Kamis, 19 Mei 2011

Matanya kembali terbuka di pagi ini. Dengan susah payah dia mencoba bangkit dari kasur yang kapuk yang sudah berlubang dimana-mana. Ya… baru saja dia sakit kemarin, dan sekarang karena dia sudah merasa enakan, dia memaksa untuk datang ke sekolah. Setelah mandi dan sarapan seadanya, dia beranjak ke kamarnya untuk mengenakan seragamnya. Mengetahui itu, ibunya langsung menghampirinya sambil bermuka sedih berkata.
“Dinda, hari ini kamu yakin mau sekolah? Kamu baru kemarin sakit, nak. Bahkan sekarang kamu belum sembuh betul. Tidak perlu memaksakan diri, nak. Ibu tidak tega melihat kamu harus berangkat sekolah dengan keadaan sakit seperti ini”
“Tidak apa bu. Dinda masih kuat kok buat sekolah hari ini. Justru Dinda yang tidak tega kalau harus berdiam di rumah sedang ibu harus merawatku. Belum lagi pelajaranku yang tertinggal. Kalau nilaiku menurun, beasiswaku bisa dicabut, bu. nanti malah ibu yang kasihan harus bekerja lebih keras lagi” ibunya terdiam mendengar ucapan putri pertama dari dua bersaudara ini. “Dinda berangkat dulu ya, bu? Assalamualaikum” Dinda mencium tangan ibunya itu, lalu dia segera berangkat menuju sekolahnya dengan berjalan. Hanya berjalan…

* * *

Dinda sampai di sekolah tepat 15 menit sebelum bel masuk berbunyi. Dia meletakkan tas ranselnya di bangku yang biasa dia tempati bersama seorang temannya, Atila. Dia adalah anak seorang pejabat yang sudah paasti semua kebutuhannya bisa dipenuhi dengan mudah. Tetapi Atila bukanlah anak yang sombong, dia tidak pernah pilih-pilih teman. Dia juga tidak pernah minta diantar-jemput dengan mobil mewah yang sebenarnya dia punya. Dia lebih suka untuk naik angkutan umum atau membawa sepeda sendiri.
“Hai, Dinda. Kemarin kenapa kamu tidak masuk sekolah? Aku duduk sendirian nih kemarin. Gak asik kalau gak ada kamu” ucapnya sambil tersenyum.
“Maaf ya, Til. Kemarin aku sakit, jadi ibuku memaksa agar aku tidak masuk sekolah. Tapi sekarang, aku udah gak apa-apa kok. Tenang aja. Hahaha…” balas Dinda dengan senyum manisnya. Dinda memang siswi yang cerdas, tapi dia juga cantik dan manis sehingga tidak heran bila banyak anak yang naksir berat sama dia.
“Nanti mau aku antar pulang gak, Din? Kasian lho kamu kalau harus jalan. Rumahmu kan gak dekat dari sekolah. Apa lagi kamu baru sakit kemarin. Nanti kalau sakit lagi kan aku juga yang gak punya teman. Jadi bareng sama aku aja ya, Din?” ajak Tila.
“Hm… iya deh, aku nurut kamu aja, Til”
“Sip deh!” Tila mengacungkan jempolnya.

* * *

Sepulang sekolah, seperti kata Tila tadi, Dinda akan diantar pulang olehnya. Karena akan mengantar Dinda, Atla harus menelpon supirnya. Akhirnya setelah menunggu selama 25 menit, supir Atila datang dengan sedan hitam metaliknya.
“Ayo masuk, Din! Apa kamu mau jalan-jalan dulu? Untuk makan mungkin? Aku yang bayarin kok tenang aja” tanya Atila pada Dinda.
“Ah, gak usah, Til. Kasihan ibuku. Masa aku di luar makan yang enak-enak, sedang ibuku di rumah cuma makan seadanya? Aku gak tega, Til” Atila tertegun mendengar ucapan dari sahabatnya ini. Dia benar-benar gadis yang baik.
“Ah, begini saja, Din. Nanti kita bungkuskan dua untuk ibu dan adikmu. Bagaimana? Kamu mau kan?” pinta Atila. Dinda berfikir sejenak dan akhirnya mengiyakan tawaran Atila tadi.
Akhirnya mereka pergi berdua menuju restoran elit yg biasa Atila datangi ketika bersama teman-teman, keluarga atau pun kekasihnya.

