Kamis, 28 Januari 2010

nasib mujur menyertaiku

Biru kemerahan… hanya itu yang aku lihat sekarang. Dari pinggiran pantai parangtrirtis di daerah Yogyakarta Aku menerawang kedalam pikiranku sendiri. Aku tak menyangka hal ini akan terjadi. Bertemu lagi dengan sang pujaan hati yang telah lama hilang.
“Sam… pulang yuk! Udah sore!” Senyumnya sekarang menghiasi wajahnya. Manis sekali. Ah, Nadia… wajahmu selalu alihkan dunia dan akherat (lho?).
“Sebentar Nad. Aku masih mau menikmati pantai ini”
“Perasaan udah satu setengah jam deh kamu berdiri disana? Kamu nggak capek”
“Enggak. Apa lagi ada kamu disini” kataku sambil nyengir kuda tanpa menoleh.
“Gombal” Nadia meninju lengan kiriku.
“Tapi… besok lusa pagi-pagi sekali aku udah balik ke Surabaya. Aku mau nikmatin ini lebih lama”
“Kan masih ada besok?”
“Sayangnya besok aku gak bisa pergi-pergi kayak gini Nad. Besok harus nganter papa mama ke rumah temennya, terus pergi lagi ke proyek papa. Jelas gak bisanya Nad. Kalo boleh milih, aku ingin tinggal di kota ini selamanya” aku menunduk.
“Aku bakal temenin kamu”
“Enggak! Bukannya menolak, tapi aku gak mau ngerepotin kamu Nad”
“Jadi… harus berpisah lagi ya…? LDR lagi gitu?”
“Ya, begitulah. Tapi aku janji bakal balik lagi ke sini Nad. Buat ketemu kamu dan menikmati pantai ini lagi”
“Janji ya?” dia menodongkan jari kelingkingnya.
“Janji” aku melingkarkan kelingkingku di kelingkingnya.
Mata Nadia berkaca-kaca. Aku membelai rambutnya yang panjang lalu air matanya mulai mengalir.
“Ah, Nad, jangan cengeng dong!”
“Ih! Siapa juga yang cengeng? Ini kemasukan debu tau…” Nadia cemberut tapi itu sama sekali nggak mengurangi kadar kecantikannya.
“Sini liat. Jangan-jangan bukan debu yang masuk, tapi kapal karam” kataku ngocol.
“Ah, kamu nih Sam. Sebenarnya tadi mau nangis juga, tapi malah start duluan gara-gara kemasukan debu” Nadia keki juga.
“Hahaha… berarti bener kan kamu cengeng?” aku mencibir.
Karna dongkol, Nadia langsung cubit aja. Di perut pula. Jelas aku teriak histeris.
“Duh, panas Nad!” kataku sambil mengelus-elus perutku yang panas dicubit Nadia.
“Salah sendiri malah ngejek?”
“Awas ya?” aku membalas cubitannya tapi Nadia lari menghindar.
Jadilah kami kejar-kejaran. Persis kayak anak TK. Adegan itu terus berlanjut sampai Nadia jatuh tersungkur ditanah. Lututnya berdarah terkena batu, sedang Nadia cuma meringis kesakitan sambil memegangi lututnya itu.
“Kamu nggak apa Nad?” Tanyaku khawatir. Lalu membantunya berdiri dan menopang tubuhnya kedalam All New CR-V hitamku kemudian mengobati lukanya dengan perlengkapan yang ada di kotak P3K dalam mobilku.
“Tuh kan. Salah siapa sekarang kalo udah gini?”
“Ya salah kamu Sam!” ujarnya.
“Lho, bukannya kamu yang lari duluan?”
“Iya, tapi buat menghindari cubitanmu!”
“Yang nyubit duluan siapa?”
“Yang buat aku nyubit siapa?” Nadia balas bertanya. Keki bener dia.
“Hihihi… aku. Iya deh, salah aku. Tapi kalo inget yang tadi jadi pengen ketawa”
“Iya juga sih. Mana ada orang yang matanya kemasukan kapal karam?” ucapannya membuatku tak tahan lagi untuk tertawa. Nadia ikut tertawa. Persis 2 orang gila kabur dari RSJ.
“Udah Nad! Entar ditangkep orang gara-gara disangka gila beneran lagi?” kataku yang malah membuat Nadia tambah parah tertawanya. Sampai matanya kayak garis doang, sampai lebar bibirnya melebihi lebar pantatnya sendiri, dan sampai mukul-mukul aku segala (nah yang ini yang buat aku keki, gimana enggak, mukulnya keras banget).
“Nad! Entar aku telponin RSJ loh?”
“Hahaha… ups, sori” nah, berhenti juga ngakak gokilnya.
“Nah, sekarang kan masih sore. Gimana kalo kita muter-muter sebentar?” ajakku pada Nadia.
Awalnya sih Nadia nolak, tapi setelah dibujuk dengan sekotak ice cream yang gede dan coklat silverqueen, langsung ho-oh aja. Nyebelin juga sih, tapi rasanya nyaman kalo sedang berada disampingnya.
Aku ingat petama kenal sama Nadia. Berawal dari facebook baruku (lho, kok malah nyanyi?). Tapi bener, pertama kenal Nadia itu dari Facebook. Dulu dia tinggal di Surabaya juga, tapi setahun yang lalu pindah ke daerahYogyakarta. Dulu pertama ketemu di taman perumahan. Dan ternyata, Nadia satu perumahan sama aku. Lama-lama, aku jadi suka dia, dan dia juga suka aku. Akhirnya kami memutuskan untuk menjalin hubungan. Baru 3 bulan menjalin hubungan, Nadia harus pindah gara-gara orangtuanya pindah kerja. Terpaksa kami jalani LDR, atau hubungan jarak jauh.
“Sam awas!” kata Nadia membuyarkan lamunanku. Langsung aja aku banting stir karna hampir aja nabrak bus. Sopir bus tersebut jelas misah-misuh gak karuan.
“Woi, kalo nyetir jangan meleng! Mampus, gue sukurin lo!” umpat supir bus tersebut.
“Kamu kalo nyetir jangan sambil ngelamun dong Sam! Hampir aja kita tinggal nama!” Nadia ngamuk-ngamuk karna hampir saja nyawanya melayang.
“Iya,iya… maaf Nad. Aku lagi mengingat-ingat gimana kita ketemu. Kaya lagunya gigi, yang `my facebook`. Berawal dari facebook baruku, kau datang dengan cara tiba-tiba…” belum kelar, Nadia langsung motong.
“Lah, bukannya kamu yang nge-request duluan Sam? Kalo ngomong jangan asal. Ingat! Kalo asal jangan usul, kalo usul gak boleh asal!”
“Lho, itu kan semboyannya asal-usul?”
“Biarin! Suka-suka dong!” jawabnya sekenaknya. Rese banget.
“Iya deh, yang waras ngalah”
“Eh… aku nggak gila! Kamu tuh, Sam yang gila!” ujarnya tak terima. Aku Cuma ngakak.
Setelah 5 menit gak ada topik, aku pasang flashdisk-ku ke tape yang memang ada colokan USB-nya. Sedetik kemudian terdengar alunan musik rock `broken, beat, & scarred`-nya metallica. Dari album death magnetic. Langsung flashdisk-ku dicabut sama Nadia.
“Kenapa sih Nad? Kok sewot?” protesku.
“Mending ini Sam” katanya lalu nyolokin flashdisk-nya. Setelah itu terdengar lagu `wind of change`-nya scorpions. Lagunya bener-bener pas buat para ABG (maksudnya, Angkatan Bokap Gue).
“Nad… dari mana kamu dapet lagu ini? Ini lagu kesukaan aku”
“Masa? Aku copy dari temen aku kok”
“Aku udah pernah nyari tapi nggak nemu-nemu. Boleh copy gak?”
“Banyak yang punya masa susah nyarinya?”
“Iya… boleh gak?” aku mengulangi perkataanku.
“Sure.. why not?”
Langsung dah setelah dapet persetujuan dari yang bersangkutan, langsung aku banting stir lagi. Nyari tempat parkir. Kepala Nadia sampe ketatap.
“Nad, tolong ambilin notebok hitam di belakang!”
“Ih! Emang aku babumu?” Nadia sewot
“Halah… ngambil gitu doang”
“Enggak! Kamu punya tangan sama kaki. Ambil sendiri!” Nadia tetep sewot.
“Haah… ya udah, aku ngalah” Nadia tersenyum menang.
Setelah ngambil laptop dan meng-copy sampai 100-an lagu, kami kembali muter-muter sampe mblenger. Dan tak terasa udah jam 8 malem.
“Nah, Nad… sampai jumpa lagi. Semoga dilain waktu, kita bisa menikmati masa-masa indah seperti tadi lebih lama” kataku saat sudah di depan rumah Nadia.
“Tapi janji, kamu gak akan kepincut cewek lain ya?” katanya riang setengah ngancem.
“Ih, yang kepincut malah cewek-cewek kampusku lagi”
“Idih… pede amat kamu?” Nadia mencibir.
“Hahaha… ya udah Nad, dah…” kataku lalu pergi. Di depan rumahnya, Nadia menitikkan air mata sambil melambai-lambaikan tangannya.
* * *
Keesokan paginya.
“Apa!? Aku mau dijodohin?” kataku kaget begitu mendengar ucapan papa.
“Iya… ini putri dari clien papa disini. Anaknya manis, cantik, sopan, pintar pula. Mau ya Sam? Lumayan memperbaiki keturunan”
“Lulus kuliah aja belom, ini mau dikawinin”
“Eits… siapa bilang dikawinin? Cuma dikenalin. Entar kalo udah lulus kuliah, kamu kerja di perusahaan papa terus kawin”
“Tapi… aku udah punya pacar pa…” kataku meminta pengertian papa.
“Udah, kamu ini nurut aja. Entar kan kesana juga. Kamu bisa ketemu sekaian kenalan. Oke?” terang papa panjang lebar.
“Enggak! Aku Cuma mau sama pacarku itu.” protesku.
“Pokoknya harus mau! Papa nggak mau tahu, satu jam lagi kamu harus udah rapi. Kalo enggak… kamu nggak papa anggap sebagai anak papa” kata papa yang jelas membuatku tidak berkutik.
* * *
Satu jam kemudian.
