Sabtu, 18 September 2010

Area 13

Di tatapnya tubuh tak bernyawa itu. Darah tercecer dimana-mana. Pisau lipatnya juga berlumuran darah segar. Tak ada ekspresi di mukanya. Dingin. Perlahan ditinggalkannya mayat tak berguna itu. Sudah 2 nama dicoret dari note kecilnya. Sekarang hanya tinggal 10 orang lagi.

* * *

“Hey, Rex, ayo kemarilah!” seorang memanggilnya. Itu, Ovan. “Kenapa kau tempak sangat kacau?” tambahnya.
“Diam kau!”
“Tenang kawan. Tak perlu terburu-buru. Masih 10 orang lagi yang harus kau habisi. Kita susun saja rencananya”
“Tak perlu rencana. Tunjukkan saja tempatnya, akan segera ku habisi” ucap Rex dingin.
“Disini. Area 3. 43 mil dari sini” ucapnya sambil menunjuk suatu tempat di peta. “Kita berangkat sekarang?” tanya Ovan.
“Aku sendiri cukup” Rex langsung mengambil kunci Nissan Skyline itu dan langsung melesat menuju tempat yang telah ditunjuk oleh Ovan. Dia sudah tak sabar untuk menghabisi ke 12 orang itu. Tak lama kemudian, Rex sampai pada District 3. Kedatangannya langsung disambut dengan hadangan dari 5 orang berwajah garang dengan tubuh yang kekar. Masing-masing mereka membawa pemukul baseball. Rex segera keluar dengan pisau di tangan kirinya dan sebuah Revolver Colt Piton dengan amunisi penuh di tangan kanannya.
“Mau apa kau datang kemari?” tanya seorang dari ke 5 orang itu.
“Bukan urusanmu” jawab Rex datar.
“kami berlima. Kau yang cuma sendiri bisa apa?”
“Lihat dan perhatikan!” dengan cepat Rex membidik ke 4 orang yang mengepungnya, lalu dengan cepat pula ditariknya pelatuk itu yang membuat 4 peluru mendarat di masing-masing kepala orang itu. Kini hanya tinggal seorang, dan hanya dengan sekali tusukan di dahinya, Rex mengakhiri yang terakhir.
“Sampah!” Rex kembali berjalan hingga menemukan targetnya. Dave.
“Akhirnya kau sampai juga. Aku sudah lama menantimu, Rex”
“Diam kau, keparat! Aku Cuma butuh 15 detik untuk menghabisimu”
“Benarkah? Bagaimana dengan ini?” Dave menepuk tangannya, lalu pintu besi di sampingnya terbuka. Tampak 10 orang bertubuh besar menghadang Rex.
“Dasar ikan teri! Aku bahkan tidak memerlukan pistolku untuk menghabisi mereka. Cukup beri aku 90 detik. Sabarlah Dave!” orang-orang itu mulai maju satu-persatu. Orang pertama berakhir dengan tusukan di jantungnya, lalu orang kedua dengan sobekan di lehernya, ketiga dengan perut yang disobek, keempat dengan tusukan tepat di pelipis, kelima dengan punggung yang sobek sampai ke pinggang, keenam berakhir tanpa kepala, ketujuh dengan tusukan tepat di dagu, ke delapan dengan tusukan di mata, kesembilan dengan sobekan di dada, dan terakhir berakhir dengan organ tubuh yang berceceran di lantai. Tepat 90 detik seperti katanya tadi.
“Selesai. Apa hanya itu yang kau punya? Payah!”
“Jangan sombong. Baru 10 orang saja sudah merasa paling kuat. Lagipula kau ini hanya anak ayam yang tak bisa apa-apa buatku. Sama seperti keluargamu yang lain”
“Tidak usah banyak bicara. Ayo kita akhiri!” Rex mulai memburu, tangan kirinya yang sedari tadi menggenggam pisau bersiap menusuk. Dave sendiri sudah mengeluarkan 2 Pistol Desert Eagle miliknya. Ditembakkannya secara brutal pada Rex, tapi Rex dapat membaca gerakannya dan menghindari tembakannya. Rex tahu kelemahan terbesar Dave adalah pertarungan jarak dekat. Oleh karena itu, dia terus berusaha mendekatinya. Semakin lama semakin dekat, dan saat sudah masuk jarak tusuk, Rex segera menghunuskan pisaunya tepat di jantung Dave, kemudian Colt Piton itu di arahkan tepat di keningnya, dan… 2 peluru Revolver itu menembus kepala Dave. Dia tewas seketika.
“Anak ayam katamu? Kau lah yang anak ayam” Rex meninggalkan mayat Dave yang bermandikan darah itu dan kembali ke tempat Ovan.

