Sabtu, 20 November 2010

Biarkan aku menangis bersama awan

Ku tatap ke luar jendela
Dapat ku lihat tetesan air hujan
Gelap dan suram terasa
Juga kesedihan di tiap tetesnya
Perlahan ku melangkah ke luar
Ingin ku rasakan pedih yang sama

Ku mengadah menatap langit
Dapat ku rasa bulir-bulir tangis dari langit
Ku pejamkan mataku
Ku rasakan lebih dalam, lebih pedih
Dan kau mulai berteriak
Tak kuat menahan pedih ini

Satu persatu ku tanyakan pada diriku
Apakah aku pantas berdiri di sini?
Apakah aku pantas mendapat semua ini?
Apakah aku pantas?
Tidak...
Aku sama sekali tidak pantas

Aku yang hina ini
Tak mungkin bagiku tuk dapatkan segalanya
Aku hanyalah angin yang terlupakan
Tidak lebih...
Semua yang ku punya adalah fana
Tak pantas bagiku berdiri di sini
Namun aku pantas...
Untuk terus disakiti
Juga dilupakan

Tuhan...
Aku tahu ini bukan jalanku
Tak kan pernah ada bahagia untukku
Tolong...
Aku hanya ingin menangis di bawah guyuran hujan
Aku ingin bercerita tentang semuanya
Biarkan air mata ini mengalir
Bercampur dengan air mata langit
Biarkan aku...
Tenggelam dalam semua masalahku

Hancurkanlah aku
Hingga menjadi debu kecil
Yang tak kan dilihat oleh siapa pun
Hapuslah semua memori tentang aku
Hingga benar-benar hilang
Dan tak seorang pun kan mengingatku

Biarkan aku menangis bersama awan
Aku yang hampa ini
Tak kan bisa mengubah apa pun
Hanya biarkan aku...
Biarkan aku menangis bersama awan

Tidak ada...

Pagi berkabut
Aku terus melangkah
Tak ingin ku menoleh ke samping
Karena kutahu...
Di sini semua berawal
Juga di sini semua berakhir

Genangan darah segar
Jasad-jasad saudaraku yang tergeletak berceceran
Mengapa ini terjadi?
Hanya sekejap
Tapi begini akhirnya
Hancur lebur tak tersisa

Aku sendiri di sini
Tetap melangkah di antara jasad-jasad saudaraku
Menangis pun tak kan
mengubah apa pun
Yang hanya bisa kulakukan kini...
Tidak ada...

Mata ini memandang kosong ke depan
Cukup sudah pedih yang kurasa
Lelah jiwa ini untuk terus disiksa
Ku biarkan peluru-peluru itu menghujam jantungku
Dan ku biarkan darahku mengalir, menggenang
Bersama darah saudara-saudaraku
Nafas perlahan lepas
Ku rasa jantungku mulai berhenti
Dan yang hanya bisa kulakukan kini...
Tidak ada...

Selasa, 26 Oktober 2010

jeritan pilu seorang yang dihancurkan

ku melangkah perlahan

saat aku benar-benar hancur kau datang untukku

benar-benar untuk aku

kau bangkitkan aku

kau beri aku semangat

kini sayap ku telah pulih

aku sudah kembali hidup

tapi kenapa kau hancurkan lagi aku?

kenapa saat aku mulai percaya kepadamu?

aku kembali mati

di sini sendirian

meringkuk kedinginan

sendirian...

mati dan mati lagi

cukup dengan pedih ini!

aku muak selalu dibuang!

dihancurkan!

dienyahkan!

aku lelah selalu di lupakan!

tolong sekali ini saja

anggaplah aku ada

cukup sekali

cukup sejenak

anggaplah aku ada

anggaplah aku hidup

hilangkan aku

musnahkan aku

hingga benar-benar lebur

menjadi debu

yang tak pernah dianggap

Jumat, 15 Oktober 2010

Setelah kehidupan

Pagi berkabut di kota yang mati
Aku sendiri melangkah ditemani ketakutan
Ku dengar teriakan mereka yang hidup tapi mati
Dimana bisa ku temukan kehidupan?
Aku merindukan itu

Siang yang senyap
Tak lagi menyengat layaknya kemarin
Hujan darah mulai turun
Satu persatu ku hitung yang ku punya
Tak banyak lagi dan aku harus cepat
Aku harus tetap hidup

Senja yang biru
Dataran tetap berkabut
Dan cahaya tak bisa menembus
Hanya aku dan peluruku
Yang akan menembus kepala mereka
Yang lapar akan jiwa yang hidup
Dan yang haus akan darah

Kini malam datang
Seakan ketakutan diberi padaku
Mencekam saat ku lihat gerombolan itu
Mereka yang terus memburuku
Dan menghapus semua kehidupan
Hancurkan semua anganku
Juga sudah mengubahku
Aku bukan lagi manusia
Aku juga hidup tapi mati
Tapi aku berbeda dengan mereka
Aku hidup bukan untuk menghapus kehidupan
Aku hidup untuk mengembalikan kehidupan
Setelah kehidupan yang lama

Please take my soul and my last breath

I'm walking here
The darkness come from the earth
Try to kill some people who know the truth
The sky so sad to look many people have died there
Now the sky's crying again in this morning
So bad to hear your tears
Please stop crying, dear
I won't see your tears anymore
Just trust me and hold my arms
I'll protect you from the evil

Did you know if I got many pain to keep you safe?
Now you leave me here
Let me die alone without your smile
Why are you betray me and go away?
Please answer me

Do you hear my soul screaming out?
Try to call your name again
Must I die here?
With the sky who crying every time
I want to tell you something, dear
I know you are never care about me
I know you are never feel something to me
And that's your right to hate me
But please...
Please take my soul and my last breath
To protect you
And to keep you safe
Comment · UnlikeLike · Share

Dalam detik akhir kehidupan

Ku dengar samar-samar bumi menangis
Juga langit yang meraung-raung kesakitan
Aku hanya bisa diam dan mendengarkan
Semua ungkapan kepedihan
Tanpa bisa mengulur tangan

Api membara yang perlahan tersulut
Terjatuh dari angkasa gelap yang mati
Perlahan melahap dunia yang rapuh
Hancur lebur sudah...

Detak jantung tetap kurasa
Darah pun tetap mengalhr di tubuhku
Tapi kenapa?
Kenapa kurasa nafas ini terhenti?
Dan kenapa aku merasa mati?
Apa ini akhirnya?

Kita rasakan hal yang sama
Kita rasa pedih yang amat sangat
Dan tak ada yang mau melihat kita
Apalagi mengulur tangannya
Aku kini pasrah
Menanti saatnya
Saat kita hancur bersama
Dalam detik akhir kehidupan

Hancur lebur tak tersisa disini

Ku tatap langit yang mulai gelap tertutup awan hitam
Disini tubuhku terjatuh di atas padang rumput hijau
Ku genggam rerumputan yang mulai mati itu
Ku tahu ini akan terjadi

Pandanganku kian kabur saat langit mulai menangis
Gemuruh petir yang menyambar bagai isakan pedih
Aku hanya bisa menghela sedikit nafas
Saat cahaya sudah hilang dari dunia
Tak kan pernah kembali menyapa hari

Darah ini tetap mengalir deras
Bercampur dengan tetes hujan
Yang menggantung di rerumputan
Yang kini telah benar-benar mati
Jantung ini terasa kian pedih tiap ku hembus nafas yang kian berat
Berakhir sudah...

Semua memori yang ku punya hilang disini
Tempat terakhir ku gores memori itu
Tanpa ada siapa pun memapah ragaku
Sendirian di bawah langit yang menangis
Tanpa ada siapa pun menggenggam jiwaku
Hancur lebur tak tersisa disini

Cukup sampai disini ukiran tentang aku

Ku tatap retak dinding ruang ini
Ruang dimana tersimpan memori
Yang mulai terlupa oleh hati
Hanya terlupa...
Tapi tidak hilang

Disini ku lewati semua waktuku
Saat kita semua tertawa bersama
Juga renungi semua kesalahan kita
Saat kita berkhayal ingim jadi apa di masa depan
Juga menoleh sekilas tentang kekalahan kita di belakang

Luka yang kita obati bersama
Kini telah sembuh dan berubah
Menjadi sebuah senyum penuh arti
Penuh akan semangat tuk kembali melangkah
Tuk capai angan masing-masing

Sayang mungkin ini yang terakhir ku ukir kenangan
Pada retak dinding ruang ini
Sebuah tangis yang bergema di telingaku
Tapi ku tak bisa berucap tuk hilangkan pedih kalian
Tak ada lagi aku di sisi kalian
Dan tak ada lagi kisah dariku

Cukup sampai disini ukiran tentang aku
Aku akan pergi jauh dan tak kan kembali
Maafkan aku, kawan
Cukup sampai disini ukiran tentang aku
Karena putus sudah nafas yang diberi Tuhan
Selamat tinggal kawan...
Kenangan tentangku akan tetap abadi dalam jiwa-jiwamu
Bersama retakan dinding ruang ini

Jumat, 24 September 2010

Kisah cinta sekertaris kelas dan wakilnya

SMPN 212 (pendirinya wirosableng kali ya, makanya nomernya 212). Kelas 9B saat itu sedang panas karena belum menemukan sekertaris kelas dan wakilnya, juga karena AC kelas sedang rusak (melase).
“Ada saran lagi?” ujar Handi selaku ketua kelas saat itu.
“Aku milih dia! Adit!” ucap Pampam sambil berdiri dan menunjuk tepat pada wajah Adit yang saat itu sedang kilik-kilik kuping.
“Hei, Dit! Kamu jadi sekertaris!” ucapan Handi membuat Adit syok.
“Hah? Yang bener aja!”
“Kalo gak mau, entar kamu aku tulis alfa terus”
“Iya deh. Licik kau, Han. Terus siapa yang bakal jadi wakilnya?”
“Rir, kamu ada saran? Dari tadi kamu cuma bengong aja gak ngapa-ngapain. Kesurupan baru tau rasa kamu!” ucap Nadin yang duduk di belakang Fourir. Dia wakil ketua kelas.
“Bentar, aku lagi mikir” dan Fourir kembali bengong.
“Aku ada saran! Gimana kalo Nisa?” saran Citra
“OGAH! Lagian aku kan udah jadi bendahara. Mana bisa jadi sekertaris?” jawab Nisa tegas.
“Terus siapa nih?” Handi tampak bingung.
“Eureka!” Fourir tiba-tiba teriak kaya orang kesurupan, bikin seisi kelas kaget “Gimana kalo Dini? Mumpung dia gak masuk, jadi gak bisa protes. Gimana? Daripada semua anak kelas 9B disetrap kan?”
“Brilian!” ujar Handi.
“Yah, kok sama cewek?” protes Adit.
“Enak kan bisa dikecengin” timpal Fourir.
“Iya kalo cakep. Kalo gak punya muka gimana?”
“Ye… Kamu kira setan apa gak punya muka? Mikir pake otak dong!” Pampam menunjuk dengkulnya.
“Garing. Gak lucu!”
“Gitu aja sewot”
“Udah, udah! Jangan berteman! Eh, maksudku jangan bertengkar!” Nisa menengahi. “Kalian ini selalu bertengkar. Gak niat pula. Kalo emang mau bertengkar itu bawa senjata dong! Yah, minimal golok lah”
“Mulai deh premannya keluar” Kata Nadia.
“Ups… Sorry” Nisa menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
“Mantan preman tanah abang! Pas banget jadi bendahara yang hobi malakin orang. Ahahaha…” cibir Pampam.
“Minta digamparin pake pake hairdryer mamaku yah kamu, Pam?”
“Gak deh, makasih. Dikasi duit aja gak apa-apa”
“Ye… Maunya!” teriak anak sekelas.
“Hehehe…”
“Sekarang rapatnya udah selesai kan?” tanya Handi.
“Iya, kenapa?” Nadin balas bertanya.
“Aku mau tidur lagi. Masih ngantuk”
“Dasar tukang tidur!” umpat Nadin.

