Selasa, 08 Juni 2010

Pergi menghilang

Saat luka ini semakin dalam
Semakin pedih
Hanya senyummu yang ku ingat
Yang telah ku khianati
Hanya demi keinginan sesaat
Dan kau pergi menghilang
Selama aku mampu tak apa
Tapi kau pergi menghilang
Dan kau pergi menghilang
Ku tahu aku tak kan sanggup
Ku harap suatu saat kau kan kembali
Tapi tampaknya itu tak mungkin
Karna kau telah pergi menghilang

Untuk ikrar ku

Semakin lama
Semakin jauh langkahku
Semakin aku sadar
Tak kan ada lagi senyum untukku
Untuk mengisi waktu yang sepi
Kini aku sendiri
Terdiam dalam gelap
Ku sesali semua itu
Aku tahu bagai mana kau nanti hadirku
Tapi aku pergi menghilang
Menjauh
Tapi untuk apa sebuah penyesalan?
Semua telah berlalu
Aku harus terus melangkah
Walau harus tanpamu
Aku kan mencoba
Bertahan di kerasnya kehidupan
Demi diriku dan dirimu
Karna ikrar yang sudah ku buat
Harus tetap terjaga
Pukul 4 pagi. Dia kembali membuka matanya. Yang dilihat tetap sama. Ruangan kecil  serba putih dengan infuse dan selang kecil yang berujung jarum yang menancap di tangannya. Dia berusaha bangkit, meraih kursi rodanya, lalu duduk di situ dan berjalan menuju kamar mandi. Di dalam kamar mandi itu dia mengambil air wudlu lalu kembali untuk shalat subuh. Setelah itu dia kembali ke kasurnya untuk istirahat.

     Pukul 9 pagi. Dia buka lagi mata itu. Dilihatnya seorang gadis kecil berkerudung yang menyambutnya dengan senyum.

     “Selamat pagi kak Zandy…” ucap gadis kecil kelas 4 SD itu saat dia terbangun. Itu adik perempuannya. Namanya Alin.

     “Pagi Alin…” jawab Zandy sambil tersenyum.

     “Tadi papa bilang gak bisa datang kalo pagi. Jadi nanti papa sama mama datangnya nanti sore” jelas Alin.

     “Lho, kok kamu ada disini? Apa gak sekolah?” tanya Zandy setelah melihat jam dinding yang menempel tepat di depannya
.
     “Alin kan lagi ujian. Jadi Alin pulang pagi kak”

     “Bisa nggak tadi ujiannya?”

     “Bisa lah kak. Alin kan nggak mau kalah sama kakak. Alin mau jadi anak yang pintar kaya kakak. Lihat aja nanti kak”

     “Bagus. Belajar yang tekun ya, Alin…”

     “Iya kak” Alin tersenyum.

     “Permisi” seseorang mengetuk pintu. Alin membuka pintu. Itu sahabatnya, Dika.

     “Hai, Dik!” sambut Zandy.

     “Gimana keadaanmu, Zan? Pak Rama udah nyariin tuh”

     “Hihihi… Ya, biasa aja, Dik”

     “Sebenarnya kamu ini sakit apa sih? Kok hidungmu sering berdarah, terus sering pingsan mendadak. Aku jadi takut”

     “Aku juga gak tau aku ini sakit apa. Kata papa, hasilnya baru keluar besok lusa”

     “Aku harap kamu nggak kenapa-napa Zan…”

     “Amin… Thanks ya do’anya”

     “Iya, sama-sama. Eh, kamu dapat salam lho dari Eva. Katanya dia kangen curhat sama kamu. Hahaha… Aneh-aneh aja anak itu”

     “Hihihi… Aku titip salam ya buat semuanya”

     “Iya, gampang itu. Entar yang lain juga pada kesini kok”

     “Kak, Alin mau pulang dulu. Mau belajar buat ujian besok” Alin tiba-tiba berbicara.

     “Iya… belajar yang bener ya, Alin”

     “Iya kak. Assalamualaikum”

     “Waalaikum salam” Alin lalu pergi keluar.

     “Eh, Zan, aku juga mau balik” Dika tiba-tiba berkata.

     “Yah… Aku sendirian dong…” Zandy mengeluh.

     “Udah ah! Nanti yang lain juga pada jenguk kok”

     “Lho, kok kamu nggak nunggu yang lain, Dik?”

     “Masalahnya Pak Raman anti ikut, dan aku belum ngumpulin PR. Hihihi…”

     “Dasar! Inget kata-kata ini, Dik! ‘Kau bisa berlari, tapi kau tak bisa sembunyi’. Udah deh, Dik. Gak usah kabur”

     “Terserah deh kamu mau ngomong apa. Kamu aja yang gak tau. Kalo ketahuan, aku bisa dikuliti hidup-hidup tau!”