Aku sudah rapi dengan kemeja putihku dengan kaus hitam didalamnya dan celana jeans sambil duduk dengan muka ditekuk-tekuk di kursi belakang All New CR-V hitamku. Papa yang nyetir karna selain aku nggak tahu tempatnya, papa juga takut malah ditubrukin ke truk kotainer dan akhirnya koit berjamaah.
Di perjalan terdengar alunan indah lagu-lagu yang aku copy dari Nadia kemaren. Papa malah ikut nyanyi girang begitu denger lagu-lagu lama itu.
Aku tak begitu peduli dengan keadaan sekitarku. Aku sibuk merenungi nasibku yang malang bukan main.
Ciittt!!!
Mobil kami direm secara mendadak. Mama ngauk-ngamuk nggak karuan.
“Pa! kalo nyetir yang bener dong! Liat nih, jidat mama jadi benjol” kata mama sambil ngelus-ngelus jidatnya yang benjol. Persis ikan lohan.
“Maaf ma. Tadi ada kucing nyebrang sembarangan” papa meminta maaf.
“Udah! Jadi enggak? Kalo enggak pulang aja!” kataku cuek dari kursi belakang.
Mama sama papa cuma ngelirik dari depan seakan-akan berkata, Udah nurut dikit kenapa sih? Dasar!
Aku tetep cuek sambil melamun ria lagi.
Mobil kami memasuki pelataran parkir sebuah cafe yang gedungnya bergaya minimalis dan gedenya ngujubilah minjalik. Keren juga nih cafe, batinku
“He, Sam, ayo turun! Udah sampe nih!” kata mama dari depan.
“Iya…” katalu malas.
Dengan langkah yang sedikit digeret, aku memasuku cafe ini. Di pojok sana, ada seorang laki-laki dan seorang lagi perempuan. Sepertinya orangtua dari calon yang dibilang papa ini.
“Selamat pagi Zal. Jadi ini anak kamu?” Tanya pria itu.
“Selamat pagi Ndra. Iya nih, perkenalkan namanya Samudra Pasai. Sam, ayo salami om Indra! Dia teman satu kampus papa dulu” kata papi
“Sam…” kataku sambil menjabat tangan om Indra ini.
“Wah, namanya seperti nama kerajaan islam pertama di indonesia ya Zal?” kata om Indra. Aku dan papa Cuma tertawa.
“Lho, Din, Mana putri kamu? Kok nggak kelihatan?” Tanya mama tiba-tiba.
“Itu Rin, sedang di toilet. Oh ya nak Sam, nama tante Dinda. Tante ini teman satu SMA-nya mama kamu” jawab tante Dinda.
“Ooo…” aku cuma mangut-mangut kaya perkutut.
Lama aku menunggu, nggak dateng juga nih anak. Aku melamun lagi sambil melihat keluar. Aku benar-benar kacau sekarang.
“Maaf membuat semuanya menunggu” kata seorang cewek berpakaian coklat dan celana jeans itu.
Betapa kagetnya aku melihat gadis itu “Nadia…!?” hanya itu yang keluar dari mulutku.
“Lho, Sam? Kok ada disini?” Tanya gadis itu yang ternyata Nadia.
“Kalian saling kenal?” Tanya papa heran.
“Nah ini pacar aku pa! Namanya Nadia Zaskia Putri” kataku.
“Oh… jadi ini toh pacarmu Nad?” kata om indra. Nadia Cuma mengangguk.
“Jadi… sejak kapan kamu pacaran sama Nadia, Sam? Kok nggak prnah keliatan ngapelin Nadia?” Tanya tante Dinda.
“Sebelum Nadia pindah kesini te. Ngapel? Biasanya ketemuan di taman perumahan kok te. Karena Nadia pindah, jadi terpaksa hubungan jarak jauh” jawabku.
“Pa… Sam ini yang dibilang papa tadi pagi?” Tanya Nadia masih nggak percaya.
“Yah, begitulah Nad. Kamu senang kan?” om Indra menatap Nadia.
Nadia tersenyum senang bahagia sentausa. Matanya berkaca-kaca karna terharu.
“Nad, matamu kemasukan kapal karam lagi?” cletukku ngasal.
“Dari kemaren ya… mau dicubit lagi?” ancam Nadia. Mama, papa, om Indra dan tante Dinda tertawa melihat tingkah kami yang kaya anak kecil.
“Udah, ah, Nad. Kita nyanyi yuk!” ajakku lalu beranjak kursiku dan berjalan menuju panggung. Dari belakang, Nadia mengikuti.
* * *
“Seneng kan sekarang?” Tanya papa saat diperjalanan menuju hotel.
“Iya… cerewet. Kalo aku tau itu Nadia, aku dari awal gak akan ngomel kaya tadi pagi” kataku sewot. Papa dan mama malah ketawa. Bikin aku tambah keki.
“Yang penting kan sekarang” kata papa.
“Pa!!! Awas bus!!!” kata mama mengagetkan papa. Langsung papa banting stir. Persis kaya kemaren.
“Woi! Mata lo katarak ya? Jelas-jelas ada bus gini ditrabas aje! Mampus gue sukurin lo!” umpat supir bus itu.
“Kalem pak. Belom juga nnyerempet udah ngamuk-ngamuk” sahut papa cuek dari dalam mobil.
Mama jelas ngamuk-ngamuk. Persis kaya kingkong lagi ngamuk. Dan dari belakang, aku Cuma bisa ngakak kaya orang gila baru kabur dari RSJ.

saint of my life

Nina berlari tergesa-gesa lantaran hujan dan hampir telat. Mana hari ini dia piket. Hari ini bener-bener dah! Hari paling apes buat Nina. Pertama, tadi pagi alarmnya nggak bunyi lantaran lupa belum di setting. Kedua, jazz silvernya nggak mau nyala. Dan yang ke tiga, di dalem angkot yang sumpeknya ngalah-ngalahin padang makhsyar dapet duduk di pintu, yang artinya kehujanan.
Dari kejauhan sambil ngos-ngosan, Nina mendengar suara motor yang dipacu sangat kencang. dan saat ditengok benar. Ada cowok yang mengendarai Kawasaki ninja RR warna hitam dengan kecepatan yang luar biasa. Dan tujuannya ke sekolah. siapa dia? Batin Nina bertanya-tanya. setelah 30 detik termenung, Nina tersadar dan kembali berlari sekuat tenaga sambil mengumpat-umpat dirinya sendiri.
Tepat 5 menit sebelum bel masuk berbunyi, Nina sampai di kelasnya dengan basah kuyub. jadilah dia bahan ledekan kedua sohib ajaibnya, Lusi, dan Mia.
“Jiah! Lo habis mandi pake baju ya nin? Hahaha...” Lusi mulai mencibir.
“Hush! Nina bukan habis mandi pake baju tauk!” ucap Mia membuat Nina merasa dibela. “Tapi Nina abis berenang di got depan sekolahan. Hihihi...” tambahnya yang langsung disambut cekikan dari Nina.
“Muke lo ijo! Gue abis keujanan, laler! Bukan abis mandi ato berenang” Nina melepas cekikannya.
“Lho, kok keujanan? mobilmu mana Nin?” Tanya Lusi hati-hati. Takut dicekik juga.
“Sakaratul maut di rumah! Nggak mau nyala!” jawab Nina keki.
Setelah mereka ketawa-ketiwi kayak orang miring, bel tanda masuk berbunyi. Seiring dengan bunyi bel yang kaya tawon kejepit pintu itu, pak Kismanto, ato sebut aja The Kiss, masuk diikuti seorang cowok bertampang ganteng (maaf bukan gangguan tenggoroan) nan kece yang berjalan cuek. Bener-bener cuek sampai bebek kalah cuek, tak diperdulikannya keadaan kelas yang udah mulai gaduh.
“Tenang semuanya! Saya mau memperkenalkan murid pindahan dari Bandung. namanya Dhani Saputra. Untuk info lebih lanjut, bisa kalian tanya sendiri ke dia. Saya ada rapat. Oh, iya, hari ini fakultatif” ucap The Kiss lalu pergi menghilang sambil ngelus-elus jenggotnya. kelas kembali gaduh.
“Oke... panggil gue Dhani” ucapnya datar “Ada pertanyaan” tambahnya tetap datar. matanya menatap tajam ke seluruh penjuru kelas.
Tiba-tiba Lusi mengangkat tangan dan bertanya “Mmm... Kalo boleh tau, rumah lo dimana?”
“Gue tinggal di perumahan deket-deket sini. Sendirian. kalo lo Tanya kemana Ortu gue, mereka ada di Bandung” jawab Dhani seperti tadi. Datar kaya triplek.
Kini giliran Rendi, anak paling sableng di kelas sekaligus pacarnya si Mia yang bertanya. Sambil nujuk-nunjuk headset yang terkalung di leher Dhani dia berkata “Lo suka musik ‘kan? Lo suka musik yang kaya apa?”
“Gue suka ’Superman Is Dead’. Tapi ada juga lagu laen selain SID di I-pod gue” Dhani menarik nafas sejenak “Sekerang gue yang nanya. Gue duduk dimana?”
Tanpa baasa-basi Nina mengankat tangan dan berteriak norak “Disini kosong. Lo bisa duduk di sini. Yah, daripada ga ada yang dudukin terus jadi hantu bangku kosong” ya, Nina emang duduk sendiri sejak semester dua.
Saat Dhani sudah tiba di sebelah Nina, Nina memperkenalkan dirinya “Perkenalin, gue Nina. Salam kenal” mereka berjabat tangan.
Dhani sedang asyik menarikan jari-jarinya pada keyboard laptop hitamnya sambil ngedengerin beberapa lagu lewat headset yang dicolokin ke laptopnya.
“Lo nulis apa?” iseng-iseng Nina bertanya.
Dhani melepas headset, menoleh lalu berkata “Nulis cerpen” jawabnya singkat, padat, dan jelas. Lalu memasang headsetnya lagi.
“Mmm... lo suka SID ‘kan? Kenapa? Terus, lagu yang paling lo suka itu yang mana?” Nina bertanya lagi.
Tanpa melepas headsetnya, dan terlebih tanpa menoleh, Dhani menjawab pertanyaan Nina “Gue suka SID karena gue suka aja. Beda sama band-band Indonesia kebanyakan. Dan masalah lagu kesukaan, gue paling suka sama yang ‘Jika Kami Bersama’, ‘Saint Of My Life’, ‘Pulang’, sama ‘Memories Of Rose’. tapi pada dasarnya, gue suka semua lagunya SID”
“Selain SID suka lagu apa lagi?” Lagi-lagi Nina iseng-iseng nanya.
“Lagu ‘Nothing Else Matters’-nya Metallica”
Nina Cuma mangut-mangut.
* * *
Jam istirahat.
Nina seperti biasa, sedang cekikikanbareng kedua sohibnya di kantin yang ramenya ngalah-ngalahin pasar ayam. Keadaan kantin yang sebelumnya santai-santai saja, berubah menjadi tegang ketika Dhani dicekal, dan dilarang masuk oleh Bass. Anak yang paling disegani di sekolah.