* * *

“Pagi Pak Satpam…” ucap gadis berwajah ceria itu.
“Pagi, neng Dini” satpam itu tahu betul kebiasaannya datang ke sekolah di pagi buta, saat matahari baru menunjjukkan sinarnya. Kau tahu kenapa? Tidak lain untuk mengerjakan semua PR-nya. Kalau kau bingung kenapa kok gak dikerjakan di rumah saja? Ada alasannya, kalo di rumah gak ada gairah buat buka buku. Yak, sunggu alasan yang tidak logis.
Tiba-tiba pintu kelas dibuka. Tampak Handi yang bermandikan keringat, juga nafasnya yang ngos-ngosan. Dia berlari dari rumahnya sampai ke sekolah. Katanya biar kurus, tapi sampai sekarang tetap gendut aja perutnya.
“Kenapa ngos-ngosan?” tanya Dini.
“Kamu Dini ya?” tanya Handi. Dini mengangguk pelan. “Kamu jadi wakil sekertaris kelas” mendengar itu, Dini langsung lemas. “Loh, kenapa?”
“Kok aku sih?” Dini berucap lemas.
“Karena kemarin kamu gak masuk dan yang lain pada setuju kamu jadi wakilnya”
“Terus ketua sekertaris-nya siapa?”
“Adit. Tau kan? Yang tinggi besar kaya demit itu loh”
“Ah, dobel cacat!” Dini menepuk jidatnya. “Payah nih…”
“Salah sendiri kemarin gak masuk”
“Ya sudahlah… Kamu sendiri jadi apa, Han?”
“Jadi ketua kelas”
“Ketua kelas? Waduh, ancur beneran nih kelas”
“Dibuat hepi aja lah. Hahaha…”
“Biar ku tebak, bendaharanya Nisa kan?”
“Iya dong! Sama Nadia. Klop dah”
“Kelas bakal lebih ngeri dari rumah paling angker sekali pun kolo gini ceritanya, Han. Tega kau. Kan aku barusan sembuh, masa disiksa lagi sih? Hiks…”
“Lebay ah. Nikmatin aja lagi”
Tiba-tiba dari luar terdengar suara tembakan. Nisa langsung masuk sambil menenteng sebuah AK-47 di pundaknya. Handi dan Dini melongo melihat Nisa.
“Nis, ngapain bawa-bawa tembak segala? Kan gak boleh?” ucap Dini.
“Nggak boleh? Bukannya yang gak boleh itu senjata tajam ya? Berarti senjata api boleh dong, Din?”
“Kalo senjata tajam aja gak boleh, APA LAGI SENJATA API!? Haduh Nis, horror sekelas sama kamu ini”
“Hahaha… Makasih”
“Siapa yang muji!?” Dini jadi kesel sendiri.
“Iya deh, aku simpen. Entar kamu sakit lagi, Din” Nisa memang perhatian sekali sama temannya, meski terkadang sifatnya kaya preman pasar.
“Makasih ya, Nisa”
“Emang kamu sakit apa kemarin?”
“Flu. Sebenernya sih aku masih kuat ke sekolah, tapi mama ngelarang. Takut tambah parah.” jelas Dini.
“Lebih baik gitu, Din. Kamu itu gampang sakit, jadi harus bener-bener dijaga. Aku ngerti kamu pasti mikir kalo mamamu berlebihan, tapi coba pikirin lagi, semua itu untuk siapa? Untuk kamu, kan? Jadi ya ngertiin orang tuamu dikit lah…” Dini tersenyum mendengar ucapan Nisa barusan. Dia memang sudah seperti kakaknya sendiri.
“Eh, kok aku dikacangin?” Handi protes.
“Pagi semuanya!” terdengar suara keras nan cempreng yang khas. Ini pasti Fourir, dan pasti bareng Pampam. Dan bener aja. Mereka dateng bareng.
“Yak, sepasang Homo udah datang!” ucap Handi santai.
“Homo dari Hongkong!” ujar Fourir keki.
“Mulutmu itu dijaga dikit napa?” Pampam gondok.
“Sabar Om. Bercanda lagi. Serius amat?” Handi nyengir.
“Sialan...” Fourir mengendus.
“Adit udah dateng belom?” tanya Pampam.
“Bisa diliat sendiri, kan? Belum”
“Gimana sih nih anak? Katanya pengen nyontek PR fisikaku? Cacat kuadrat!” Pampam dongkol.
“Kaya gak tau Adit aja kamu itu, Pam...”
“Halo 9B!” tiba-tiba Adit sudah ada di depan pintu kelas. Kehadirannya yang sangat tiba-tiba membuat yang lain menyangka Adit adalah penampakan di pagi buta. Nisa sempat menembakkan AK-47 miliknya saking kagetnya. ”Kampret! Aku masih sayang nyawaku!” umpat Adit saat peluru AK-47 itu hampir menembus kepalanya. Untung baru hampir.
“Kamu juga buat orang kaget aja!” Nisa balas ngamuk.
“Udah deh lupain aja!” Handi menengahi.

* * *

3 bulan kemudian di dalam kelas 9B. Nadia dan Nisa sedang lari-larian ngejar anak-anak yang pada nunggak bayar kas kelas. Kini bagian Handi yang dikejar. Pas Handi udah terpojok di belakang kelas, Nisa mulai mengokang shotgun.
“Bayar gak, Han?” Nisa menodongkan shotgun-nya.
“Aku aja yang urus” kata Nadia, lalu menggelitik Handi sampai dia teriak-teriak minta ampun, bahkan sampai nangis kegelian.
“Oke, aku mau bayar! Tapi berhenti menyiksaku seperti ini!” Handi menyerah.
“Tuh kan, Nis, gak perlu pake shotgun segala, cukup dengan ujung jari kita aja, semua masalah udah kelar” Nadia tersenyum penuh kemenangan.
Sementara di sisi lain kelas 9B, Adit sedang menyeting gitar akustik yang dia bawa dari rumah. Setelah selesai, Adit mulai memainkan dan menyanyikan Fall For You-nya Secondhand Serenade. Setelah selesai langsung Citra yang ada di depannya ngeledekin.
“Hayo Adit nyanyiin itu buat siapa? Buat Dini ya? Ih, romantis sekali!”
“Dini lagi... Aku nyanyi Cuma buat asik-asikan aja kok. Gak ada maksud lain” bela Adit.
“Terus ngapain bawa gitar segala? Pasti ada alasan lain nih. Ngaku gak! Buat Dini kan?” Citra tetap menggoda.
“Ya amplop! Sumpah deh, ini disuruh Pampam. Katanya dia mau pinjem” Adit tetap berusaha membela diri.
“Pam, bener gak kata Adit?” tanya Citra.
“Ha? Bener apaan?” Pampam gak nyambung.
“Bener gak kamu mau pinjem gitarnya Adit? Ato Cuma alasan dia aja biar gak ketahuan kalo lagi PDKT ke Dini?”
“Oh... Bohong tuh anak! Dia mau PDKT, bukan mau minjemin aku!”
“Sialan! Fitah ini!” Adit dongkol. “Awas kau, Pam! Gak jadi aku pinjamin gitar” ancam Adit.
“Biarin, ye... Aku udah dikasih kakakku tadi malem. Ahahahaha...” Pampam membalas.
“Sialan!”
“Hei! Aku dengar apa yang kalian katakan barusan” ternyata dari tadi Dini ada di dekat Citra.
“Hehehe...” Citra nyengir.
“Kebiasaan! Sukanya buat gosip yang aneh-aneh”
“Bagus juga sih pake acara nyanyi Fall For You segala”
“Gak boleh ya memang? Hak dia kan?” bela Dini.
“Cie... Adit dibelain Dini tuh. Seneng banget pasti dia. Hahaha...” Pampam mulai ngeledekin. Muka Adit mendadak merah menyala. Malu.
“Kamu ini! Aaah...! Aku keluar aja!” Akhirnya Adit keluar kelas untuk menenangkan pikirannya di kantin, eh malah ketemu Pak Alip. Kena setrap deh. Apes banget. Hahaha...

* * *

Nadin sedang membaca 5 cm yang dia pinjam dari temannya. Tiba-tiba Adit datang dengan keringat bercucur dimana-mana. Nadin yang merasa penasaran pun bertanya ke Adit.
“Dit, kamu kok kerinetan? Abis lari ngelilingin sekolah ya?”
“Enggak kok. Cuma abis disetrap di lapangan sama Pak Alip” jawab Adit.
“Loh, kenapa?”
“Tadi aku ke kantin. Terus ketauan sama dia. Kena setrap deh...”
“Ngapain juga ke kantin?”
“Stres di kelas diledekin mulu sama Citra sama Pampam juga”
“Oh... Biarin aja lagi...”
“Masalahnya...” belum selesai Adit ngomong, Nisa udah nodong pake shotgun.
“Dit, kamu belom bayar kas 3 minggu. Bayar gak? Atau kamu mau kepalamu hancur kena tembak shotgun ku?” ancam Nisa.
“Eh, uh... Iya deh...” Adit mengambil dommpetnya di saku belakang celananya, lalu membayarkan sejumlah uang pada Nisa. “Nih...”
“Apaan nih? Ini cumma 2 minggu. Kurang yang seminggu lagi!”
“Aku gak punya uang lagi, Nis! Ini buat aku pulang!
“Besok ya?”
“Iya...”
“Awas aja kalo lupa!” Nisa pergi meninggalkan Adit.
“Fiuh... Hampir aja” Adit menghela nafas lega. Setelah itu mereka kembali berbincang-bincang, bahkan tertawa riang. Tapi di sudut lain kelas, ada sepasang mata yang memperhatikannya. Ada rasa iri yang terpancar dari matanya.

* * *

“Dit, ikut aku bentar deh!” Nisa berbicara pada Adit yang lagi makan di kantin.
“Kemana?” tanya Adit.
“Udah iktu aja!”
“Iya deh...” Adit pun mengikuti Nisa menuju kelas yang saat itu sedang sepi. Saat sampai, Nisa langsung balik kanan sambil nodongin P90 ke hidungnya.
“Kamu apain Dini sampai, hah!? Jawab!” Nisa berkata dengan nada marah.
“Ha? Emang Dini kenapa?” Adit berkata polos kaya orang gak punya dosa.
“Alah! Gak usah sok gak ngerti deh... JAWAB!”
“Beneran, aku gak ngerti apa yang kamu maksud, Nis”
“Bener?” Nisa menurunkan P90-nya.
“Beneran. Aku gak ngapa-ngapain dia kok. Aku juga jarang ngomong sama dia. Terus kok tiba-tiba bisa gini?”
“Maaf, ini semua salahku!” tiba-tiba Dini sudah di dalam kelas. “Maaf Nisa... Harusnya aku gak usah cerita ke kamu. Ini semua salahku kok. Jangan salahin Adit. Ini urusan pribadiku yanbg harusnya aku simpan sendirian...”
“Dini... Kamu kenapa sih?” Nisa mulai khawatir.
“Gak apa-apa kok, Nis. Jangan terlalu melindungiku. Kalau kamu terus melindungiku, aku nggak akan bisa jadi cewek yang kuat. Aku gak mau jadi cewek lemah yang bisanya cuma nangis kalo dapet masalah”
“Tapi kan, Din...”
“Nggak usah, Nis...”
“Jadi... Masalahnya ini tentang apa sih?” Adit yang masih bingung atas situasi ini kini bertanya. Dini menoleh dan tersenyum.
“Masalahnya ada disini, Dit...” Dini menunjuk dadanya. “Masalahnya... Ada di dalam hatiku”
“Hah? Apa katamu?”
“Kamu gak akan pernah tahu bagaimana jantungku terpacu lebih cepat saat kamu dekat denganku. Kamu gak akan pernah tahu gimana senangnya aku saat aku menangkap ada senyuman di wajahmu. Dan kamu juga gak akan pernah tahu gimana sakitnya hatiku saat kamu dekat dengan gadis lain, Dit. Dengan kata lain aku itu... Suka sama kamu. Entah sejak kapan, yang pasti ada rasa buat kamu di hatiku” ucap Dini pelan.
“Kamu bilang aku gak akan pernah tahu? Apa yang kamu rasakan juga aku rasakan sekarang. Aku terlalu malu untuk berkata sejujurnya. Maaf sebelumnya aku sudah buat kamu ngerasa sakit. Kamu ingetwaktu aku nyanyiin Fall For You kemarin? Bener kata Citra, itu buat kamu. Aku juga suka sama kamu, Dini...”
“Tapi apa kata mereka kalau kita beneran jadian?” tanya Dini.
“Cuekin aja lagi...” ucap Adit membuat Dini yakin.
“Lagian juga ada aku kok” Nisa tersenyum senang.
“Terima kasih ya... Nisa” ucap Dini.
“Sama-sama...”
Dan tak lama kemudian para warga kelas yang lain langsung masuk, menyalami Adit dan Dini, lalu minta Pajak Jadian berupa traktir makan siomay. Adit dan Dini langsung kabur tapi warga kelas tetap mengejar mereka berdua hingga mereka mau mentraktir makan siomay di depan sekolah.

Sabtu, 18 September 2010

Area 13

Di tatapnya tubuh tak bernyawa itu. Darah tercecer dimana-mana. Pisau lipatnya juga berlumuran darah segar. Tak ada ekspresi di mukanya. Dingin. Perlahan ditinggalkannya mayat tak berguna itu. Sudah 2 nama dicoret dari note kecilnya. Sekarang hanya tinggal 10 orang lagi.

* * *

“Hey, Rex, ayo kemarilah!” seorang memanggilnya. Itu, Ovan. “Kenapa kau tempak sangat kacau?” tambahnya.
“Diam kau!”
“Tenang kawan. Tak perlu terburu-buru. Masih 10 orang lagi yang harus kau habisi. Kita susun saja rencananya”
“Tak perlu rencana. Tunjukkan saja tempatnya, akan segera ku habisi” ucap Rex dingin.
“Disini. Area 3. 43 mil dari sini” ucapnya sambil menunjuk suatu tempat di peta. “Kita berangkat sekarang?” tanya Ovan.
“Aku sendiri cukup” Rex langsung mengambil kunci Nissan Skyline itu dan langsung melesat menuju tempat yang telah ditunjuk oleh Ovan. Dia sudah tak sabar untuk menghabisi ke 12 orang itu. Tak lama kemudian, Rex sampai pada District 3. Kedatangannya langsung disambut dengan hadangan dari 5 orang berwajah garang dengan tubuh yang kekar. Masing-masing mereka membawa pemukul baseball. Rex segera keluar dengan pisau di tangan kirinya dan sebuah Revolver Colt Piton dengan amunisi penuh di tangan kanannya.
“Mau apa kau datang kemari?” tanya seorang dari ke 5 orang itu.
“Bukan urusanmu” jawab Rex datar.
“kami berlima. Kau yang cuma sendiri bisa apa?”
“Lihat dan perhatikan!” dengan cepat Rex membidik ke 4 orang yang mengepungnya, lalu dengan cepat pula ditariknya pelatuk itu yang membuat 4 peluru mendarat di masing-masing kepala orang itu. Kini hanya tinggal seorang, dan hanya dengan sekali tusukan di dahinya, Rex mengakhiri yang terakhir.
“Sampah!” Rex kembali berjalan hingga menemukan targetnya. Dave.
“Akhirnya kau sampai juga. Aku sudah lama menantimu, Rex”
“Diam kau, keparat! Aku Cuma butuh 15 detik untuk menghabisimu”
“Benarkah? Bagaimana dengan ini?” Dave menepuk tangannya, lalu pintu besi di sampingnya terbuka. Tampak 10 orang bertubuh besar menghadang Rex.
“Dasar ikan teri! Aku bahkan tidak memerlukan pistolku untuk menghabisi mereka. Cukup beri aku 90 detik. Sabarlah Dave!” orang-orang itu mulai maju satu-persatu. Orang pertama berakhir dengan tusukan di jantungnya, lalu orang kedua dengan sobekan di lehernya, ketiga dengan perut yang disobek, keempat dengan tusukan tepat di pelipis, kelima dengan punggung yang sobek sampai ke pinggang, keenam berakhir tanpa kepala, ketujuh dengan tusukan tepat di dagu, ke delapan dengan tusukan di mata, kesembilan dengan sobekan di dada, dan terakhir berakhir dengan organ tubuh yang berceceran di lantai. Tepat 90 detik seperti katanya tadi.
“Selesai. Apa hanya itu yang kau punya? Payah!”
“Jangan sombong. Baru 10 orang saja sudah merasa paling kuat. Lagipula kau ini hanya anak ayam yang tak bisa apa-apa buatku. Sama seperti keluargamu yang lain”
“Tidak usah banyak bicara. Ayo kita akhiri!” Rex mulai memburu, tangan kirinya yang sedari tadi menggenggam pisau bersiap menusuk. Dave sendiri sudah mengeluarkan 2 Pistol Desert Eagle miliknya. Ditembakkannya secara brutal pada Rex, tapi Rex dapat membaca gerakannya dan menghindari tembakannya. Rex tahu kelemahan terbesar Dave adalah pertarungan jarak dekat. Oleh karena itu, dia terus berusaha mendekatinya. Semakin lama semakin dekat, dan saat sudah masuk jarak tusuk, Rex segera menghunuskan pisaunya tepat di jantung Dave, kemudian Colt Piton itu di arahkan tepat di keningnya, dan… 2 peluru Revolver itu menembus kepala Dave. Dia tewas seketika.
“Anak ayam katamu? Kau lah yang anak ayam” Rex meninggalkan mayat Dave yang bermandikan darah itu dan kembali ke tempat Ovan.

