masuk, terus mandi. Entar masuk angin lagi. jangan diulang!” mama meletakkan cobek dan ulekan tersebut di meja, lalu menjewer telinga Mira.

“Ma...! MA! Sakit ma! Entar telinga Mira copot gimana?”

“Alah... Entar bisa dilem pake Alteco” ujar mama santai lalu mengeraaskan jewerannya.

“Aduh! Mama ini aneh-aneh aja! Masa’ telinga bisa dilem? Disangka mainan apa?”

“Lho, ngelawan?” kali ini mama menjewer kedua telinga putri pertamanya itu.

“Eh, iya, ampun ma... AMPUN!” Mira menjerit.

“Cepet sana!” mama melepas jewerannya lalu masuk kedalam rumah bergaya arsitektur mediteranian tersebut.

Sambil ngelus-ulus telinganya yang panas, Mira berjalan menuju kamarnya dan mengambil handuk lalu mandi. Setelah dia mandi dan badannya kembali segar, Mira menunaikan shalat ashar lalu kembali membuka laptop hitam kesayangannya dan memutar 4 lagu kesaya ngannya. ‘Critical Acclaim’, ‘Beast And The Harlot’, ‘Second Heartbeat’, dan ‘Brompton Cocktail’. semuanya lagu Avenged Sevenfold. Ya, Mira sangat suka sama yang namanya Avenged Sevenfold. Sambil menikmati lagu-lagu tersebut, Mira membuka facebook. Dilihatnya foto terbaru Wahyu yang sedang berada di dekat patung selamat datang di Jakarta. Tampaknya itu foto dia ambil saat liburan kemaren. Mira memang suka pada Wahyu, Tiba-tiba ponsel Nokia N70 putihnya berdering. Dari Dewi. Tanpa basa-basi langsung diangkatnya telpon itu.

“Halo, Dew, ada apa?” Mira membula pambicaraan.

“Mm... Gini Mir, aku mau cerita semuanya. Mungkin ini bisa nggurangin bebanku meski sedikit” Dewi sedikit ragu.

“Iya, nggak apa, cerita aja! Aku bakal dengerin kok” Mira meyakinkan Dewi.

“Jadi gini... Aku sedang jatuh... cinta” ucap Dewi pelan.

“Ternyata. Aku kira kamu murung kenapa, eh ternyata gini toh. Terus, kamu jatuh cinta sama sapa? Aku nggak akan bilang sapa-sapa kok”

“Bener, janji ya?”

“Janji!” Mira mulai tak sabar.

“Sama Wahyu”

“Hah!?” Mira berucap seakan tak percaya pada apa yang sahabatnya katakan. “Apa kamu bilang tadi?” Mira tetap tak percaya.

“Aku udah dibuat jatuh cinta sama Wahyu, Mir”

Mira bener-bener kaget. Ponsel putihnya sampai terjatuh saking kagetnya dia. Cassingnya pecah dan batrainya lepas.

“A-apa...? Dewi suka sama Wahyu?” Tangan Mira masih gemetaran. Sekarang Mira dihadapkan pada suatu yang berat. Sahabatnya, si Dewi, atau orang yang dia sukai, si Wahyu. Sesaat mira kalut dalam suasana ini, tapi akhirnya dia memilih sahabatnya. Dewi jauh lebih membutuhkan Wahyu daripada dirinya.

“Inget Mir, pacaran itu dosa. D-O-S-A-!” Mira berkata pada dirinya sendiri sambil berusaha meyakinkan dirinya. Tapi tetep aja, Mira merasa sedikit kecewa.

Kembali dilihatnya layar laptop yang menunjukkan home facebook Mira. Dewi ternyata sedang online. Mira sungguh ingin minta maaf soal yang tadi.

“Hey Dew, sori yang tadi” Mira mulai menulis di kotak chat Dewi

“Ah, nggak apa kok. Emang tadi hapemu kenapa?” Dewi membalas.

“Batrenya abis. Tiba-tiba mati” Mira berbohong.

“Oh... Ya udah. Thank’s juga buat yang tadi. Sekarang hatiku udah lega”

“Your welcome” Mira menutup kotak chat tersebut.

Setelah itu Mira log-out dari facebook-nya dan berusaha tidur. Pikirnya tidur dapat membuat hatinya tenang. Dalam tidurnya dia bermimpi buruk.

“Hah... Hah... Hah...” Mira bangun dari tidurnya. Nafasnya tak beraturan. Dilihatnya jam dinding itu. Sekarang pukul 18.00. Sudah magrib. Mira cepat-cepat bangkit, lalu mengambil air wudlu dan shalat magrib. Setelah shalat, Mira membaca Al-Qur’an. Mungkin mimpi tadi adalah gangguan setan.

“Mira, ayo makan!” teriak mama.

“Iya, ma... Bentar, Mira mau nyimpen Al-Qur’an Mira dulu” Mira berjalan menju rak buku. Tiba-tiba kakinya menginjak sesuatu. Itu ponsel putihnya. “Duh, bego! Aku lupa tadi hape aku jatuh” Mira mencoba mencari semua bagian dari ponselnya itu. setelah semua sudah terkumpul, Mira memasangnya pada tempatnya. Berhasil? Iya berhasil, tapi nggak mau nyala. Rusak deh.