“Hei, anak baru! Berhenti! Lo gak tau siapa gue? Gue Bass! Anak yang ngusai sekolahan ini” kata Bass angkuh. “Sekarang lo sujud dan cium sepatu gue! cepet!” bentak Bass.
Dhani tidak melakukan apa yang diperintahkan oleh Bass. Malah, Dhani meludahi sepatu yang dikenakan Bass. Jelas Bass marah besar.
“Lo berani sama gue!? Brengsek lo!” Bass mengepalkan tangannya hendak memukul Dhani.
Ketika tangan kanan Bass mulai bergerak menuju wajah Dhani, Dhani malah menendang Bass tepat dirahangnya dengan telapak kaki kirinya. Bass terpental dan jatuh di salah satu meja di kantin. Bass masih bisa bangkit dan hendak menerjang Dhani. Tapi Dhani tidak diam saja. Dia melompat dan mengangkat kaki kanannya tinggi-tinggi, setelah itu dihentakkannya kakinya ke arah Bass. Tumitnya bersarang di pundak Bass. Bass roboh dan tidak bisa bangkit. Ya... Bass sudah kalah.
Semuanya terdiam seakan tak percaya. Bass roboh hanya dengan dua serangan. Beberapa orang mulai bergerak dan membawa Bass ke UKS. Sedang Dhani sendiri hanya melihatinya lalu pergi entah kemana. Hilang sudah nafsu makannya.
* * *
Di dalam kelas.
Dhani sedang didamprat oleh The Kiss karena kejadian di kantin tadi waktu istirahat. anak-anak yang lain cuma bisa ngeliatin The Kiss yang udah kaya burung beo berkicau.
“Kamu ini ya! Ini hari pertamamu dan sudah membuat kekacauan di dalam sekolah! Maumu itu apa, hah!? Apa kamu mau dikeluarkan pada hari pertamamu ini!?” begitu kira-kira bunyi kicauan The kiss.
“Pak... permisi, tapi ini bukan salah Dhani. Saya lihat dengan mata kepala saya sendiri” bela Adit, pacarnya Lusi.
“Apa saya bertanya pada kamu Dit?” The Kiss membentak Adit. Adit keder.
Dhani yang dari tadi hanya diam, sekarang angkat bicara “Sebentar... Pertama, terima kasih untuk kamu, Dit. Dan kedua, sekarang saya yang bertanya pada bapak. Apa bapak mau disuruh sujud dan mencium sepatu oaring lain? Apa bapak hanya diam dan melakukan hal itu? tidak ‘kan? Sekarang bapak ini tidak tahu awal masalahnya. Kalau saya saja yang disalahkan, itu namanya tidak adil! Kalau saya kena, harusnya Bass juga kena!” Dhani membela dirinya.
“Tapi tidak usah seperti itu ‘kan?” The Kiss masih menggugat. Tapi mulai agak kalem.
“Tadi itu saya mau dihajar. Bapak pilih mana? Menghajar, atau dihajar? Menghajar ‘kan?” Dhani bener-bener udah buat The Kiss bungkam.
“Ya sudah lah. Tidak usah diperpanjang. Sekarang fakultatif bukan? saya mau keluar dulu. Permisi” Ujar Dhani lalu beranjak pergi dari kelas meninggalkan semua yang ada di dalam kelas. Termasuk The Kiss.
Dia bener-bener gila! The Kiss aja dibuat nggak berkutik gitu. Batin Nina sambil melihat Dhani yang berjalan menuju pintu keluar dengan cuek. Nggak peduli kelas mulai gaduh kerenanya. Nggak peduli The Kiss yang udah diem kayak abis ngeliat setan. Nggak peduli pada apapun. Cuek.
“Kalau begitu, saya keluar... saya kembali ke ruang guru saja” ujar The Kiss lemas.
Setelah The Kiss keluar, Nina mulai ngoceh pada dua sohibnya “Eh, lo liat tampangnya the Kiss waktu ngedengerin pmbelaannya Dhani nggak?”
“Iya... pucet kayak mayat” Mia mengomentari.
“Adit aja keder. Nggak berani sama The Kiss” Lusi ikut mengomentari.
“Yo, Dhani mana?” Rendi tiba-tiba nongol.
“Iya, kemana tuh anak?” Ternyata Adit juga ada.
“Wah, tanyalah pada rumput yang bergoyang!” jawab Nina asal.
“Ayo, Nin! Jawab yang bener! Ini ditanya beneran malah becanda!” Rendi mulai keki.
“Ya mana gue tau! Bego jangan dipiara dong!” jawab Nina kesal.
“Eh, itu anaknya!” Adit menunjuk Dhani yang baru masuk kelas.
“Dhani! Sini sebentar!” teriak Nina. Dhani langsung tiba.
“Ada apa?” Dhani bertanya singkat.
“Gue mau kenalin temen-temen gue ke elo” Nina mulai memperkenalkan semuanya pada Dhani.
“Eh, Nin, kata The Kiss, Dhani masuk kelompok kita. Jadi kita garap dimana dan kapan?” Adit, langsung nyerocos.
“The Kiss?” Dhani tampak biangung.
“Pak kismanto. Anak-anak suka nyebutin gitu” Jawab Rendi.
“Oh...” Dhani tampak mengerti.
“Wah, rumah gue kagak bisa. Lagi direnofasi” Ujar Mia.
“Kalo rumah gue masih ada kakek gue. Jadi kayaknya nggak bisa juga” Lusi ikut menjawab.
“Gimana kalo di rumah lo Dhan?” Rendi menatap Dhani. “Sekalian tau rumah lo” tambahnya.
“Kapan?” Dhani bertanya lagi.
“Besok. Bisa ‘kan?” Tanya Lusi.
“Oke. Bisa” jawabnya.
* * *
Pulang sekolah.
Nina belom pulang karna masih piket. Ya, gara-gara tadi pagi telat, piketnya dipindah sepulang sekolah. Dan saat membersihkan bangkunya dan Dhani, Nina menemukan sebuah buku bersampul hitam dengan nama “DHANI” berwarna emas di atasnya. Dibukanya halaman pertama buku itu. tampak foto Dhani bersama seorang gadis berwajah manis nan cantik. Dibaliknya foto itu. Ada tulisannya, tulisan itu adalah “Untuk Risa yang selalu di hatiku meski engkau tlah tiada”.
Setelah puas melihati foto itu, Nina mulai membaca halaman demi halaman. Semua tentang Dhani ada di buku itu. Tentang “Risa”, pacar Dhani di Bandung yang meninggal karena sakit keras. Tentang betapa terpukulnya Dhani saat itu. Dan semua cerita Dhani saat masih di Bandung.
Tak lama saat membolak-balik buku hitam itu, Nina merasa ada sesuatu yang menyentuh lehernya. Diliriknya sesuatu itu yang ternyata adalah pisau yang ditodong oleh Dhani. Dhani hanya menatap tajam seolah berkata, ‘kau baca lagi, maka nyawamu akan melayang’.
“Dha-Dhani!” Nina cercekat. “Ma-maaf... aku tidak sengaja. Entah mengapa tangan dan mataku tertarik untuk membaca buku itu. Jadi, sekali lagi, maaf yang sebesar-besarnya Dhan” Nina memohon.
Dhani menarik pisau itu. melipatnya dan memasukkannya kedalam saku celananya “Jadi, kamu sudah tau semuanya ya?” Dhani duduk sambil menghela nafas.
“Ma-maaf ya?” Nina masih tak enak.
“Lantas mau diapakan lagi? Nasi sudah menjadi bubur. Lo udah tau semuanya ‘kan? Tentang Risa, tentang gue, dan tentang semua masa lalu gue” ucap Dhani.
Nina hanya mengangguk lalu tertunduk diam.
“Ya sudah lah. Sekarang mana bukunya?” Dhani mengulas senyum. Nina terpesona oleh senyum Dhani yang begitu menawan. Nina sampai terbengong.
“Halo? Boleh gue minta bukunya?” Dhani menyadarkan Nina.
Nina tersadar dan malu “Oh, iya, ini, maaf”
“Oke, sekarang gue pulang dulu. Bye!” Dhani beranjak pergi keluar kelas meninggalkan Nina yang masih terbengong sendirian.
* * *
Keesokan paginya.
Jazz silver Nina udah nggak ngadat lagi, jadi gak perlu repot-repoot naik angkot yang sumpeknya ngujubilah minjalik.
Sekarang Nina sedang ngerumpi bareng dua sohib ajaibnya. Nina menceritakan semua kejadian kemarin sore. Ya... Kejadian Nina yang menemukan buku hitam Dhani, lalu saat ditodong pisau oleh Dhani, dan yang terakhir betapa menawannya senyum Dhani.
“Beneran kemaren lo itu ditodong pisau sama Dhani?” Mia berkata tak percaya.
“Ngapain juga bo’ong?” jawab Nina keki.
“Terus kata lo, Dhani dulu punya pacar?” Lusi mulai antusias.
“Iye! Lo gak percaya sama gue?” Nina mulai kesel.
“Iye, iye... gue percaya” Lusi mengendus.
“Ssst... udah, Dhani udah dateng” Mia mengakhiri prcakapan.
“Pagi Dhan...” Nina menyapa.
“Pagi...” jawab Dhani.
“Mmm... soal yang kemaren, sori banget...” Nina berbisik.
“Udah, nggak apa. Entar jadi ‘kan?” Dhani bertanya yiba-tiba.
“Eh? Oh, iya... gue lupa. Jadi kok. Santai aja...”
“Yo, bro! Entar pelan-pelan saja ya?” Rendi tiba-tiba nongol.
“Elo kaya’ nyanyi aje Ren!” Adit juga ada ternyata.
“Ngapain lo sewot?” ujar Rendi.
“Lo sendiri kan yang sewot?”
“Kucin lo!”
“Biarin. dari pada elo babon” ucap Adit membuat semua tertawa, tak terkecuali Dhani.
“Lo bisa ketawa juga ternyata Dhan?” Rendi agak kaget liat Dhani ketawa.
“Emang lo kira gue pohon, nggak bisa ketawa? Udah, ah! Entar ya... Pelan-pelan saja. Hahaha...” Dhani kembali tertawa.
“Hahaha...” Rendi ikut tertawa.
“Eh, biasanya kalo Rendy ketawa, dia lagi mikirin sesuatu yang ngeres” Adit memancing.
“Enak aja! Elo tuh yang ngeres! Julukan lo kan The Makep! The Master Of Bokep! Hihihi...” balas Rendi tak terima.
“Elo malah pemain bokep!” Adit masih tak mau mengalah.
“Udah, berenti! Elo sama-sama ngeres! Sama-sama pecinta bokep!” Nina melerai. Dhani, Lusi, dan Mia tertawa.
* * *
Semua bengong melihat rumah bergaya minimalis yang bener-bener futuristik ini. Ya, semua sedang berada di rumah Dhani.
“Gile bener nih rumah. Pasti gambarnya aja mahal. Ya ‘kan Dhan?” Mia terkagum.
Dhani tertawa lalu berkata “Yang ngegambar rumah ini gue sendiri”
“APA!?” semua berteriak serempak.
“Gak perlu segitunya kali. Bokap gue arsitek, dan dari kecil gue udah diajarin ngegambar rumah kaya’ arsitek. Dan inilah hasil latihan gue selama bertahun-tahun. Tapi tetep aja yang mimpin pembangunan rumah ini bokap gue” jelas Dhani.
“Tapi, tetep aja Dhan” Adit tetep ngotot.
“Iya, terserah lo deh. Ayo cepet kerjain tugasnya!” ucap Dhani.
“Iya, ayo selesaiin” Nina semangat.
Semua mulai mengerjakan tugas fisika pemberian The Kiss yang susahnya ngujubilah minjalik, tapi anehnya 15 menit udah kelar.
“Eh, Dhan ini ruang apa?” Rendi penasaran sama ruangan yang pintunya beda sendiri dari pintu lainya. Pintu itu berlapis karpet.
“Buka aja!” Dhani mengijinkan.
Rendy dan Adit kaget melihat isi ruangan itu. Alat music buat nge-band.
“Lo bisa main band kan?” Tanya Dhani.
“Tentu... kita buat band aja. Gimana? Bulan depan ‘kan ada pensi kelas? Kita ikut ngisi aja” usul Adit.
“Ya udah. Lo sukanya lagu apa?” Tanya Dhanni lagi.
“Sama kaya’ lo. Kita suka SID” jawab Rendi.
“Mainin lagunya SID aja” Adit mengusulkan lagi.
“Kalo SID doing nggak asik... ditambahin ‘Nothing Else Matters’-nya Metallica aja biar asik”
“Oke, setuju” jawab mereka serempak. Mereka pun memulai latihannya.
* * *
Seminggu sebelum pensi.
Bass tiba-tiba masuk ke kelas dan mengancam Adit, Dhani, dan Rendi. ternyata bass juga ikut pensi. Dia bahkan mengajak taruhan. siapa yang soraknya lebih sedikit harus melakukan apapun perintah yang soraknya lebih banyak. Dhani dan yang lain setuju. mereka yakin dapat memberi pelajaran pada Bass yang sok itu.
* * *
Malam pensi.
Semua sudah siap dengan alatnya sendiri-sendiri. Sekarang giliran kelompok Bass yang maju. Dia membawakan 6 lagu dari berbagai band indo. Lagu-lagunya sebenarnya bagus, tapi banyak yang miss. cukup banyak juaga yang bersorak.
Setelah selesai menyanyikan semua lagunya, kini giliran kelompok Dhani yang maju. Dhani sebagai vokalis dan gitaris, Rendi bassis, dan Adit menjabat sebagai drumer. Mereka menyanyikan lagu ‘Jika Kami Bersama’, ‘Pulang’, ‘Memories Of Rose’, dan ‘Saint Of My Life’ sebagai penutup. Hampir semua anak di sekolah bersorak riang. Yang paling berkesan mungkin saat membawakankan lagu ‘Saint Of My Life’. Mata Dhani tampak berkaca-kaca. Mungkin ingat pada Risa, karena lagu ini dinyanyikan Dhani sebelum Risa menghembuskan nafas terakhirnya sekaligus lagu faforitnya.
“Yes! Kita mengang!” ucap Rendi riang.
“Tugas kita belum selesai Ren. Tinggal ‘Nothing Else Matters’-nya Metallica” Dhani menghapus air mata yang hampir keluar.
Seperti rencana, mereka menyanyikan lagu ‘Nothing Else Matters’ tersebut. Semuanya terenyuh. Hanyut dalam lantunan lagu itu, tak terkecuali Nina. Mereka membawakan lagu itu dengan penuh penghayatan.
Saat mereka turun dari panggung, sorak-sorai terdengar dari seluruh penjuru sekolah. kalau sudah begini Bass sudah tak bisa apa-apa.
“Oke... sekarang gue emang kalah. Elo minta apa?” ucap Bass tetap angkuh seperti biasa.
“Gue nggak minta apa-apa dari lo. Gue Cuma mau, lo ubah sikap lo itu. itu aja” Ucap Dhani selaku pemimpin upacara... eh, pemimpin band itu.
“Setuju!” jawab Adit, dan Rendi serempak.
“Lo harus tepati janji lo sendiri” Dhani menatap tajam Bass. Tatapan dingin tanpa perasaan.
“I-iya... Janji tetap janji” ucap Bass takut.
“Eh, Dhan, bisa ikut gue sebentar nggak?” Nina tiba-tiba nongol.
“Kemana?” Tanya Dhani.
“Ada deh...”
“Bukan mau check-in kan?” goda Dahani.
“Ih! gila apa! Lo udah ketularan jadi pecinta bokep juga ya?”
“Hihihi... Enggak lah...”
“Gue mau tunjukin sesuatu ke lo”
“Oke...” kata Dhani lalu Nina langsung menyeretnya dengan kasar.
Dhani dan Nina sampai di atap sekolah. Nina melepaskan tangannya dan menunjuk ke langit.
“Lo liat itu Dhan? Bintang-bintang bersinar terang. Kamu tahu, mungkin itu cahaya yang dipantulkan bintang itu jutaan tahun yang lalu karena jaraknya yang jauh. Gue suka ngeliatin bintang-bintang itu”
“Lantas hubungannya sama gue?” potong Dhani
“Mungkin gila, tapi gue suka sama lo Dhan... Gue tahu nggak ada yang bisa ngegantiin posisi Risa di hati lo. tapi biarin gue berkata jujur dan lepasin sesuatu yang berkecambuk di dalam hati ini. Entah sejak kapan rasa ini muncul, tapi intinya rasa ini ada”
“Sebenarnya, guue juga lagi nyari pengganti Risa. Dan menurut gue, elo yang paling cocok. Elo bisa buat gue inget sama Risa. Sikap kalian mirip. Gue juga nggak mau terlalu lama larut dalam kesedihan ini, dan elo sudah membuat gue keluar dan bagkit perlahan-lahan. sekarang satu yang mau gue bilang ke lo. Elo mau nggak jadi cewek gue?” ucap Dhani membuat wajah Nina berubah merah.
“Mau nggak?” Dhani menggoda.
Nina mengangguk tanda mengiyakan.
“Hohoho... ternyata ada yang baru jadian disini” Rendi mengagetkan mereka berdua.
Ternyata dari tadi mereka semua menyaksikan apa yang sudah terjadi, dari mulai Dhani diseret, sampai acara penembakan itu. Wajah Nina semakin merah. Dhani merangkulnya dan membawanya pada yang lain. Mereka merayakan malam ini dengan lagu membawakan dua lagu lagi diatas panggung, yaitu ‘Kuat Kita Bersinar’, dan ‘Saint Of My Life’ lagi. Semua bersorak gembira.

good night-good night my little angel
good night-good night my little ones
spread your wings and fly away to your dreams
when you’re sleep, I’m on your side
when you’re wake, I’ll be there still
close your eyes, put the smile on your face

don’t be scarred, coz I’ll be there to hold you tight
you’re the king
you’re the queen
you’re the saint of my life

when the world is trembling down, don't you cry
coz there's nothing-nothing that will keep us part

ha... ha... ha...

sing with me my little darling
sing a long ti this lullabies
pick the moon kiss the star so good night


-Saint Of My Life-SID-

Halaman baru

Ketika ku mulai memperhatikan
Aku baru tersadar dari tidur panjangku
Tak ada yang sia-sia
Tak ada yang tak berguna
Semua mempunyai manfaat
Dan dari itu...
Aku mulai belajar
Dan aku tahu hidup itu indah

Dulu aku terpuruk
Merasa hidup ini tak berarti
Mungkin karna aku terlalu acuh
Terlalu Tak peduli
Terlalu tak mau tahu
Terlalu, dan terlalu...

Manusia hidup berdampingann
Tak hidup sendiri
Itu pelajaran yang aku ambil
Aku selalu tertutup
Seperti hidup sendirian
Dalam dunia ciptaanku
Aku tak sadar ada kalian
Teman-teman yang selalu di sisiku
Disaat suka maupun duka

Dan sekarang aku mulai mengerti
Kan ku coba tutup halaman-halaman yang lalu
Kan ku coba tuk tak melihat ke belakang
kan ku coba tuk buka halaman baru
Dan kan ku coba songsong kisah baru
Yang lebih hidup
Yang lebih bermakna
Dan yang lebih indah

Tetap sahabat

Malam ini hujan
Kilatan petir saling menyambar
Ku lihat lagi sosok yang tlah lama hilang
Muncul dari balik kegelapan

Dulu kau memang sahabatku
Tapi sekarang...
Semua sudah berubah
Sejak kau hianati aku
Dan tinggalkan aku sendiri

Sejenak kita saling pandang
Mencoba mengingat masa kita tertawa
Bersama-sama
Kupejamkan mata ini
Dan aku mulai menyerang

Hatiku mulai teriak
Ketika suara baja berhantaman
Ketika mulai tampak percikan api
Ketika pedang kita beradu
Sebenarnya aku tak mau ini
Tak mau!

Di sini, di hatiku
Kau tetap seorang sahabat
Sosok yang selalu ada untukku
Aku tak mau ada api permusuhan
Tapi memang tak ada pilihan

Sekarang kau terpuruk
Jatuh di kakiku
Tak punya kekuuatan
Dan dengan tebasan terakhir ini
Jiwaku hilang
Pergi bersama nyawamu

Jumat, 22 Januari 2010

Sebelum kembali

Ku berjalan perlahan
Menyusuri petak-petak sawah yang lapang
Menikmati desa ini
Dan lupakan kepenatan di kota

Ku lihat boneka sawah
Mengusir para pengganggu
Dengan rela
Tanpa pamrih

Hari mulai sore
Ku rasa hatiku kosong
Begitu hampa
Bagai langit utara
Kehilangan auroranya

Apa karna aku hanya berdusta?
Apa karna aku hanya berpura-pura?
Apa benar semua itu?
Tolong jawab aku!

Disini aku asli
Disini aku hidup
Tak ada dusta
Tak ada pura-pura

Jujur...
Aku tak ingin kembali
Tak ingin lagi hampa
Tak ingin lagi kehilangan kepercayaan
Dan tak ingin lagi berdusta

Matahari telah pergi
Ku pejamkan mata ini
Ku coba rasakan tempat ini
Untuk yang terakhir
Sebelum ku kembali
Dalam penat
Dalam dusta

Taubat

Di tengah malam ku terjaga
Rukuk dan sujud di hadapan-Mu
Menangis pilu
Teringat dosa-dosa yang lalu

Ya Allah...
Betapa bodoh jasad ini
Terlena oleh gemerlap dunia-Mu
Dan akhirnya melupakan-Mu

Disaat ku terjatuh
Merasa putus asa
Baru ku ingat diri-Mu
Benar-benar tak berguna diri ini

Ya Allah...
Aku memang tlah buta
Buta oleh dunia ini
Ampuni diri ini
Berilah rahmat-Mu
Berilah petunjuk-Mu
Untuk jadi lebih baik
Dan dengan rukuk dan sujud ini
Ku bertaubat kepada-Mu

Sampai akhir

Ku lihat darah hitam mengalir di dadaku
Sebuah tombak menembus jantungku
Sebilah pedang tertancap di punggungku
Mulutku bungkam
Memuntahkan darah-darah perjuangan

Aku sudah tak kuat
Ribuan pedang menghujam tubuhku
Mataku mulai buram
Mulai gelap
Tapi aku tak boleh mati
Tugasku belum berakhir

Ku tatap mereka dengan benci
Ku bangkitkan nafsu membunuh
Ku kobarkan semangatku
Dan ku serang membabi buta
Akan ku habisi mereka semua

Selesai sudah
Mereka hancur, dan aku roboh
Sekali lagi ku muntahkan darah-darah perjuangan
Kali ini ku tersenyum
Tugasku tlah selesai
Dan aku berteriak
Tuhan! Cabutlah nyawaku!

Jumat, 08 Januari 2010

Musnah bersamanya

Di bawah pancaran bulan sabit
Aku terjatuh tak berdaya
Lagi-lagi aku gagal
Aku kalah dalam perang

Tak bisa lagi ku bendung tangis ini
Aku selalu kalah
Bersama sahabat dan saudaraku
Yang kehilangan nafasnya
Yang hilang tersapu badai

Awan hitam mulai menghalang segalanya
Bintang-bintang mulai hilang
Hanya bulan sabit yang tertinggal
Yang tengah bersinar merah
Hujan segera turun

Kurasakan angin dingin
Menusuk hingga ke hati
Ku tatap bulan di atas
Mulai tertutup awan hitam
Dan seiring hilangnya bulang
Aku pun musnah bersamanya
Tersapu badai dan pasir

Sebuah momen

Malam ini ku lihat bulan
Bulan purnama yang sempurna
Cahayanya menyinari wajahmu
Ku lihat rona merah di pipimu
Tersipu malu

Makin malam, makin memerah
Dapat kurasa kehangatan yang terpancar
Di antara kita

Malam penuh kasih
Belum pernah kurasa sebelumnya
Mungkin hanya sekali ini
Sekali dalam riwayat hidupku

Tak akan ku lupakan momen ini
Momen dimana aku bersamamu
Disinari oleh bulan purnama
Dan merasakan kasih yang saling terpancar
Dari diri dan hati kita
Dari jiwa kita

Karnamu sahabatku

Mungkin kau sedikit menjengkelkan
Mungkin kau sedikit membuatku iri
Tapi kau selalu ada di sampingku
Saat aku merasa lemah
Saat aku merasa kalah
Saat aku merasa kesepian
Aku tak mau kehilanganmu sobat

Kaulah yang selalu mengerti aku
Saat ku merasa tak seorangpun mengerti
Kaulah yang selalu ada untukku
Saat tak seorangpun ingat padaku
Hanya kau sahabatku

Janga pernah tinggalkan aku sendiri
Karna aku tak ada apa-apanya tanpamu
Aku tak berarti tanpamu
Dan bahagia serta tawa ini tak akan pernah ada

Mari sahabatku
Kita terjang jalan gelap ini
Bersama kita pasti bisa
Menggapai harap kita