     “Assalamualaikum…” Suara berat Pak Rama terdengar dari luar pintu.

     “Mampus dah!” Dika mulai berkeringat. Pintu itu dibuka. Benar, itu Pak Rama.

     “Selamat pagi Zandy. Gimana kabarmu?” Pak Rama diam sebentar. “Lho, Dika! Kebetulan sekali, mana PR kamu?” tanbah Pak Rama.

     “Ma-maaf pak. S-sa-saya belum ngerjain” langsung tanpa basa-basi, Pak Rama menjewer telinga Dika.

     “Kamu ini ya, kalau dikasi PR gak pernah dikerjain” ucap Pak Rama. Di belakang Pak Rama, teman-teman yang lain tertawa geli. Ternyata ada Eva juga.

     “Hai Zan. Gimana kabarmu?” Eva berjalan menghampiri Zandy yang dengan susah payah menahan tawa.

     “Hai juga Va. Aku baik-baik aja. Eh, sudah berapa hari aku nggak masuk?” tanya Zandy pada Eva.

     “5 hari. Makanya Pak Rama ngajak kita jenguk kamu”

     “Oh… Lama juga ya. Aku kira baru 2 hari”

     “2 hari itu sadarmu. 3 harinya pingsanmu. Hahaha…”

     “Bisa aja. Hihihi…”

     “Tadi ulangan pula. Yang lain pada bingung mau nyari contekan kemana”

     “Ye… Jadi kalian selama ini cuma memanfaatkan aku ya? Sialan kalian! Hahaha…”

     “Makanya… Cepet sembuh ya”

     “Ogah ah! Cuma jadi tempat nyontek kok! Hahaha… Makasih ya Va”

     “Bercanda lagi. Hehehe… Sama-sama” setelah berbincang-bincang agak lama, mereka pamit pulang.

     “Yah… Sendirian lagi deh” Zandy memutuskan untuk shalat duhur lalu tidur.


*   *   *


Tok, tok, tok…
    
Pintu kamar pasien Zandy diketok oleh seseorang. Zandy yang sedang tidur jadi terbangun. ternyata itu keluarga Zandy. Ada Mama, Papa, Alin dan Icha, kakak perempuannya.

     “Ya ampun, Zandy! Kamu ini sakit apa?” Kak Icha yang udah bela-belain datang dari bandung langsung histeris.

     “Ah… Kak Icha berlebihan ah!” ucap Zandy sebal.

     “Maklum lah Zandy. kakakmu ini kan udah bela-belain ijin kuliah cuma buat jenguk kamu. Berarti Kak Icha ini sayang sekali sama kamu” ucap Mamanya Zandy.

     “Tapi kan gak perlu sampai histeris gini kan Ma?” Zandy tetap sebal.

     “Kata-katanya Zandy benar juga ma. Icha terlalu berlebihan. Papa sendiri gak suka diperlakukan kaya gitu. Kaya anak kecil” Kini giliran Papanya yang berbicara.

     “Tuh kan, Kak! Aku ini udah besar! Aku gak suka diperlakukan kaya anak kecil!”

     “Iya, iya…” Kini Kak Icha yang sebal.

     “Kak Zandy baru bangun tidur ya?” Alin tiba-tiba bertanya pada Zandy.

     “Iya. Kok Alin tau?” Zandy jadi bingung.

     “Itu mata kak Zandy merah. Ada beleknya juga. Hihihi…”

     “Ih! Alin nakal ya? Nertawain Kakak! Hahaha…”

     “Ceritanya gimana kok bisa masuk rumah sakit Zan?” Kak Icha bertanya.

     “Awalnya aku lagi jalan biasa mau balik ke kelas. Tiba-tiba pandanganku jadi buram, terus hidungku berdarah, akhirnya gelap Kak. Aku semaput” jelas Zandy.

     “Alah… Semaput aja masuk rumah sakit!”

     “Masalahnya, aku semaput sampai 3 hari kak…”

     “Hah!? Yang bener kamu?”

     “Tanya Mama sama Papa!”

     “Iya, Kak Icha… Kak Zandy pingsan 3 hari…” jawab Alin.

     “Ckckck… Perasaan anaknya Papa sama Mama yang laki-laki cuma kamu. Tapi yang sakit-sakitan juga kamu. Harusnya laki-laki itu kan gak gampang sakit! Kok malah kebalik ya?”

     “Ya mana aku tahu kak. Aku bukan tuhan yang maha tahu”

     “Siapa juga yang bilang kamu serba tahu!”

     “Gitu aja sewot!”

     “Udah, udah! Kok malah bertengkar sih?” Mama Zandy menengahi.

     “Hasilnya baru keluar besok lusa kan Pa?” Kak Icha bertanya.

     “Iya… Besok lusa baru keluar. Kita ambil bareng bareng ya”

     “Iya pa…” jawab Mama. Lalu mereka berbincang bincang. Kadang sebal, kadang tertawa, kadang terkejut, kadang juga sedih. Setelah itu seorang suster datang ke kamar pasien Zandy.

     “Permisi Ibu, Bapak Serta adik, jam besuk sudah habis. Sekarang waktunya pasien istirahat” ucap suster itu.

     “Oh, iya, maaf sus. Kalau begitu kami permisi”

     “Iya, pak, silakan”

     “Dah Zandy… Cepat sembuh ya…” ucap Kak Icha saat hendak keluar.

     Di dalam kamar kecil itu, Zandi melamun. Dia memikirkan seseorang yang sangat dia suka. Seorang gadis ceria yang selalu minta ditemani Zandy untuk mendengarkan curhatnya. Gadis itu adalah… Eva. Tapi ada sesuatu yang mengganjal hatinya. Seperti dia tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Sesuatu yang buruk.


*   *   *


2 hari kemudian. Kondisi tubuh Zandy semakin memburuk. Tubuhnya semakin kurus dan wajahnya semakin pucat. Di ruang dokter, Mama, Papa serta Kak Icha sedang khawatir menanti hasil dari sang Dokter. Dan saat Dokter mulai berbicara, keringat dingin mereka mulai mengucur deras.

     “Begini Bapak, Ibu dan Mbak yang ada disini. Setelah saya teliti selama seminggu, saya sudah dapat hasilnya. Tapi yang saya takutkan sekarang terjadi… Putra Bapak mengidap penyakit… Leukimia” ucapan sang Dokter membuat semuanya tertunduk.

     Leukimia? Penyakit yang bahkan diakui oleh para dokter sebagai penyakit mematikan yang sangat berbahaya itu? Tidak mungkin! Tidak mungkin Zandy mengidap penyakit mengerikan itu! Bantah Kak Icha dalam hati.

     “Dok, apa Dokter tidak salah? Mungkin Dokter salah menelitinya…” Mama masih tidak percaya.

     “Sayangnya saya tidak salah, Bu… Saya sangat menyesal Pak, Bu dan Mbak… Tapi Leukinia? Kami tidak sanggup untuk mengobatinya” Dokter itu bernafas panjang dan berat. “Maafkan kami pak” tambahnya. Papa Zandy hanya tertunduk. Dia tak tahu harus berkata apa pada Zandy nanti.

     “Kira-kira berapa lama lagi umur Zandy, Dok?” Tanya Kak Icha dengan nada sedih.

     “Paling lama 2 minggu” jawab Dokter itu tertunduk. 2 minggu? Baru 2 hari yang lalu aku kembali melihat adikku, tapi kenapa hanya 2 minggu waktu yang kumiliki untuk berada disisinya sebelum dia kembali ke pangkuan-Mu ya Tuhan? Batin Kak Icha sedih. Kak Icha hanya bisa menarik nafas berat.


*   *   *


Di dalam kamar pasiennya, Zandy sedang menulis sepucuk surat. Sebuah surat yang mungkin yang terakhir dia tulis. Untuk orang yang sangat dia cintai. Untuk orang yang tlah memberinya semangat untuk hidup. Untuk orang yang telah mewarnai hidupnya yang suram. Untuk Eva…

     Setelah surat itu selesai ditulis. Dia mengambil tas sekolah yang selama 4 hari ini selalu berada di sebelah kasur putih itu. Diambilnya sebuah amplop kosong, lalu dimasukkan kertas itu kedalam amplop itu dan disimpan dalam tas jeans itu.

     Tak lama kemudian, pintu itu dibuka. Tampak semuanya berwajah kusut. Seperti prajurit kerajaan yang telah kalah perang. Semuanya bungkam. Dika juga ada disitu, dan dia sudah tahu semuanya. Tentang Leukimia Zandy.

     “Kalian kenapa?” Tanya Zandy dengan senyumnya yang hambar.

     “… Zan, maaf, kami nggak mau bilang ini tapi kenyataannya kamu mengidap penyakit…” belum selesai Kak Icha berbicara, Zandy sudah memotongnya.

     “Aku yakin itu penyakit berbahaya dan umurku sudah tidak panjang lagi. Iya kan kak?” ucapnya tetap tersenyum.

     “Tapi… Bagaimana kamu tahu Zan? Kakak benci harus bilang itu. Kamu tahu, kamu mengidap Leukimia, dan umurmu hanya tinggal 2 minggu…” Kak Icha kembali tertunduk. Matanya sudah panas.

