Kembali ku menatap kosong
Coba paksa otak ini putar kembali memori
Dimana semua berawal
Ketika aku kehilangan semuanya
Mereka semua sama saja
Hanya bisa bicara
Tanpa ada perbuatan yang nyata
Dan aku muak
Tak tahan seperti ini
Untuk apa aku peduli?
Jika mereka tak peduli padaku
Untuk apa aku peduli?
Jika mereka selalu tidak menganggapku ada
Tak dianggap
Jujur aku takut
Aku merasa selalu sendiri
Tersesat dalam fikiranku sendiri
Tanpa ada yang kan menolong
Karna aku memang dibuang
Inikah takdirku?
Semakin jauh ku melangkahkan kaki
Semakin tersesat jiwa ini
Apa aku bisa kembali?
Pada cahaya
Dan pada kepercayaan
Sekarang ku tutup mata ini
Ku ikhlaskan semuanya
Juga jiwa ini
Jika ini buat mereka peduli
Dan ketika ku buka mata ini
Aku pergi melayang
Hilang
Dalam kepedihan dan kesedihan
Untuk selamanya
Sabtu, 17 April 2010
Detik demi detik berlalu perlahan. Diliriknya jam dinding kamarnya “Sudah jam 12 malem” gumamnya pelan. Dilihatnya pula komputernya yang sedang Microsoft Word 2007. Putih bersih, alias kosong! “Duh! Buntu amat. Udah tiga jam juga belum sekatapun tertulis” ucapnya sambil garuk-garuk kepala.
“Edo!!! Udah malem, cepet tidur sana!” suara wanita paruh baya terdengar dari luar kamar. Itu pasti mami.
“Iya, bentar mi!” teriak Edo. “tapi mami kok tahu kalo Edo belom tidur?” tanya Edo heran.
“Jelas tahu lah… Masi kedengeran lagu-lagu gak karuan itu!” teriak mami dari luar kamar. Dilihatnya komputer kesayangannya. Winamp. Play. Avenged Sevenfold. Unholly Confession. Duh! Begonya diriku! Batin Edo.
“Udah cepet tidur sana!” mami udah mulai emosi.
“Iya mi…” ucap Edo lesu. Dengan terpaksa dia mematikan komputer dan tidur. Keesokan paginya saat matahari baru saja muncul dari timur, Edo udah siap dengan perlengkapan sekolahnya plus kunci Honda CBR 150R hitamnya. Setelah Edo menyalakan sepeda motor itu, dia teringat akan satu hal. Flash disk-nya Bima! Dengan pontang-panting Edo berlari menuju kamarnya. Setelah masuk langsung diobrak-abrik kamar bercat hijau muda itu. Dari mulai meja belajar, rak buku, bawah kasur, rak kaset, sampai lemari baju juga. Ketemu? Enggak, dan oleh karena itu Edo tambah bingung. Ditajamkannya pengelihatannya. Dipandang seluruh penjuru kamarnya. Ternyata masih menggantung di port USB CPU-nya. “Bego!” Edo mengumpat dirinya sendiri. Setelah memasukkannya kedalam tas ransel dan menutup rapat kamarnya yang udah mirip, bahkan lebih parah dari pada kapal Titanic yang tenggelam di laut Atlantik, Edo langsung ngibrit minggat dari rumahnya dan ngebut ke sekolahnya.
Sesampai di sekolah dan hampir kena tilang kalo aja Edo kurang cerdik, Edo menaruh tas ransel jeans yang sudah dia miliki sejak kelas 2 SMP dulu. Di tempat biasanya dia duduk. Di sebelah sohibnya, si Bima. Si Bimanya sendir dimana?Ya mana saya tahu. Urusannya dia mau kemana aja. Kan udah gede. Hihihi…
“Hoah…” Edo menguap.
“Heh! Pagi-pagi udah ngantuk!” Qive tiba-tiba nongol dan menepuk pundak Edo. “Bantuin dong! Aku gak ngerti rumus ini” Ujarnya menyodorkan buku berisi rumus-rumus fisika.
“Males ah… Masa pagi-pagi udah dijejelin rumus-rumus biadab begitu?” Edo cuek.
“Ih! Pelit amat jadi orang! Awas kamu! Aku sumpahin biar entar muka kamu jadi kaya kodok!” Qive mengumpat
“Biarin! Aku sekolah disini bayar kok! Ngapain kamu sewot?”
“Ih! Dasar!” Qive pergi dengan emosi.
“Jahat amat ama cewek nih anak?” Bima yang tadi ngilang ternyata sekarang udah duduk manis di sebelahnya.
“Udah ah! Bodo! Aku ngantuk. Capek” Edo membenamkan kepalanya di tasnya yang kini dia taruh di atas meja.
“Capek? Abis nguli semalam? Eh, entar pulang maen PB yuk? Ada misi baru katanya…”
“Aku udah pensiun. Lagian sekarang banyak yang nge cheat! Buat emosi aja! Aku bilangin ke GM baru tau rasa tuh orang!”
“Ya udah… jalan-jalan ria ke Cito kalo gitu. Ato ke Super Mall?”
“Gimana kalo ke Bromo aja?” kata Edo asal yang langsung disambut jitakan hangat dari Bima.
“Apaan sih!? Ini kepala! Idiot!”
“Siapa bilang itu kelapa?”
“Grrr…” setelah itu dapat ditebak. Adu mulut anatara dua anak kelas akselerasi itu. Yang muka kaya anjing lah, idiot lah, geblek lah, babi rusa lah, de el el. Pokoknya gak baik buat dicontoh.
“Udah deh. Gini aja, entar kita ke DBL Arena, ngeliat pertandingan basket” usul Edo mengahiri adu mulut itu.
“Kan hari ini yang maen anak SMP?”
“Mau gak?”
“Iya deh…” akhirnya Bima setuju.
* * *
Di DBL Arena sepulang sekolah. Edo dan Bima sedang menonton pertandingan basket yang dimulai 10 menit yang lalu. Tapi sebenernya yang liat cuma Bima. Edo Cuma ngedengerin lagu dari Nokia X6 berwarna merah yang baru dia beli seminggu yang lalu. Jelas Bima dongkol dan melempar koran yang dia dapat saat membeli tiket masuk tadi.
“He, kamu tadi yang ngajak liat basket, tapi malah aku yang liat. Kamunya enggak. Mentang mentang hapenya baru gitu?” suara Bima hampir tak terdengar karena sorak-sorak para supporter yang saling beradu.
“Enggak gitu. Aku lagi balesin sms anak-anak iseng. Yang dimana lah, ngapain lah, dan sebagainya. Ya aku bales asal aja. Kaya lagi di gang doly, lagi nyari perek, dan sebagainya. Biar dongkol tuh anak!” Edo agak teriak biar Bima denger.
“Hahaha… Tetep aja kamu itu! Cuekmu itu kurangin dikit lah… Entar gak punya gandengan loh”
“Emang gue pikirin?”
“Lagu apa sih?”
“Biasa… Avenged Sevenfold”
“Kalo itu aku udah tau. Lagunya yang apa?”
“Scream”
“Oh… Scream. Eh iya, kamu gak ganti headset tah? Sayang kalo headset aslinya rusak”
“Entar pulang ini aku ke Royal. Makanya aku bilang ke DBL aja. Sekalian cuci mata gitu. Bosen liat orang-orang di Super Mall. Mending liat anak SMP yang keliatan lugu-lugu gini”
“Emang dulu kamu di SMP anaknya lugu?”
