Dalam bisu aku terdiam
Menatap lekat dedaunan yang gugur
Gelap...
Tempat ini gelap
Tanganku mencoba meraih
Tapi tak satu pun tersentuh
Semuanya lenyap perlahan
Dapat ku rasa darah segar menetes
Perlahan membasahi dadaku yang berlubang
Semua tangisan itu...
Aku tak dapat melihatnya
Namun suara yang menyayat itu
Terngiang jelas di telingaku
Juga di hatiku
Apa aku harus pergi?
Apa aku telah roboh?
Di sini amat gelap dan dingin
Tanpa ada seorang pun menggenggamku
Aku kedinginan...
Dimana kalian, kawan?
Dalam kegelapan ini, Aku takut untuk tahu
Butiran bening yang menetes
Dari kedua bola mata ini
Bahkan tak seorang pun mendengarku
Menangis menjerit dalam sakit
Dalam ketakutan akan kebenaran
Bahwa aku kini telah pergi
Telah lenyap dalam mimpi yang abadi
Kini hanya ada remah akan memori
Semua perlahan terhapus dan enyah
Entah apa kalian akan mengingatku
Kesatria berpedang pena dan bertameng kertas
Yang selama ini selalu di sini
Berperang dengan lukisan dari rangkaian kata
Dan akhirnya kalah mencium tanah
Oleh takdir yang rebut semua
Kebanggaan, kehidupan, dan bahkan harapan
Semuanya telah hilang...
Termakan oleh waktu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar