Jumat, 12 Februari 2010

dusta yang manis

Detik demi detik berlalu perlahan
Aku masih berada dalam jurang kebohongan
Belum keluar dari dusta
Dusta yang manis

Mungkin tawa riang yang kau lihat
Tampak selalu ceria
Nyatanya?

Mungkinkah aku bisa berkata jujur?
Karna tiap kata yang keluar menyayat hatiku
Aku tak ingin tampak lemah
Juga tak mau menangis di hadapanmu

Sekarang biarkan seperti ini
Hidup dalam bualan manisku
Memendam kepedihan seorang diri
Dan akhirnya tersiksa sendirian
Oleh dusta yang manis

karna semua tlah berakhir

Dapat terlihat olehku
Kepedihan yang amat sangat di matamu
Meski bibirmu slalu bilang tak apa
Tapi tetap matamu tak bisa berbohong

Tolong jangan menangis
Kau tidak sendiri
Ada aku, dia, dan mereka
Yang akan slalu menjagamu
Dan kau tak akan kesepian

Tak perlu lagi takut
Ini semua sudah berakhir
Tak kan ada lagi pertumpahan darah
Tak kan ada lagi senapan yang berbalas
Tak kan ada lagi yang akan pergi
Karena ini semua tlah berakhir

Sekarang hentikan isakmu
Pejamkan matamu, dan tersenyumlah
Lupakan semua yang tlah berlalu
Tataplah ke depan
Dan terjanglah masa depan

terimakasih kawan

Ketika ku terjatuh
Mulah kehilangan kepercayaan
Engkau datang
Ulurkan tanganmu
Dan memberiku semangat
Untuk tetap berjuang

Mereka juga...
Mereka yang seakan acuh
Mereka yang seakan tak kenal aku
Semuanya datang
Dan membantuku bangkit

Kini bisa ku rasa lagi
Bahagia yang tlah lama hilang
Tawa riang yang seakan musnah
Dan tlah tumbuh lagi
Kepercayaan yang tlah runtuh
Karena kalian

Kusampaikan terima kasih
Pada teman-teman yang selalu ada
Dan selalu temani diriku
Dalam suka maupun duka