* * *

“Dimana target berikutnya? Sebutkan saja semuanya agar aku tidak perlu mondar-mandir hanya untuk menanyakan lokasinya kepadamu”
“Ini!” Ovan melempar peta itu pada Rex. “Sudah kutandai. Nomer target sesuai dengan nomer Area. Berarti target ke 4 berada di Area 4. Mengerti?”
“Mudah sekali. Aku pergi sekarang”
“Hey, hey… Sabar sedikit lah…”
“Sabar? Bagaimana kau bisa mengatakannya begitu mudah? Mereka yang sudah membantai keluargaku, juga membunuh kekasihku, bagaimana aku bisa sabar?”
“Tenanglah kawan. Kalau kau terlalu tergesah-gesah maka semuanya akan berantakan. Mengerti? Lagipula apa yang akan kau lakukan setelah kau balas dendam pada mereka?” Rex bungkam. “Pikirkan kawan. Kau tidak lebih baik dari mereka. Kau sama hinanya dengan mereka”
“Setidaknya aku punya alasan untuk membunuh. Tidak seperti mereka yang membunuh tanpa tujuan. Dan lagi, apa yang akan kau lakukan jika hal seperti ini terjadi padamu? Apa kau akan diam saja? Jangan melontarkan pertanyaan bodoh! Aku tahu apa yang akan ku lakukan”
“Terserah kau saja lah. Kau punya hak untuk menentukan bagaimana kau akan hidup dan bagaimana kau akan mati. Aku tak akan menghalangimu. Tapi aku minta satu hal padamu. Kembalilah kesini saat kau sudah berhasil menghabisi mereka. Hanya itu”
“…” Rex hanya terdiam lalu kembali melangkah meninggalkan Ovan.

* * *

Di datanginya satu-persatu tempat yang telah ditunjukkan oleh Ovan. Kini Rex sampai pada Area terakhir. Area 12. Dan targetnya kali ini adalah Tery. Mantan pacar adik perempuannya, juga mantan rekan tim seperjalanannya dulu.
“Rex, sobatku… Apa kabar?”
“Diam kau keparat! Kau bukan sahabatku! Kau adalah sampah yang tidak berguan! Penghianat!”
“Tenanglah Rex. Ternyata kau tidak berubah ya? Tetap saja temperamental. Kita ngobrol-ngobrol dulu saja” ucap Tery ringan. “Bagai mana sekarang kabar adikmu? Oh iya, aku sudah membunuhnya dengan tanganku sendiri”
“Jangan memancingku!” Rex menodongkan Colt Piton itu tepat di wajah Tery. Dia malah tertawa. “Ada yang lucu, kecoa busuk?”
“Tidak. Hanya saja aku teringat bagaimana aku membunuh adaikmu itu. Aku bahkan sempat mencumbunya sebelum menghabisi nyawanya. Aku nikmati tiap lekuk tubuhnya yang indah itu. Sayang kau tidak ada disana saat aku melakukannya”
“Keparat!” ditariknya pelatuk itu, tapi Tery bisa menghindarinya.
“Seperti biasanya. Kau kuat, tapi lamban”
“Kau terlalu meremehkanku” Rex menyebetkan pisaunya ke arah Tery. dia berhasil menghindar, tapi lengan kanannya terluka.
“Hahaha… Lumayan. Kau lebih baik dari terakhir kali kita bertemu. Tapi tetap saja, kau tak akan bisa mengalahkanku” Tery mengeluarkan dua pisau kesayangannya lalu berlari memburu Rex yang hanya terdiam. Tapi saat dia tepat di hadapan Rex, peluru Revolver itu sudah menembus jantungnya, kemudian Rex menyabetkan pisaunya di tubuh Tery yang hamper jatuh itu berkali-kali, hingga darah tercecer di mana-mana.
“Kau tetap ceroboh. Bertindak tanpa pikir panjang. Kau yang tidak berubah. Kau adalah teman terbaik sepanjang perjalanan hidupku, Tery. Tapi kenapa kau lakukan ini? Kenapa kau buat aku harus membunuhmu?”
“Kematian bukan sebuah akhir, Rex. Kematian adalah awal dari kehidupan yang abadi. Terima kasih kau sudah bebaskan aku dari semua tekanan ini. Ingat kawan, ini belum berakhir. Ada seorang lagi setelah ini. Dialah dalangnya. Dialah seorang dibalik semua ini. Yang telah merencanakan semuanya… Berhati-hatilah… Kawan…” Tery menghembuskan nafas terakhirnya. Tapi ada seorang lagi? Apa mungkin? Rex segera berlari menuju ke Nissan Skyline miliknya. Tujan selanjutnya. Area 13.

* * *

“Hey, kau sudah selesai menghabisi mereka semua?” tanya Ovan.
“Belum. Masih 1 orang lagi”
“Lalu kenapa kau kembali kemari?”
“Karena targetku yang terakhir…” Rex menodongkan Colt Piton itu. “Tepat di hadapanku saat ini”
“…”
“Aku tak percaya kalau kau adalah seorang dibalik semua ini. Kau yang telah memaksa dan mencuci pikiran mereka untuk menghancurkan semua yang ku punya”
“Hahaha…”
“Kenapa kau tertawa?”
“Lucu saja saat mengingat kau menuruti apa kata-kataku. Juga saat kau katakana padaku betapa kau ingin mereka yang telah menghancurkan hidupmu, padahal aku. Orang ada di hadapanmu inilah seorang dibalik semua itu.” Ovan menodongkan killer 7 miliknya pada Rex. “Kau bodoh!” pelatuk itu ditariknya dengan cepat.
“Argh…!!!” peluru itu mengenai tangan kanan Rex.
“Kau payah!”
“Keparat!” kini ganti Rex yang menembakkan Colt Piton itu, tapi Ovan dapat menghindarinya dengan mudah.
“Lambat!” Ovan menusukkan pisau itu di tangan kiri Rex.
“Sial!” Rex mencabut pisau itu dan melemparnya kembali pada Ovan, tapi pisau itu dapat dihindarinya.
“Kau mau katakana sesuatu?”
“Aku mau bertanya satu hal padamu”
“Katakan saja…”
“Kenapa kau lakukan semua ini?”
“Aku hhanya ingin bersenang-senang. Aku tak memiliki tujuan lain. Hanya ingin bersenang-senang. Membunuh itu sangat menyenangkan”
“Kau gila!”
“Tepat sekali. Nkalau aku tidak gila, aku tidak akan melakukan semua ini dan mungkin sekarang sedang duduk di sofa sambil menonton acara televisi yang menyebalkan itu”
“Grrr…!”
“Kau ingin membunuhku? Bunuh saja! Kalau kau lakukan itu, kau sama halnya seperti diriku”
“Bukan kah aku dulu pernah mengatakannya? Aku membunuh dengan alasan yang jelas. Tidak seperti dirimu yang membunuh tanpa tujuan”
“Terserah! Bagiku itu sama saja. kau tetap pembunuh, apa pun alasanmu”
“Biarlah aku menjadi pembunuh dan buronan, asalkan dendamku terbalaskan”
“Mati saja kau!” tepat saat mengatakan itu, Rex menembak kepala Ovan dengan Revolver Colt Piton miliknya. 3 peluru menembus kepalanya.
“Kau saja yang mati… Dan pergilah ke neraka! Sampah!”
Tiba-tiba pintu dibuka secara paksa. Itu polisi. “Berhenti! Jatuhkan senjatamu dan menyerahlah!” ucap seorang polisi. Rex menjatuhkan Colt Piton-nya.
“Beruntung sekali kalian. Urusanku baru saja selesai” Rex dibawa ke kantor polisi untuk di interograsi.
Di ruang interograsi. Rex duduk di kursi hanya diterangi lampu kecil di atasnya. Dan polisi mulai bertanya.
“Kenapa kau membunuh mereka?”
“Kau ingin tahu? Bailah, akan ku ceritakan”

Saat langit kembali menangis

Ku dengar suara percikan air
Sebuah pengutaraan dari kesedihan dunia
Dengan setiap luka di langit yang tampak jelas olehku
Kembali ku kepada masa yang sepi
Saat langit kembali menangis

Puing-puing memori yang tersisa
Ku dekap erat dalam pelukku
Ku nikmati setiap memori kepedihan itu
Dan...
Kembali ku rasakan pedih di hati
Saat langit kembali menangis

Hanya kesunyian disini
Pada akhirnya semua telah pergi
Ku tahu kita bertemu untuk berpisah
Dan kan kembali ku ingat semua kenangan indah
Saat langit kembali menangis

Sekarang biarkan aku disini
Mengadah dan menangis bersamamu
Kita rasakan pedih yang sama
Kita derita luka yang sama
Juga kita miliki takdir yang sama
Dibuang dan dilupakan setelah semua yang kita lakukan
Tetaplah menangis kawan
Luapkan semua kepedihan yang kau rasa
Dan aku kan kembali mengadah dan menangis
Saat kau kembali menangis
Saat langit kembali menangis

Hapuslah aku dari tiap mimpi-mimpimu

Dalam mimpi dan anganmu aku hidup
Hanya sekedar khayal yang tak pernah nyata
Haruskah ku sesali semua takdirku?
Kini hanya debu yang ku telan
Dari setiap mimpi-mimpimu

Biarkan aku bernyanyi disini
Mencoba lupakan duka lama
Meski ku tahu itu mustahil
Aku kan tetap bernyanyi
Walau jiwa ini kan kembali terluka

Ku tahu selama ini aku terus kabur
Berlari dari kenyataan pahit
Tapi apa itu akan mengubah sesuatu?
Ku yakin tak akan pernah

Lepaskan belenggu yang mengikatku
Hapuslah aku dari tiap mimpi-mimpimu
Aku bukan seperti apa yang kau bayangkan
Aku fana dan tak pernah nyata
Hanya sebatas khayal yang membeku
Dalam tiap pancar bulan malam
Hapuslah aku dari tiap mimpi-mimpimu
Agar kau bisa terus melangkah tanpa luka
Dan tanpa memori yang membisu
Dalam awan gelap yang menyelimuti malammu

Temani sepi jiwamu

Ku dengar bulan menangis
Langit semakin gelap tanpa bintang yang menghilang
Dan disana kau tertunduk
Menahan panas matamu
Mencoba kuat terima semuanya

Ku tahu ini berat
Dia kini kembali kepadaNya
Tapi kau tetap berada di sisinya
Sampai dihembus nafas yang terakhir
Aku tau pasti ada duka
Tapi hapuslah semuanya
Biarkan dia tenang disana

Hidupmu harus tetap berjalan tanpa dirinya
Yang kini sudah terbang ke angkasa
Dengan para malaikat bersayap putih
Yang kan hibur jiwanya
Tuk tak merasa sedih kembali

Tegar lah kawan
Hanya do'a yang bisa kau beri untuknya
Ku yakin senyumnya kan mengembang untukmu
Tuk hilangkan duka hatimu
Meski dia telah pergi jauh
Dan tak kan kembali lagi
Tapi hatinya akan tetap bersamamu
Temani sepi jiwamu

Tanpa ada lagi luka

Badai pasir yang menghempas semakin ganas
Tubuh mungilnya semakin tertahan tuk melangkah
Tapi semangat di hatinya tetap membara
Meski harapan itu sudah lenyap dari jiwanya

Tapi setelah semua perjuanganmu kau tetap terjatuh
Apa yang kini kau terima dari pengorbananmu?
Kehancuran...
Tolong hentikan langkahmu
Tak kan ada lagi luka untukmu

Mengapa kau tetap bertahan?
Sudah cukup luka yang kau dapat
Aku tak tahan menatap hancur ragamu
Cahaya hidup di matamu pun redup
Tapi kenapa?
Kenapa kau tetap bertahan dan berjuang?

Apa karena dia?
Dia yang sudah membuangmu?
Mengapa kau tetap berkorban untuk dia yang tak menganggapmu?
Tolong jawab aku!