* * *

Sesampai di rumah, Dinda langsung mencium tangan sang ibu yang sedang berada di teras rumah. Saat menyentuh tangannya, Dinda merasa tangan ibunya agak panas. Lalu Dinda bertanya pada ibunya itu.
“Ibu, apa ibu sakit? Badan ibu panas dan wajah ibu tampak pucat sekali. Dinda khawatir, bu” ucap Dinda dengan wajah sedih.
“Sepertinya begitu, nak. Dari tadi ibu merasa kepala ibu sakit sekali. Hampir saja ibu jatuh pingsan saat menyapu halaman tadi”
“Sebaiknya sekarang ibu istirahat saja dulu. Oh iya, ibu sudah makan? Tadi Atila memberikan makanan untuk kita, bu. ibu mau memakannya sekarang?” tawar Dinda. Ibunya hanya mengangguk tanda mengiyakan. “Sini bu, biar Dinda suapin ibu. Setelah itu ibu tinggal istirahat saja, bu” senyum manis itu tak pernah terlepas dari wajah jelita Dinda. Sungguh bangga memanggilanya putriku, batin ibu Dinda.

* * *

Keesokan paginya saat Dinda baru bangun untuk shalat subuh, Dinda ingin melihat keadaan ibunya dan betapa kagetnya dia mendapati ibunya sedang menahan sakit yang amat sangat.
“Ibu kenapa!? Ibu harus ke rumah sakit sekarang juga!” Dinda memaksa ibunya karena merasa sangat khawatir, bahkan air matanya mulai bergulir membasahi pipinya.
“Tidak, nak. Ibu tidak punya cukup uang untuk membayar biaya rumah sakit itu. Biarkan saja ibu. Nanti juga pasti sembuh kok, anakku sayang. Sudahlah nak, tidak perlu mengkhawatirkan ibu” ucapan ibunya itu pun langsung ditanggapi dengan tegas oleh Dinda.
“Ibu harus ke rumah sakit! Kalau tidak, nanti sakit ibu bisa semakin parah dan Dinda tidak mau hal itu terjadi. Soal biaya, Dinda yang akan pikirkan. Yang penting sekarang ibu harus ke rumah sakit!” akhirnya atas paksaan Dinda, ibunya mau ke rumah sakit diantar oleh dinda.
Setelah diperiksa, diagnosa sang dokter sangat mengejutkan. Ibunya mengidap tumor di otaknya. Sehingga mau tidak mau, ibunya terpaksa harus dioprasi. Sedang biaya untuk oprasi itu tidak kecil. Puluhan juta yang harus dibayar oleh Dinda untuk oprasi ibunya. Dinda bingung bukan kepalang memikirkan itu. Dia sudah memohon-mohon pada sang dokter untuk memberi keringanan, namun semua itu sia-sia.
Setelah berfikir keras, Dinda akhirnya menghubungi Atila untuk meminjam uang untuk membayar biaya oprasi ibunya. Atila bersedia, tetapi uang yang diberikannya masih kurang beberapa belas juta. Lagi-lagi Dinda kebingungan. Itu bukan biaya yang kecil baginya. Dia mencari-cari sesuatu yang dapat dijual, tetapi masih tidak dapat mencukupi. Akhirnya dia putus asa. Dia memutuskan untuk menjual… dirinya sendiri.