* * *

“Dimana target berikutnya? Sebutkan saja semuanya agar aku tidak perlu mondar-mandir hanya untuk menanyakan lokasinya kepadamu”
“Ini!” Ovan melempar peta itu pada Rex. “Sudah kutandai. Nomer target sesuai dengan nomer Area. Berarti target ke 4 berada di Area 4. Mengerti?”
“Mudah sekali. Aku pergi sekarang”
“Hey, hey… Sabar sedikit lah…”
“Sabar? Bagaimana kau bisa mengatakannya begitu mudah? Mereka yang sudah membantai keluargaku, juga membunuh kekasihku, bagaimana aku bisa sabar?”
“Tenanglah kawan. Kalau kau terlalu tergesah-gesah maka semuanya akan berantakan. Mengerti? Lagipula apa yang akan kau lakukan setelah kau balas dendam pada mereka?” Rex bungkam. “Pikirkan kawan. Kau tidak lebih baik dari mereka. Kau sama hinanya dengan mereka”
“Setidaknya aku punya alasan untuk membunuh. Tidak seperti mereka yang membunuh tanpa tujuan. Dan lagi, apa yang akan kau lakukan jika hal seperti ini terjadi padamu? Apa kau akan diam saja? Jangan melontarkan pertanyaan bodoh! Aku tahu apa yang akan ku lakukan”
“Terserah kau saja lah. Kau punya hak untuk menentukan bagaimana kau akan hidup dan bagaimana kau akan mati. Aku tak akan menghalangimu. Tapi aku minta satu hal padamu. Kembalilah kesini saat kau sudah berhasil menghabisi mereka. Hanya itu”
“…” Rex hanya terdiam lalu kembali melangkah meninggalkan Ovan.

* * *

Di datanginya satu-persatu tempat yang telah ditunjukkan oleh Ovan. Kini Rex sampai pada Area terakhir. Area 12. Dan targetnya kali ini adalah Tery. Mantan pacar adik perempuannya, juga mantan rekan tim seperjalanannya dulu.
“Rex, sobatku… Apa kabar?”
“Diam kau keparat! Kau bukan sahabatku! Kau adalah sampah yang tidak berguan! Penghianat!”
“Tenanglah Rex. Ternyata kau tidak berubah ya? Tetap saja temperamental. Kita ngobrol-ngobrol dulu saja” ucap Tery ringan. “Bagai mana sekarang kabar adikmu? Oh iya, aku sudah membunuhnya dengan tanganku sendiri”
“Jangan memancingku!” Rex menodongkan Colt Piton itu tepat di wajah Tery. Dia malah tertawa. “Ada yang lucu, kecoa busuk?”
“Tidak. Hanya saja aku teringat bagaimana aku membunuh adaikmu itu. Aku bahkan sempat mencumbunya sebelum menghabisi nyawanya. Aku nikmati tiap lekuk tubuhnya yang indah itu. Sayang kau tidak ada disana saat aku melakukannya”
“Keparat!” ditariknya pelatuk itu, tapi Tery bisa menghindarinya.
“Seperti biasanya. Kau kuat, tapi lamban”
“Kau terlalu meremehkanku” Rex menyebetkan pisaunya ke arah Tery. dia berhasil menghindar, tapi lengan kanannya terluka.
“Hahaha… Lumayan. Kau lebih baik dari terakhir kali kita bertemu. Tapi tetap saja, kau tak akan bisa mengalahkanku” Tery mengeluarkan dua pisau kesayangannya lalu berlari memburu Rex yang hanya terdiam. Tapi saat dia tepat di hadapan Rex, peluru Revolver itu sudah menembus jantungnya, kemudian Rex menyabetkan pisaunya di tubuh Tery yang hamper jatuh itu berkali-kali, hingga darah tercecer di mana-mana.
“Kau tetap ceroboh. Bertindak tanpa pikir panjang. Kau yang tidak berubah. Kau adalah teman terbaik sepanjang perjalanan hidupku, Tery. Tapi kenapa kau lakukan ini? Kenapa kau buat aku harus membunuhmu?”
“Kematian bukan sebuah akhir, Rex. Kematian adalah awal dari kehidupan yang abadi. Terima kasih kau sudah bebaskan aku dari semua tekanan ini. Ingat kawan, ini belum berakhir. Ada seorang lagi setelah ini. Dialah dalangnya. Dialah seorang dibalik semua ini. Yang telah merencanakan semuanya… Berhati-hatilah… Kawan…” Tery menghembuskan nafas terakhirnya. Tapi ada seorang lagi? Apa mungkin? Rex segera berlari menuju ke Nissan Skyline miliknya. Tujan selanjutnya. Area 13.