Apa ini semua rasamu untuknya?
Sebuah pengorbanan yang sia-sia?
Aku mengerti...
Karna ku pernah rasa yang kau rasa
Genggam tanganku
Kan ku bawa perasaanmu
Dan kau kan damai dalam tidurmu
Sudah cukup luka yang kau derita
Kini waktuku tuk gantikan dirimu
Bertahan dan berdiri menahan pedih
Untuk membawamu pergi ke sana
Ke tempat dimana kau kan temukannya
Dan singgah di sampingnya
Tanpa ada lagi luka
Yang perlahan menelan jiwamu

Bintang kecil yang mati

Injaklah aku sesuka hatimu
Jatuh dan hancurkan diriku sepuasmu
Buanglah hatiku semaumu
Enyahkan jiwaku seperti yang kau mau

Aku bukan orang yang bisa segalanya sepertimu
Aku bukan orang yang serba punya sepertimu
Aku bukan orang yang sempurna sepertimu
Aku hanya bintang kecil yang tak punya apa pun
Aku hanya bintang kecil yang tak bisa apa pun
Aku hanya bintang kecil yang jauh dari kata sempurna

Tolong pergilah...
Cukup luka yang kau beri
Aku tak ingin mendendam
Tolong pergilah...
Biarkan aku disini sendiri
Mencoba bangkit semampuku

Aku akan tetap jatuh dan jatuh
Seperti apapun ku mencoba
Karna ku tahu...
Aku tak kan bisa sepertimu
Dan aku akan tetap menjadi aku
Bintang kecil yang mati
Yang telah kehilangan cahayanya

Jiwa yang redup

Aku hanya terdiam dalam sepi
Mencoba sembuhkan luka
Yang semakin dalam, semakin pedih
Nafas yang melekat semakin sesak
Dan sakit yang kurasa semakin dalam

Aku tahu kau tak berpikir kalau aku selalu mencoba
Tapi kau selalu membuangku
Jatuhkan aku di dasar gelap
Dan hancurkan aku bersama waktu
Sedang kau hanya pergi dan hilang
Tanpa sepatah kata terucap padaku

Tak kan ku teteskan airmata ini
Aku tak ingin tampak lemah
Meski hati ini selalu menjerit pilu
Tak kan setetes pun yang mengalir

Dan aku terbenam disini
Namaku kini hilang dari hidup
Biarkan semua senyum palsu itu yang kau kenang
Dari ribuan lembar hidupku
Yang kini terbakar dan menjadi abu
Enyah dari nyawa yang melayang
Terlupa dari memori hati yang terhapus
Dan mati dari sebuah jiwa yang redup

Sabtu, 21 Agustus 2010

Tak kan bisa lagi

Sekali lagi peluru menembus jantungku
Meneteskan darah hitam segar perlahan
Aku terjatuh terpuruk di medan perang
Dan nafasku mulai berat dan putus

Kini mataku terpejam
Tapi hatiku tetap melihat
Ragaku memang hancur mati
Tapi jiwaku tetap hidup

Disini tak ada yang benar
Dan disini tak ada yang salah
Semua sama...
Berjuang untuk jiwa yang lain
Untuk hati yang lain

Tapi sampai disini saja perjuanganku
Tubuhku yang dingin tak kan bergerak meski ku mau
Mata ini tak kan melihat meski tak buta
Semuanya berakhir disini
Dalam peperangan tak kenal ampun

Aku memang bukan yang terakhir
Tapi aku yakin bukan juga yang pertama
Jiwa dan hati yang ingin ku lindungi
Maafkan ragaku yang sudah tak kuat lagi
Maafkan mataku yang sudah gelap ini
Maafkan jantungku yang berhenti disini
Maafkan nafasku yang terputus hilang
Dan maafkan jiwaku yang melayang pergi
Tak kan bisa lagi bertempur untukmu

Jejak jiwaku

Gelap langit di pagi hujan
Aku terdiam mengadah disini
Langkah-langkah yang kujejak
Tak pernah ada bekas bagiku

Debu yang hapus langkahku
Semakin samar jejakku terlihat
Sebagai penujuk menuju rumah
Yang tak pernah kita temukan
Dalam hati kita masing-masing

Hanya nafas yang tersisa
Untuk terus menjejak tanah
Sampai aku terjatuh letih
Dan nafas pun semakin berat

Haruskah berhenti disini?
Dibawah hujan yang menghujam?
Dalam tangis hati penuh pilu?
Dan jejakku hilang begitu saja?
Disapu hujan dan badai?
Jejak jiwaku...
Akan mati...
Dan berhenti disini

So Far Away

So Far Away-nya Avenged sedang melantun dari iPod miliknya. Tiba-tiba adik perempuannya, Nanda, datang dan merayu kakaknya untuk diajak jalan-jalan.

“Kak Nova, keluar yuk. Jalan-jalan. Bosen nih dirumah” Ucap Nanda. Nova tidak mendengar karena telinganya tersumbat headphone iPod itu. Nanda dengankesal melepas headphone itu dan berteriak keras tepat di telinga Nova.

“Kak Nova!” teriak Nanda kesal. Nova jadi kaget, lalu ngamuk-ngamuk.

“Apaan sih! Ganggu orang aja!”

“Kakak sih tadi diajak ngomong gak denger” Nanda mewek.

“Emang kamu tadi mau ngapain?”

“Keluar Kak. Jalan-jalan. Bosen di rumah terus”

“Terus mau kemana?”

“Kemana kek. Ke Sutos? Boleh ya kak?”

“Ya terserah kamu aja…” dan Nova mengambil kunci Honda Civic hitam modifan itu.

Di dalam Civic hitam itu, Nova memasang flashdisk di tape yang memang ada colokan USB nya. Mulailah lagu So Far Away tadi.

“Kak, perasaan ini lagunya Aveged deh”

“Memang”

“Kok beda ya?”

“Karena Drumer-nya udah ganti. Bukan The Rev lagi”

“Terus siapa?”

“Mike Portnoy. Drummer-nya Dream Theater”

“Udah tua dong?”

“Iya sih, tapi performa mainnya tetep bagus”

“Menurutku kak, masih enakan The Rev. soalnya temponya itu gimana… Gitu. Syn mainnya juga jadi berantakan. Gak main rapi kaya album-album sebelumnya. Tapi lagu ini enak kak. Yang nulis Syn, kan? From best pal to another best pal who was far away from him. For The Rev”

“Yup. Ini lagu pertamanya Syn”

“Ada alasannya gak kenapa kakak suka lagu ini?”.

“Ah, gak apa-apa kok. Suka aja…”

“Oh…”



* * *



Nova sedang nemenin Nanda nyari baju di salah satu distro di sana. Karena terlalu lama, Nova menghampiri Nanda dan bilang.

“Nanda, kakak ke café itu. Entar kalo udah selesai langsung kesana aja ya”

“Iya kak” dan Nova berjalan meninggalkan Nanda.

Nova duduk di kursi paling pojok. Dia benar-benar malas ngapa-ngapain. Dari tadi bad mood mulu.

“Hey, Nova…” seorang memanggil namanya. Itu teman sekolahnya, Nita. Dia sama pacarnya.

“Oh, hai Nit”

“Ngapain disini sendirian? Semedi? Hahaha…”

“Nggak lah. Nganter adik jalan-jalan”

“Nanda?”

“Iya…”

“Mana sekarang dia?”

“Tuh, lagi beli baju” Nova menunjuk Nanda yang ada di sebuah distro.

“Oh iya. Jadi body guard doang dong kamu? Hahaha…”

“Sekalian supir” tambah Nova. Ketawa Nita tambah gokil.

“Deritamu, Nov. Hahaha…”

“Eh, ayo balik. Udah malem nih…” Ucap pacar Nita sambil melihat jam tangannya. “Entar kamu dimarahin, aku jadi gak enak”

“Oh, oke. Aku balik duluan ya, Nov. Bye…” Nita pun pergi meninggalkan Nova sendirian. Dalam hati dia menggerutu. Sebenarnya dia suka sama Nita, tapi ya sudahlah. Toh cewek gak cuma dia. Daripada pusing mikirin itu, Nova meneguk secangkir coffee latte itu hingga habis.

“Kak, ayo pulang. Aku udah selesai. Ato kakak mau kemana dulu?” Nanda sudah berada di samping Nova.

“Aku mau ke suatu tempat. Kamu mau ikut? Kalo gak ya gak apa-apa, langsung pulang aja”

“Males kak di rumah… Jalan-jalan aja…” jawab Nanda. Sejurus kenudian, mereka sudah berada di dalam Civic hitam itu.



* * *



Honda Civic modifan berwarna hitam itu berhenti di sebuah tanah lapang yang sepi. Nova keluar dari mobilnya, lalu membuka bagasi dan mengambil sebuah gitar akustik.

“Mau ngapain kak?” tanya Nanda.

“…” Nova tidak menjawab, tapi jari-jarinya mulai memetik gitar tersebut.



Never feared for everything, never shamed but never free

A life that healed a broken heart with all that it could

Lived a life so endlessly, saw beyond what other see

I tried to heal your broken heart with all that I could

Will you stay?

Will you stay away forever?



How do I live without the ones I love?

Time still turns the pages of the book it burned

Place and time always on my mind

I have so much to say but you’re so far away



Plans of what our futures hold, foolish lies of growing old

It seems we’re so invincible, the truth is so cold

A final song, a last request, a perfect chapter laid to rest

Now and than I try to find a place in my mind

Where you can stay, you can stay away forever



How do I live without the ones I love?

Time still turns the pages of the book it burned

Place and time always on my mind

I have so much to say but you’re so far away



Sleep tight, I’m not afraid

The ones that we love are here with me

Lay away a place for me

‘Cause as soon as I’m done, I’ll be on my way

To live eternally



How do I live without the ones I love?

Time still turns the pages of the book it burned

Place and time always on my mind

And the light you left remains but it’s so hard to stay

When I have so much to stay and you’re so far away



I love you, you were ready

The pain is stronger enough despise

But I’ll see you when he lets me

Your pain is gone, your hand are tied



So far away and I need you to know

So far away and I need you to, need you to know...



Nova mengakhiri nyanyiannya dan kembali bungkam. Dia mengadah menatap langit. Matanya terpejam.

“Kak? Kakak nggak apa-apa kan?” tanya Nanda khawatir.

“Nggak apa-apa kok… Kakak cuma pengen nyanyi”

“Tapi kenapa harus di tempat kaya gini? Kayaknya kakak sengaja… Terus lagu itu tadi… Buat siapa?” tanya Nanda hati-hati.

“Tadi kakak udah bilang kan? Nggak apa-apa, Nanda. Kakak juga nyanyi Cuma buat kakak sendiri kok”

“Kakak nggak usah bohong! Aku tahu kakak lagi sedih. Mata kakak yang nunjukin semuanya…”

“…” Nova tetap tidak mau bicara. “Udah ayo cepet naik ke mobil. Kakak udah ngantuk” Nova mencoba mengalihkan pembicaraan ini. Nanda cuma menghela nafas dan naik ke Civic kakaknya itu.



* * *



“Nov… Bisa ke taman kota sekarang gak? Aku butuh kamu” Nita menelpon Nova. Nova tahu benar, kalau Nita memintanya bertemu di taman kota, pasti ada hal yang gak beres.

“Oke, aku segera kesana” Nova langsung mengambil kunci Civic hitamnya dan melesat menuju taman kota.

Tak lama setelahnya, Nova sudah sampai di taman kota, dia mendapati Nita yang sedang menunduk sedih.

“Ada apa, Nit?” Nova duduk di sebelah Nita.

“Pacarku, Nov…” ucapnya pelan.

“Kenapa pacarmu? Kamu diapain?”

“Dia putusin aku. Kamu tau kan gimana aku sayang sama dia? Rasanya hidup ini sudah gak ada artinya buat aku. Sudah gak ada alasanku buat tetap hidup”

“Nit, aku tau kamu sayang sama dia. Aku juga bisa rasain apa yang kamu rasain sekarang karna aku juga pernah sayang sama seseorang”

“Kamu bohong!”

“Nit, selalu inget ini, hidupmu harus tetap berlanjut dengan atau tanpa dia. Tuhan nggak pernah memberi apa yang kita minta, tapi tuhan selalu memberi apa yang kita butuh. Mungkin dia bukan orang yang bener-bener kamu butuh, Nit”

“Udah, aku mau pulang!” Nita bangkit dan meninggalkan Nova.

“Aku antar ya?” Nova menjajari langkah Nita.

“Nggak usah” Nita mempercepat langkahnya.

“Tapi Nit…” belum selesai dia bicara, Nita suudah memotongnya.

“Kalo aku bilang nggak usah ya nggak usah!” Nita membentak. Nova diam. Nita sudah di pinggir trotoar. Saat hendak menyebrang jalan, dia tidak menengok kanak dan kiri, padahal dari kanannya ada sebuah mobil yang melaju kencang. Dan… Nova mendorong Nita. Nita selamat, tapi… Tubuh nova yang tertabrak terpelanting jauh disana. Sekujur tubuhnya berlumuran darah, tapi dia belum mati. Dikuatkannya tubuhnya itu untuk menghampiri Nita.

“Kamu… nggak apa-apa… kan… Nit?” tanyanya dengasn terbata-bata

“Nova! Kenapa? Kenapa kammu lakuin ini?” air matanya mulai mengalir “Kenapa kamu korbanin dirimu buat aku?”

“Karena kamu sahabatku yang sangat penting. Aku rela korbanin apa pun buat sahabat sebaik dirimu” tiba-tiba Nova terjatuh, lalu memuntahkan banyak darah “Kelihatannya Cuma bisa sampai disini ya? Seekarang tolong tetap hidup… Untuk aku. Boleh kan?”

“Nov… Bertahanlah…” Nita hendak menelpon ambulace, tapi tangannya ditahan oleh Nova.

“Nggak usah, Nit. Percuma kalau kamu telpon ambulance, aku gak akan selamat. Aku mau mati disini. Disampingmu”

“Nov…”



How do I live without the ones I love?

Time still turns the pages of the book it burned

Place and time always on my mind

And the light you left remains but it’s so hard to stay

When I have so much to stay and you’re so far away



Nita tercekat. Nova bernyanyi? Dan… Lagu ini kan… So Far Away… Di tatapnya wajah Nova. Dia tersenyum.

“Aku pergi dulu, Nit. Maafin semua kesalahanku ya?” dan dihembuskannya nafas terakhirnya. Nita menangis. Dipeluknya tubuh dingin itu kuat-kuat, seakan tak mau melepasnya. Saat dia bernyanyi tadi, Nita sadar kalau Nova sebenarnya memendam rasa untuknya. Tapi… Semuanya sudah terlambat.

“Kenapa kau tidak ungkapkan saja semuanya, Nova? Kenapa?” Nita tetap terisak. Terputar kembali semua memori bersamanya. Saat mereka tertawa bersama, saat dia menangis dan bercerita tanpa memperdulikan perasaan Nova sebenarnya. Dan saat Nova menyanyikan lagu So Far Away itu di bawah taburan bintang di belakang rumah Nita setelah mereka selesai mengerjakan tugas kelompok dari sekolahnya beberapa hari yang lalu. Nita tak bisa membayangkan bagaimana dia hidup tanpa Nova. Tapi, apa yang terjadi biarlah terjadi. Tak ada yang perlu di sesali.



* * *



Sekarang tinggal gundukan tanah itu. Semuanya sudah pergi dari tadi, tapi Nita masih tak beranjak dari sana. Air mata itu tak pernah berhenti mengalir untuknya. Disana dia mulai membuka bibir mungilnya dan dia mulai bernyanyi. Lagu yang sama seperti yang dinyanyikan Nova sebelum dia menghembuskan nafas terakhirnya. Ya… So Far Away…



Never feared for everything, never shamed but never free

A life that healed a broken heart with all that it could

Lived a life so endlessly, saw beyond what other see

I tried to heal your broken heart with all that I could

Will you stay?

Will you stay away forever?



How do I live without the ones I love?

Time still turns the pages of the book it burned

Place and time always on my mind

I have so much to say but you’re so far away



Plans of what our futures hold, foolish lies of growing old

It seems we’re so invincible, the truth is so cold

A final song, a last request, a perfect chapter laid to rest

Now and than I try to find a place in my mind

Where you can stay, you can stay away forever



How do I live without the ones I love?

Time still turns the pages of the book it burned

Place and time always on my mind

I have so much to say but you’re so far away



Sleep tight, I’m not afraid

The ones that we love are here with me

Lay away a place for me

‘Cause as soon as I’m done, I’ll be on my way

To live eternally



How do I live without the ones I love?

Time still turns the pages of the book it burned

Place and time always on my mind

And the light you left remains but it’s so hard to stay

When I have so much to stay and you’re so far away



I love you, you were ready

The pain is stronger enough despise

But I’ll see you when he lets me

Your pain is gone, your hand are tied



So far away and I need you to know

So far away and I need you to, need you
to know...

Sabtu, 14 Agustus 2010

Karna dunia telah terbuka untukku

Sinar pagi yang silaukan hati
Angin sepoi-sepoi yang sejukkan jiwa
Burung bernyanyi tentramkan batin
Dan decik air yang bangkitkan semangat

Ku sapa dunia dengan senyum
Coba kembali hidup setelah mati sekian lama
Dunia kembali menyambut diriku
Dan pancarkan hangat untuk aku yang baru

Biarkan aku menyanyi disini
Lepas semua beban mengganjal jiwa
Biarkan aku tertawa disini
Nikmati dunia yang mulai menua

Ku ingin tetap seperti ini
Bahagia yang kurasa tak akan enyah
Karna dunia telah terbuka untukku
Dan menyambut kembaliku

Tak kan ada lagi pertumpahan darah
Tak kan ada lagi hati yang remuk terinjak
Tak kan ada lagi jiwa yang sepi menanti
Karna dunia telah terbuka untukku

Mati rasaku

Hutan ini semakin gelap
Api pun tak kan beri cahaya
Dingin...
Semakin dingin
Beku disini
Gelap menelan raga
Sendirian...

Kau temukan aku disini
Nyalakan api yang hangatkan jiwa
Tapi kau pergi lagi
Tinggalkan aku disini
Kembali padamkan api semangatku
Aku kembali jatuh
Jatuh...
Semakin dalam
Semakin kelam

Kini aku buta
Hatiku mati di dasar
Tak kan bisa kurasa apa pun
Mati rasaku
Hidup tak ada arti bagiku
Tuhan pun melambai menjemput
Tapi tak ada rasa sesal di jiwa
Tuk lepas nafas yang lelah
Dan pergi tinggalkan semua
Mati rasaku...
Tuk kembali menatap hidup
Aku berlari sekuat tenaga untuk dapat keluar dari lorong yang penuh dangan genangan darah dan mayat teman-temanku yang berserakan bagai sampah.

Aku terus berlari dan berlari. Tak peduli jantungku serasa mau meledak. Tak peduli tubuhku sudah capai. Tak peduli hujan semakin deras. Yang penting bisa keluar dari tempat mengerikan ini.

“Hah… hah… hah…” nafasku tak beraturan, tapi tubuhku ini tetap kupaksa berlari. Ya tentu. Kalau tidak, nasibku akan sama dengan teman-temanku ini.

Entah sudah berapa jauh aku berlari menyusuri lorong yang gelap ini. Tiba-tiba saja tubuhku terjatuh. Aku tidak tersandung apapun. Hanya kakiku yang sudah tak kuat lagi berlari. Lututku lemas. Bahkan sudah kucoba berdiri dengan bertengger di tembok. Tapi tetap saja. Aku terjatuh lagi.

Tap… tap… tap…

Terdengar langkah kaki dari kegelapan. Suara itu semakin mendekat, sampai akhirnya tampak seorang lelaki mengenakan pakaian dan jubah berwarna hitam. Di tangan kanannya terdapat pedang berwarna hitam sedang di tangan kirinya berwarna putih. Kedua pedang itu berlumuran darah. Wajahnya tertutup oleh penutup kepala dari jubah hitamnya. Tak salah lagi, pasti dia penyebab adanya genangan darah dan mayat-mayat temanku ini.

“S-siapa kau? A-apa mau mu?” tanyaku takut.

Dia tetap melangkah mendekatiku.

“Berhenti!” aku benar-benar takut.

Dia samasekali tidak menghiraukan ku. Tetap melangkah kearahku.

“Kuperingatkan sekali lagi, BERHENTI!” teriakku ketakutan. Tamat sudah riwayatku.

Dia sekarang berdiri tepat di hadapanku. Lalu membuka tutup kepalanya.

“Hah!” aku seakan melihat diriku sendiri. “ A,apa? Apa maksudnya ini?” tanyaku bingung.

Dia hanya tersenyum pahit lalu mengangkat kedua pedangnya tinggi-tinggi. “Good bye!” katanya dan kemudian menebaskan kedua pedang itu bersamaan kearahku.

Aku menutup kedua mataku sebelum pedang itu benar-benar mengenaiku, dan saat aku membuka kelopak mata ini, aku melihat sesuatu yang berbeda dari yang aku lihat tadi. Ya, kamarku.

“Hah… hah… hah…” aku berusaha mengatur nafasku yang tidak karuan.

Aku berusaha meyakinkan diriku kalau aku bukan berada di alam lain. Aku masih hidup dan yang tadi itu hanya mimpi buruk.

“Rox!? Kau sudah bangun?” seseorang berteriak dari lantai bawah. Pasti Leon.

“Hoamh… Sudah!” balasku malas.

“Cepat turun! Kostum kita untuk pesta perpisahan nanti sudah datang!” teriaknya.

“Iya! Tunggu! Aku mau mandi dulu!”

“Cepet ya!?”

“Haduh! Nanti kan bisa? Nyantai dikit kenapa sih? Kaya aku bakal mati besok aja!” aku benar-benar jengkel. Dia selalu berlebihan.

Setelah mandi, aku melihat kostumku untuk pesta perpisahan nanti malam.

Betapa kagetnya aku melihat kostum milikku. Pakaian dan jubah serba hitam. Seperti dalam mimpiku semalam. Membayangkannya saja aku mau muntah, mengingat genangan darah dan mayat-mayat teman-teman yang berserakan, siapapun juga akan muntah.

“Kenapa Rox? Kekecilan? Atau malah kedodoran?” tanya Leon.

“Ah… enggak kok. Cuma…” aku tak melanjutkan kalimatku.

“Cuma apa?” leon bertanya sedikit memaksa.

“Cuma… kayak dalam mimpiku semalam” ujarku ragu.

“Mimpi? Emang semalam kamu mimpi apa?” Leon jadi heran.

“Ah… Lebih baik nggak aku ceritain. Abis itu mimpi buruk”

“Oh…” katanya lalu pergi meninggalkanku disini sendirian. Kami memang bersaudara. Lebih tepatnya bersepupu. Orang tuaku meninggal hampir 7 tahun yang lalu, karena kecelakaan pesawat bersama dengan orang tua Leon. Dan sekarang, harta warisannya yang seabrek adalah hakku. Aku dirumah ini berempat bersama Leon dan 2 pembantu kakak beradik yang sudah mengabdi pada keluargaku sebelum kedua orang tuaku meninggal.

Pagi ini aku sudah berada di dalam kelas. Duduk di bangkuku yang letaknya tepat di sebelah jendela yang mengarah keluar.

“Yo, Rox. Selamat pagi…” seseorang menyapaku. Itu Zack.

“Pagi juga” jawabku singkat lalu membuang pandanganku ke luar. Aku begitu resah. Entah mengapa? Aku tak tahu.

“Kenapa kamu? Pagi-pagi udah murung. Nggak kamu banget” Zack kayaknya khawatir padaku.

“Entahlah Zack. Aku juga nggak tahu. Ada sesuatu hal yang membayangiku” kataku tetap resah.

“Ada yang kamu sembunyikan dari aku. Aku bisa menciumnya”

“Tidak. Hanya saja, mungkin tentang mimpiku semalam”

“Hm… Jadi mimpi. Mimpi apa sih? Jadi pacarnya Marry ya?” ledek Zack yang langsung digugat sama yang bersangkutan. Ya, Marry.

“Apa tadi kamu bilang? Aku hajar kamu kalau berani ngomong gitu lagi” sembur Marry yang langsung menbuat Zack mengkeret. Aku Cuma tertawa melihat adegan ini.

“Jadi bener kamu mau tau zack?” tanyaku

“Ngomongin apa sih? Aku jadi penasaran” Marry yang tadi ngamuk-ngamuk gak karuan, eh, sekarang malah ikutan.

“Mimpinya semalam” jawab Zack hati-hati biar gak kena sembur lagi.

Marry Cuma mangut-mangut.

“Sudah ah. Percakapan ini lebih baik nggak dilanjutkan” ujarku.

“Ah, kamu Rox. Selalu bikin orang penasaran” keluh Marry.

“ Bukan gitu Mar. aku takut kalian shock mendengarnya dan bisa-bisa malah nggak mau ngomong lagi sama aku. Pokoknya ngeri. Ngingat aja takut” kataku. “ Tolong biarkan aku sendiri!” aku pergi meninggalkan mereka.

“Dasar! Selalu begitu!” kata Mary dongkol lalu kembali ke bangkunya.


* * *

Di atap sekolah. Aku melamun sendirian sambil menatap langit yang biru. Hari ini aku fakultatif karena aku memang sudah mau lulus. Lebih baik bolos saja.

Tak lama, Evan tiba-tiba sudah ada di sampingku. Menatapku lekat-lekat.

“Kenapa kamu?” tanya Evan mengagetkanku.

“Wa…!!!” jeritku “ Duh, kamu ini ngagetin aja!” kataku sambil mengelus dada karna jantungku hampir copot. Mana tadi hampir jatuh kebawah lagi.

“Hahahaha…” dia menertawakanku.

“Hei! Apa maksudmu meng endap-endap kesebelahku?” kataku kesal.

“Kamu sendirinya ngelamun aja. Dari tadi aku panggil-panggil kamu tapi kamunya nggak nyahut” bantah Evan sewot. “ Lagian ngapain sih disini?”

“Aku lagi… mikirin sesuatu. Entah aku ngerasain firasat buruk. Bakal terjadi sesuatu yang nggak biasa”

“Yah… aku juga ngerasain hal yang sama Rox. Dan tampaknya bakal terjadi nanti malam. Itu yang hatiku katakan” Evan menunduk.

“Tapi nanti kau akan datang `kan`,Van?” tanyaku pelan.

“Entahlah… Aku usahain datang” katanya. “ Ke kelas yuk! Anak-anak pada asyik mainan. Kamu nggak mau ikutan?” tambahnya.

“Mainan? Mainan apa?” aku penasaran juga.

“Bunuh-bunuhan…” katannya ceria.

“Hah!? Apa kamu bilang?”

“Ya mainan doang kok! Gak mungkinlah sampai bunuh-membunuh sungguhan” jelasnya.

“Maksudmu… perang-perangan gitu?” tanyaku mencoba menebak.

“Yup! Bener 100%”

“Ye… kayak anak kecil aja” ledekku.

“Ikut nggak? Kalo enggak ya udah”

“Eh… ikut deh. Daripada pusing sendiri disini”

Aku mengikuti Evan turun ke kelas, menuruni 3 lantai sekaligus dengan berlari membuatku capek. Dan saat sampai dikelas, anak-anak yang lain sedang asyik main perang-perangan sama anak kelas B, C dan H. sedang kelas D, E, F dan G bermain sepak bola dan basket di lapangan. Sebenarnya, aku ingin ikut main basket diluar. Tapi… ya udah terlanjur perang-perangan. Ya udah nikmatin aja.

Sudah berlangsung satu setengah jam peperangan 4 kelas ini berlang sung sampai akhirnya, kami memutuskan untuk pindah lokasi ke tempat yang lebih luas. Ya, kami pindah ke taman belakang sekolah yang luasnya sama kayak satu lantai sekolah kami.

Setelah puas bermain perang-perangan yang akhirnya dimenangkan oleh gabungan kelas A dan H yang berarti kelasku yang menang, kami mengemasi buku dan pulang ke alamnya masing-masing.


* * *

Ditengah jalan, aku berhenti karna ada yang menepuk pundakku. Dan saat aku menoleh terlihat wajah Leon yang ngos-ngosan. Kayak habis lari marathon gitu.

“Sialan! Kok aku ditinggal sih?” katanya dongkol. Aku cuma tertawa.

“Salah sendiri tadi ditungguin nggak muncul-muncul!”

“Ya, tadi `kan` aku lagi main basket sama yang lain. Kamu aja yang nggak mau nunggu!” ujar Leon sewot.

“ ya deh, iya! Yang waras ngalah!”

“Lama-lama aku tonjok juga kamu nanti!!!” ancam Leon, tapi aku malah melengos ninggalin dia dan seperti tadi, dia mengejarku.

Sampai di depan rumah, Marin pelayan wanita yang muda membukakan kami pintu “selamat siang tuan” ujarnya datar.

“Selamat siang juga” jawab Leon

“Tuan mau apa? Nanti saya buatkan” tanyanya.

“Aku sedang tidak menginginkan apapun. Mungkin kamu leon?” tanyaku pada Leon.

“Aku sedikit haus. Mungkin segelas capucino dingin?”

“Baik tuan” katanya lalu pergi ke dapur membuatkan capucino dingin untuk Leon.

Aku langsung naik ke kamarku lalu mandi. Seusai mandi, aku ingin meliha-lihat isi gudang. Sudah lama aku tidak kesana. Sejak orang tuaku meninggal.

Baru saja aku memegang ganggang pintu gudang, ada yang menegurku “Tuan, untuk apa tuan pergi ke gudang? Kalau perlu sesuatu, biar saya yang mengambilkan” itu Rana kakaknya Marin.

“Tidak. Hanya saja aku ingin melihat-lihat isi gudang ini” kataku.

“Nanti asma tuan kambuh?” katanya khawatir.

“tidak apa-apa kok!” ktaku lalu langsung masuk tanpa meperdulikan Rana.

Aku mulai melihat-lihat. Banyak sekali barang antik di dalam sini, sampai akhirnya aku menemukan sebuah benda yang besar ditutupi oleh kain berwarna putih.. penasaran aku bula saja kain itu.

Aku benar-benar shock melihat sebuah lemari kaca yang berisi dua buah pedang yang cukup besar. Yang satu berwarna hitam, yang satu berwarna putih. Bentuknya persis seperti pedang yang didalam mimpiku.Ah… aku ingat. Ayah membelinya di pelelangan 8 tahun yang lalu. Itu berarti saat umurku masih 10 tahun. Aku meneliti pedang itu secara mendetail. Hm… tempaannya benar-benar bagus.

Aku tertarik untuk mencoba pedang itu, aku keluarkan saja. Ternyata cukup berat tapi entah mengapa sangat mudah menebas-nebaskannya. Terasa ringan jika digunakan.

Aku mulai berfikir untuk membawa pedang ini, entah mengapa ada sesuatu yang membuatku ingin membawanya. Mungkin karena bentuk dan warnanya yang cocok dengan kostumku.

Malam hari. Aku sudah siap dengan kostum hitamku ini. Pedang itu juga ada di dalam tas panjang yang memang dibuat khusus untuknya. Sebenarnya ada 2 jenis. Yang dimasukkan dan yang untuk langsung digunakan. Aku bawa saja dua-duanya.

Aku berangkat bersama Leon naik mobil. Didalam mobil, Leon terus memandangi tas panjang berwarna hitam ini. Sampai akhirnya dia bertanya “ Apa itu isinya Rox? Kok besar?”

“Pedang. Kenapa?” aku balas bertanya.

“Ha!? Pedang sungguhan?”

“Ya iya lah! Masa mau pedang mainan!?” katkaku sewot.

“Buat apa kamu bawa-bawa pedang?”

“Buat ngelengkapin kostumku. Biar keliatan keren”

“Sinting kamu ya?”

“Gak aku buat yang aneh-aneh kok. Cuma buat pajangan aja” kataku lalu menggunakan tutup kepala jubah ini.


* * *

Sampai di tempat pesta. Di depan tampak lorong yang luas dan panjang. Aku mengeluarkan pedangku, lalu menaruhnya di tas yang satunya.

Semua orang melihat ke arahku. Aku tak memperdulikannya. Tetap berjalan menuju gedung. Di dalam gedung juga sama. Semuanay menatapku dengan pandangan heran. Semua tidak tahu kalau ini aku. Sampai akhirnya Marry menyapaku. Ya tentu saja dia tahu, dia yang merancang semua kostum untuk kelas A.

“Ada apa Mar?” kataku sambil membuka tutup kepala ini.

“Ngapain kamu bawa-bawa pedang segala? Mau bunuh siapa kamu?” ujar Marry.

“Enggak kok. Cuma buat pajangan” jawabku enteng.

“Emm… kalo diliat-liat sih memang cocok. Kamu jadi keliatan tambah keren” Marry mengacungkan jempol.

“Hehehe…”

“Eh, ayo! Udah ditunggu yang lain”

“Oke bos!”

Aku mengikuti Marry ke deretan kelas A yang memang udah ramai. Tapi sebelum sampai ke deretan kelasku, aku ditarik seseorang. Itu Ferre. Cih! Mau diapain lagi aku!?

Aku sampai di toilet. Mau apa lagi sih dia? Perasaan aku nggak punya salah sama dia, tapi kok dia benci banget sama aku?

“Hei, apa sih salahku?” bentakku padanya.

“Apa salahmu? Hahaha… aku mau kamu babakbelur. Karna besok aku udah nggak bisa lagi” enak sekali dia ngomong!

Aku coba melepaskan tangannya dan dia melepaskan begitu saja. “ Kena pa sih kamu ini? Orang nggak salah apa-apa juga!”

Bhug!!!

Perutku dipukul. Aku Cuma meringis kesakitan. Dia tertawa senang. Pandanganku kabur lalu gelap sekejap. Tapi hanya sekejap.

Tanpa sadar, aku sudah mencabut kedua pedangku dan… cras!!! Dia kena. Langsung roboh seketika. Tampaknya dia mati.

“Tidak mungkin! Aku membunuhnya!? Ini bohong… aku… bukan… pembunuh…”

Belum sempat aku menenangkan diriku, ada seseorang yang masuk ke toilet ini. Dia melihatku dan mayat ferre. Dia berteriak histeris lalu berlari keluar memina tolong. Tanpa piker panjang, aku penggal kepalanya. Tapi saying, aku sudah diluar toilet. Semua orang melihatku, sedetik kemudian mereka berteriak meminta tolong dan berusaha menyelamatkan diri dariku dengan berlari keluar.

Aku melihat orang yang mau kabur, aku potong tubuhnya menjadi dua, lalu ada lagi di pojok sana, langsung saja aku penggal kepalanya. Di dekat pintu masih banyak lagi, dan yang pertama kutemui adalah Marry. Tanpa berfikir, tanganku mengayunkan pedang itu ke tubuhnya sehingga ada sobekan besar, lalu Zack, Evan dan Leon. Mereka semua mati. Lalu aku habisi mereka satu persatu. Ruangan ini pun menjadi lautan darah. Pikiranku masih kacau. Aku mulai berlari dan menebas kepala mereka yang mencoba lari dariku. Tak kan kubiarkan mereka lolos dan memberi kabar kepada polisi kalau aku telah membantai semua orang disini. Aku sudah di ujung lorong, lalu kembali ke gedung untuk memastikan masih ada orang yang hidup atau tidak. Lantai penuh dengan genangan darah dan mayat-mayat, dinding penuh dengan bekas percikan darah. Bau amis itu menusuk hidungku. Serasa seperti waktu itu. Ya… sama seperti… mimpiku.

Di ruangan besar itu, aku berdiri terdiam di tengah-tengah mayat-mayat ini. Tiba-tiba kepalaku terasa sangat sakit. Pusing serasa disayat-sayat. Serasa kepalaku ini mau meledak. Aku terjatuh dan tak sadarkan diri.


* * *

Ku buka lagi kedua kelopak mataku, aku sudah di ruang putih rumah sakit. Disebelahku ada Leon dan kawan-kawan yang lain. Mereka bercerita akalau aku pingsan saat di toilet karna beban pedang dan pukulan di bagian kepala oleh salah satu teman Ferre.

Ternyata hanya mimpi. Lagi-lagi mimpi. Yah untung lah, aku bukan seorang pembunuh. Lalu aku lihat pedang dari ayah. Aku tercengang seketika. Darah… Ada darah di pedangku. Apa mungkin? Kucoba lagi tatap mereka. Dan… Aku lihat mereka semua tanpa kepala. Mereka semua… Mati… Apa ini hanya mimpi? Apa aku akan terus terjebak dalam mimpi buruk ini? Aku hanya bisa berlari dan berteriak. Berharap ada yang menyadarkanku. Dan mengeluarkanku dari mimpi buruk ini.

Jumat, 30 Juli 2010

Kegelapan

Aku hanya melangkah
Perlahan namun pasti
Dalam mimpi-mimpiku
Bersamamu...
Kegelapan

Kau yang selalu temani jiwaku
Kau yang lewati suka dan dukaku
Kau yang selalu disampingku sejak ku memijak tanah
Dan kau yang telah membuatku kuat
Hanya bersamamu...
Kegelapan

Kau adalah separuh ragaku
Tapi mereka mengusirmu
Membuangmu
Kini aku hampa tanpamu
Bagai jasad tanpa nyawa
Aku ingin kembali
Bersamamu...
Kegelapan

Berikan aku nafas untuk bersanding denganmu
Coba bertahan lagi bersamamu
Dan kembali melawan dunia
Bersamamu...
Hanya bersamamu...
Kegelapan

Meski hanya di alam baka

Terik matahari menyengat jiwa
Ku tatap pohon-pohon kering yang terkapar
Begitu rapuh tanpa daya
Daunnya pun hilang tersapu angin gurun
Perlahan roboh dan hancur

Kegelapan menusuk hati
Menghasut merayuku ikut kedalamnya
Tapi batinku tidak buta
Biarkan aku hancur bersama cahaya
Bukan hidup dalam kelamnya kegelapan

Aku tak kan kabur dari kenyataan
Setelah bertarung sekian lama
Dan aku tak kan berhenti melangkah
Tuk dapatkan kebenaran yang ku cari

Biar tuhan membenciku
Dia pun tak kan hentikan diriku
Biar dosa membeban ragaku
Kakiku akan tetap kuat melangkah
Dengan darah yang akan terus mengalir

Kali ini ku tantang kau
Kau bisa rebut nafas dan jiwaku
Tapi kau tak bisa tutupi kebenaran
Karna hatiku tahu dan percaya
Kebenaran akan terpecah
Dan damai akan kucapai
Meski hanya di alam baka

Tenggelam bersamamu

Gelap meraung meronta
Langit tetap menangis tiada henti
Sang surya tak lagi terbit di langit kelabu
Darah pun menetes perlahan
Dari jantung dunia ini
Yang akan berhenti berdetak

Lelah sudah ku melangkah
Perlahan menjauh mengecil
Mataku sayu gelap tanpa asa
Hatiku remuk menangis
Jiwaku terjatuh tersungkur
Tergores waktu yang hilang dari hidup

Biarkan jiwa ini menangis
Rasakan tiap gores luka waktu
Nikmati gelap dan buram mataku
Juga udara yang sesakkan nafasku

Darah dunia yang menggenang
Hatiku tenggelam bersamamu
Dalam beribu duka yang ku rasa
Dalam berjuta luka yang ku dapat
Dari semua perjalanan yang sia-sia
Yang tak pernah sampai pada cahaya
Dan selalu jatuh dihempas waktu
Yang perlahan mengubur jiwaku
Dan perlahan leburkan hatiku

Angin sejuk yang terlupakan

Ku tatap langit ini untuk yg terakhir
Esok kan ku lihat langit yang berbeda
Dengan udara yang berbeda
Juga tanah yang berbeda

Kau tahu ku akan pergi
Tapi senyummu tak tersirat untukku
Kau tetap tak perduli padaku
Inikah balasan dari semua pengorbananku?

Ku tahu dia telah ada di sampingmu
Temani hatimu yang dulunya mati
Dan akan selalu disana
Dengan semua kehangatan tuk hatimu

Aku hanya bisa tersenyum pahit
Mengingat semua bahagiamu bersamanya
Aku kan pergi tanpa ada hadirmu sedetik pun
Aku tak ingin kau melihatku
Pergi dengan semua luka yang tanpa sadar telah kau beri
Dengan semua beban jiwa yang terus menghantuiku
Ku harap kau tak pernah tahu
Dan ku harap kau tetap simpan senyum itu bersamanya
Bukan denganku
Sang angin sejuk yang terlupakan

Dalam sesat gelap hatiku

Ku tatap awan hitam
Perlahan teteskan tangisnya
Aku hanya menunduk
Merasakan tetes-tetes tangis langit
Dalam semua gemuruh di hati

Percuma saja aku bertarung
Itu tak akan bisa mengubah apa pun
Kekalahan yang selalu bersamaku
Dan luka yang selalu menyelimutiku

Haruskah aku menangis disini?
Menunduk dan memohon?
Belum cukupkah semua penderitaanku?
Atau memang ini yang terbaik?
Persetan!

Cukup sudah!
Aku muak!
Aku lelah harus selalu merasakan kekalahan!
Aku lelah harus selalu dipandang sebelah mata!
Tanpa perduli seperti apa pengorbananku!
Cukup!

Tak kan ada lagi aku disini
Aku akan pergi menghilang
Dengan semua luka
Dengan semua penderitaan
Yang akan selalu temani jiwaku
Dalam sesat gelap hatiku

Sebelum...

Ku genggam pasir di tanganku
Coba redam semua yang kurasa
Mataku menatap kosong
Hilang asaku tuk tetap berjuang

Hancur sudah pedang ini
Remuk sudah prisai ini
Yang tersisa hanya ragaku
Yang telah hancur tercabik

Nafasku kian berat
Dalam tiap langkah kakiku
Dalam jalan yang sepi menanti
Dengan pandangan yang kian kabur
Angin dingin menerpa
Menghempas tubuhku tersungkur

Aku tahu kan berakhir begini
Terjatuh dan terus terjatuh
Tanpa bisa bangkit berdiri
Untuk kembali menarik nafas

Gelap...
Semakin gelap terasa
Nafas pun kian berat tuk berhembus
Ku ingin kau disini
Temani jiwa sepiku
Sebelum mata ini tertutup
Sebelum jantung ini berhenti berdetak
Sebelum jiwaku melayang pergi

Tanpa ada sebuah kenangan

Dalam sepi ku melangkah
Menerjang kabut yang menghalang
Gelap malam yang tak terelak
Aku rasakan lagi kehancuran

Semakin lama terasa
Semakin dalam luka ini
Aku hanya bisa tertunduk
Menangis dalam guyuran hujan
Tanpa seorang kan peduli

Dalam langkah yang kian berat
Lidahku kelu tak dapat berucap
Terlalu pedih untuk diungkap
Dan aku hanya bungkam
Simpan semuanya sendirian

Dalam jalan yang sepi ku pergi
Tinggalkan semua yang ku punya
Ku harap ku bisa pergi tanpa bayang
Tanpa beban yang selalu ku bawa sendirian
Tanpa ada sebuah kenangan
Yang akan semakin melukaiku

Tak kan terhapus oleh waktu

Ku tatap tubuh dingin itu sekali lagi
Bibirmu yang biru
Wajahmu yang pucat
Ku tahu kau akan pergi
Tinggalkan semua yang ada disini

Aku tak akan menangisimu
Karena itu sama halnya menghinamu
Menghina semua perjuanganmu
Menghina semua yang kau pertaruhkan
Yang hanya bisa sampai disini

Masih ku ingat semuanya
Saat kau berjuang membawa senapan
Berperang tanpa ada rasa takut
Memberantas semua yang telah buta hatinya
Tapi semua hanya kenangan
Yang tak akan mengubah keadaanmu

Sekarang tubuhmu berlapis kain putih
Ragamu kan tertimbun tanah merah
Walau kau tak kan bisa bersama lagi
Namamu kan selalu terukir di hatiku
Seorang sahabat seperjuangan
Yang berani menantang maut
Untuk mengejar satu kata merdeka

Terima kasih kawan
Kini tak ada lagi senapan yang berbalas
Tak ada lagi pertumpahan darah
Kau adalah seorang pahlawan
Terima kasih...

Sekarang kau akan tenang
Dalam tidur abadimu
Dalam lubang peristirahatanmu
Nama dan jasamu kan selalu kami kenang
Dan tak kan terhapus oleh waktu

Yang bebaskan jiwaku

Sinar sang surya
Mulai muncul dari sela awan hitam
Yang sebelumnya menangis
Terisak di langit pucat

Aku hanya terdiam
Coba rasakan kesedihan bumi
Coba dengar jeritan angin yang dilupakan
Coba mengerti apa yang langit rasa

Dengan para jiwa yang terluka
Aku tetap bisa bernafas
Meski sering kali terasa berat
Dan terkadang terasa memuakkan

Biarkanlah aku menangis
Bersama langit hitam di langit
Biarkanlah aku menjerit
Bersama angin yang kadang dilupakan
Biarkanlah aku merasakan pedih
Bersama bumi dan langit yang pilu

Aku tak akan berlari
Karna aku tahu itu akan makin pedih
Juga jiwaku yang mulai melemah
Yang mulai muak dengan takdir
Yang hanya bisa bertahan di setiap hembusan nafas
Tanpa sebuah jawaban yang pasti
Tanpa sebuah keyakinan yang benar

Dan nafasku kan berakhir disini
Bersama awan hitam yang terus menangis
Bersama angin yang terlupa yang terus menjerit
Bersama bumi dan langit yang terus murung
Bersama para jiwa yang terluka yang selalu bersamaku
Sampai ku hembus nafas terakhirku
Yang berat dan panjang
Yang bebaskan jiwaku

Untuk cahaya di hati dan jalanku

Ku buka mataku sekali lagi
Dalam gelap malam ini
Ku coba tuk melangkah perlahan
Dalam jalan setapak
Yang akan menuntunku kembali

Aku bersimpuh di hadapan-Mu
Menangis ratapi masa laluku
Hatiku telah buta oleh muslihatnya
Aku terjatuh tersungkur
Dalam sumur gelap penuh derita
Dan baru ku sadar
Semua ini salah
Dan aku telah jauh tersesat

kini aku hanya bisa memohon ampunan
Dari semua perbuatanku
Dari semua kesalahanku

Dalam setiap ruku' dan sujudku
Dan dalam setiap hembus nafasku
Ku berdo'a kepada-Mu
Untuk cahaya di hatiku
Juga cahaya di jalanku

Kebebasan untukmu

Desir angin malam yang menusuk tulang
Ku lihat tubuh-tubuh tak bernyawa di hadapanku
Darah segar pun berceceran
Mengalir perlahan dari jantung yang tertembus

Hatiku terus mencari jawaban
Kapan ini akan berakhir?
Kapan suara senapan yang berbalas itu berhenti?
Kapan darah segar itu berhenti mengalir?
Kapan nyawa-nyawa tak berdosa itu bisa merasakan perdamaian?
Kapan mereka bisa terlelap dengan senyum di wajahnya?
Kapan...

Aku tahu apa yang kau rasa...
Aku tahu sakit karena mereka pergi
Meninggalkan beribu memori di hatimu
Aku tahu apa yang kau rasa...
Luka yang terus membekas
Dan pedihnya yang masih terasa
Aku tahu apa yang kau rasa...

Tolong hapus tangismu
Karna sekarang kami disini
Membelamu hingga tetes darah penghabisan
Kami tidak takut kalau nyawa kami taruhannya
Kami akan memperjuangkan kebebasan untukmu
Melawan mereka yang telah buta hatinya
Dan menunjukkan kebebasan padamu
Tanpa perlu ada lagi pertumpahan darah

Ketidak pastian

Aku terdiam disini
Mataku terpejam
Bibirku terkatup rapat
Hatiku hanya bisa menjerit
Dalam sunyi gurun ini

Aku melihat sesuatu yang tak nyata
Tapi kenyataan tak dapat ku lihat
Hanya bisa bertahan
Dalam setiap ketidak pastian
Yang terkadang memberi luka

Apa aku harus selalu merasakan kekalahan?
Apa aku harus selalu merasakan luka-luka itu?
Apakah ini takdirku?
Merasakan ketidak pastian?
Aku tak mau!

Dinginnya angin menusuk hati
Tanpa perapian
Yang bisa hangatkan jiwaku
Yang membeku dalam sunyi
Dalam ketidak pastian

Haruskah aku menyerah pada hidup?
Haruskah aku akhiri disini?
Dalam gurun yang dingin ini?
Dalam ketidak pastian?
Ku harap tidak
Dan kuharap dengan pertaruhan nafasku
Ku temukan jalan keluar
Dari semua ketidak pastian

Tanpa kalian

Aku berdiri disini
Sendirian tanpa kawan
Tanpa tahu arah tujuan
Hanya terdiam mematung

Ku rasa kalian pergi tinggalkanku
Aku memang tak berguna untuk kalian
Aku hanya beban
Aku hanya sampah
Itu benar bukan?

Tak ada lagi tempat untukku
Di antara kalian hanya benci yang ku lihat
Dinginnya malam kini kurasa sendiri
Tanpa api kasih kalian
Hanya gelap malam yang pekat

Aku tak akan lagi bertanya
Karena aku sudah tahu jawabannya
Aku harus pergi
Arungi sungai yang gelap
Dengan luka menghujam
Yang semakin pedih terasa
Mira sedang suntuk di depan laptopnya. Bosan berat. Mau nulis kok buntu, mau ngerjain tugas biadab dari guru-guru tak berkeprimanusiaan itu juga males. Mira berfikir sejenak. Akhirnya setelah bertapa selama 5 menit, mira mengambil modem dari laci meja belajarnya.

“Mira, lagi ngapain kamu?” teriak mama dari luar kamar.

“Ngerjain pe-er ma...” Mira berbohong.

“Ngerjain pe-er ato facebook-an? Kok dari tadi dengernya cuma lagu doang?” mama mulai curiga.

“Ya... biar gak suntuk ma!” jawabnya beralasan.

“Suntuk sih suntuk Mir, tapi kok lagu rock yang kamu denger?” mama masih tak percaya.

“Habis kalo Mira puter lagu yang kalem-kalem malah ngantuk... Udah deh, mama nih cerewet amat sih!?” Mira mulai jengkel.

“Iya deh... Awas kalo kamu bohong ya?” mama mengancam.

“Iya nyonya!” ujar Mira kesal.

Mama beranjak pergi dan Mira kehilangan napsu untuk ber-facebook-ria mengingat kalo mama marah bisa nggak dapet jatah makan 7 hari 7 malem (Ih! Sadis ya?). Akhirnya Mira mengerjakan tugas yang sudah menggunung itu. Tak peduli mata mungilnya mulai sayu, mulai ngantuk, Mira tetap mengeerjakan tugas-tugas tersebut sampai kelar. ya, mau gimana lagi? Kalo nggak kelar bisa-bisa dikuliti atau lebih parah dicincang hidup-hidup sama Pak Eko, guru biadab bin killer yang ngasi tugas fisika yang susahnya ngalah-ngalahin makan lemper pake hidung sambil bersepeda roda 1 itu.

Keesokan paginya di dalam kelas, banyak anak laki-laki yang bingung nyari contekan. Di sekolah Mira kejadian begini sih wajar-wajar aja.

“Eh, Mir, aku nyalin pe-er kamu yang fisika ya?” seorang anak bernama Wahyu memohon pada Mira.

“Boleh. Per kata lima rebu ya?” ujar Mira santai.

“Buset! Jangan gitu dong Mir... kamu kan anak baek. Anak baek itu harus menolong teman yang kesusahan” Wahyu berusaha merayu.

“Tapi ini ceritanya beda lagi Yu. Ini tentang masa depan kamu” Mira berusaha menasehati.

“Ah, sebodo teing tentang masa depan! Yang penting sekarang!” Wahyu tetap bersih keras mencontek PR Mira.

“Iya deh... Ini Yu. Inget! Jangan dimakan!”

“Lo kira gue ape kok makan kertas, hah!?” Wahyu mulai keki. Mira ngikik kaya kuda.


* * *

Sekarang Mira sedang berkaca di toilet sambil membetulkan kerudungnya yang berantakan karna ditarik-tarik sama sohib tersayangnya, si buta dari gua hantu... Eh, si Dewi. Setelah membenahi kerudung putihnya, Mira segera menuju kantin untuk acara kuliner. Setelah acara kuliner selesai, Mira mencari-cari sohibnya itu di berbagai penjuru sekolah tapi nggak ketemu. Kemana si Dewi? Ya wallahu alam, enggak ding. Dewi ada di atap sekolah. Lagi ngelamun.

“Hayo, Dewi, ngelamunin apa?” Mira mengagetkan Dewi.

“Astagfirullah... Mira!!! Jangan ngagetin orang dong!” sembur Dewi galak.

“Hahaha... lagian ngapain juga di sini?”

“Aku lagi ngeliatin awan... indah banget Mir...” Dewi mengadah.

“Perlu diambilin buku? Kamu kan jago nulis puisi Dew” sindir Mira.

“Apaan sih? Lagi pula puisi buatanmu lebih bagus dari puisi buatanku. Harusnya ya kamu yang ngambil buku tulis Mir”

“Alah, jangan merendah kamu!”

“Siapa juga yang merendah? Itulah faktanya. Kamu jauh lebih baik dari aku. Dari sudut manapun, Mir”

“Tapi wajahku nggak secantik dan semanis kamu Wi!” Mira merasa tak enak pada Dewi. Tapi memang Dewi adalah primadona di sekolah Mira. Cakep banget.

“Mira, Mira... Thank you very much” Dewi tersenyum lemah.

“Ayolah Wi... nggak usah kayak gitu!”

“Aku Cuma bilang makasih kok? Nggak boleh emang?”

“Nggak gitu juga sih. Ya udah deh. Nggak usah dibahas lagi, oke?” Mira mengajak Dewi kembali ke kelas. Maksudnya suruh ngebantuin nyapu kelas sih. Hehehe...

Sepulang sekolah, seperti biasa, Mira sedang duduk santai di tugu pahlawan. Sedang memikirkan sohibnya, si Dewi yang belakangan ini murung mulu. Kaya’ TKI abis dianiaya ama majikannya. Kira-kira kenapa ya Dewi yang biasanya ceria bisa jadi pemurung gitu? Batin Mira bertanya-tanya. Ya, akhirnya daripada bengong, Mira menyalakan laptop hitam kesayangannya itu dan melihati foto-fotonya dan Dewi. Di foto, wajah Dewi tampak berseri-seri, beda dengan yang sekarang. Apa karna sebentar lagi UNAS? Entahlah, hanya tuhan yang tau.

“Eh, Mira, Kaya’ biasanya ya? Nongkrong di tugu pahlawan. Lagi ngapain nih?” Dewi sudah ngejongkrok di sebelah Mira.

“Eh, Dewi, nggak ngapa-ngapain kok. Cuma liat-liat foto kita” Mira menatap wajah Dewi. Bibir Dewi memang tersenyum, tapi Mira dapat melihat kesedihan di matanya.

“Oh... Waktu study tour di Malang dulu ya?”

“Iya... Eh, Wi, aku lihat belakangan ini kamu murung mulu. Kenapa sih? Cerita aja! Rahasia dijamin!”

“Kamu kira on-clinic apa? Hahaha... Nggak ada apa-apa kok Mir”

“Jangan bohong, ah! Apa kamu stress gara-gara UNAS bentar lagi?”

“Aku bilang nggak ada apa-apa, Mir!” Dewi sedikit emosi.

“Ya udah, terserah kamu. Okelah kalo begitu” mereka berdua tertawa.


* * *

Mira baru sampai rumah tepat jam 3 sore, padahal dia sudah keluar dari sekolahnya dari jam 12 siang. Dengan basah kuyub, Mira memasuki halaman rumahnya. Di depan pintu masuk mama sudah menunggu sambil bawa cobek dan ulekan. Dengan muka garang ala Bison lagi ngamuk, mamanya mendekat ke arah Mira.

“Dari mana aja kamu? Jam segini kok baru pulang. Kenapa nggak sekalian aja kamu nggak usah pulang?” kata mama sambil nodongin ulekan ke wajah Mira.

Mira berkeringat dingin, dengan menggigil dia menjawab “Maaf ma... Tadi Mira abis dari tugu pahlawan sama Dewi. Mau istirahatin otak sejenak. Masa gak boleh ma?”

“Terus kenapa pas baru ujan kamu pulang? Apa kalo nggak ujan kamu nggak pulang, hah?” mama masih marah.

“Ya nggak gitu juga, ma... Tadi pas lagi jalan pulang, tiba-tiba ujan angin” Mira mencoba menjelaskan pada mama.

“Ya udah, sekarang kamu masuk, terus mandi. Entar masuk angin lagi. jangan diulang!” mama meletakkan cobek dan ulekan tersebut di meja, lalu menjewer telinga Mira.

“Ma...! MA! Sakit ma! Entar telinga Mira copot gimana?”

“Alah... Entar bisa dilem pake Alteco” ujar mama santai lalu mengeraaskan jewerannya.

“Aduh! Mama ini aneh-aneh aja! Masa’ telinga bisa dilem? Disangka mainan apa?”

“Lho, ngelawan?” kali ini mama menjewer kedua telinga putri pertamanya itu.

“Eh, iya, ampun ma... AMPUN!” Mira menjerit.

“Cepet sana!” mama melepas jewerannya lalu masuk kedalam rumah bergaya arsitektur mediteranian tersebut.

Sambil ngelus-ulus telinganya yang panas, Mira berjalan menuju kamarnya dan mengambil handuk lalu mandi. Setelah dia mandi dan badannya kembali segar, Mira menunaikan shalat ashar lalu kembali membuka laptop hitam kesayangannya dan memutar 4 lagu kesaya ngannya. ‘Critical Acclaim’, ‘Beast And The Harlot’, ‘Second Heartbeat’, dan ‘Brompton Cocktail’. semuanya lagu Avenged Sevenfold. Ya, Mira sangat suka sama yang namanya Avenged Sevenfold. Sambil menikmati lagu-lagu tersebut, Mira membuka facebook. Dilihatnya foto terbaru Wahyu yang sedang berada di dekat patung selamat datang di Jakarta. Tampaknya itu foto dia ambil saat liburan kemaren. Mira memang suka pada Wahyu, Tiba-tiba ponsel Nokia N70 putihnya berdering. Dari Dewi. Tanpa basa-basi langsung diangkatnya telpon itu.

“Halo, Dew, ada apa?” Mira membula pambicaraan.

“Mm... Gini Mir, aku mau cerita semuanya. Mungkin ini bisa nggurangin bebanku meski sedikit” Dewi sedikit ragu.

“Iya, nggak apa, cerita aja! Aku bakal dengerin kok” Mira meyakinkan Dewi.

“Jadi gini... Aku sedang jatuh... cinta” ucap Dewi pelan.

“Ternyata. Aku kira kamu murung kenapa, eh ternyata gini toh. Terus, kamu jatuh cinta sama sapa? Aku nggak akan bilang sapa-sapa kok”

“Bener, janji ya?”

“Janji!” Mira mulai tak sabar.

“Sama Wahyu”

“Hah!?” Mira berucap seakan tak percaya pada apa yang sahabatnya katakan. “Apa kamu bilang tadi?” Mira tetap tak percaya.

“Aku udah dibuat jatuh cinta sama Wahyu, Mir”

Mira bener-bener kaget. Ponsel putihnya sampai terjatuh saking kagetnya dia. Cassingnya pecah dan batrainya lepas.

“A-apa...? Dewi suka sama Wahyu?” Tangan Mira masih gemetaran. Sekarang Mira dihadapkan pada suatu yang berat. Sahabatnya, si Dewi, atau orang yang dia sukai, si Wahyu. Sesaat mira kalut dalam suasana ini, tapi akhirnya dia memilih sahabatnya. Dewi jauh lebih membutuhkan Wahyu daripada dirinya.

“Inget Mir, pacaran itu dosa. D-O-S-A-!” Mira berkata pada dirinya sendiri sambil berusaha meyakinkan dirinya. Tapi tetep aja, Mira merasa sedikit kecewa.

Kembali dilihatnya layar laptop yang menunjukkan home facebook Mira. Dewi ternyata sedang online. Mira sungguh ingin minta maaf soal yang tadi.

“Hey Dew, sori yang tadi” Mira mulai menulis di kotak chat Dewi

“Ah, nggak apa kok. Emang tadi hapemu kenapa?” Dewi membalas.

“Batrenya abis. Tiba-tiba mati” Mira berbohong.

“Oh... Ya udah. Thank’s juga buat yang tadi. Sekarang hatiku udah lega”

“Your welcome” Mira menutup kotak chat tersebut.

Setelah itu Mira log-out dari facebook-nya dan berusaha tidur. Pikirnya tidur dapat membuat hatinya tenang. Dalam tidurnya dia bermimpi buruk.

“Hah... Hah... Hah...” Mira bangun dari tidurnya. Nafasnya tak beraturan. Dilihatnya jam dinding itu. Sekarang pukul 18.00. Sudah magrib. Mira cepat-cepat bangkit, lalu mengambil air wudlu dan shalat magrib. Setelah shalat, Mira membaca Al-Qur’an. Mungkin mimpi tadi adalah gangguan setan.

“Mira, ayo makan!” teriak mama.

“Iya, ma... Bentar, Mira mau nyimpen Al-Qur’an Mira dulu” Mira berjalan menju rak buku. Tiba-tiba kakinya menginjak sesuatu. Itu ponsel putihnya. “Duh, bego! Aku lupa tadi hape aku jatuh” Mira mencoba mencari semua bagian dari ponselnya itu. setelah semua sudah terkumpul, Mira memasangnya pada tempatnya. Berhasil? Iya berhasil, tapi nggak mau nyala. Rusak deh.

“Mir, Cepetan! Papa udah dateng dari Jakarta loh! Katanya kamu kangen?” lagi-lagi mama berteriak.

Mira bergegas turun ke ruang makan. Benar, papa udah dateng dari Jakarta. Mereka semua termasuk Guntur, adik satu-satunya si Mira yang bandelnya ngujubilah minjalik tapi kadang bisa berubah jadi baik banget.

Dengan cepat Mira meraih tangan papa dan menyaliminya. “Pa, Mira kangen papa... Gimana di Jakarta pa?”

“Hahaha... Iya,, papa juga kangen sama Mira, sama Guntur, Sama mama juga. Papa di Jakarta baik-baik aja”

“Pa... Hape Mira rusak... Tadi jatoh dari meja belajar” ucap mira sedikit berbohong sambil tertunduk.

“Kebetulan sekali? Papa punya hadiah buat kamu karena kata mama kamu dapet peringkat 1 di kelasmu. Ini Mira sayang” papa mengambil sebuah bingkisan dari bawah meja dan diserahkan pada Mira.

“Apa ini pa?” Mira Bertanya bingung.

“Cepet buka kak!” Guntur sudah tak sabar. Dibukanya bingkisan itu. Isinya ponsel iPhone 3GS. Warnanya hitam. Papa tau banget selera dan warna kesukaan Mira. Kalo gak putih, ya hitam.

“Wah... Hape baru. Hape mahal lagi. Makasih ya pa...” Mira memeluk papa.

“Tambah pinter ya Mira!” papa berpesan. Mira mengangguk.

“Pa... Guntur nggak dapet hadiah juga? Guntur kan juga dapet peringkat 1 di kelas Guntur” Guntur merasa tak terima.

“Hahaha... Sabar dong Guntur! Guntur juga dapet hadiah kok. Ini...” papa memberikan bingkisan yang jauh lebih besar pada Guntur. Dibuka bingkisan itu yang ternyata berisi PS3. Guntur sangat senang hadiah dari papa.

“Jangan kebanyakan main lho Guntur!”

“Iya pa...”

“Pa, Mira balik ke kamar dulu ya? Mau belajar”

“Iya…” setelah itu, dia langsung balik kanan dan berjalan ke kamarnya.


* * *

“Ya ampun!” Mira kaget melihat jam di sampingnya yang menunjukkan pukul 06.00 pagi. Dia telat bangun karena alarmnya belum diseting. Waktu shalat subuh pun sudah lewat dadi tadi. Langsung dia gedubrakan untuk mandi, untung saja peralatan sekolahnya sudah disiapkannya dari kemarin. Kalau tidak? Mungkin dia akan telat. Setelah selesai mandi, dia langsung berlari ke bawah dan pamit berangkat.

“Lho, Mir, gak sarapan dulu?” tanya mamanya saat Mira tergopoh-gopoh mencium tangannya dan papa.

“Udah telat ma. Gak sempat” ujar Mira.

“Ya udah cepet berangkat. Hati-hati di jalan, Mir…” kata papa.

“Iya…” ucapnya sambil berlari menuju pintu pagar.

Dia berlari sekencang tenaga sambil sesekali melihat ke arah jam tangannya. 15 menit lagi pintu gerbang sudah ditutup. Mira sudah pasrah. Tiba-tiba sebuah BMX datang dan menghalang jalannya. Itu Wahyu.

“Mir, ayo cepet naik! Kalo enggak, entar kita bisa telat!” Wahyu langsung nyerocos. Mira masih agak bingung. Dia bengong.

“HOI! Jangan bengong! Ayo cepet!” Wahyu menyadarkan Mira.

“Eh, iya, sori” Mira langsung naik di pijakan dan Wahyu memancal BMX hitamnya dengan kencang.

Tepat 5 menit sebelum pintu gerbang ditutup, Mira dan Wahyu sampai di sekolah dengan selamat.

“Nyaris aja…” ujar Wahyu.

“Untung tadi ada kamu. Kalo gak? Wah… mungkin aku sudah disuruh pulang sama pak satpam dan yang pasti, mamaku pasti ngomel sampe mulutnya berbusa-busa” keluh Mira. Mendengarnya, Wahyu ngakak gak karuan. Semua orang jadi melihat kearah mereka berdua. Mira jadi malu, gak kaya Wahyu yang ngakaknya makin gokil.

“Gila kamu! Udah diem!” Mira berkata pada Wahyu.

“Biarin! Ini kan mulutku. Apa hakmu ngelarang aku ketawa? Hahaha…” wahyu ngakak lagi.

“Dasar!” Mira meninggalkan Wahyu dengan sebal.


* * *

“Cie… Hape baru nih…” cibir Dewi saat melihat Mira mengutak-atik iPhone 3GS miliknya. Saat itu jam kosong. Gurunya gak masuk karena ada keperluan.

“Hahaha… Apaan sih?” ucap Mira malu.

“Emang hapemu kenapa, Mir?” Tanya Dewi.

“Kemaren itu jatuh. Pecah. Gak mau idup waktu udah aku gabung jadi satu”

“Kasian banget. Hahaha…”

“Eh, iya, yang kemarin itu beneran gak?”

“Jangan bahas itu dong. Ini di sekolah. Entar aja kalo main kemana gitu”

“Kalo main ke rumah ‘dia’?” ucap Mira sambil melirik Wahyu dengan ujung matanya.

“Apa lagi itu,Mir. Ah udah deh… Aku udah cukup stress mikirin ini. Bentar lagi UNAS lagi. Jadi tolong ya… Jangan buat aku tambah stress. Understand?”

“Yes mam! Hahaha…” dan mereka kembali bercanda.


* * *

“Eh, Mir, bisa ikut aku sebentar gak?” ucap Wahyu setengah berbisik pada Mira. Mira yang saat itu sedang baca-baca buku di perpus jadi bingung.

“Mau apa emang?”

“Udah… Entar aja aku kasi tau. Kamu gak akan aku apa-apain kok. Tenang aja”

“Iya deh…” Mira bangkit dan mengikuti Wahyu. Tepat di kelas yang sepi, Wahyu balik badan dan menatap Mira dalam-dalam. Mira jadi merinding.

“Mir… Kamu bisa bantu aku kan?”

“Bantu apa, Yu?”

“Kamu ini sahabatnya Dewi kan?”

“Iya. Kenapa sama Dewi, Yu?

“Tolong besok kamu bawa dia ke tugu pahlawan”

“Kamu mau ngapain kok aku disuruh bawa dia ke sana? Mau kamu tembak?” Mira coba bercanda. Tapi candanya membuat Wahyu kaget. Sepertinya tebakannya benar.

“Kok kamu bisa tau?”

“Hah? Emang beneran mau kamu tembak?” kini giliran Mira yang terkejut. Hatinya serasa patah, lalu diinjek-injek, lantas dipukul pake palu, terus diremes-remes dan akhirnya dibuang ke tong sampah yang dibakar. Kebayang gak? Pokoknya rasanya sakiiit banget. Tapi Mira tetap berusaha tersenyum. Berusaha nyembunyiin rasa kecewanya yang amat sangat. Dia gak mau nangis, apa lagi Cuma gara-gara cinta.

“Iya lah! Masa bo’ongan? Bisa kan?”

“Gampang itu…” ucap Mira riang. Padahal? Ancur deh hatinya.


* * *

Sore itu di tugu pahlawan, Mira datang bersama Dewi. Seperti permintaan Wahyu kemarin. Dengan hati yang gelisah di tiap langkahnya, Mira berjalan mengiringi Dewi.

“Tunggu bentar ya, Dew…” ucap Mira.

“Mau kemana kamu, Mir?”

“Udah, tunggu aja bentar”

Dewi menanti sendirian. Dia mengadah menatap awan yang mulai gelap oleh awan hitam. “Aduh… Mira kemana sih?” Dewi semakin was-was. Tiba-tiba terdengar Mira berteriak dari belakang memanggil namanya.

“Dewi!” dan Dewi pun menoleh. Disana Wahyu berdiri dan perlahan berjalan mendekat. Sambil berjalan, dia membacakan sebuah puisi.

“Dewi, dengarkan Sebuah sajak yang akan ku persembahkan untukmu…” dan Wahyu mulai berjuar.


Aku memang tak seindah mentari di kala senja yang bisa menyinari dunia
Aku memang tak sekuat ombak di samudra yang bisa merengkuh dunia
Aku memang manusia biasa yang tak mampu berbuat apa pun
Namun…
Aku punya cinta…
Hanya untukmu…
Kasih…


Dan saat sajak itu telah selesai diungkap oleh Wahyu, dia menggenggam tangan Dewi. Menatapnya lekat-lekat lalu berkata lirih.

“Dewi… mau kah kamu menjadi malaikat yang akan sinari di hatiku?” Dewi mengangguk mengiyakan, membuat hati Mira yang melihat dari kejauhan terasa tersayat. Sakit. Dia tak tahan lagi. Dan saat mereka pergi dari sana, hujan turun mengguyur Mira. Dia mengadah dan mulai menangis. Dalam hatinya dia bersajak.


Aku disini sendiri
Terdiam mengadah
Menangis dibawah hujan
Melihatmu menghilang bersamanya
Kau jatuhkan dan hancurkan aku
Disini
Sendirian…

Meski sakit kurasa
Kumohon padamu tuhan
Biarkan senyum itu tetap mengembang si bibirnya
Biarkan dia bahagia dan tenang
Meski bukan bersamaku

Sekarang pergilah bersamanya kasih
Pergilah…
Jangan kau perdulikan aku
Biarkan aku disini
Merasakan sakit ini sendirian
Tanpa ada hadirmu di sampingku
Pergilah kasih…
Aku akan tetap disini
Merintih dalam pedih hatiku…