“Enggak. Dulu aku ngerokok, hampir aja aku kena miras malah”
“He? Masa kamu dulu ngerokok Do?” Bima tidak percaya pada ucapan sahabatnya yang dari dulu gak pernah aneh-aneh ini. Yang punya prinsip “Yang penting lancar” ini.
“Beneran! Liat foto-fotoku yang dulu di facebook, pasti ada rokok yang nempel di mulutku. Atau tanya deh sama temen-temen satu angkatanku! Dulu aku sering masuk BK gara-gara ngerokok itu. Tapi karena seseorang, aku bisa berhenti ngerokok” Edo menatap kosong ke lapangan basket yang kosong karena babak pertama sudah selesai. Sedang istirahat.
“I can’t belive this, dude. Tapi tadi katamu seseorang? Siapa nih?”
“Never mind… Forget it okay?”
“Ayolah… Sama temen sendiri aja kok pake malu? Biasanya gak punya malu?”
“Aku gak yakin soalnya kamu itu mulut ember! Tapi gak apa lah… For my best friend. Dia adalah… Qive”
“Qive? Kamu gak bohong kan? Tapi kamu tau gak sih Do? Ada adek kelas yang naksir kamu… Anaknya cakeeep banget. Aku sampe iri sama kamu Do”
“Emang siapa yang bisa naksir iblis kaya aku?”
“Wah… Aku gak bisa bilang ke kamu soalnya aku udah janji sama dia. Dan dia tau kalo iblis itu cuma figur luar kamu. Dia tau blog kamu Do”
“Tau blog ku? Wah gawat! Tapi gimana kamu tau adek kelas itu?”
“Gimana gak tau? Lha dia adek kelasku dulu di SMP. Dan parahnya dia nyimpen foto-foto kamu di hapenya!”
“Gila! Kalo gini caranya, besok aku adain razia bencong. Eh… Razia hape!”
“Eh, jangan lah… Kasian tau!”
“Tapi…” belum selesai Edo ngomong udah dipotong Bima.
“Udah lah… Biarin aja. Lagian gak apa kan? Enak malah. Itu tandanya kamu masih laku. Ya kan?” ucap Bima. Edo cuma membalas dengan senyum pahit.
“Lagian kamu sama Qive itu kaya kucing sama anjing. Ribut mulu kalo ketemu. Apa lagi image kamu di sekolah itu udah jelek. Bagusnya cuma di nilai akademik”
“Aku nggak mau dia tau. Itu sebabnya sikapku ke dia itu kaya gitu. Dan lagi… Rasa ini buat aku itu aib”
“Aib? Yang bener aja kamu? Kaya cewek abis dibuntingin cowoknya aja kamu ini. Hahaha…” Bima seperti biasa, selalu konyol.
“Hahaha…” Edo jadi ikutan ketawa. “Eh, aku balik dulu ya Bim. Mau nyari headset. See ya” Edo bangkit dan meninggalkan bangku penonton. Jauh. Semakin jauh sampai akhirnya hilang dan tak terlihat lagi.
“Kasihan Edo ini…” batin Bima dalam hati.
* * *
Lagu Seize The Day-nya Avenged sedang melantun di dalam kamar bercat hijau muda itu. Edo sedang merebahkan tubuhnya sambil melamun. Dia bingung enaknya ngapain malem-malem gini. Dilihatnya jam dinding kamarnya. “Jam setengah sembilan” ucapnya pelan. Dilihatnya lagi komputer yang sedang membuka Microsoft Word 2007 itu. Tiba-tiba muncul hasrat Edo untuk menulis puisi.
HILANG
Kembali ku menatap kosong
Coba paksa otak ini putar kembali memori
Dimana semua berawal
Ketika aku kehilangan semuanya
Mereka semua sama saja
Hanya bisa bicara
Tanpa ada perbuatan yang nyata
Dan aku muak
Tak tahan seperti ini
Untuk apa aku peduli?
Jika mereka tak pernah peduli padaku
Untuk apa aku peduli?
Jika mereka selalu tidak menganggapku ada
Tak dianggap
Jujur aku takut
Aku merasa selalu sendiri
Tersesat dalam fikiranku sendiri
Tanpa ada yang kan menolong
Karna aku memang dibuang
Inikah takdirku?
Semakin jauh ku melangkahkan kaki
Semakin tersesat jiwa ini
Apa aku bisa kembali?
Pada cahaya
Dan pada kepercayaan
Sekarang ku tutup mata ini
Ku ikhlaskan semuanya
Juga jiwa ini
Jika ini buat mereka peduli
Dan ketika ku buka mata ini
Aku pergi melayang
Hilang
Dalam kepedihan dan kesedihan
Untuk selamanya
Dibukanya blog yang seluruhnya adalah puisi karya Edo. Di post kan puisi tadi dalam blog itu. Tak peduli cewek itu akan membacanya. Tak peduli akan apapun yang terjadi. Ya, itulah Edo.
“Apa aku bilang yang sebenarnya aja ya?”
Tiba-tiba hape Edo berbunyi. Ada sms masuk. Dari Qive.
Qive:
Edo, besok ajarin aku fisika. Harus mau! Oh ya, aku juga minta lagunya Avenged yang Warmness On The Soul.
Edo:
Oke! Besok aku juga mau ngomong sama kamu.
Send
Setelah itu Edo rebahan, dan kemudian tertidur. Besok akan jadi hari besar untuknya. Hari yang mungkin sangat bersejarah pada hidup Edo.
* * *
Di taman sekolah saat istirahat. Edo sedang mengirim lagu Warmness On The Soul-nya Avenged seperti janjinya tadi malam. Dan disana Edo mulai brebicara.
“Eh… Qiv, aku mau ngomong nih. Tapi kalo aku belum selesai jangan dipotong. Ngerti?” ujar Edo menatap Qive yang matanya masih fokus pada Sony Ericsson W902i hitamnya.
“Iya… Cepetan ngomongnya ya!” Matanya masih belum beralih.
“Aku tau kalo sikapku ke kamu itu sering jahat, kurang ajar, nyebelin, dan sebagainya. Tapi… kamu tahu kalau sebelum ketemu kamu, aku jauh lebih parah dari itu. Sebelumnya aku mau minta maaf kalau sebelumnya aku sering buat kamu dongkol. Dan sekarang aku mau bilang jujur ke kamu Qiv. Aku itu suka sama kamu. Entah dari mananya. Intinya suka. Aku nggak mau memaksa kehendak. Itu pilihan kamu. Tolong jawab aku sekali ini saja. Iya atau tidak?” ungkapnya pelan hampir tak terdengar. Setelah mendengar itu Qive langsung mendongak. Menatap Edo dalam-dalam.
“Bener kamu tadi bilang gitu? Kamu suka sama aku? Dari mananya Do?” Qive terus menatap tajam Edo. Muka Edo sudah merah menyala bak api.
“Ah… Entah, aku bingung Qiv. Harusnya aku nggak bilang ini sama kamu. Lebih baik aku simpan sendiri. Aku malu punya rasa gini” Edo yang merasa malu hanya bisa menundukkan kepala.
“Hahaha… Kamu ini ya! Dibalik sifatnya yang kaya preman, punya juga rasa suka, sayang, dan cinta orang lain” cibir Qive
“Ya udah, aku pergi aja. Dari pada disini dipermaluin aja” ujarnya lalu bangkit. Tapi Qive menahannya dengan menggenggam tangannya.
“Siapa bilang aku nolak kamu Do? Gak apa lah pengalaman pertama buat kamu. Tapi ada satu syarat ya, jangan ngusilin aku lagi! Guyonan kamu itu nyebelin. Ditanya nggak jawab, dimintai tolong dikit aja minta honor, sebel tau!”
“Thanks Qive… Aku gak akan buat kamu sebel lagi. Aku janji” ucapnya pelan. Tapi kamu tau gak, tangan kiri Edo sudah megang hapenya Qive, dan yak! Hape Qive berhasil dijambret sama Edo. Terjadilah kejar-kejaran yang tampak kaya anak TK ini.
“Woi! Sialan! Katanya kamu gak akan buat aku sebel lagi! Dasar jambret” ucap Qive sambil berlari. Jauh, semakin jauh mereka berlari, tanpa terasa sudah ngelilingin sekolah, dan akhirnya Qive kelelahan. “Eh, Do! Hosh! Udah dong… Hosh! Capek tau…” Qive mengatakannya terengah-engah. Nafasnya serasa mau putus.
Edo menghampiri Qive yang tampak sangat kelelahan itu. “Qiv, kamu gak apa-apa kan?” Edo tampak khawatir.
“Kamu ini! Baru aja ngomong udah ngelanggar! Sialan kamu! Asmaku bisa kambuh tau!” ucapnya sambil memegangi dadanya.
“Ha!? Kamu punya asma? Sori deh Qiv, aku gak tau” ucapnya penuh sesal. “Ini hape kamu. Maaf ya Qiv” Edo menatap wajah Qive yang mulai pucat. “Aku bawa kamu ke UKS ya Qiv. Aku takut kamu kenapa-napa” dipapahnya tubuh Qive yang mungil ke UKS. Sesampai di UKS, Qive rebahan di kasur kecil.
“Aku balik ke kelas ya Qiv. Maaf aku udah buat kamu gini”
“Nggak apa kok Do” Qive mengulas senyum yang tampak manis sekali di wajahnya. Setelah itu Edo keluar dan kembali ke kelas.
* * *
Sekitar satu jam setelah bel pulang berbunyi, Edo baru keluar dari pintu gerbang sekolah. Tampak sekolah yang besar itu sudah sangat kosong. Hanya tinggal Edo, Bima dan beberapa anak yang masih nongkrong di sekolah.
“Eh, aku duluan ya Bim. See ya” ucap Edo pada Bima yang masih asik ngobrol dengan yang lain.
“Ya, hati-hati! Kalo ada bis lewat, jangan dicium ya! Hahaha…”
“Rese’…” ucapnya dan meninggalkan semua yang ada di sana.
Belum jauh dari sekolahan, Edo melihat seorang perempuan yang tampaknya adik kelasnya, sedang berdiri bingung. Tampaknya sedang menunggu jemputannya. Tapi sudah satu jam? Apa sopirnya lupa ya? Karena kasihan, Edo merapatkan CBR-nya ke trotoar dan menyapa perempuan itu.
“Hai… Kamu kok belum pulang?” ucap Edo mengagetkannya.
“Ah! Kak Edo bikin kaget aja! Aku lagi nunggu jemputan kak. Tapi dari tadi nggak dateng-dateng. Mogok mungkin” ucapnya.
“Mau aku anterin? Rumahmu dimana sih?”
“Wah, gak usah kak. Jauh. Di deket DBL kak”
“Ah… Deket kok. Gak apa, ayo naik! Aku juga mau ke Royal. Mau beli buku. Lagi pula kita searah”
“Iya deh kak. Makasih ya…” dan CBR itu mulai melaju.
“Oh, ya, namamu siapa?
“Biasanya dipanggil Chacha”
“Oh… Kamu anak aksel juga?”
“Iya. Tapi baru kelas satu. Denger-denger kakak itu nakal ya?”
“Hahaha… Iya sih”
“Tapi kakak juga yang paling pinter diantara semua anak aksel seangkatan kakak. Dan aku anggap kakak ini baik”
“Thanks”
“Eh, kak, disini aja”
“Loh, nggak aku anter sampe rumah aja?”
“Nggak usah kak. Makasih ya…”
“Iya Cha” ucapnya lalu ngebut lagi ke Royal.
* * *
“Perkenalkan, namaku Rere” Seorang cowok kece berkacamata memperkenalkan diri di depan kelas Edo. Hebat juga, baru masuk lamgsung masuk kelas aksel. Batin Edo.
“Ssst! Nih anak mau kamu kerjain?” bisik Bima.
“Enggak ah, males”
“Nggak biasanya? Apa gara-gara kamu baru jadian sama ibu ketua kelas kita, Qive?” tebak Bima asal. Edo Cuma mengangkat bahu.
“Baik Rere, kamu bisa duduk disana. Di sebelah Qive”
“Baik pak…” ucapnya pelan.
“Wah, Do, awas Qive disamber entar!” Bima mulai manas-manasin.
“Kamu kira lagi mancing apa pake ‘disamber’ segala?”
“Tapi kamu mesti waspada!”
“Udah ah! Bodo! Aku mau tidur!”
“Ah! Kamu ini tetep aja! Liat aja, beberapa hari lagi tuh anak pasti udah belagu! Berani taruhan berapa hayo?”
“…” Edo sudah terlelap.
“Yah, nih bocah udah merem” kata Bima keki.
Dan bener aja kata Bima, Rere mulai belagu, mulai merasa paling pintar, paling cakep, paling berkuasa, dan tentunya merasa banyak yang naksir. Hingga suatu hari Rere nggak sengaja nubruk Edo yang berjalan setengah merem karna baru tidur jam 2 pagi.
“Hei! Kamu gak tau siapa aku!? Beraninya nubruk-nubruk sembarangan! Gak punya mata ya?” Edo yang dasarnya udah setengah gak sadar cuma bisa melengos ninggalin si Rere ini. Tapi emang dasar belagu, tangan Edo dicekal dan kerah baju Edo dicengkram. Dibiarin Rere memukul wajahnya beberapa kali, setelah tiga pukulan mendarat di wajahnya pukulan yang ke empat ditahannya hanya dengan tangan kiri. Tetep aja yang namanya mantan preman, Edo langsung membalasnya dengan Uppercut andalannya yang dengan sukses membuat Rere semaput seketika, bahkan hampir membuat tulang rahang bawah Rere retak. Edo sendiri cuma memar. Jelas Edo masuk BK. Tapi diceramahin gimanapun pasti masuk telinga kanan keluar lobang idung kiri. Gak akan ngefek ke Edo.
Rere yang gak terima sama perlakuan Edo mempunyai akal untuk menghancurkan Edo. Yaitu lewat sang kekasih tercinta. Qive. Perlahan-lahan didekatinya Qive dengan alasan mau tanya-tanya pelajaran, pinjam buku, sok ngebantuin buat pe-er, dan berbagai tipu muslihat lainnya. Qive gak tau hal itu. Dan saat itu, Edo dan Qive jarang ngomong. Tentu Qive nyangka kalo Edo udah gak sayang lagi sama dia. Kesempatan itu gak disia-siain sama Rere dengan melakukan pendekatan. Sebulan sudah berlalu dan pada akhirnya Rere berhasil, Qive selingkuh sama Rere. Edo nggak pernah tau hal itu. Sampai pada sabtu sore itu, saat Edo dan Bima sedang membeli jaket di Sutos. Semuanya terungkap.
“Eh, Bim Enaknya beli yang mana ya? Yang hitam merah, ato yang hitam biru?”
“Terserah kamu deh. Beli dua-duanya aja! Ato kalo menurutku yang merah. Merah artinya berani. Cocok sama karakteristikmu Do”
“Ya udah, thanks udah bantuin” Edo berjalan menuju kasir untuk membayar jaket itu. Nah pada waktu itu Edo secara gak sengaja melihat Rere sedang bermesra-mesraan dengan kekasihnya sendiri, Qive. Dihampiri mereka yang sedang bercanda di cafĂ© dekat distro tempat dia membeli jaket tadi.
“Hai… Udah lama ya jadian?” Ucap Edo saat sudah berada di hadapan mereka. Mendadak Qive lemas. Wajahnya jadi pucat, keringat dinginnya bercucuran deras. Qive kepergok jalan sama Rere. Rere-nya sendiri Cuma duduk santai seperti tak terjadi apa-apa. Memang ini yang diharapkan Rere.
“E-Edo! A-aku bisa jelasin semuanya” Ucap Qive terbata-bata.
“Nggak usah. Kalo memang kamu lebih bahagia sama Rere, aku rela ngelepasin kamu kok Qiv. Biarin aku sendiri yang sakit” Qive jadi menatap tak enak. “Kita berteman aja ya Qiv…” ucapnya lirih.
“Maafin aku ya Do…” ucap Qive pelan. Edo membalas dengan senyum.
“Tolong jaga Qive baik-baik ya Re…” ucapnya saat menepuk pundak Rere sebelum pergi meninggalkan mereka berdua. Semakin jauh. Semakin hilang dari mata. Pergi dengan luka dan duka di hati. Yang sukar untuk diobati.
“Aku mau pulang Re” ucap Qive tertahan.
* * *
Pagi yang mendung seperti suasana hati Edo saat ini. Edo sedang menatap kosong ke depan kelas. Wajahnya tak berekspresi. Matanya tajam, membuat takut semua yang melihatnya. Sebenarnya Edo tak mau mengingat kejadian kemarin sore, tapi otaknya selalu memutar, dan memutar memori itu.
“Haah…” Edo menghela nafas. Saat itu pula Qive datang. Mukanya juga tampak kusut. Belum disetrika mungkin?
“Pagi…” Qive mencoba menyapa Edo.
“Morning…” jawab Edo singkat. Edo dan Qive gak tau harus ngomong apa. Keduanya hanya bisa diam dalam sunyi. Edo mengeraskan suara X6 nya yang sedang memutar lagu Lost punya Avenged. Entah kenapa kalo mendengar lagu ini, Edo bisa jadi tenang. Qive duduk di sebelah Edo. Mencoba menggenggam tangan Edo, tapi Edo menarik tangannya. Seakan tak ingin disentuh.
“Do… Aku akuin kalo aku memang salah…”
“Aku udah bilang kalo aku udah maafin kamu kan?”
“Tapi kenapa sikap kamu kaya gini Do?”
“…” Edo tidak menjawab. Dia malah mengalihkan pandangan ke luar sekolah.
“Jangan bilang kamu benci aku”
“Aku gak akan bisa benci sama kamu…” Ucap Edo tanpa melihat Qive. “Lagipula kemarin aku sudah bilang kalo kita temenan aja”
“Ya, aku tau…”
“Udah lah, jangan dibahas…” Edo bangkit dan pergi meninggalkan kelas. Qive hanya bisa menatap Edo yang mulai meninggalkannya. Ada Duka dan sesal di hatinya karna sudah berhianat. Penyesalan selalu berada di belakang.
* * *
Sore itu Edo sedang berada di taman sekolah sendirian. Sekolah sudah sepi. Hampir semua anak sudah pulang. Tiba-tiba terdengar langkah kaki yang mulai mendekat. Edo mendongak. Itu Chacha.
“Aku tau kalo kakak baru putus sama kak Qive”
“Memang kamu tau apa?” ucap Edo sinis.
“Aku tau rasanya digituin kak. Sakit rasanya” Chacha mengambil nafas “Dan itu pula yang kakak lakukan padaku”
“Huh?” Edo mendongak. Dilihatnya Chacha yang berderai air mata. “Apa barusan yang kamu bilang?”
“Kakak nggak akan pernah tau… Aku selalu iri sama kak Qive. Kakak juga gak tau kan kalo aku selama ini nyimpen rasa sama kakak. Tau gak rasanya ngeliat orang yang kita sayangi mesra-mesraan sama orang lain? Sakit hati ini kak!” Chacha masih tetap berderai air mata. “Aku mau lakuin apa aja buat kakak. Apapun itu. Bahkan aku mau kalau harus…” belum selesai Chacha ngomong, Edo menyuruh Chacha berhenti dengan menaruh telunjuknya di bibir Chacha. Edo tau apa yang akan dikatakan oleh Chacha.
“Cha… Gak perlu sampai seperti itu. Kamu tau sebentar lagi aku akan lulus. Dan gak mungkin aku bisa sama kamu. Biarlah hidup ini berjalan sesuai kehendak-Nya. Jodoh ada di tangan Tuhan. Suatu saat kita akan menemukannya. Tapi bukan sekarang. Sekarang hapus air matamu! Masih panjang perjalanan yang harus kita tempuh. Masih banyak harapan-harapan yang berterbangan di hati kita. Terbanglah dan raih harapan itu. Capai cita-citamu. Jangan pernah takut untuk melangkah kedepan. Untuk masa depan yang lebih cerah. Yang akan selalu menunggu kita” Edo bangkit dan menghapus air mata Chacha. “Inget ya Cha… Yang harus kita lakukan sekarang hanya tinggal berusaha, pantang menyerah, dan mempercayai harapan kita”
Sepuluh tahun kemudian
Minggu sore di sekolahan Edo yang telah banyak mengalami perubahan. Edo datang di acara Reuni Sekolah bersama teman seangkatannya dulu. Sekarang Edo adalah seorang Arsitek ternama yang namanya sering muncul di media cetak sebagai Arsitek Genius Dunia. Entah dari mana dia belajar ilmu Arsitektur, padahal dia kuliah di Universitas Al-Azhar Khairo untuk belajar agama.
“Ini dia Sahabatku yang sekarang sudah jadi Arsitek terkenal… Hahaha…” Bima datang menghampiri Edo yang sudah lama tidak ia jumpai.
“Kamu juga sekarang sudah jadi penulis terkenal kan?” Edo merangkul Bima.
“Hai semuanya. Lama ya nggak ketemu” seorang gadis berambut panjang datang menghampiri Edo dan Bima. Itu Qive.
“Wah… Qive… Aku dengar kamu udah jadi perncang busana kelas Asia. Selamat ya…” ucap Edo sambil tersenyum.
“Ya… Sama-sama. Eh, katanya kamu udah menikah, mana istri kamu?” Tanya Qive.
“Permisi…” seorang gadis yang mengenakan kerudung berwarna biru itu datang menghampiri. Itu Chacha.
“Oh… Jadi istri kamu itu Chacha toh. Hahaha…” Bima tertawa keras. “Gimana ceritanya nih bisa sama Chacha?”
“Sama-sama di Al-Azhar dulu di Khairo. Emang namanya jodoh” Edo merangkul Chacha. Chacha jadi malu dan mukanya mulai memerah.
“Wah, Chacha sekarang pakai kerudung. Jadi kelihatan tambah manis, tambah cantik juga” puji Qive.
“Makasih ya, kak Qive” ucap Chacha lembut.
“Oh, ya, Rere nggak datang ya?”
“Rere udah meninggal Do. Kecelakaan waktu berangkat kuliah…” Bima memberi tahu. Edo tercekat mendengar ucapan Bima.
“Innalillahi wa inna illiahi rojiun”
“Sekarang kita do’a kan agar arwahnya diterima di sisi-Nya. Amin” Edo berdo’a.
Setelah itu mereka bercanda ria bersama. Bernostalgia dengan teman-teman yang sudah lama tak jumpa. Melengkapi memori mereka yang mulai hilang termakan waktu.
“Edo!!! Udah malem, cepet tidur sana!” suara wanita paruh baya terdengar dari luar kamar. Itu pasti mami.
“Iya, bentar mi!” teriak Edo. “tapi mami kok tahu kalo Edo belom tidur?” tanya Edo heran.
“Jelas tahu lah… Masi kedengeran lagu-lagu gak karuan itu!” teriak mami dari luar kamar. Dilihatnya komputer kesayangannya. Winamp. Play. Avenged Sevenfold. Unholly Confession. Duh! Begonya diriku! Batin Edo.
“Udah cepet tidur sana!” mami udah mulai emosi.
“Iya mi…” ucap Edo lesu. Dengan terpaksa dia mematikan komputer dan tidur. Keesokan paginya saat matahari baru saja muncul dari timur, Edo udah siap dengan perlengkapan sekolahnya plus kunci Honda CBR 150R hitamnya. Setelah Edo menyalakan sepeda motor itu, dia teringat akan satu hal. Flash disk-nya Bima! Dengan pontang-panting Edo berlari menuju kamarnya. Setelah masuk langsung diobrak-abrik kamar bercat hijau muda itu. Dari mulai meja belajar, rak buku, bawah kasur, rak kaset, sampai lemari baju juga. Ketemu? Enggak, dan oleh karena itu Edo tambah bingung. Ditajamkannya pengelihatannya. Dipandang seluruh penjuru kamarnya. Ternyata masih menggantung di port USB CPU-nya. “Bego!” Edo mengumpat dirinya sendiri. Setelah memasukkannya kedalam tas ransel dan menutup rapat kamarnya yang udah mirip, bahkan lebih parah dari pada kapal Titanic yang tenggelam di laut Atlantik, Edo langsung ngibrit minggat dari rumahnya dan ngebut ke sekolahnya.
Sesampai di sekolah dan hampir kena tilang kalo aja Edo kurang cerdik, Edo menaruh tas ransel jeans yang sudah dia miliki sejak kelas 2 SMP dulu. Di tempat biasanya dia duduk. Di sebelah sohibnya, si Bima. Si Bimanya sendir dimana?Ya mana saya tahu. Urusannya dia mau kemana aja. Kan udah gede. Hihihi…
“Hoah…” Edo menguap.
“Heh! Pagi-pagi udah ngantuk!” Qive tiba-tiba nongol dan menepuk pundak Edo. “Bantuin dong! Aku gak ngerti rumus ini” Ujarnya menyodorkan buku berisi rumus-rumus fisika.
“Males ah… Masa pagi-pagi udah dijejelin rumus-rumus biadab begitu?” Edo cuek.
“Ih! Pelit amat jadi orang! Awas kamu! Aku sumpahin biar entar muka kamu jadi kaya kodok!” Qive mengumpat
“Biarin! Aku sekolah disini bayar kok! Ngapain kamu sewot?”
“Ih! Dasar!” Qive pergi dengan emosi.
“Jahat amat ama cewek nih anak?” Bima yang tadi ngilang ternyata sekarang udah duduk manis di sebelahnya.
“Udah ah! Bodo! Aku ngantuk. Capek” Edo membenamkan kepalanya di tasnya yang kini dia taruh di atas meja.
“Capek? Abis nguli semalam? Eh, entar pulang maen PB yuk? Ada misi baru katanya…”
“Aku udah pensiun. Lagian sekarang banyak yang nge cheat! Buat emosi aja! Aku bilangin ke GM baru tau rasa tuh orang!”
“Ya udah… jalan-jalan ria ke Cito kalo gitu. Ato ke Super Mall?”
“Gimana kalo ke Bromo aja?” kata Edo asal yang langsung disambut jitakan hangat dari Bima.
“Apaan sih!? Ini kepala! Idiot!”
“Siapa bilang itu kelapa?”
“Grrr…” setelah itu dapat ditebak. Adu mulut anatara dua anak kelas akselerasi itu. Yang muka kaya anjing lah, idiot lah, geblek lah, babi rusa lah, de el el. Pokoknya gak baik buat dicontoh.
“Udah deh. Gini aja, entar kita ke DBL Arena, ngeliat pertandingan basket” usul Edo mengahiri adu mulut itu.
“Kan hari ini yang maen anak SMP?”
“Mau gak?”
“Iya deh…” akhirnya Bima setuju.
* * *
Di DBL Arena sepulang sekolah. Edo dan Bima sedang menonton pertandingan basket yang dimulai 10 menit yang lalu. Tapi sebenernya yang liat cuma Bima. Edo Cuma ngedengerin lagu dari Nokia X6 berwarna merah yang baru dia beli seminggu yang lalu. Jelas Bima dongkol dan melempar koran yang dia dapat saat membeli tiket masuk tadi.
“He, kamu tadi yang ngajak liat basket, tapi malah aku yang liat. Kamunya enggak. Mentang mentang hapenya baru gitu?” suara Bima hampir tak terdengar karena sorak-sorak para supporter yang saling beradu.
“Enggak gitu. Aku lagi balesin sms anak-anak iseng. Yang dimana lah, ngapain lah, dan sebagainya. Ya aku bales asal aja. Kaya lagi di gang doly, lagi nyari perek, dan sebagainya. Biar dongkol tuh anak!” Edo agak teriak biar Bima denger.
“Hahaha… Tetep aja kamu itu! Cuekmu itu kurangin dikit lah… Entar gak punya gandengan loh”
“Emang gue pikirin?”
“Lagu apa sih?”
“Biasa… Avenged Sevenfold”
“Kalo itu aku udah tau. Lagunya yang apa?”
“Scream”
“Oh… Scream. Eh iya, kamu gak ganti headset tah? Sayang kalo headset aslinya rusak”
“Entar pulang ini aku ke Royal. Makanya aku bilang ke DBL aja. Sekalian cuci mata gitu. Bosen liat orang-orang di Super Mall. Mending liat anak SMP yang keliatan lugu-lugu gini”
“Emang dulu kamu di SMP anaknya lugu?”
“Enggak. Dulu aku ngerokok, hampir aja aku kena miras malah”
“He? Masa kamu dulu ngerokok Do?” Bima tidak percaya pada ucapan sahabatnya yang dari dulu gak pernah aneh-aneh ini. Yang punya prinsip “Yang penting lancar” ini.
“Beneran! Liat foto-fotoku yang dulu di facebook, pasti ada rokok yang nempel di mulutku. Atau tanya deh sama temen-temen satu angkatanku! Dulu aku sering masuk BK gara-gara ngerokok itu. Tapi karena seseorang, aku bisa berhenti ngerokok” Edo menatap kosong ke lapangan basket yang kosong karena babak pertama sudah selesai. Sedang istirahat.
“I can’t belive this, dude. Tapi tadi katamu seseorang? Siapa nih?”
“Never mind… Forget it okay?”
“Ayolah… Sama temen sendiri aja kok pake malu? Biasanya gak punya malu?”
“Aku gak yakin soalnya kamu itu mulut ember! Tapi gak apa lah… For my best friend. Dia adalah… Qive”
“Qive? Kamu gak bohong kan? Tapi kamu tau gak sih Do? Ada adek kelas yang naksir kamu… Anaknya cakeeep banget. Aku sampe iri sama kamu Do”
“Emang siapa yang bisa naksir iblis kaya aku?”
“Wah… Aku gak bisa bilang ke kamu soalnya aku udah janji sama dia. Dan dia tau kalo iblis itu cuma figur luar kamu. Dia tau blog kamu Do”
“Tau blog ku? Wah gawat! Tapi gimana kamu tau adek kelas itu?”
“Gimana gak tau? Lha dia adek kelasku dulu di SMP. Dan parahnya dia nyimpen foto-foto kamu di hapenya!”
“Gila! Kalo gini caranya, besok aku adain razia bencong. Eh… Razia hape!”
“Eh, jangan lah… Kasian tau!”
“Tapi…” belum selesai Edo ngomong udah dipotong Bima.
“Udah lah… Biarin aja. Lagian gak apa kan? Enak malah. Itu tandanya kamu masih laku. Ya kan?” ucap Bima. Edo cuma membalas dengan senyum pahit.
“Lagian kamu sama Qive itu kaya kucing sama anjing. Ribut mulu kalo ketemu. Apa lagi image kamu di sekolah itu udah jelek. Bagusnya cuma di nilai akademik”
“Aku nggak mau dia tau. Itu sebabnya sikapku ke dia itu kaya gitu. Dan lagi… Rasa ini buat aku itu aib”
“Aib? Yang bener aja kamu? Kaya cewek abis dibuntingin cowoknya aja kamu ini. Hahaha…” Bima seperti biasa, selalu konyol.
“Hahaha…” Edo jadi ikutan ketawa. “Eh, aku balik dulu ya Bim. Mau nyari headset. See ya” Edo bangkit dan meninggalkan bangku penonton. Jauh. Semakin jauh sampai akhirnya hilang dan tak terlihat lagi.
“Kasihan Edo ini…” batin Bima dalam hati.
* * *
Lagu Seize The Day-nya Avenged sedang melantun di dalam kamar bercat hijau muda itu. Edo sedang merebahkan tubuhnya sambil melamun. Dia bingung enaknya ngapain malem-malem gini. Dilihatnya jam dinding kamarnya. “Jam setengah sembilan” ucapnya pelan. Dilihatnya lagi komputer yang sedang membuka Microsoft Word 2007 itu. Tiba-tiba muncul hasrat Edo untuk menulis puisi.
HILANG
Kembali ku menatap kosong
Coba paksa otak ini putar kembali memori
Dimana semua berawal
Ketika aku kehilangan semuanya
Mereka semua sama saja
Hanya bisa bicara
Tanpa ada perbuatan yang nyata
Dan aku muak
Tak tahan seperti ini
Untuk apa aku peduli?
Jika mereka tak pernah peduli padaku
Untuk apa aku peduli?
Jika mereka selalu tidak menganggapku ada
Tak dianggap
Jujur aku takut
Aku merasa selalu sendiri
Tersesat dalam fikiranku sendiri
Tanpa ada yang kan menolong
Karna aku memang dibuang
Inikah takdirku?
Semakin jauh ku melangkahkan kaki
Semakin tersesat jiwa ini
Apa aku bisa kembali?
Pada cahaya
Dan pada kepercayaan
Sekarang ku tutup mata ini
Ku ikhlaskan semuanya
Juga jiwa ini
Jika ini buat mereka peduli
Dan ketika ku buka mata ini
Aku pergi melayang
Hilang
Dalam kepedihan dan kesedihan
Untuk selamanya
Dibukanya blog yang seluruhnya adalah puisi karya Edo. Di post kan puisi tadi dalam blog itu. Tak peduli cewek itu akan membacanya. Tak peduli akan apapun yang terjadi. Ya, itulah Edo.
“Apa aku bilang yang sebenarnya aja ya?”
Tiba-tiba hape Edo berbunyi. Ada sms masuk. Dari Qive.
Qive:
Edo, besok ajarin aku fisika. Harus mau! Oh ya, aku juga minta lagunya Avenged yang Warmness On The Soul.
Edo:
Oke! Besok aku juga mau ngomong sama kamu.
Send
Setelah itu Edo rebahan, dan kemudian tertidur. Besok akan jadi hari besar untuknya. Hari yang mungkin sangat bersejarah pada hidup Edo.
* * *
Di taman sekolah saat istirahat. Edo sedang mengirim lagu Warmness On The Soul-nya Avenged seperti janjinya tadi malam. Dan disana Edo mulai brebicara.
“Eh… Qiv, aku mau ngomong nih. Tapi kalo aku belum selesai jangan dipotong. Ngerti?” ujar Edo menatap Qive yang matanya masih fokus pada Sony Ericsson W902i hitamnya.
“Iya… Cepetan ngomongnya ya!” Matanya masih belum beralih.
“Aku tau kalo sikapku ke kamu itu sering jahat, kurang ajar, nyebelin, dan sebagainya. Tapi… kamu tahu kalau sebelum ketemu kamu, aku jauh lebih parah dari itu. Sebelumnya aku mau minta maaf kalau sebelumnya aku sering buat kamu dongkol. Dan sekarang aku mau bilang jujur ke kamu Qiv. Aku itu suka sama kamu. Entah dari mananya. Intinya suka. Aku nggak mau memaksa kehendak. Itu pilihan kamu. Tolong jawab aku sekali ini saja. Iya atau tidak?” ungkapnya pelan hampir tak terdengar. Setelah mendengar itu Qive langsung mendongak. Menatap Edo dalam-dalam.
“Bener kamu tadi bilang gitu? Kamu suka sama aku? Dari mananya Do?” Qive terus menatap tajam Edo. Muka Edo sudah merah menyala bak api.
“Ah… Entah, aku bingung Qiv. Harusnya aku nggak bilang ini sama kamu. Lebih baik aku simpan sendiri. Aku malu punya rasa gini” Edo yang merasa malu hanya bisa menundukkan kepala.
“Hahaha… Kamu ini ya! Dibalik sifatnya yang kaya preman, punya juga rasa suka, sayang, dan cinta orang lain” cibir Qive
“Ya udah, aku pergi aja. Dari pada disini dipermaluin aja” ujarnya lalu bangkit. Tapi Qive menahannya dengan menggenggam tangannya.
“Siapa bilang aku nolak kamu Do? Gak apa lah pengalaman pertama buat kamu. Tapi ada satu syarat ya, jangan ngusilin aku lagi! Guyonan kamu itu nyebelin. Ditanya nggak jawab, dimintai tolong dikit aja minta honor, sebel tau!”
“Thanks Qive… Aku gak akan buat kamu sebel lagi. Aku janji” ucapnya pelan. Tapi kamu tau gak, tangan kiri Edo sudah megang hapenya Qive, dan yak! Hape Qive berhasil dijambret sama Edo. Terjadilah kejar-kejaran yang tampak kaya anak TK ini.
“Woi! Sialan! Katanya kamu gak akan buat aku sebel lagi! Dasar jambret” ucap Qive sambil berlari. Jauh, semakin jauh mereka berlari, tanpa terasa sudah ngelilingin sekolah, dan akhirnya Qive kelelahan. “Eh, Do! Hosh! Udah dong… Hosh! Capek tau…” Qive mengatakannya terengah-engah. Nafasnya serasa mau putus.
Edo menghampiri Qive yang tampak sangat kelelahan itu. “Qiv, kamu gak apa-apa kan?” Edo tampak khawatir.
“Kamu ini! Baru aja ngomong udah ngelanggar! Sialan kamu! Asmaku bisa kambuh tau!” ucapnya sambil memegangi dadanya.
“Ha!? Kamu punya asma? Sori deh Qiv, aku gak tau” ucapnya penuh sesal. “Ini hape kamu. Maaf ya Qiv” Edo menatap wajah Qive yang mulai pucat. “Aku bawa kamu ke UKS ya Qiv. Aku takut kamu kenapa-napa” dipapahnya tubuh Qive yang mungil ke UKS. Sesampai di UKS, Qive rebahan di kasur kecil.
“Aku balik ke kelas ya Qiv. Maaf aku udah buat kamu gini”
“Nggak apa kok Do” Qive mengulas senyum yang tampak manis sekali di wajahnya. Setelah itu Edo keluar dan kembali ke kelas.
* * *
Sekitar satu jam setelah bel pulang berbunyi, Edo baru keluar dari pintu gerbang sekolah. Tampak sekolah yang besar itu sudah sangat kosong. Hanya tinggal Edo, Bima dan beberapa anak yang masih nongkrong di sekolah.
“Eh, aku duluan ya Bim. See ya” ucap Edo pada Bima yang masih asik ngobrol dengan yang lain.
“Ya, hati-hati! Kalo ada bis lewat, jangan dicium ya! Hahaha…”
“Rese’…” ucapnya dan meninggalkan semua yang ada di sana.
Belum jauh dari sekolahan, Edo melihat seorang perempuan yang tampaknya adik kelasnya, sedang berdiri bingung. Tampaknya sedang menunggu jemputannya. Tapi sudah satu jam? Apa sopirnya lupa ya? Karena kasihan, Edo merapatkan CBR-nya ke trotoar dan menyapa perempuan itu.
“Hai… Kamu kok belum pulang?” ucap Edo mengagetkannya.
“Ah! Kak Edo bikin kaget aja! Aku lagi nunggu jemputan kak. Tapi dari tadi nggak dateng-dateng. Mogok mungkin” ucapnya.
“Mau aku anterin? Rumahmu dimana sih?”
“Wah, gak usah kak. Jauh. Di deket DBL kak”
“Ah… Deket kok. Gak apa, ayo naik! Aku juga mau ke Royal. Mau beli buku. Lagi pula kita searah”
“Iya deh kak. Makasih ya…” dan CBR itu mulai melaju.
“Oh, ya, namamu siapa?
“Biasanya dipanggil Chacha”
“Oh… Kamu anak aksel juga?”
“Iya. Tapi baru kelas satu. Denger-denger kakak itu nakal ya?”
“Hahaha… Iya sih”
“Tapi kakak juga yang paling pinter diantara semua anak aksel seangkatan kakak. Dan aku anggap kakak ini baik”
“Thanks”
“Eh, kak, disini aja”
“Loh, nggak aku anter sampe rumah aja?”
“Nggak usah kak. Makasih ya…”
“Iya Cha” ucapnya lalu ngebut lagi ke Royal.
* * *
“Perkenalkan, namaku Rere” Seorang cowok kece berkacamata memperkenalkan diri di depan kelas Edo. Hebat juga, baru masuk lamgsung masuk kelas aksel. Batin Edo.
“Ssst! Nih anak mau kamu kerjain?” bisik Bima.
“Enggak ah, males”
“Nggak biasanya? Apa gara-gara kamu baru jadian sama ibu ketua kelas kita, Qive?” tebak Bima asal. Edo Cuma mengangkat bahu.
“Baik Rere, kamu bisa duduk disana. Di sebelah Qive”
“Baik pak…” ucapnya pelan.
“Wah, Do, awas Qive disamber entar!” Bima mulai manas-manasin.
“Kamu kira lagi mancing apa pake ‘disamber’ segala?”
“Tapi kamu mesti waspada!”
“Udah ah! Bodo! Aku mau tidur!”
“Ah! Kamu ini tetep aja! Liat aja, beberapa hari lagi tuh anak pasti udah belagu! Berani taruhan berapa hayo?”
“…” Edo sudah terlelap.
“Yah, nih bocah udah merem” kata Bima keki.
Dan bener aja kata Bima, Rere mulai belagu, mulai merasa paling pintar, paling cakep, paling berkuasa, dan tentunya merasa banyak yang naksir. Hingga suatu hari Rere nggak sengaja nubruk Edo yang berjalan setengah merem karna baru tidur jam 2 pagi.
“Hei! Kamu gak tau siapa aku!? Beraninya nubruk-nubruk sembarangan! Gak punya mata ya?” Edo yang dasarnya udah setengah gak sadar cuma bisa melengos ninggalin si Rere ini. Tapi emang dasar belagu, tangan Edo dicekal dan kerah baju Edo dicengkram. Dibiarin Rere memukul wajahnya beberapa kali, setelah tiga pukulan mendarat di wajahnya pukulan yang ke empat ditahannya hanya dengan tangan kiri. Tetep aja yang namanya mantan preman, Edo langsung membalasnya dengan Uppercut andalannya yang dengan sukses membuat Rere semaput seketika, bahkan hampir membuat tulang rahang bawah Rere retak. Edo sendiri cuma memar. Jelas Edo masuk BK. Tapi diceramahin gimanapun pasti masuk telinga kanan keluar lobang idung kiri. Gak akan ngefek ke Edo.
Rere yang gak terima sama perlakuan Edo mempunyai akal untuk menghancurkan Edo. Yaitu lewat sang kekasih tercinta. Qive. Perlahan-lahan didekatinya Qive dengan alasan mau tanya-tanya pelajaran, pinjam buku, sok ngebantuin buat pe-er, dan berbagai tipu muslihat lainnya. Qive gak tau hal itu. Dan saat itu, Edo dan Qive jarang ngomong. Tentu Qive nyangka kalo Edo udah gak sayang lagi sama dia. Kesempatan itu gak disia-siain sama Rere dengan melakukan pendekatan. Sebulan sudah berlalu dan pada akhirnya Rere berhasil, Qive selingkuh sama Rere. Edo nggak pernah tau hal itu. Sampai pada sabtu sore itu, saat Edo dan Bima sedang membeli jaket di Sutos. Semuanya terungkap.
“Eh, Bim Enaknya beli yang mana ya? Yang hitam merah, ato yang hitam biru?”
“Terserah kamu deh. Beli dua-duanya aja! Ato kalo menurutku yang merah. Merah artinya berani. Cocok sama karakteristikmu Do”
“Ya udah, thanks udah bantuin” Edo berjalan menuju kasir untuk membayar jaket itu. Nah pada waktu itu Edo secara gak sengaja melihat Rere sedang bermesra-mesraan dengan kekasihnya sendiri, Qive. Dihampiri mereka yang sedang bercanda di cafĂ© dekat distro tempat dia membeli jaket tadi.
“Hai… Udah lama ya jadian?” Ucap Edo saat sudah berada di hadapan mereka. Mendadak Qive lemas. Wajahnya jadi pucat, keringat dinginnya bercucuran deras. Qive kepergok jalan sama Rere. Rere-nya sendiri Cuma duduk santai seperti tak terjadi apa-apa. Memang ini yang diharapkan Rere.
“E-Edo! A-aku bisa jelasin semuanya” Ucap Qive terbata-bata.
“Nggak usah. Kalo memang kamu lebih bahagia sama Rere, aku rela ngelepasin kamu kok Qiv. Biarin aku sendiri yang sakit” Qive jadi menatap tak enak. “Kita berteman aja ya Qiv…” ucapnya lirih.
“Maafin aku ya Do…” ucap Qive pelan. Edo membalas dengan senyum.
“Tolong jaga Qive baik-baik ya Re…” ucapnya saat menepuk pundak Rere sebelum pergi meninggalkan mereka berdua. Semakin jauh. Semakin hilang dari mata. Pergi dengan luka dan duka di hati. Yang sukar untuk diobati.
“Aku mau pulang Re” ucap Qive tertahan.
* * *
Pagi yang mendung seperti suasana hati Edo saat ini. Edo sedang menatap kosong ke depan kelas. Wajahnya tak berekspresi. Matanya tajam, membuat takut semua yang melihatnya. Sebenarnya Edo tak mau mengingat kejadian kemarin sore, tapi otaknya selalu memutar, dan memutar memori itu.
“Haah…” Edo menghela nafas. Saat itu pula Qive datang. Mukanya juga tampak kusut. Belum disetrika mungkin?
“Pagi…” Qive mencoba menyapa Edo.
“Morning…” jawab Edo singkat. Edo dan Qive gak tau harus ngomong apa. Keduanya hanya bisa diam dalam sunyi. Edo mengeraskan suara X6 nya yang sedang memutar lagu Lost punya Avenged. Entah kenapa kalo mendengar lagu ini, Edo bisa jadi tenang. Qive duduk di sebelah Edo. Mencoba menggenggam tangan Edo, tapi Edo menarik tangannya. Seakan tak ingin disentuh.
“Do… Aku akuin kalo aku memang salah…”
“Aku udah bilang kalo aku udah maafin kamu kan?”
“Tapi kenapa sikap kamu kaya gini Do?”
“…” Edo tidak menjawab. Dia malah mengalihkan pandangan ke luar sekolah.
“Jangan bilang kamu benci aku”
“Aku gak akan bisa benci sama kamu…” Ucap Edo tanpa melihat Qive. “Lagipula kemarin aku sudah bilang kalo kita temenan aja”
“Ya, aku tau…”
“Udah lah, jangan dibahas…” Edo bangkit dan pergi meninggalkan kelas. Qive hanya bisa menatap Edo yang mulai meninggalkannya. Ada Duka dan sesal di hatinya karna sudah berhianat. Penyesalan selalu berada di belakang.
* * *
Sore itu Edo sedang berada di taman sekolah sendirian. Sekolah sudah sepi. Hampir semua anak sudah pulang. Tiba-tiba terdengar langkah kaki yang mulai mendekat. Edo mendongak. Itu Chacha.
“Aku tau kalo kakak baru putus sama kak Qive”
“Memang kamu tau apa?” ucap Edo sinis.
“Aku tau rasanya digituin kak. Sakit rasanya” Chacha mengambil nafas “Dan itu pula yang kakak lakukan padaku”
“Huh?” Edo mendongak. Dilihatnya Chacha yang berderai air mata. “Apa barusan yang kamu bilang?”
“Kakak nggak akan pernah tau… Aku selalu iri sama kak Qive. Kakak juga gak tau kan kalo aku selama ini nyimpen rasa sama kakak. Tau gak rasanya ngeliat orang yang kita sayangi mesra-mesraan sama orang lain? Sakit hati ini kak!” Chacha masih tetap berderai air mata. “Aku mau lakuin apa aja buat kakak. Apapun itu. Bahkan aku mau kalau harus…” belum selesai Chacha ngomong, Edo menyuruh Chacha berhenti dengan menaruh telunjuknya di bibir Chacha. Edo tau apa yang akan dikatakan oleh Chacha.
“Cha… Gak perlu sampai seperti itu. Kamu tau sebentar lagi aku akan lulus. Dan gak mungkin aku bisa sama kamu. Biarlah hidup ini berjalan sesuai kehendak-Nya. Jodoh ada di tangan Tuhan. Suatu saat kita akan menemukannya. Tapi bukan sekarang. Sekarang hapus air matamu! Masih panjang perjalanan yang harus kita tempuh. Masih banyak harapan-harapan yang berterbangan di hati kita. Terbanglah dan raih harapan itu. Capai cita-citamu. Jangan pernah takut untuk melangkah kedepan. Untuk masa depan yang lebih cerah. Yang akan selalu menunggu kita” Edo bangkit dan menghapus air mata Chacha. “Inget ya Cha… Yang harus kita lakukan sekarang hanya tinggal berusaha, pantang menyerah, dan mempercayai harapan kita”
Sepuluh tahun kemudian
Minggu sore di sekolahan Edo yang telah banyak mengalami perubahan. Edo datang di acara Reuni Sekolah bersama teman seangkatannya dulu. Sekarang Edo adalah seorang Arsitek ternama yang namanya sering muncul di media cetak sebagai Arsitek Genius Dunia. Entah dari mana dia belajar ilmu Arsitektur, padahal dia kuliah di Universitas Al-Azhar Khairo untuk belajar agama.
“Ini dia Sahabatku yang sekarang sudah jadi Arsitek terkenal… Hahaha…” Bima datang menghampiri Edo yang sudah lama tidak ia jumpai.
“Kamu juga sekarang sudah jadi penulis terkenal kan?” Edo merangkul Bima.
“Hai semuanya. Lama ya nggak ketemu” seorang gadis berambut panjang datang menghampiri Edo dan Bima. Itu Qive.
“Wah… Qive… Aku dengar kamu udah jadi perncang busana kelas Asia. Selamat ya…” ucap Edo sambil tersenyum.
“Ya… Sama-sama. Eh, katanya kamu udah menikah, mana istri kamu?” Tanya Qive.
“Permisi…” seorang gadis yang mengenakan kerudung berwarna biru itu datang menghampiri. Itu Chacha.
“Oh… Jadi istri kamu itu Chacha toh. Hahaha…” Bima tertawa keras. “Gimana ceritanya nih bisa sama Chacha?”
“Sama-sama di Al-Azhar dulu di Khairo. Emang namanya jodoh” Edo merangkul Chacha. Chacha jadi malu dan mukanya mulai memerah.
“Wah, Chacha sekarang pakai kerudung. Jadi kelihatan tambah manis, tambah cantik juga” puji Qive.
“Makasih ya, kak Qive” ucap Chacha lembut.
“Oh, ya, Rere nggak datang ya?”
“Rere udah meninggal Do. Kecelakaan waktu berangkat kuliah…” Bima memberi tahu. Edo tercekat mendengar ucapan Bima.
“Innalillahi wa inna illiahi rojiun”
“Sekarang kita do’a kan agar arwahnya diterima di sisi-Nya. Amin” Edo berdo’a.
Setelah itu mereka bercanda ria bersama. Bernostalgia dengan teman-teman yang sudah lama tak jumpa. Melengkapi memori mereka yang mulai hilang termakan waktu.
Langganan:
Komentar (Atom)