Kamis, 31 Desember 2009

jadilah kuat!

Kenapa?
Kau terjatuh?
Kenapa tidak langsung bangkit?
Dasar lemah!

Jangan jadi pecundang di hadapanku!
Buang semua rasa belas kasihmu!
Kekuatan adalah segalanya!
Jika kau lemah, kau akan mati!

Sekarang mana yang kau pilih?
Membunuh?
Atau dibunuh?
Pikirkan benar-benar!

Mana janjimu untuk jadi kuat, hah!?
Kau bilang ingin lindungi dia...
Sekarang mana usahamu?
Kau payah!

Ayo bangkit!
Jadilah kuat!
Dan berjuanglah!
Berjuanglah sampai titik darah penghabisan!

pilihan terakhirku

Saat bulan mulai runtuh
Saat sang surya mulai padam
Aku tertunduk diam
Dalam ruang tak berujung ini

Aku bimbang untuk memilih
Antara iya atau tidak
Antara putih atau hitam
Antara hidup atau mati
Aku benar-benar bimbang

Aku ingin bertanya
Tapi pada siapa?
Aku sendiri di sini
Dalam kegelapan yang paling gelap

Ini pilihan yang berat
Antara ambil atau tidak
Separuh hatiku memilih ambil
Separuh lagi memilih tidak
Aku makin bimbang

Pertentangan hati
Kebimbangan yang sangat
Aku tak bisa memilih
Tak bisa...

Kenapa dengan diriku?
Kenapa aku jadi lemah?
Kenapa aku bimbang?
Dan kenapa hatiku bertentangan?

Dan ketika bulan benar-benar runtuh
Ketika sang surya benar-benar padam
Aku ikut musnah bersamanya
Itulah pilihanku
Pilihan terakhirku

janjiku untukmu

Aku ingat akan janjiku
Janji yang ku buat saat kau menangis
Di bawah guyuran hujan
Janji untuk selalu melindungimu
Tak peduli apapun yang terjadi

Tapi apa kenyataannya?
Aku gagal
Aku tak bisa melindungimu
Walau darah segar sudah keluar
Mengalir deras melewati keningku
Aku tetap gagal

Ku coba tuk bangkit
Kembali melawan
Dengan tubuh yang hancur
Tapi aku sudah tak kuat
Aku kembali terjatuh

Dari tempatku ini
Aku bisa melihatmu
Menangis dan teriak ketakutan
Disiksa
Disayat
Aku tak tahan melihatnya

Ku coba sekali lagi
Untuk bangkit berdiri
Untuk melindungimu.
Untuk tepati janjiku
Walau nyawaku taruhannya
Tak akan kubiarkan kau menangis lagi

hancur karena kesendirian

Di sana ku lihat mereka tertawa
Bersama-sama
Tapi di sini
Hanya ada aku sendiri

Mereka mungkin tak tahu
Kalau aku merasa begitu sedih
Begitu kesepian
Begitu hampa

Apa benar keberadaanku tak dibutuhkan?
Apa benar mereka benci kehadiranku?
Apa benar mereka membuangku?
Semua ini membuat luka di hatiku

Satu lagi yang aku pertanyakan
Mengapa mereka tak menganggap diriku?
Aku tahu kalau mereka di atasku
Tapi tak harus seperti itu bukan?

Mungkin hanya senyum yang tampak
Tapi hati ini selalu menangis
Apa harus terus seperti ini?
Selalu terjatuh ketika mulai bangkit
Selalu sendiri dalam duniaku
Selalu hampa ruang hatiku
Dan selalu hancur karena kesepian

Jumat, 25 Desember 2009

Bangkit generasi muda indonesia!

Di sini aku terjatuh
Di sini aku dienyahkan
Di sini aku dirusak
Dan di sini aku hilang

Biarlah jiwaku hilang
Biarlah ragaku hancur
Tapi tidak untuk generasi muda indonesia!
Mereka harus tetap ada dan hidup!

Apa yang kalian fikirkan!?
Kalianlah masa depan bangsa ini!
Jangan lemah!
Jangan putus asa!
Bangkitlah dan kembali berlari!
Berlari menyongsong cahaya!