     “Sudahlah Kak… Kakak gak usah sedih. Semua mahluk hidup itu pasti akan mengalami yang namanya kematian. Tak peduli itu pada umur belasan tahun atau bahkan ratusan tahun. Toh cepat atau lambat kita semua akan merasakan itu. Kita terima aja lah apa keputusan tuhan. Jangan menjadi beban. Dan satu yang aku harap nanti dari semuanya… Tolong jangan menangisi kepergianku. Cuma itu yang aku harapkan”

     “Kamu tahu kamu akan pergi meninggalkan kami, tapi kenapa kamu tetap tersenyum, Zan?” suara Dika serak. Wajahnya berpaling. Matanya berair.

     “Dika, Dika, tersenyum dan menangis itu sama-sama menggerakkan bibir. Jadi kenapa kita tidak lebih memilih tersenyum?”

     “Kamu orang yan kuat Zan…” ucap Dika masih serak.

     “Aku boleh minta tolong gak? Aku nggak mau yang lainnya tau kalau aku kena penyakit Leukimia ini. Boleh kan?”

     “Untuk kamu sahabatku…”

      “Terima kasih semuanya…” senyum hambar itu tak lepas dari wajahnya. Kau boleh bilang tidak sedih, sobat. Tapi maaf, matamu tak bisa berbohong… Batin Dika.


*   *   *


Tepat 2 minggu setelahnya. Hanya ada gundukan tanah  yang masih basah dengan sepasang batu nisan berukurkan namanya. Semuanya berkumpu melingkari makam itu, tapi tak seorang pun yang menangis. Mungkin berkaca-kaca tapi tidak menangis. Ini kan harapannya. Dia tak mau orang lain menangisi kepergiannya. Semuanya juga baru tahu kalau dia menderita penyakit semengerikan itu. Dia… Zandy.

     Satu persatu  dari mereka pergi meninggalkan daerah pemakaman itu. Dan air mata yang mengalir tak dapat lagi dibendung. Sekarang hanya tinggal keluarganya serta kedua teman dekatnya. Dika dan Eva. Alin sudah dari melelehkan air matanya. Sedang Mama, Papa dan Kak Icha tetap berusaha menepati janjinya pada Zandy.

     Akhirnya hanya tinggal Dika dan Eva. Dika ingin memberikan sesuatu yang dititipkan oleh Zandy untuk Eva sebelum hembusan nafas terakhirnya. Sepucuk surat pengakuan. Sebuah surat terakhir dari Zandy.

     Dibukanya perlahan amplop itu. Dibacanya perlahan. Perlahan.


Untuk Eva


    
Hai Eva, aku yakin saat kamu baca surat ini, aku sudah tidak ada di dunia. Sebelumnya aku minta maaf, karena setelah ini aku gak akan bisa mendengarkan curhatmu lagi. Maaf sekali ya…

    
Aku boleh jujur gak? Sebenarnya aku itu suka sama kamu. Sukaaa… sekali. Bukan hanya sekedar suka, tapi aku juga sayang padamu. Terkadang memang aku merasa sakit saat dengar curhatmu itu. Tapi untuk kamu, apa pun akan aku lakukan, Eva.

    
Aku harap kamu gak akan pernah menangisi kepergianku, karna aku gak mau melihat orang lain sedih. Apa lagi karena aku. Terkadang kejujuan itu pahit, namun akan berbuah manis. Benar kan? Dan aku harap sekarang kamu lupain aku! Hidup kamu akan terus berjalan walau tanpa aku.

    
Nah, aku pergi dulu sahabatku. Aku akan menanti kehadiranmu di atas sana. Di Surga. Aku janji, aku akan bertemu dengan kalian lagi di Surga. Selamat tinggal semuanya. Selamat tinggal…

Untuk yang terakhir…

Zandy…


     Eva kembali melipat kertas putih itu. Air matanya perlahan mengalir melewati pipinya yang putih. Didekapnya surat itu…

     “Kamu sudah tahu semuanya?” Eva bertanya pada Dika. Dika hanya mengangguk mengiyakan.

     “Kenapa kamu gak pernah bilang, Dik?”

     “Karna aku sudah berjanji. Janji sama Zandy. dan janji harus ditepati”

     “Kalau begitu ayo kita do’akan Zandy. Semoga arwahnya diterima di sisinya… Dan sema kita bisa bertemu lagi di surga seperti janjinya. Amin”

     Lalu kedua orang itu bangkit dan berjalan perlahan. Meninggalkan Zandy yang sudah terkbur tanah merah. Yang tak akan pernah bisa kembali menemani semuanya.