* * *

“Hey, kau sudah selesai menghabisi mereka semua?” tanya Ovan.
“Belum. Masih 1 orang lagi”
“Lalu kenapa kau kembali kemari?”
“Karena targetku yang terakhir…” Rex menodongkan Colt Piton itu. “Tepat di hadapanku saat ini”
“…”
“Aku tak percaya kalau kau adalah seorang dibalik semua ini. Kau yang telah memaksa dan mencuci pikiran mereka untuk menghancurkan semua yang ku punya”
“Hahaha…”
“Kenapa kau tertawa?”
“Lucu saja saat mengingat kau menuruti apa kata-kataku. Juga saat kau katakana padaku betapa kau ingin mereka yang telah menghancurkan hidupmu, padahal aku. Orang ada di hadapanmu inilah seorang dibalik semua itu.” Ovan menodongkan killer 7 miliknya pada Rex. “Kau bodoh!” pelatuk itu ditariknya dengan cepat.
“Argh…!!!” peluru itu mengenai tangan kanan Rex.
“Kau payah!”
“Keparat!” kini ganti Rex yang menembakkan Colt Piton itu, tapi Ovan dapat menghindarinya dengan mudah.
“Lambat!” Ovan menusukkan pisau itu di tangan kiri Rex.
“Sial!” Rex mencabut pisau itu dan melemparnya kembali pada Ovan, tapi pisau itu dapat dihindarinya.
“Kau mau katakana sesuatu?”
“Aku mau bertanya satu hal padamu”
“Katakan saja…”
“Kenapa kau lakukan semua ini?”
“Aku hhanya ingin bersenang-senang. Aku tak memiliki tujuan lain. Hanya ingin bersenang-senang. Membunuh itu sangat menyenangkan”
“Kau gila!”
“Tepat sekali. Nkalau aku tidak gila, aku tidak akan melakukan semua ini dan mungkin sekarang sedang duduk di sofa sambil menonton acara televisi yang menyebalkan itu”
“Grrr…!”
“Kau ingin membunuhku? Bunuh saja! Kalau kau lakukan itu, kau sama halnya seperti diriku”
“Bukan kah aku dulu pernah mengatakannya? Aku membunuh dengan alasan yang jelas. Tidak seperti dirimu yang membunuh tanpa tujuan”
“Terserah! Bagiku itu sama saja. kau tetap pembunuh, apa pun alasanmu”
“Biarlah aku menjadi pembunuh dan buronan, asalkan dendamku terbalaskan”
“Mati saja kau!” tepat saat mengatakan itu, Rex menembak kepala Ovan dengan Revolver Colt Piton miliknya. 3 peluru menembus kepalanya.
“Kau saja yang mati… Dan pergilah ke neraka! Sampah!”
Tiba-tiba pintu dibuka secara paksa. Itu polisi. “Berhenti! Jatuhkan senjatamu dan menyerahlah!” ucap seorang polisi. Rex menjatuhkan Colt Piton-nya.
“Beruntung sekali kalian. Urusanku baru saja selesai” Rex dibawa ke kantor polisi untuk di interograsi.
Di ruang interograsi. Rex duduk di kursi hanya diterangi lampu kecil di atasnya. Dan polisi mulai bertanya.
“Kenapa kau membunuh mereka?”
“Kau ingin tahu? Bailah, akan ku ceritakan”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar