Selasa, 23 Agustus 2011

Lullabies

Apa kau tahu apa yang ku rasa?
Apa kau tahu apa yang telah ku lewati?
Kini aku kan terlelap sejenak
Dalam mimpi yang tak ku tahu pasti

Apa kan ku buka mata ini lagi?
Aku tak kan pernah peduli
Aku hanya ingin terbang menembus awan
Menyapa burung-burung yang beterbangan di sampingku
Menyanyi bersamaku

Alunan melodi yang melantun lembut
Melelehkan hati yang telah lama membeku
Namun masih ada rasa ingin kembali
Menjadi beku dan tak merasakan apa pun
Dalam tidur yang amat panjang

Ku nyanyikan lagu ini untukmu
Sebelum kau terlelap di sisiku
Aku merindukannya…
Saat menatap wajahmu yang tertidur
Amat tenang…
Amat indah…

Tahukah kau apa makna lagu ini?
Aku hanya akan berkata perlahan
Saat kau mulai tertidur
Karena rasa pedih dan sepi
Yang telah menciptakan lagu ini

Tidurlah dengan nyenyak
Terbang lah bagai awan yang indah
Jadilah bidadari di langit
Aku kan menantimu di sini
Hingga engkau kembali turun ke bumi
Dan berkata “Hai” padaku
Ketika mata indahmu
Kembali terbuka…

Rabu, 01 Juni 2011

Tak ada lagi...

Pagi yang mendung membawa hawa dingin menusuk tulang
Sejenak ku terdiam di dalam selimutku yang hangat
Tetapi ku tersadar setelah ku dengar rintik-rintik tangisan langit
Segera ku basuh wajahku dan segarkan tubuhku
Harus segera ku rapikan pakaianku dan ku kenakan sepatuku
Tak peduli ada hujan yang menghadang
Aku akan mencoba menembusnya untuk sesuatu yang penting

Saat hujan mulai deras menerpa ragaku
Aku tetap berlari sekuat tenaga dengan hati yang cerah
Senyum ini tak pernah terlepas sejak semalam
Malam yang benar-benar indah bersama rembulan dan bintang-bintang yang berpijar samar-samar
Ku ingin terus seperti ini...

Kini ku kembali
Dapat ku lihat wajah yang selalu terbawa dalam mimpiku
Maafkan aku yang telah pergi begitu lama
Tapi kini aku telah pulang dan tak kan pergi lagi
Kau sambut aku dengan senyumanmu dan handuk tuk keringkan tubuhku
Selalu senyum itu yang dapat membuatku terbang melayang dalam bahagia

Sudah lelah ku menanti dan kini akhirnya aku dapat menatap mata beningmu
Terlalu banyak hari tanpa dirimu
Dan sekarang ku teriakkan perasaanku
Tak ada lagi hari tanpa hadirmu

Untuk Tuhan...

Ketika ku sendirian
Merengkuk dalam kegelapan
Dan merasakan kepedihan juga kesedihan
Hanya sepucuk surat yang ku tulis
Surat yang ku tulis sambil menangis

Untuk Tuhan...

Untuk Tuhan...
Ku tulis surat ini untuk Engkau
Terima kasih untuk semua kenikmatan yang kau beri
Tawa dan tangis
Senang dan sedih
Malam dan pagi
Panas dan dingin
Sehat dan sakit
Juga untuk memberiku kesempatan tuk tinggal sejenak di bumi hijauMu

Untuk Tuhan...
Engkau yang selalu menemaniku di sini
Di saat ku merasa kesepian
Dan mulai tenggelam dalam kegelapan
Engkau yang selalu menarikku keluar dari kesesatan
Hanya Engkau yang selalu sudi mendengar keluh kesahku di tengah malam
Hanya Engkau...

Untuk Tuhan...
Jikalau akan Kau ambil ruh ku yang telah kotor ini
Aku rela...
Bimbinglah aku untuk menemukan jalan menuju hadapanMu
Bawalah aku ke sisiMu
Ku mohon...

Untuk Tuhan...
Kan ku pasrahkan segalanya kepadaMu
Aku kan menerima apa pun takdir yang telah Engkau tulis
Dan dalam kalbuku, aku bersenandung
Untuk Tuhan...

Semangat untuk hari ini

Ketika ku buka lagi mata ini
Pagi telah menyambutku dengan riang
Sang mentari pun bersinar terang
Memancarkan kehangatan bagi semuanya
Burung-burung yang bersiul berbarengan
Seakan mendengar
orkestra megah yang indah

Sejuknya pagi merasuk ke dalam dada
Mengosongkan ruang-ruang yang mulai penuh sesak
Tak terbayang bagaimana semalam aku hancur
Sendirian di dalam gelapnya malam
Dengan hati yang remuk dan hancur
Merasakan pedih yang amat dalam
Tapi itu tak berarti...
Semua kan indah pada waktunya

Kini senyum yang akan ku umbar
Membalas semua keindahan di pagi ini
Yang telah sedari tadi menghibur jiwaku yang hampir mati
Mencoba menghapus laraku dengan indahnya pagi ini

Kan ku langkahkan kaki ini dengan kuat
Kan ku tahlukkan hari dan dunia ini
Dengan segala asa dan harapan yang ku punya
Untuk membuktikan bahwa aku ada dan aku hidup

Now would you come with me?
Together we can seize the word
And together we'll be stronger
Just hold my hand and fly away with me
And we'll be save, my friends

Kamis, 19 Mei 2011

Matanya kembali terbuka di pagi ini. Dengan susah payah dia mencoba bangkit dari kasur yang kapuk yang sudah berlubang dimana-mana. Ya… baru saja dia sakit kemarin, dan sekarang karena dia sudah merasa enakan, dia memaksa untuk datang ke sekolah. Setelah mandi dan sarapan seadanya, dia beranjak ke kamarnya untuk mengenakan seragamnya. Mengetahui itu, ibunya langsung menghampirinya sambil bermuka sedih berkata.
“Dinda, hari ini kamu yakin mau sekolah? Kamu baru kemarin sakit, nak. Bahkan sekarang kamu belum sembuh betul. Tidak perlu memaksakan diri, nak. Ibu tidak tega melihat kamu harus berangkat sekolah dengan keadaan sakit seperti ini”
“Tidak apa bu. Dinda masih kuat kok buat sekolah hari ini. Justru Dinda yang tidak tega kalau harus berdiam di rumah sedang ibu harus merawatku. Belum lagi pelajaranku yang tertinggal. Kalau nilaiku menurun, beasiswaku bisa dicabut, bu. nanti malah ibu yang kasihan harus bekerja lebih keras lagi” ibunya terdiam mendengar ucapan putri pertama dari dua bersaudara ini. “Dinda berangkat dulu ya, bu? Assalamualaikum” Dinda mencium tangan ibunya itu, lalu dia segera berangkat menuju sekolahnya dengan berjalan. Hanya berjalan…

* * *

Dinda sampai di sekolah tepat 15 menit sebelum bel masuk berbunyi. Dia meletakkan tas ranselnya di bangku yang biasa dia tempati bersama seorang temannya, Atila. Dia adalah anak seorang pejabat yang sudah paasti semua kebutuhannya bisa dipenuhi dengan mudah. Tetapi Atila bukanlah anak yang sombong, dia tidak pernah pilih-pilih teman. Dia juga tidak pernah minta diantar-jemput dengan mobil mewah yang sebenarnya dia punya. Dia lebih suka untuk naik angkutan umum atau membawa sepeda sendiri.
“Hai, Dinda. Kemarin kenapa kamu tidak masuk sekolah? Aku duduk sendirian nih kemarin. Gak asik kalau gak ada kamu” ucapnya sambil tersenyum.
“Maaf ya, Til. Kemarin aku sakit, jadi ibuku memaksa agar aku tidak masuk sekolah. Tapi sekarang, aku udah gak apa-apa kok. Tenang aja. Hahaha…” balas Dinda dengan senyum manisnya. Dinda memang siswi yang cerdas, tapi dia juga cantik dan manis sehingga tidak heran bila banyak anak yang naksir berat sama dia.
“Nanti mau aku antar pulang gak, Din? Kasian lho kamu kalau harus jalan. Rumahmu kan gak dekat dari sekolah. Apa lagi kamu baru sakit kemarin. Nanti kalau sakit lagi kan aku juga yang gak punya teman. Jadi bareng sama aku aja ya, Din?” ajak Tila.
“Hm… iya deh, aku nurut kamu aja, Til”
“Sip deh!” Tila mengacungkan jempolnya.

* * *

Sepulang sekolah, seperti kata Tila tadi, Dinda akan diantar pulang olehnya. Karena akan mengantar Dinda, Atla harus menelpon supirnya. Akhirnya setelah menunggu selama 25 menit, supir Atila datang dengan sedan hitam metaliknya.
“Ayo masuk, Din! Apa kamu mau jalan-jalan dulu? Untuk makan mungkin? Aku yang bayarin kok tenang aja” tanya Atila pada Dinda.
“Ah, gak usah, Til. Kasihan ibuku. Masa aku di luar makan yang enak-enak, sedang ibuku di rumah cuma makan seadanya? Aku gak tega, Til” Atila tertegun mendengar ucapan dari sahabatnya ini. Dia benar-benar gadis yang baik.
“Ah, begini saja, Din. Nanti kita bungkuskan dua untuk ibu dan adikmu. Bagaimana? Kamu mau kan?” pinta Atila. Dinda berfikir sejenak dan akhirnya mengiyakan tawaran Atila tadi.
Akhirnya mereka pergi berdua menuju restoran elit yg biasa Atila datangi ketika bersama teman-teman, keluarga atau pun kekasihnya.

* * *

Sesampai di rumah, Dinda langsung mencium tangan sang ibu yang sedang berada di teras rumah. Saat menyentuh tangannya, Dinda merasa tangan ibunya agak panas. Lalu Dinda bertanya pada ibunya itu.
“Ibu, apa ibu sakit? Badan ibu panas dan wajah ibu tampak pucat sekali. Dinda khawatir, bu” ucap Dinda dengan wajah sedih.
“Sepertinya begitu, nak. Dari tadi ibu merasa kepala ibu sakit sekali. Hampir saja ibu jatuh pingsan saat menyapu halaman tadi”
“Sebaiknya sekarang ibu istirahat saja dulu. Oh iya, ibu sudah makan? Tadi Atila memberikan makanan untuk kita, bu. ibu mau memakannya sekarang?” tawar Dinda. Ibunya hanya mengangguk tanda mengiyakan. “Sini bu, biar Dinda suapin ibu. Setelah itu ibu tinggal istirahat saja, bu” senyum manis itu tak pernah terlepas dari wajah jelita Dinda. Sungguh bangga memanggilanya putriku, batin ibu Dinda.

* * *

Keesokan paginya saat Dinda baru bangun untuk shalat subuh, Dinda ingin melihat keadaan ibunya dan betapa kagetnya dia mendapati ibunya sedang menahan sakit yang amat sangat.
“Ibu kenapa!? Ibu harus ke rumah sakit sekarang juga!” Dinda memaksa ibunya karena merasa sangat khawatir, bahkan air matanya mulai bergulir membasahi pipinya.
“Tidak, nak. Ibu tidak punya cukup uang untuk membayar biaya rumah sakit itu. Biarkan saja ibu. Nanti juga pasti sembuh kok, anakku sayang. Sudahlah nak, tidak perlu mengkhawatirkan ibu” ucapan ibunya itu pun langsung ditanggapi dengan tegas oleh Dinda.
“Ibu harus ke rumah sakit! Kalau tidak, nanti sakit ibu bisa semakin parah dan Dinda tidak mau hal itu terjadi. Soal biaya, Dinda yang akan pikirkan. Yang penting sekarang ibu harus ke rumah sakit!” akhirnya atas paksaan Dinda, ibunya mau ke rumah sakit diantar oleh dinda.
Setelah diperiksa, diagnosa sang dokter sangat mengejutkan. Ibunya mengidap tumor di otaknya. Sehingga mau tidak mau, ibunya terpaksa harus dioprasi. Sedang biaya untuk oprasi itu tidak kecil. Puluhan juta yang harus dibayar oleh Dinda untuk oprasi ibunya. Dinda bingung bukan kepalang memikirkan itu. Dia sudah memohon-mohon pada sang dokter untuk memberi keringanan, namun semua itu sia-sia.
Setelah berfikir keras, Dinda akhirnya menghubungi Atila untuk meminjam uang untuk membayar biaya oprasi ibunya. Atila bersedia, tetapi uang yang diberikannya masih kurang beberapa belas juta. Lagi-lagi Dinda kebingungan. Itu bukan biaya yang kecil baginya. Dia mencari-cari sesuatu yang dapat dijual, tetapi masih tidak dapat mencukupi. Akhirnya dia putus asa. Dia memutuskan untuk menjual… dirinya sendiri.

* * *

Di lobby sebuah hotel mewah dia duduk menunggu. Lama dia menunggu sendirian, seorang satpam yang dari tadi penasaran akhirnya mendatanginya
“Permisi, mbak. Mbak ini sedang menunggu siapa? Ini hotel berkelas, mbak tahu?”
“Iya saya tahu. Saya sedang menunggu seseorang yang mau membeli apa yang mau saya jual” jawab Dinda tegar.
“Memang apa yang mau mbak jual di sini? Bukankah mbak tahu di sini dilarang keras untuk berjualan? Memang apa yang akan mbak jual? Mbak tidak tampak membawa sesuatu untuk dijual”
“Saya… akan menjual… diri saya” ujar Dinda pelan. Satpam itu pun cukup kaget dengan ucapan Dinda. Dia lalu menoleh ke kanan dan ke kiri. Lalu berbisik pelan pada Dinda.
“Apa mbak ini serius?”
“Iya! Saya serius. Saya mau menjual diri dan kegadisan saya dengan harga yang setinggi-tingginya”
“Baiklah, saya bisa membantu mbak. Tolong mbak ikut dengan saya” lalu satpam itu membawa Dinda pada suatu ruangan. Di sana Dinda disuruh untuk duduk menunggu. Tak lama kemudian satpam tersebut datang mengabarinya.
“Saya dapat seorang pelanggan. Dia mau membayar sebesar 5 juta untuk kegadisan mbak. Bagaimana?”
“Tidak! Saya ingin harga yang setinggi-tingginya” jawab Dinda tegas. Satpam itu menghela nafas lalu pergi mencari pelanggan lainnya.
5 menit setelahnya, satpam itu datang lagi “Ada seorang lagi yang mau dengan tawaran lebih tinggi. Sebesar 7 juta. Itu sudah termasuk besar untuk kegadisan mbak ini” ucap satpam itu.
“Tidak, pak! Saya ingin lebih tinggi daripada itu” lagi-lagi Dinda menolak tawaran itu. Si satpam tersebut tersenyum kecut mendengarkannya. Tanda dia sudah mulai frustasi karena sudah kena marah di sana-sini dari tadi.
Akhirnya satpam tersebut pergi mencari pelanggan lainnya. Setelah mencari-cari pelanggan lainnya, akhirnya dia menemukan seorang yang tampaknya sedang stress. Dia menelpon dengan muka yang tampak sangat suram. Tampak banyak masalah yang dipikirkannya.
“Iya sayang. Nanti akan aku transfer uangnya. Udah kamu gak usah aneh-aneh deh. Aku udah stress ini. Oke. Bye” pria itu mengakhiri panggilannya.
“Pak, bapak sedang butuh hiburan? Saya ada yang bisa dipakai, pak. Dia gadis muda yang masih suci. Dia mencari pelanggan yang akan membayarnya dengan harga setinggi-tingginya. Apa bapak tertarik?” satpam itu langsung datang dan menawari pria tadi. Pria tadi melihat satpam tadi dengan tidak yakin. Akhirnya pria itu angkat suaran juga.
“Baiklah, saya mau lihat dulu barangnya. Soal harga, saya akan membayar berapa pun dia mau” ungkap pria itu. Lalu satpam itu membawanya pada ruang dimana Dinda menunggu.
“Mbak, saya membawa seorang pelanggan lagi. Dia mau membayar berapa pun untuk kegadisan mbak” kata satpam itu saat sudah berada di hadapan Dinda. Melihat penampilan dinda yang begitu cantik, pria itu langsung percaya pada satpam itu.
“Baiklah, saya setuju. Tapi apa benar bapak mau membayar berapa pun yang saya minta?”
“Tentu saja. Untuk gadis secantik kamu, aku rasa itu pantas”
“Baiklah, saya terima tawaran bapak” Dinda pun dibawa ke suatu kamar di hotel tersebut. Tapi saat satpam itu sudah keluar, pria tadi bertanya pada Dinda.
“Bolehkah aku bertanya? Mengapa kumu rela menjual kegadisanmu demi uang? Apa uang itu untuk membeli aksesoris agar kamu tampak lebih trendy? Ataukah untuk suatu hal yang dapat menyenangkanmu?” tanya pria tadi.
“Tidak pak. Saya berani menjual kegadisan saya untuk ibu saya. Sekarang ibu saya sedang terbaring lemah dengan tumor di otaknya yang harus segera diangkat. Sedang saya tidak punya uang lagi untuk membayar biaya itu. Segalanya sudah saya coba, namun itu tetap saja belum cukup. Saya tidak cukup bodoh untuk menjual kehormatan saya, tetapi saya akan menjadi orang yang sangat bodoh bila tidak melakukan apa-apa untuk ibu saya yang sedang sakit seperti itu” Dinda berucap tegar. Dia tahu apa konsekuensi telah melakukan hal ini.
Pria ini tercengang. Dia baru saja mendengar sebuah alas an yang begitu mulia untuk melakukan sesuatu yang sangat berbahaya seperti ini. Begitu tegar dan ikhlas dia menerima takdirnya. Pria itu pun berkata.
“Kamu… betapa baiknya kamu sehingga rela menjual kehormatanmu untuk kesembuhan ibumu. Jujur aku sudah lelah ditekan seperti ini. Saya berselingkuh dan selingkuhan saya selalu memerah saya sampai ratusan juta. Jika saya menolak memberi apa yang dia minta, dia akan membocorkan semua rahasia saya. Tapi berkat kamu, sekarang saya sadar. Ada yang lebih penting dari semua itu. Kamu boleh pergi membawa semua uang itu. Itu sudah lebih dari cukup. Aku membayar untuk ketegaran dan keberanianmu”
“Lalu apa yang bapak dapat dari uang yang sudah bapak keluarkan untuk saya?” tanya Dinda.
“Keberanian, kejujuran dan ketegaran. Kamu juga yang sudah kembali membuka mataku yang talah lama tepejam” Dinda tersenyum mendengarnya. “Bolehkah aku mengantarmu hingga sampai di rumah sakit tempat ibumu dirawat?” tawar bapak itu.
“Boleh saja”
“Baiklah, ayo kita langsung berangkat” mereka pun berjalan keluar meninggalkan kamar hotel itu.
Sambil berjalan, Dinda berkata sambil tersenyum “Terima kasih, pak. Jasa bapak sangat berarti bagi saya”
“Iya, terima kasih juga” mereka pun melesat menuju rumah sakit tempat ibu Dinda dirawat.
Akhirnya semua baik-baik saja. Ibu Dinda dapat sembuh dengan oprasi yang berjalan lancar. Tuhan telah membuktikan kuasanya lagi. Dia membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Dan Dia telah member pelajaran yang paling berharga bagi semuanya. Tak perlu bersedih, karena Tuhan selalu member apa yang terbaik untuk kita. Sesuatu yang paling kita butuhkan.

Senin, 17 Januari 2011

Semua ini tentang aku

Angin berhembus panas hari ini
Sepanas darah yang menetes perlahan di pelipisku
Sakit...
Mungkin itu yang akan ku dapat
Dari segala yang ku lakukan
Aku akan hancur
Hanya tinggal menunggu saja

Bibir ini selalu tampak tersenyum
Tapi hati ini selalu menangis merintih
Kau dan kalian tak kan pernah tahu seperti apa aku berjuang
Dan aku tak mau kalian mengetahuinya
Biarkan saja aku menahan beban ini sendirian
Merasakan luka dan racun yang semakin dalam dan menyebar
Pada akhirnya aku tetap sendiri
Dan kenyataannya aku sudah dibuang

Semakin sesak dada ini
Saat ku susuri jalanan kota di tengah malam
Saat lampu-lampu sudah padam dan toko-toko masih tertutup rapat
Mencoba terima kenyataan pahit ini
Dan mencoba tetap melangkah tak tahu arah
Hanya ikuti kemana langkah kaki membawaku

Tak peduli seberapa besar pengorbanan yang sudah ku lakukan
Aku tetap saja salah di mata kalian
Aku selalu menjadi bahan tertawaan bagi kalian
Dan aku muak!
Aku benci hidupku!
Suatu malam ku bertanya pada Tuhan
"Wahai Tuhan, kenapa kau ciptakan aku jika aku tak pernah berguna untuk mereka?"
Tuhan tak menjawab dan aku bertanya lagi
"Mengapa semua anganku hancur begitu saja tanpa sisa dan tetap tak ada yang melihatku?"
Lagi-lagi Tuhan tak menjawab
Dan yang terakhir aku bertanya
"Mengapa tidak kau cabut saja nyawaku? Mengapa kau buat aku tetap hidup dan tersiksa seperti ini?"
Tuhan tetap tidak menjawab
Aku tahu itu percuma, namun aku tetap mencoba

Kini hujan mengguyur deras bagai menangisi kesedihanku
Puing-puing hati yang pecah ini telah bercecer tak terarah
Ku coba pungut satu persatu
Semakin banyak terkumpul, semakin sakit terasa
Luka itu tetap ada dan membekas
Jauh di dalam relung jiwaku
Aku sudah mati...

Kini anganku melayang pergi
Tak ada yang mau melihatku untuk sekedar merasa iba
Mungkin di sini seharusnya aku berada
Saat ketika jasad ini tak bernyawa
Bahkan bumi tak kan sudi menerimaku
Semua ini tentang aku
Dan sebuah kisah sedih yang tragis

kabut pagi

Rintik rintik hujan turun basahi kota
Gelapnya malam hanya ditemani lampu jalanan yang bersinar remang-remang
Ku susuri jalanan ini perlahan
Rintik-rintik hujan perlahan basahi tubuhku
Begitu tenang ku rasa ketika langkah ini mulai jauh
Melodi dan memori yang terputar kembali
Coba ku resapi kembali dalam tiap-tiap detik yang ku punya
Tawa dan tangis yang telah lalu
Aku merindukan masa itu
Bersama mereka yang selalu memapahku
Namun yang lalu biarlah berlalu
Kini kan ku kejar satu harapan yang pasti
Demi debar jantung yang ku punya
Demi hembus nafas yang ku rasa
Biarlah tetap kosong ruang ini
Biarlah tetap gelap detik ini
Biarlah tetap dingin hujan ini
Diam dan perhatikan
Ketika bulan mulai tertutup awan hitam
Ketika lampu kota mulai padam
Aku akan tetap berdiri di sini
Nikmati apa yang ku miliki
Hingga aku terjatuh terbakar dan musnah
Bagai daun kering yang tersirat api
Menjadi abu dan terbawa angin
Melayang jauh tanpa tujuan pasti
Dan menghilang dalam tebalnya kabut pagi

Musnah

Ku tatap langit biru yang seakan menyapa
Hangatnya sang surya yang seakan tersenyum
Rerumputan hijau yang ku pijak
Juga angin yang berhembus dengan riang
Mengapa tak bisa ku rasa bahagia yang sama?
Mengapa aku merasa begitu kosong?
Mengapa begitu hampa?

Telah ku coba menarik nafas tuk lepaskan beban di dada
Telah ku coba tuk nikmati buku cerita dan secankir kopi
Tetap saja semua terasa begitu kosong
Apa jiwa ini telah mati sepenuhnya?
Apa tak ada lagi setitik cahaya?

Gelap...
Kelamnya hati ini mulai menyeruak
Mendobrak relung-relung memori
Tuk racuni diri ini
Hapus semuanya
Tanpa sisa...

Kau, dia dan mereka...
Semuanya hilang dari hatiku
Benar-benar musnah dari benakku
Seakan kalian tak pernah ada dalam memoriku
Apa yang terjadi di sini?

Tuhan...
Tolong jawab pertanyaanku
Apa yang terjadi padaku saat ini?
Mereka berada di sampingku kapan pun itu
Namun mengapa tak ku rasa kehadiran mereka?
Mengapa aku merasa begitu hampa?
Jawab aku, Tuhan

Aku pasrah...
Tak ada lagi yang bisa ku lakukan
Aku hanya bisa menanti dan menanti
Hingga semuanya hilang oleh waktu
Musnah...
Tanpa sisa setitik pun

kasih tak sampai

Nightmare dari Avenged Sevenfold bergedobrakan dari netbook HP hitamnya. Ditatapnya layar itu lekat-lekat. Sudah sejam dia duduk di hadapannya, tapi MS Word 2010 itu belum banyak terisi. Baru 2 lembar yang terisi oleh cerita yang sekiranya biasa-biasa saja. Dia berpikir keras. Padahal biasanya sejam sudah menghasilkan 4 sampai 5 lembar cerita yang alur dan kisahnya jauh lebih baik daripada ini. Otaknya buntu! Dilihatnya Nokia X3-00 merahnya. Ada pesan masuk. Dibukanya pesan itu. Pikirnya hanya spam dari teman-temannya. Benar saja. Cuma pemberitahuan untuk membawa beberapa artikel untuk mading kelas. Hhh… Gara-gara akan ada validasi sekolah agar menjadi Sekolah Bertaraf Internasional atau SBI, Sekolahnya jadi sibuk mempersiapkan segalanya. Mulai dari jurnal, absensi, kelengkapan kelas, sampai tugas-tugas yang masih belum terkumpulkan. Para guru-guru menuntut semuanya untuk melengkapi semua itu. Dia menghela nafas panjang. Dia memang bukan anak yang pintar, apalagi rajin, setidaknya dibandingkan teman-temannya yang lain. Dia malas sekali untuk membuka buku tugasnya dan mengerjakan tugasnya yang seambrek, tapi mau apa lagi? Itu adalah tuntutan bagi seorang pelajar sepertinya. Dia mulai membuka-buka buku tugasnya dan mulai mengerjakannya. Perlahan namun pasti, soal-soal biadab itu mulai berhasil terjawab. Tak sampai 2 jam, semua tugasnya bisa terselesaikan. Ada gurat puas di wajahnya. Apalagi setelah menyelesaikan desain rumah yang sudah lama dikerjakannya. Kini kembali ditatapnya layar HP hitam itu. Dia masih bingung mau membuat cerita seperti apa. Tiba-tiba X3 itu bergetar. Ada 1 lagi pesan masuk. Dibukanaya pesan itu. Ternyata dari Nila, teman sekelasnya yang sedang dekat dengannya. Dibacanya pesan itu.

“Ner, aku pinjem novelmu boleh gak?” sms Nila.

“Boleh. Novel yang mana?” balas Nero.

“Kamu punyanya apa aja?”

“Banyak lah. Tapi aku gak punya Harry Potter. Gak suka soalnya”

“Terus apa?”

“Ada 5 cm, Perahu Kertas, Supernova, Negri 5 menara, Raditya Dika, Lupus, sama beberapa noven roman, fantasi dan kawan-kawannya. Kamu mau yang mana?”

“Supernova aja lah. Kayaknya asik”

“Bacaannya agak berat loh. Gak apa-apa kan?”

“Iya. Eh besok gak ada ulangan kan? Aku males belajar soalnya. Hahaha…”

“Tetep aja kamu itu. Malesnya gak ilang-ilang. Hahaha…”

“Aku males kayak gini, kamu tetep suka aja lho. Hahaha…” Nero tercekat melihat balasan sms Nila.

“Kamu juga suka sama aku aja lho” Balas Nero.

“Iya sih. Hahaha…”

“Dasar. Eh, tugas-tugasmu sudah selesai semua belum?”

“Belum. Kenapa? Mau nyontekin? Hahaha…”

“Ye… Enak aja. Aku udah mikir susah-susah, kamu malah nyontek. Lagipula kamu kan pinter. Ngapain nyontek aku? Entar kamu malah salah”

“Gak apa-apa dong. Aku males liat angka-angka gak jelas itu. Bukunya tebelnya gak kira-kira pula. Hahaha…”

“Eswete Nil…”

“Enakan juga es krim. Hahaha…”

“Maunya. Hahaha…”

“Hahaha… Kamu lagi apa Ner?”

“Lagi nulis cerita. Kenapa?”

“Gak apa-apa sih. Takutnya kamu sibuk”

“Barusan sibuk. Sekarang udah enggak”

“Ya udah, lanjutin nulismu, gih. Aku mau garap PR sama habis ini aku mau diajak keluar”

“Keluar sama ‘dia’?”

“Iya. Sama orang tua ku juga sih. Mau dinner di rumah ‘dia’ soalnya”

“Oh… Ya udah. Selamat bersenang-senang”

“Jangan ngambek lho Ner? Hahaha… Bye”

“Bye…” Nero menghela nafas. Dia tau Nila sudah punya kekasih, namun dia juga tau kalau Nila sering disakiti oleh kekasihnya. Nila sendiri mengaku sudah lelah terus disakiti, namun orang tuanya memaksanya berpacaran dengan kekasihnya itu hanya karena orang tua mereka adalah teman dari kecil. Nila sendiri orang yang pendiam kalau berada di kehidupan sebenarnya. Dia takut untuk mengatakan sejujurnya pada mama dan papamya. Dia tidak ingin terus disakiti, namun dia juga tidak ingin menyakiti siapa pun. Menolak kekasihnya saat ini berarti dia akan melukai perasaan kedua orang tuanya. Ini berat untuknya.

“Nila, Nila… Kasihan kamu” Nero berbicara pada dirinya sendiri. Dia menjatuhkan tubuhnya pada kasur itu. Mencoba merenggangkan otot-ototnya, juga menenangkan pikirannya. Barusaja HP hitam itu dimatikan. Seperti apa pun dia mencoba, pikirannya akan tetap buntu. Lebih baik dia tidur.



* * *



Nero membuka ranselnya, lalu mengeuarkan novel bersampul biru bertajuk supernova itu. Dicarinya sosok Nila di kelas yang tidak begitu ramai itu. Didapatinya sosok yang dicarinya sedang duduk mendengarkan teman-temannya berbicara, Dia hanya diam dan mendengarkan, tidak banyak bicara. Seperti itulah sosok Nila di kehidupan nyata. Perlahan Nero berjalan menuju Nila.

“Nil, ini supernova-nya” ucap Nero sambil memberikan novel itu pada Nila. Tidak seperti saat ber-sms ria atau lewat facebook dan twitter, Nero lebih diam pada Nila, begitu juga sebaliknya.

“Iya. Makasih , Ner” Nero mengangguk lalu balik kanan dan kembali ke bangkunya. Duduk dan memasang headphone di kepalanya. Lagu yang diputarnya kali ini adalah Tears Don’t Fall-nya Bullet for My Valentine. Tba-tiba kepalanya terasa begitu sakit, begitu sakitnya hingga wajahnya menjadi pucat seketika. Lagu yang di putarnya berhenti seketika karena ada sms masuk. Diangkatnya kepalanya dan dibukanya sms itu. Dari Nila.

“Nero, kamu sakit ya?”

“Aku gak tau. Tiba-tiba pusing”

“Pergi ke UKS aja Ner”

“Nggak usah. Aku masih kuat kok ”

“Tapi mukamu pucet lho, Ner”

“Aku gak apa-apa kok, Nil. Tenang aja”

“Please Ner, Don’t make me sad”

“Hhh… Ok, I’ll be go there” Nero berusaha bangkit dari bangkunya. Meminta tolong pada sahabatnya, Yoga untuk membawanya ke UKS. Dia takut tidak kuat berjalan hingga sampai di UKS. Setelah sampai di UKS, dia meminta obat dan berbaring di sana. Matanya seakan berat. Perlahan dia terlelap dan benar-benar tertidur.



* * *



Matanya kembali terbuka setelah beberapa jam yang lalu tertutup rapat. Dilihatnya jam dinding yang menggantung di dinding UKS itu. Sudah jam 3 sore. Berarti dia tertidur selama 2 jam. Kepalanya yang pusing sudah agak mendingan. Sebentar lagi bel pulang sekolah berbunyi. Sebaiknya dia kembali ke kelasnya.

“Permisi bu, saya mau kembali ke kelas dulu” ucap Nero pada penjaga UKS itu.

“Oh, iya silakan”

“Terimakasih bu”

“Iya, sama-sama” Nero pun meninggalkan UKS itu. Dengan perlahan dia melangkah menuju kelasnya yang tak jauh dari UKS tadi. Dibukanya pintu kelasnya. Ternyata tidak ada guru yang mengajar. Jam kosong. Segera dia duduk di bangkunya di sebelah Barra.

“Ner, masih hidup? Hahaha…” ucap Barra sumringah seperti biasanya.

“Iya. Barusan aja tewas, tapi hidup lagi” jawab Nero

“Kenapa hidup lagi sih? Padahal aku ngarep tahlilannya loh. Hahaha…”

“Sialan! Hahaha…”

“Udah, cepet duduk. Sebenernya aku mau ajak kamu keluar sama Yoga, sama Guntur. Tapi kamu sakit gitu, jadinya nanti cuma bertiga aja”

“Emang mau ke mana?”

“Aku mau beli OS Windows 7 yang asli. Yang download gak bisa diinstall. Kalo Yoga sama Guntur katanya mau nyari Headphone, Flash Disk sama CD game PC”

“Jadi ke hi-tech mall?”

“Iya. Kemungkinan besar mau ke sana”

“Oh… Ya sudah”

“Nggak mau nitip apa-apa?”

“Nggak. Nggak punya uang. Hahaha…”

“Suram hidupmu, Ner. Hahaha…”

“Ya tau lah. Hahaha…” Nero mulai membereskan buku-bukunya. Tepat setelah bukunya sudah di masukkan ke dalam ranselnya, bel pulang berbunyi. “Aku pulang duluan ya, bro” Nero pun pergi ke lar kelas lengkap dengan jaket hitamnya dan ransel jeansnya.

Sesampai di parkiran, dia segera menghampiri Satria F hitamnya dan segera melesat meninggalkan sekolahan itu. Di tengah jalan, tiba-tiba pandangannya menjadi buram dan Jantungnya terasa amat sangat sakit. Tak ada pilihan lain, dia terpaksa melarikan motornya lebih cepat. Setelah sampai di rumah, di langsung menuju kamarnya, melempar tasnya dan mejatuhkan tubuhnya di atas kasur. Dia tak akan bilang pada Nila tentang ini. Mungkin kalau sakit yang lain, dia akan bilang. Tapi ini? Tidak akan! Sudah lama dia merasakan sakit ini, tapi Nila belum tau juga. Itu jauh lebih baik, karena kalau dia tau, dia akan memaksanya untuk bilang pada kedua oran tuanya. Dia lelah untuk menghadap orang tuanya, dia malas selalu diomeli dan disalahkan atas sesuatu yang tidak diliakukannya, dia sudah amat sangat lelah diperlakukan tidak adil bahkan ketika dia sedang sakit keras sekali pun, dia tetap diperlakukan tidak adil, dia juga sudah lelah tidak diperdulikan dan ‘ditiadakan’ oleh mereka. Bagi Nero sekarang, orang tuanya tidak lebih dari dua orang yang telah membawanya ke dunia yang kejam ini lalu membuangnya dalam bentuk yang sangat halus. Sungguh memuakkan.

Dirasanya jantungnya semakin sakit, tubuhnya tak bisa digerakkan. Seakan diikat oleh rantai dengan sangat kuat. Nafasnya tersendat di tenggorokan. Pandangannya tiba-tiba memburam. Perlahan gelap. Benar-benar gelap. Nero kehilangan kesadarannya.



* * *



Dia terbangun lagi dari tidurnya. Sekarang sudah pukul 7 malam. Tubuhnya sudah kembali normal, jantungnya pun sudah tidak terasa sakit. Dia diam sesaat, lalu melihat X3 merahnya. Ada pesan masuk. Dari Nila.

“Ner, kamu masih sakit ya?” sekitar 2 jam yang lalu.

“Maaf Nil, aku ketiduran. Udah enggak kok. Nggak usah khawatirin aku”

“Oh, okay. But don’t push your self too hard, ok?” jawab Nila 5 menit kemudian

“Fine”

“Kamu besok gak usah masuk aja dulu, Ner. Istirahat aja di rumah”

“Enggak. Aku mau sekolah. Aku masi kuat kok. Beneran. Kalo gak kuat aku tinggal ke UKS kaya tadi kan?”

“Iya deh. Nuruti kamu aja”

“Nyerah?”

“Iya. Hahaha…”

“Gampang nyerah. Apa itu? Hahaha…”

“Hei, jangan ngejek. Meski aku kayak gini, kamu suka aja”

“Hahaha… Iya memang”

“Eh, Ner, kamu udah makan kan?”

“Udah tadi siang. Hahaha…”

“Kamu ini lagi sakit. Ayo cepet makan!”

“Iya, Nila. Tenang aja. Ini aku mau ngambil makan kok” Nero langsung bangkit dan berjalan menuju dapur, mengambil piring lalu mengambil nasi dan lauk, setelah itu memakannya pelan-pelan. Entah mengapa tubuhnya sangat lemas. Mungkin karena bangun tidur itu? Pikirnya. Setelah selesai melahap habis makanan itu, dia segera meraih X3 merah itu. Membuka inbox lalu mengirim pesan pada Nila.

“Eh, udah kelar nih” SMS itu dikirim pada Nila. Nero menunggu semenit, lima menit, lima belas menit, setengah jam, tak juga ada balasan. Nero mencoba berpikir positif. Mungkin di sedang sibuk. Nero beranjak dari meja makan menuju kamarnya. Dicarinya netbook HP hitamnya. Ternyata ada di atas meja belajarnya. Dinyalakannya netbook itu. Setelah booting selesai, dia segera membuka folder-folder itu dengan cekatan, lalu membuka file word berisi cerpennya dan melanjutkan tulisannya. Dia membuka winamp lalu memutar lagu. Lagu yang di pilihnya untuk didengar adalah Gunslinger dari Avenged Sevenfold, dan 21 guns dari Green Day. Dua lagu itulah yang sering dia putar untuk menenangkan hatinya yang terkadang gundah.



* * *



Sudah 7 bulan setelah itu, Nero sudah amat sangat dekat dengan Nila, bahkan Nero sudah tidak malu-malu lagi saat berbicara dengan Nila. Begitu juga sebaliknya. Ujian kenaikan kelas pun sudah selesai, bahkan rapot mereka sudah dibagikan. Pikir Nero, ini waktu yang tepat untuk mengatakannya. Mengatakan sesuatu yang sudah lama dipendamnya. Hari itu hari pertama liburan kenaikan. Nero mengambil Nokia X3 merah itu, lalu mencari kontak Nila dan menelponnya.

“Halo, Nil, ini Nero’

“Iya Ner. Ada apa?”

“Aku butuh ngomong penting secara langsung. Bisa gak?”

“Bisa aja. Di mana?”

“Di taman deket rumahmu. Gimana?”

“Hm… Oke deh. Aku tunggu di sana”

“Thank you”

“Anytime” Nila menutup panggilan itu. Dia juga ingin mengatakan sesuatu yang penting pada Nero. Teramat sangat penting sampai dia tidak bisa tidur semalam karena memikirkannya. Hatinya berdebar-debar menanti waktu dia mengatakan ‘itu’ pada Nero.



* * *



Setengah jam kemudian, Nero menemukan sosok Nila yang duduk di bangku yang tersedia di taman itu.

“Nil…” sapa Nero. Nila langsung mendangak melihat Nero lalu tersenyum manis padanya. Nero pun membalas senyuman gadis manis ini.

“Hai, Ner…”

“Udah lama nungguin?” Nero duduk di sebelah Nila

“Enggak kok. Baru juga setaun. Hahaha…” Nila tertawa renyah.

“Ye… Gak selama itu juga kali. Hahaha…”

“Udah ah. Katanya mau ngomong penting? Langsung aja” ujar Nila menghentikan tawa Nero.

“Iya… Nil, aku mau ngomong penting sama kamu. Mungkin agak sedikit egois tapi…” kata-katanya terhenti di tengggorokan.

“Tapi apa?”

“Nila…” Nero menarik nafas panjang “Aku… Aku…” Nero menatap langit yang mulai mendung. Ya Tuhan… susah sekali untuk mengatakan itu. Batin Nero.

“Kamu kenapa? Ayo Ner”

“Aku…” Nero menarik nafas panjang sekali lagi, berusaha mengumpulkan kekuatan untuk mengatakannya. “Aku gak bisa sama kamu, Nil” akhirnya keluar juga. “Aku gak mau buat kamu jadi orang yang ngelawan orang tua. Aku gak mau orang tuamu memperlakukan kamu kaya orang tuaku memperlakukan aku, Nil. Sekarang terserah kamu mau benci aku, mau maki-maki aku, mau tampar aku, mau pukul aku. Terserah kalau itu bisa membuatmu merasa lebih baik. Maafkan aku, Nila…”

Nila terdiam sesaat, lalu berkata sangat pelan. “Enggak Ner. Aku hargai itu. Jujur aku juga nggak akan bisa sama kamu” air mata Nila mulai leleh. “Orang tuaku memaksa aku bersama ‘dia’, kalau tidak, mereka tidak akan merestui hubunganku dengan siapa pun. Aku sangat menyayangimu, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa, Ner. Aku yang harusnya minta maaf, Ner…” hujan pun turun mengguyur mereka berdua. Akhirnya… Kejujuran itu keluar juga. Nero tersenyum pada Nila. Dibukanya mulut itu lalu…



Indah...

Terasa indah...

Bila kita terbuai dalam alunan cinta...

Sedapat mungkin terciptakan rasa...

Keinginan saling memiliki

Namun bila,

Itu semua dapat terwujud

Dalam satu ikatan cinta

Tak semudah seperti yang pernah terbayang...

Menyatukan perasaan kita



Tetaplah menjadi bintang dilangit

Agar cinta kita akan abadi

Biarlah sinarmu tetap menyinari alam ini,

Agar menjadi saksi cinta kita

Berdua...

Berdua...



Sudah...

Terlambat sudah...

Kini semua harus berakhir

Mungkin inilah jalan yang terbaik

Dan kita mesti relakan kenyataan ini



Tetaplah menjadi bintang dilangit

Agar cinta kita akan abadi

Biarlah sinarmu tetap menyinari alam ini,

Agar menjadi saksi cinta kita

Berdua...

Berdua...



Menjadi saksi kita berdua...



Kasih Tak Sampai-nya Padi melantun dari bibir Nero. Nila tercekat mendengarnya. Dia pun jatuh dalam pelukan Nero.

“Maafin aku ya, Ner…” ucap Nila masih dalam isakannya.

“Iya, Nil… Aku juga minta maaf. Hapuslah air mata itu, Nil. Aku yakin kamu pasti bisa tegar melewati semua itu” Nero melepas dekapan itu dan menghapus air mata Nila. “Maaf Nil, aku harus balik… Aku harap kita masih bisa berteman sampai nanti" Nero pun bangkit lalu melangkah perlahan meninggalkan Nila.

“Nero…” ucap Nila membuat Nero berhenti dan menoleh. “Hati-hati di jalan… Aku menyayangimu, Nero”

“Aku juga” ucap Nero sambil tersenyum penuh arti, lalu melanjutkan langkahnya. Meninggalkan Nila sendirian, terisak dibawah hujan.

* * *



Sebulan kemudian. Ini hari pertama masuk sekolah. Nila tidak sekelas dengan Nero. Ada sedikit rasa kecewa saat dia mengetahuinya. Dia segera mencari tempat duduk di kelas barunya. Dijalaninya hari baru tanpa Nero itu.

Sepulang sekolah, Nila bertemu dengan Barra. Dia menyapanya.

“Hey, Bar...” sapa Nila. Barra menoleh, lalu raut mukanya berubah lemas.

“Hai, Nil…” ujar Barra tidak bersemangat.

“Kenapa kamu Bar? Gak biasanya?”

“Gak apa-apa kok, Nil”

“Oh, ya, Nero kok gak kelihatan? Kemana anak itu?”

Nero tak menjawab, dia malah meninggalkan Nila.

“Hey! Kamu kenapa? Ada masalah sama Nero?” Nila menarik tubuh Barra. Raut mukanya berubah serius. Itu juga yang terjadi pada Barra.

“Kamu mau tau Nero bagaimana? Ikut aku!” Barra menarik tangan Nila.

“Hey, tenang sedikit dong!” Nila menarik tangannya dari genggaman Barra.

“Kamu mau tau Nero gak!?” ucap Barra sedikit membentak. “Kalau iya, ayo ikut aku” Barra melangkah menuju motornya. “Tutup matamu dengan ini” Barra memberikan sebuah saputangan hitam pada Nila setelah mereka sampai pada motor Barra.

“Baiklah…” ucap Nila malas. Setelah Nila memakainya, Barra segera melarikan motornya itu.

Tak lama setelah itu, motor itu berhenti berlari. “Jangan dibuka. Kamu aku gendong saja” ucap Barra lalu menggendong tubuh Nila. “Buka sapu tangan itu” ucap Barra setelah menurunkan Nila.

Nila begitu terkejut melihat pemandangan di depannya. Sebuah makam dengan batu nisan bertuliskan nama orang yang dikasihinya. Nero.

“Tidak mungkin!” Nila berusaha menepis kenyataan ini. “Ini gak mungkin Nero!”

“Sadar, Nil! Ini makam Nero! Dia sudah nggak ada!” Barra berusaha menyadarkan Nila.

“Bagaimana bisa?” air matanya mulai meleleh. “Bagaimana bisa ini terjadi pada Nero?” ucap Nila sambil terisak.

“Dia sakit. Sakit keras” Nila langsung menatap Barra dengan tatapan heran. Sakit? Sakit apa dia? Batin Nila. “Kamu nggak tau kan kalo dia sakit?” Nila menggeleng, lalu membenamkan wajahnya pada telapak tangannya.

“Jantungnya. Itu kata dokter saat mengotopsi jasad Nero. Dia sudah menderita sakit jantung yang cukup parah. Dan dia seenaknya sendiri tidak mau memberi tau yang lain kalau dia menderita penyakit seperti itu. BODOOOOH!” Barra terlihat geram. “Aku pergi saja” Barra lalu pergi meninggalkan Nila di makam Nero.

“Nero… Kenapa kamu tidak mau mengatakannya? Mengapa kamu tidak mau jujur padaku? Kau selalu memikirkan orang lain, tapi dirimu sendiri tak pernah kamu pikirkan” Nila tetap terisak. “Selamat tinggal kasih. Aku akan merindukanmu” Ujar nila lalu bangkit. “Kasih tak sampai kita… Akan selalu ku kenang di benakku. Dan Nero… Kau akan tetap hidup di sini. Di dalam hatiku”