“Mir, Cepetan! Papa udah dateng dari Jakarta loh! Katanya kamu kangen?” lagi-lagi mama berteriak.

Mira bergegas turun ke ruang makan. Benar, papa udah dateng dari Jakarta. Mereka semua termasuk Guntur, adik satu-satunya si Mira yang bandelnya ngujubilah minjalik tapi kadang bisa berubah jadi baik banget.

Dengan cepat Mira meraih tangan papa dan menyaliminya. “Pa, Mira kangen papa... Gimana di Jakarta pa?”

“Hahaha... Iya,, papa juga kangen sama Mira, sama Guntur, Sama mama juga. Papa di Jakarta baik-baik aja”

“Pa... Hape Mira rusak... Tadi jatoh dari meja belajar” ucap mira sedikit berbohong sambil tertunduk.

“Kebetulan sekali? Papa punya hadiah buat kamu karena kata mama kamu dapet peringkat 1 di kelasmu. Ini Mira sayang” papa mengambil sebuah bingkisan dari bawah meja dan diserahkan pada Mira.

“Apa ini pa?” Mira Bertanya bingung.

“Cepet buka kak!” Guntur sudah tak sabar. Dibukanya bingkisan itu. Isinya ponsel iPhone 3GS. Warnanya hitam. Papa tau banget selera dan warna kesukaan Mira. Kalo gak putih, ya hitam.

“Wah... Hape baru. Hape mahal lagi. Makasih ya pa...” Mira memeluk papa.

“Tambah pinter ya Mira!” papa berpesan. Mira mengangguk.

“Pa... Guntur nggak dapet hadiah juga? Guntur kan juga dapet peringkat 1 di kelas Guntur” Guntur merasa tak terima.

“Hahaha... Sabar dong Guntur! Guntur juga dapet hadiah kok. Ini...” papa memberikan bingkisan yang jauh lebih besar pada Guntur. Dibuka bingkisan itu yang ternyata berisi PS3. Guntur sangat senang hadiah dari papa.

“Jangan kebanyakan main lho Guntur!”

“Iya pa...”

“Pa, Mira balik ke kamar dulu ya? Mau belajar”

“Iya…” setelah itu, dia langsung balik kanan dan berjalan ke kamarnya.


* * *

“Ya ampun!” Mira kaget melihat jam di sampingnya yang menunjukkan pukul 06.00 pagi. Dia telat bangun karena alarmnya belum diseting. Waktu shalat subuh pun sudah lewat dadi tadi. Langsung dia gedubrakan untuk mandi, untung saja peralatan sekolahnya sudah disiapkannya dari kemarin. Kalau tidak? Mungkin dia akan telat. Setelah selesai mandi, dia langsung berlari ke bawah dan pamit berangkat.

“Lho, Mir, gak sarapan dulu?” tanya mamanya saat Mira tergopoh-gopoh mencium tangannya dan papa.

“Udah telat ma. Gak sempat” ujar Mira.

“Ya udah cepet berangkat. Hati-hati di jalan, Mir…” kata papa.

“Iya…” ucapnya sambil berlari menuju pintu pagar.

Dia berlari sekencang tenaga sambil sesekali melihat ke arah jam tangannya. 15 menit lagi pintu gerbang sudah ditutup. Mira sudah pasrah. Tiba-tiba sebuah BMX datang dan menghalang jalannya. Itu Wahyu.

“Mir, ayo cepet naik! Kalo enggak, entar kita bisa telat!” Wahyu langsung nyerocos. Mira masih agak bingung. Dia bengong.

“HOI! Jangan bengong! Ayo cepet!” Wahyu menyadarkan Mira.

“Eh, iya, sori” Mira langsung naik di pijakan dan Wahyu memancal BMX hitamnya dengan kencang.

Tepat 5 menit sebelum pintu gerbang ditutup, Mira dan Wahyu sampai di sekolah dengan selamat.

“Nyaris aja…” ujar Wahyu.

“Untung tadi ada kamu. Kalo gak? Wah… mungkin aku sudah disuruh pulang sama pak satpam dan yang pasti, mamaku pasti ngomel sampe mulutnya berbusa-busa” keluh Mira. Mendengarnya, Wahyu ngakak gak karuan. Semua orang jadi melihat kearah mereka berdua. Mira jadi malu, gak kaya Wahyu yang ngakaknya makin gokil.

“Gila kamu! Udah diem!” Mira berkata pada Wahyu.

“Biarin! Ini kan mulutku. Apa hakmu ngelarang aku ketawa? Hahaha…” wahyu ngakak lagi.

“Dasar!” Mira meninggalkan Wahyu dengan sebal.


* * *

“Cie… Hape baru nih…” cibir Dewi saat melihat Mira mengutak-atik iPhone 3GS miliknya. Saat itu jam kosong. Gurunya gak masuk karena ada keperluan.

“Hahaha… Apaan sih?” ucap Mira malu.

“Emang hapemu kenapa, Mir?” Tanya Dewi.

“Kemaren itu jatuh. Pecah. Gak mau idup waktu udah aku gabung jadi satu”

“Kasian banget. Hahaha…”

“Eh, iya, yang kemarin itu beneran gak?”

“Jangan bahas itu dong. Ini di sekolah. Entar aja kalo main kemana gitu”

“Kalo main ke rumah ‘dia’?” ucap Mira sambil melirik Wahyu dengan ujung matanya.

“Apa lagi itu,Mir. Ah udah deh… Aku udah cukup stress mikirin ini. Bentar lagi UNAS lagi. Jadi tolong ya… Jangan buat aku tambah stress. Understand?”

“Yes mam! Hahaha…” dan mereka kembali bercanda.


* * *

“Eh, Mir, bisa ikut aku sebentar gak?” ucap Wahyu setengah berbisik pada Mira. Mira yang saat itu sedang baca-baca buku di perpus jadi bingung.

“Mau apa emang?”

“Udah… Entar aja aku kasi tau. Kamu gak akan aku apa-apain kok. Tenang aja”

“Iya deh…” Mira bangkit dan mengikuti Wahyu. Tepat di kelas yang sepi, Wahyu balik badan dan menatap Mira dalam-dalam. Mira jadi merinding.

“Mir… Kamu bisa bantu aku kan?”

“Bantu apa, Yu?”

“Kamu ini sahabatnya Dewi kan?”

“Iya. Kenapa sama Dewi, Yu?

“Tolong besok kamu bawa dia ke tugu pahlawan”

“Kamu mau ngapain kok aku disuruh bawa dia ke sana? Mau kamu tembak?” Mira coba bercanda. Tapi candanya membuat Wahyu kaget. Sepertinya tebakannya benar.

“Kok kamu bisa tau?”

“Hah? Emang beneran mau kamu tembak?” kini giliran Mira yang terkejut. Hatinya serasa patah, lalu diinjek-injek, lantas dipukul pake palu, terus diremes-remes dan akhirnya dibuang ke tong sampah yang dibakar. Kebayang gak? Pokoknya rasanya sakiiit banget. Tapi Mira tetap berusaha tersenyum. Berusaha nyembunyiin rasa kecewanya yang amat sangat. Dia gak mau nangis, apa lagi Cuma gara-gara cinta.

“Iya lah! Masa bo’ongan? Bisa kan?”

“Gampang itu…” ucap Mira riang. Padahal? Ancur deh hatinya.


* * *

Sore itu di tugu pahlawan, Mira datang bersama Dewi. Seperti permintaan Wahyu kemarin. Dengan hati yang gelisah di tiap langkahnya, Mira berjalan mengiringi Dewi.

“Tunggu bentar ya, Dew…” ucap Mira.

“Mau kemana kamu, Mir?”

“Udah, tunggu aja bentar”

Dewi menanti sendirian. Dia mengadah menatap awan yang mulai gelap oleh awan hitam. “Aduh… Mira kemana sih?” Dewi semakin was-was. Tiba-tiba terdengar Mira berteriak dari belakang memanggil namanya.

“Dewi!” dan Dewi pun menoleh. Disana Wahyu berdiri dan perlahan berjalan mendekat. Sambil berjalan, dia membacakan sebuah puisi.

“Dewi, dengarkan Sebuah sajak yang akan ku persembahkan untukmu…” dan Wahyu mulai berjuar.


Aku memang tak seindah mentari di kala senja yang bisa menyinari dunia
Aku memang tak sekuat ombak di samudra yang bisa merengkuh dunia
Aku memang manusia biasa yang tak mampu berbuat apa pun
Namun…
Aku punya cinta…
Hanya untukmu…
Kasih…


Dan saat sajak itu telah selesai diungkap oleh Wahyu, dia menggenggam tangan Dewi. Menatapnya lekat-lekat lalu berkata lirih.

“Dewi… mau kah kamu menjadi malaikat yang akan sinari di hatiku?” Dewi mengangguk mengiyakan, membuat hati Mira yang melihat dari kejauhan terasa tersayat. Sakit. Dia tak tahan lagi. Dan saat mereka pergi dari sana, hujan turun mengguyur Mira. Dia mengadah dan mulai menangis. Dalam hatinya dia bersajak.


Aku disini sendiri
Terdiam mengadah
Menangis dibawah hujan
Melihatmu menghilang bersamanya
Kau jatuhkan dan hancurkan aku
Disini
Sendirian…

Meski sakit kurasa
Kumohon padamu tuhan
Biarkan senyum itu tetap mengembang si bibirnya
Biarkan dia bahagia dan tenang
Meski bukan bersamaku

Sekarang pergilah bersamanya kasih
Pergilah…
Jangan kau perdulikan aku
Biarkan aku disini
Merasakan sakit ini sendirian
Tanpa ada hadirmu di sampingku
Pergilah kasih…
Aku akan tetap disini
Merintih dalam pedih hatiku…