Bangkit generasi muda indonesia!
Bangkit!
Junjung tinggi tanah air indonesia!
Berjuanglah dengan sekuat tenaga!
Tanpa ada kata lelah!
Tanpa ada kata menyerah!

Terus berlari generasi muda indonesia!
Biarkan aku disini!
Tataplah masa depan indonesia!
Jangan lagi kalian melihat ke belakang!
Jangan lagi kalian pedulikan aku!
Bangkitkan indonesia dari keterpurukannya!
Dan buatlah indonesia yang merdeka!

kemenangan tanpa makna

Apa ini?
Apa ini kemenangan?
Kenapa hambar sekali?
Kenapa tak ada rasa?

Ku coba melihat sekitar
Semua telah roboh
Telah kalah
Hanya tinggal aku sendiri

Aku memang menang
Tapi kenapa?
Kenapa aku malah menangis?
Menangis sedih
Menangis pilu
Kenapa!?

Apa yang sebenarnya terjadi?
Apa semua karna mereka?
Mereka yang aku sayangi ikut terengut
Sehingga aku tinggal sendiri
Merasakan kemenangan tanpa makna
Tanpa seorang di sampingku
Tanpa kebanggaan
Tanpa rasa

hanya aku sendiri

Ku tatap langit hitam
Hanya ada awan gelap
Dan tetesan hujan yang mulai turun

Tak ku lihat matahari
Cahayanya pun tidak
Kemana engkau pergi?

Hujan makin deras
Dan aku tetap berdiri disini
Tanpa ada sedikit rasa
Tanpa tahu dimana aku
Tanpa arah tujuan
Dan tanpa hidup

Ku lihat cermin di depanku
Mengapa bayanganku tak tampak?
Mengapa?
Apa aku sudah musnah?

Ku coba tanya pada hatiku
Adakah dirhku tersesat?
Tersesat dalam gelap bumi ini?
Adakah yang peduli padaku?
Apa aku akan selalu sendiri?
Dan hatiku tak mampu menjawab
Hanya diam dalam rintihannya

harapan-harapan kosongku

Ku tatap bulan di angkasa
Dengan pelan ku berbisik kepadanya
Apa yang ku lakukan slama ini sia-sia?
Apa hanya harapan kosong yang ku dapat?

Apa salah jika aku berharap?
Apa salah jika aku berusaha?
Apa salah semua yang sudah kulakukan slama ini?
Lantas kenapa hanya ini yang kudapat?
Sebuah harapan kosong dan penyesalan

Harapan-harapan kosong itu
Tak bisa ku buang begitu saja
Banyak kenangan di dalamnya
Biarlah semua jadi kenangan

Dan ketika bulan mulai sirna
Aku tetap simpan harapan kosong itu
Biarlah tetap bersamaku
Dan biarlah luka ini tetap ada

topeng

Aku hidup dengan topeng
Baru ku sadari itu
Aku bukan aku
Aku orang lain

Topeng itu coba hapus diriku
Aku berusaha kembali
Kembali menjadi aku
Dan melepas topeng itu

Dimana aku yang aku?
Aku tak tahu
Dimana aku yang aku?
Dihapus topeng itu

Kegelapan makin kelam
Saat topeng mulai menghapusku
Sedikit demi sedikit
Aku terkikis dan akhirnya hahis

Tidak!
Aku tidak mau seperti ini!
Aku adalah aku!
Tak ada lagi topeng!
Musnahlah engkau!
Dan enyahlah dari hidupku!

ucapan maaf untuk ibu

Aku tahu aku salah
Aku tahu aku bodoh
Aku tahu aku sudah kurang ajar
Aku tahu aku sudah lukai hatimu

Ibu...
Terimakasih kau sudah merawatku
Terimakasih kau sudah mendidikku
Dan terimakasih kau sudah menjagaku

Kalau boleh
Ku ingin meminta maaf
Atas segala kesalahanku
Atas segala kekurang ajaranku
Dan atas kebodohanku

Tolong maafkan aku ibu
Karna engkau
Aku bisa berjalan
Aku bisa bicara
Aku bisa menulis
Dan aku bisa segalanya

Jasa-jasamu tak terhitung
Memang benar kata orang
Kasih ibu sepanjang jalan
Dan untuk itu
Aku ucapkan maaf dan terimakasih

Kamis, 17 Desember 2009

cita yang tersita

Ku ingin terbang
Menggapai bintang
Menggapai harap

Tapi apa dayaku?
Malaikat maut menghadang
Bisa kurasa jantungku melemah
Bisa kurasa dadaku yang sesak
Dan dapat ku lihat kematianku

Perlahan ku jatuh
Dengan sayap yang mulai kaku
Dengan tubuh terbujur lemah
Melesat jatuh menuju bumi

Ku tahu saat ini akan datang
Tapi, kenapa harus sekarang?
Saat aku hampir meraih cahaya?
Saat harapku akan tercapai?
Ini tidak adil!

Hilang sudah semangatku
Citaku telah kau rampas
Dan di neraka ini
Ku tutup mataku
Ku tutup kisahku

lilin-lilin kecil

Gelap...
Tak ada yang bisa ku lihat
Hanya hitam pekat malam ini

Tak ada cahaya...
Benar-benar gelap
Ku berjalan di dasar jurang
Tanpa arah
Tanpa tujuan

Di tengah jalan ku berhenti
Ku lihat lilin-lilin kecil menyala di depanku
Aku duduk di dekatnya
Menanti sang surya terbit
Menemani lilin-lilin kecil
Yang akan segera padam
Dalam dingin dan gelap malam ini

menanti hari esok. menanti kisah baru

Aku masih bertanya
Untuk apa aku terlahir di dunia ini?
Untuk apa aku hidup sampai saat ini?
Tak ada guna!

Aku hanya menyusahkan
Selalu mengganggu
Selalu egois
Dan selalu mengacau
Lalu untuk apa aku ada?

Aku selalu yakin
Setelah tangis, ada tawa
Dan setelah tawa, ada tangis
Itu sudah kepastian
Tak ada sesuatu yang selalu bahagia
Tak ada juga sesuatu yang selalu bersedih

Selalu ada hari esok yang lebih cerah
Selalu ada hari esok yang penuh tawa
Selalu ada hari esok yang penuh misteri

Sekarang ku menanti
Datangnya hari esok
Dengan segala pilu ini
Ku tunggu datangnya hari itu
Hari esok penuh hahagia
Tanpa pilu
Tanpa kesedihan
Dan tanpa tangis

menuju cahaya

tatap dunia ini
Ku rasa sesuatu berbeda
Entah itu apa
Aku tak tahu

Apa hanya rasaku?
Apa memang benar?
Mereka tak menganggapku
Tak menggubrisku sedikitpun

Aku tak suka itu!
Aku benci itu!
Aku tak bisa terima!
Tak bisa!

Mungkin engkau bisa tertawa
Senang melihatku begini
Terpuruk di dasar jurang
Dan kebingungan mencari jawaban

Apa sebenarnya kalian?
Kalian bukan manusia!
Sedikitpun tidak!

Kau kira enak diremehkan!?
Kau kira tak sakit hatiku!?
Persetan!
Kau memang iblis!

Kalau kau minta aku pergi
Baiklah aku turuti
Aku akan pergi
Menyongsong hari esok
Menyongsong cahaya di depanku
Dan pergi meninggalkanmu sendiri
Sendiri dalam gelapnya jurang ini

harapan terakhirku

Sang dewi malam keluar dari balik awan.
Memancarkan cahayanya.
Menerangi dunia.
Dari gelapnya malam ini.

Di gelap bumi ini.
Ku bertanya pada mereka.
Adakah keadilan?
Tak seorang menjawabku.

Kutatap bintang-bintang di langit.
Ku luapkan semuanya.
Isi hatiku.
Tapi tetap sama.
Diam tak menjawab.

Sesaat ku tak percaya.
Tentang apa yang ku lihat.
Sebuah bintang jatuh.
Dan dari sini kusampaikan.
Bawalah harapan terakhirku pergi.
Pergi menghilang dengan cahayamu.

Sabtu, 12 Desember 2009

untuk engkau

Awan kelabu
yang menutupi matahari
tetesan air hujan
membasahi wajahku
dan air mata
yang berlinang di pipiku

aku tak bisa memilikimu
tapi aku tetap senang
karna bahagiamu adalah bahagiaku

lupakan aku kasih
lupakan...
Pergilah bersamaya
jangan lagi kau menoleh ke belakang
jangan lagi kau pikirkan aku
aku ingin kau bahagia
meski aku harus merintih kesakitan

akhir kisah ku dan peperangan

Sang surya memamerkan teriknya.
Di sini, terdengar letusan senapan.
Saling berbalas.
Ku tak tahu, siapa disini.
Dan siapa disana.

Ku edarkan pandangan.
Darah dan peluru yang bercecer.
Saudara-saudaraku tergeletak tanpa nafas.
Tanpa nyawa.

Siapa yang pergi?
Siapa yang kembali?
Tak seorang akan tahu.

Dan sekarang ku di sini.
Tergeletak pasrah tanpa daya.
Dengan darah yang bercucur.
Dengan peluru yang menghujam.
Biarlah ku bernafas sejenak.
Sebelum ku pergi.
Sebelum ku menutup mata.
Untuk selamanya.

petir

Dalam sekejap engkau datang.
Dalam sekejap engkau pergi.
Dengan cahaya retak mu.
Dengan gemuruh keras mu.

Engkau selalu ditakuti.
Karna kekuatan mu.
Tapi kau selalu tiba dengannya.
Sesuatu yang selalu ditunggu.

Wahai petir.
Bawalah harapku pergi.
Dengan kilatan mu.
Dengan teriakan mu.

Datanglah dengan tangisan awan.
Pergilah dengan cahaya surya.
Dan musnah kan harapku.
Musnahkan untuk selamanya.
Dengan kilatan dan gemuruh mu.

merah putih

Aku disini.
Berdiri tegak menantang arah.
Menatap tajam lurus ke depan.
Menanti engkau bangkit berdiri.
Alunan lantang menyertaimu.
Segala hormat tertuju padamu.
Dan perlahan.
Menuju puncak.
Merah putih.
Tetaplah berani.
Tetaplah suci.
Dan tetaplah berkibar.
Untuk ku.
Untuk rakyat ku.
Dan untuk Indonesia ku.
Hidup Merah dan Putih.

hembusan nafas terakhir ku

Tumbang sudah pohon kukuh itu.
Oleh waktu.
Oleh gersangnya tanah.
Dan oleh hempasan keras angin padang.

Hilang sudah asaku.
Bersama tumbangnya pohon itu.
Kering sudah hatiku.
Oleh gersangnya tanah ini.
Dan hilang sudah semua harapku.
Dibawa pergi angin padang.

Aku memang lemah.
Hanya melihat.
Dan selalu mengalah.
Selalu jatuh karna prajurit lain.

Sudah lama ku menunggu.
Datangnya segar air sungai.
Tangisan awan yang membasahi tanah gersang ini.
Tapi mengapa tak tiba jua?

Aku bosan tuk selalu mengalah.
Selalu kalah dalam perang.
Dan terkubur dalam padang penderitaan.

Ku berusaha bangkit.
Dengan hati yang remuk.
Dengan luka cabikan.
Hanya untuk mendatangi mu.
Yang tengah mengadah dan terpejam.
Menerawang entah kemana.
Dan nafas terakhir yang akan ku hembuskan.
Akan ku persembahkan kepada mu.

hadiah untuk sahabat

Dikala hujan ku menangis.
Mengadah menatap langit yg suram.
Dengan dada yang sakit terluka.

Disaat itu kau datang.
Dengan cahayamu.
Dengan bantuanmu.
Dengan ke ikhlasanmu.

Kau obati luka ini.
Kau tumbuhkan sayap-sayap patahku.
Dan kau beri aku semangat baru.

Tapi apa yg ku lakukan?
Aku membiarkanmu.
Menangis dibawah hujan.
Terluka dan terpuruk.
Tanpa satu balasan atas jasamu.

Sahabatku.
Maafkan aku.
Aku sudah menyia-nyiakan mu.

Dan sekarang ku datang.
Dengan sayap baruku.
Dengan semangat darimu.
Dan dengan senyum ini.
Aku mengangkatmu pergi.
Dari lubang hitam kebinasaan.
Dan dari keputus asaan.

aku tidak peduli

apa pun yang Anda ingin mengatakan
apapun yang Anda ingin membenciku
apapun yang Anda inginkan untuk mengisolasi saya
Aku tidak peduli

persetan dengan cemoohan Anda
neraka dengan benci
persetan dengan sikap Anda
Aku tidak peduli

Aku seperti burung dalam sangkar
menahan
dikurung
diperlakukan sewenang-wenang
Aku bosan
Setiap kata yang Anda
Aku tidak peduli

bukan urusan Anda
kalau aku sedang acuh tak acuh
kalau aku bertindak kasar
Jika saya sewenang-wenang
Bisnis Anda?
Apa yang Anda menetapkan hak-hak saya?
Aku tidak peduli

Aku hidup sebagai aku
tidak seperti yang Anda
apa pun yang Anda ingin saya
Hati nurani saya habis
Aku ingin bebas
oleh karena itu
Aku tidak peduli

tinggalkan aku
duniaku
dengan jiwaku
tak peduli badai menghantam
Aku tidak akan peduli
ya ...
Aku tidak peduli

bidadari

Kau beri aku senyum
Kau beri aku kepercayaan
Kau beri aku segalanya
Dan kau membuatku kembali hidup

Bidadari...
Tetaplah tersenyum
Janganlah engkau bersedih
Sedihmu juga sedihku

Aku rela lakukan apapun
Hanya untukmu
Bidadari...

Berat memang
Jika kau harus pergi
Tinggalkan aku disini
Sendirian
Tapi...
Akan aku lakukan
Jika kau bahagia

Wahai bidadari...
Teruslah kepakkan sayapmu
Teruslah kejar impianmu
Teruslah tersenyum
Dan jangan kau hiraukan aku disini
Hanya itu pintaku padamu

bunga rumput

Malam mulai petang
Mataku mulai sayu menunggumu
Hanya ditemani bunga rumput
Putih kelabu
Sepi mulai menyerang
Menggigil karna angin malam seakan mengejek
Langit pun makin suram
Air langit turun seakan menangisiku
Iba padaku
Tapi aku tetap bertahan
Menunggu kehadiranmu
Dengan tabah
Dengan setia
Tak ada keluh di dada
Tak ada sehuruf pun yg keluar dari lisan
Hanya diam dalam sunyi
Aku tetap menunggumu sendirian
Bersama bunga rumput
Yang mulai layu
Seperti aku
Ya... Seperti aku
Dan akhirnya...
Mati diterpa angin malam

cinta ku

Aku mengakuinya
Kalau aku memang suka dia
Kalau aku tergila-gila padanya
Kalau aku menyayanginya lebih dari diriku sendiri

Tapi aku cukup tau diri
Aku tetap menggunakan akal sehat
Aku tetap berusaha tuk tak termakan nafsu
Aku berusaha tak memaksa kehendak

Tak mungkin bagiku
Aku ini jauh dibawahnya
Aku ini hina
Aku ini tak pantas

Aku tak pernah berharap
Karna harapan takkan mengubah apapun
Aku yakini itu

Ku sudah coba tuk hilang
Tapi rasanya sakit
Benar-benar sakit
Aku tak bisa

Sekarang disini
Aku berdiri sebagai sahabat
Meski rasa itu belum hilang
Ku kan coba menguburnya

Terima kasih tuk kembali
Kembali kedalam hidupku
Dan kembali mewarnai hidupku yg suram ini

berkat kalian aku hidup

Aku memang bukan orang baik
Aku memang bukan orang suci
Aku memang penuh kekurangan
Aku memang sampah
Aku memang tidak berguna
Aku memang ga bisa apa-apa

Maka...
Tolong maafkan aku!
Tolong maafkan aku yg tak sempurna ini!
Tolong buat aku hidup!
Tolong bukakan mataku!
Tolong bangkitkan hatiku!

Aku akan bertahan
Tak akan menyerang
Sampai kapan pun
Aku tak suka menyerang
Dan aku juga tak suka diserang

Meski rasanya sakit
Meski rasanya perih
Akan kucoba
Untuk melindungi
Untuk bertahan
Untuk tak egois

Bodoh aku jika menyerah sekarang
Hidupku masih panjang
Masih banyak harapan
Dan masih ada teman di sampingku dan di hatiku

Aku tak sendiri
Mereka bersamaku
Disini
Dan disana
Terimakasih untuk bersamaku
Dan menemaniku
Menjalani hidup yg kadang menyakitkan ini

biarkan aku

Semakin lama
Bumi ini seakan menjadi neraka
Membuat hancur semuanya
Tak peduli itu apa

Itu pula yg terjadi pada hidupku
Yg penuh dengan kebohongan
Yg penuh dengan dendam
Yg penuh dengan pedih
Serta penuh dengan tangis

Entah sejak kapan hidupku berubah
Hancur lebur tak karuan
Hancur sekecil2nya
Sekecil atom

Sudah kucoba perbaiki
Tapi...
Itu tak berguna
karna...
Berulang kali aku membangun
Berulang kali pun aku dihancurkan

Bosan sudah!
Muak sudah!
Dengan dunia ini
Dengan semua ini
Dengan semua pengorbananku
Yg pada akhirnya sia2

Aku tak mau hidup
Tapi aku pun tak mau mati
Aku ingin hidup dalam kematian
Dan mati dalam kehidupan

Aku sadar bahwa aku berada dalam kegelapan
Tapi...
Entah mengapa, aku tak ingin keluar
Tetap dalam kegelapan

Aku tak mau jadi orang suci
Biarlah seperti ini
Karna inilah aku
Biarkan aku tetap menjadi diriku

hidup

Malam yg petang...
Ku melihat bintang2 bertebaran
Bersinar dengan indahnya
Membuatku bersyukur hidup di dunia ini

Bulan yg putih...
Bagai bulu merpati
putih yg jatuh di angkasa
Bersinar menerangi dunia yg petang ini
Membuatku menikmati senang sedih hidup ini

Awan hitam...
Bergerak menutupi semuanya
Jutaan bintang
Dan bulan yg sedang bersinar
Ibarat masalah2 yg menjadi cobaan bagi manusia

Hembusan angin malam...
Yg berhembus kencang
Menusuk tulang2
Bagai sakit hati
Yg membuat muak hidup di jagad raya ini

Tapi...
Dengan angin malam
Yg menusuk tulang
Awan itu akan hilang
Terbawa arusnya
Seperti manusia yg sabar
Menghadapi semua cobaan
Dan akhirnya berhasil menjalani hidup

Jangan pernah...
Mencoba kabur dari semua itu
Karna itu akan mempersulit
Kau tak tahu
Apa angin itu hilang
Atau malah bertambah kencang

Itulah hidup...
Semua akan dibalas
Sesuai dengan apa yg kita perbuat
Sesuai dengan pengorbanan kita

Bersabarlah...
Bertahanlah...
Berjuanglah...
Jangan pernah menyerah...
Maka kau akan mengalahkan dunia ini
Dan menjadi pemenang

Tetaplah hidup
Dan temukan arti hidupmu

teriakan hati ku

Tak ada seorangpun yg mau menolongku
Tak ada seorangpun yg mau ku tolong
Aku tak perlu bantuan siapapun
Aku tak perlu cinta dan kasih sayang siapapun

Jera ku sudah mempercaya
Jera ku sudah mencinta
Jera ku sudah melakukan hal bodoh ini

Apa sebenarnya salahku?
Apa sebenarnya yg mereka mau?
Apa sebenarnya yg telah terjadi?
Kenapa hanya aku?
Kenapa bukan kau?

Coba tenagkan dirimu!
Coba fikir baik-baik!
Coba renungkan!
RENUNGKAN!

Apa yg membuatmu sejahat ini?
Apa yg membuatmu seacuh ini?
Apa yg membuatmu berubah?

Fikirkan bagaimana perasaanku!
Tercabik-cabik
Tertusuk

Sakit rasanya!

Kau memang keras kepala
Berhati sekeras batu
Tak pernah mau tahu
Dan ini adalah akhir dari semuanya

berhenti tersenyum

puluhan abad ku meunggu
bahagia yang ku harap datang
yang tak pernah datang
sampai kapan pun

hanya satu yang kudapat
hanya satu yamg kurasa
sakit yang mendalam

pernah ku coba
menahan sakit itu
dengan senyum
senyum hampa
tanpa makna
dan tanpa rasa

sudah kuputuskan
untuk membunuh hatiku
untuk membuang semua emosiku
dan untuk berhenti tersenyum
untuk selamanya