* * *

Di lobby sebuah hotel mewah dia duduk menunggu. Lama dia menunggu sendirian, seorang satpam yang dari tadi penasaran akhirnya mendatanginya
“Permisi, mbak. Mbak ini sedang menunggu siapa? Ini hotel berkelas, mbak tahu?”
“Iya saya tahu. Saya sedang menunggu seseorang yang mau membeli apa yang mau saya jual” jawab Dinda tegar.
“Memang apa yang mau mbak jual di sini? Bukankah mbak tahu di sini dilarang keras untuk berjualan? Memang apa yang akan mbak jual? Mbak tidak tampak membawa sesuatu untuk dijual”
“Saya… akan menjual… diri saya” ujar Dinda pelan. Satpam itu pun cukup kaget dengan ucapan Dinda. Dia lalu menoleh ke kanan dan ke kiri. Lalu berbisik pelan pada Dinda.
“Apa mbak ini serius?”
“Iya! Saya serius. Saya mau menjual diri dan kegadisan saya dengan harga yang setinggi-tingginya”
“Baiklah, saya bisa membantu mbak. Tolong mbak ikut dengan saya” lalu satpam itu membawa Dinda pada suatu ruangan. Di sana Dinda disuruh untuk duduk menunggu. Tak lama kemudian satpam tersebut datang mengabarinya.
“Saya dapat seorang pelanggan. Dia mau membayar sebesar 5 juta untuk kegadisan mbak. Bagaimana?”
“Tidak! Saya ingin harga yang setinggi-tingginya” jawab Dinda tegas. Satpam itu menghela nafas lalu pergi mencari pelanggan lainnya.
5 menit setelahnya, satpam itu datang lagi “Ada seorang lagi yang mau dengan tawaran lebih tinggi. Sebesar 7 juta. Itu sudah termasuk besar untuk kegadisan mbak ini” ucap satpam itu.
“Tidak, pak! Saya ingin lebih tinggi daripada itu” lagi-lagi Dinda menolak tawaran itu. Si satpam tersebut tersenyum kecut mendengarkannya. Tanda dia sudah mulai frustasi karena sudah kena marah di sana-sini dari tadi.
Akhirnya satpam tersebut pergi mencari pelanggan lainnya. Setelah mencari-cari pelanggan lainnya, akhirnya dia menemukan seorang yang tampaknya sedang stress. Dia menelpon dengan muka yang tampak sangat suram. Tampak banyak masalah yang dipikirkannya.
“Iya sayang. Nanti akan aku transfer uangnya. Udah kamu gak usah aneh-aneh deh. Aku udah stress ini. Oke. Bye” pria itu mengakhiri panggilannya.
“Pak, bapak sedang butuh hiburan? Saya ada yang bisa dipakai, pak. Dia gadis muda yang masih suci. Dia mencari pelanggan yang akan membayarnya dengan harga setinggi-tingginya. Apa bapak tertarik?” satpam itu langsung datang dan menawari pria tadi. Pria tadi melihat satpam tadi dengan tidak yakin. Akhirnya pria itu angkat suaran juga.
“Baiklah, saya mau lihat dulu barangnya. Soal harga, saya akan membayar berapa pun dia mau” ungkap pria itu. Lalu satpam itu membawanya pada ruang dimana Dinda menunggu.
“Mbak, saya membawa seorang pelanggan lagi. Dia mau membayar berapa pun untuk kegadisan mbak” kata satpam itu saat sudah berada di hadapan Dinda. Melihat penampilan dinda yang begitu cantik, pria itu langsung percaya pada satpam itu.
“Baiklah, saya setuju. Tapi apa benar bapak mau membayar berapa pun yang saya minta?”
“Tentu saja. Untuk gadis secantik kamu, aku rasa itu pantas”
“Baiklah, saya terima tawaran bapak” Dinda pun dibawa ke suatu kamar di hotel tersebut. Tapi saat satpam itu sudah keluar, pria tadi bertanya pada Dinda.
“Bolehkah aku bertanya? Mengapa kumu rela menjual kegadisanmu demi uang? Apa uang itu untuk membeli aksesoris agar kamu tampak lebih trendy? Ataukah untuk suatu hal yang dapat menyenangkanmu?” tanya pria tadi.
“Tidak pak. Saya berani menjual kegadisan saya untuk ibu saya. Sekarang ibu saya sedang terbaring lemah dengan tumor di otaknya yang harus segera diangkat. Sedang saya tidak punya uang lagi untuk membayar biaya itu. Segalanya sudah saya coba, namun itu tetap saja belum cukup. Saya tidak cukup bodoh untuk menjual kehormatan saya, tetapi saya akan menjadi orang yang sangat bodoh bila tidak melakukan apa-apa untuk ibu saya yang sedang sakit seperti itu” Dinda berucap tegar. Dia tahu apa konsekuensi telah melakukan hal ini.
Pria ini tercengang. Dia baru saja mendengar sebuah alas an yang begitu mulia untuk melakukan sesuatu yang sangat berbahaya seperti ini. Begitu tegar dan ikhlas dia menerima takdirnya. Pria itu pun berkata.
“Kamu… betapa baiknya kamu sehingga rela menjual kehormatanmu untuk kesembuhan ibumu. Jujur aku sudah lelah ditekan seperti ini. Saya berselingkuh dan selingkuhan saya selalu memerah saya sampai ratusan juta. Jika saya menolak memberi apa yang dia minta, dia akan membocorkan semua rahasia saya. Tapi berkat kamu, sekarang saya sadar. Ada yang lebih penting dari semua itu. Kamu boleh pergi membawa semua uang itu. Itu sudah lebih dari cukup. Aku membayar untuk ketegaran dan keberanianmu”
“Lalu apa yang bapak dapat dari uang yang sudah bapak keluarkan untuk saya?” tanya Dinda.
“Keberanian, kejujuran dan ketegaran. Kamu juga yang sudah kembali membuka mataku yang talah lama tepejam” Dinda tersenyum mendengarnya. “Bolehkah aku mengantarmu hingga sampai di rumah sakit tempat ibumu dirawat?” tawar bapak itu.
“Boleh saja”
“Baiklah, ayo kita langsung berangkat” mereka pun berjalan keluar meninggalkan kamar hotel itu.
Sambil berjalan, Dinda berkata sambil tersenyum “Terima kasih, pak. Jasa bapak sangat berarti bagi saya”
“Iya, terima kasih juga” mereka pun melesat menuju rumah sakit tempat ibu Dinda dirawat.
Akhirnya semua baik-baik saja. Ibu Dinda dapat sembuh dengan oprasi yang berjalan lancar. Tuhan telah membuktikan kuasanya lagi. Dia membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Dan Dia telah member pelajaran yang paling berharga bagi semuanya. Tak perlu bersedih, karena Tuhan selalu member apa yang terbaik untuk kita. Sesuatu yang paling kita butuhkan.