Krriiiiiiiiinnnngggg!!!!!
Alarm yang kencengnya ngalah-ngalahin suara sangkakalanya Malaikat Israfil itu berdering. Jelas Rega bangun dari tidurnya, kalo nggak bangun mah kebangetan itu namanya. Saking kagetnya sampai meloncat dan jatuh dari tempat tidurnya.
Dengan mata masih 5 watt, Rega turun dari tempat tidurnya dan berjalan mencari kamarmandi, tapi yang namanya masih ngantuk, Rega ketatap kusen pintu, terus di dalem kamar mandi, dia kepereset. Hampir aja kepalanya mendarat di kloset.
“Anjing! Hampir aja!” umpatnya.
Setelah mandi dan shalat subuh, Rega langsung menuju ke meja makan untuk makan (Ya iya lah! Masa mau nyiram kembang?). Setelah sarapannya habis, Rega langsung melesat menuju ke sekolahnya lengkap dengan seragam putih abu-abu dan Suzuki Satria F birunya.
Dengan penuh napsu, Rega memacu Satria itu sekencang mungkin. Diatas 100 Km/ jam pokoknya. Saking kencengnya, Rega gak sadar kalo sekolahannya udah kelewatan jauh banget. Terpaksa puter balik deh.
Tepat 5 menit sebelum gerbang sekolah ditutup, Rega sudah memarkirkan Satria birunya di pelataran parkir sekolah. Langsung Rega ngibrit menuju kelasnya di XI-E.
Di dalam kelas, anak-anak laennya sebangsa Ahda, Dedy, Dira, Linda dan Nisa sudah duduk rapi di bangkunya masing-masing karena Do’a akan dimulai (Sebenernya sih takut dimarahin guru. Hihihi…). Rega langsung duduk di bangkunya. Tepat pinggir pintu.
“Dari mana aja lu?” Ahda yang memang duduk di sebelah Rega bertanya.
“Sekolahnya kelewatan. Jauh pula nyari tempat buat puter balik” jelar Rega.
“Lu juga sih! Kalo nyetir itu jangan kenceng-kenceng! Masa sekolah sendiri kelewatan?” Dedy yang duduk di bangku sebelah mencibir.
“Eh, elu gak usah ikut-ikutan deh, Ded!” Ujar Rega kesel.
“Udah! Do’a-nya mau mulai tuh!” Sahut Dira yang duduk di belakang Rega.
“Iya cerewet! Nenek-nenek juga tau!” Ujar Rega sewot.
“Bisa diam tidak! Telinga kalian tidak dengar kalau Do’a sudah dimulai?” Bentakan Bu Luna (Bukan! Bukan Luna Maya!) langsung membuat mereka bungkam. Kalau enggak? Wah… Bisa dicincang hidup-hidup.
Setelah Do’a selesai, masuklah guru fisika yang killernya ngujubilah minjalik. Namanya Pak Ryan.
“Pagi anak-anak”
“Pagi pak…” jawab anak-anak serempak.
“Siapkan selembar kertas! Hari ini kita ulangan”
“Yah! Pak, belom belajar…” Dedy memelas.
“Itu urusan kamu, bukan urusan saya” jawab Pak Ryan enteng sambil membuka korannya.
Dedy menoleh ke arah Rega, lalu berkata sambil nyengir. “Gue nyontek ya?”
“Lima rebu per nomer”
“Awas lu!”
“Iya,iya… Gitu aja kentut!” ucapan Rega membuat Dedy lega. Yah, meski belakang-belakannya gak enak juga. Dedy pasrah aja lah, daripada dapet bebek.
Setelah ulangan biadab itu selesai, sekarang waktunya istirahat. Waktu yang paling ditunggu-tunggu semua pelajar di seluruh jagad raya.
“Reg, ayo ke ruang meeting sekarang!” Linda memanggil Rega.
“Ha? Ada apa emang?”
“Kita mau rapat” tangan rega langsung ditarik dengan biadab oleh Linda. Di ruang meeting gengnya Rega, ternyata semuanya sudah disini. Ahda, Dedy, Dira, Hilmy, si kembar Lisa dan Lita, Romy dan Nisa. Ditambah Linda sama Rega komplit dah.
“Rapat tentang apa nih?” Tanya Rega kaya orang gak punya dosa.
“Duh! Bego! Lu lupa ya? Katanya kita mau bikin Baksos?” Ahda menepuk jidatnya.
“Baksos ap… Oh, iya, gua lupa! Acaranya besok lusa kan? Gua belom kumpulin apa-apa lagi!” Rega mulai ingat.
“Lu itu gimana sih? Lu yang punya ide! Eh, elu juga yang lupa! Payah!” Ahda mulai emosi.
“Ya, namanya juga udah tua, be” ujarnya sambil garuk rambut pake linggis.
“Udah tua JIDAT LO PEANG! Lagian lu panggil gue babe, emang sejak kapan gue kawin sama enyak lo?”
“Kalem bro… Gitu aja sewot. Iya deh, gue akuin kalo gue lupa. Tapi masih jadi kan? Kita kumpul aja besok lusa di gerbang sekolah. Langsung berangkat”
“Oke. Fine. Sekarang ayo pada balik ke kelas. Bel masuk udah bunyi tuh!” Ahda memang leader dari grup yang diberi nama Pasukan Bohlam. Kenapa harus Bohlam? Tau tuh di Dedy. Katanya “Bohlam yang nyala itu melambangkan kita lagi punya ide. Dan kalo lagi punya ide pasti otak kita lagi bekerja. Nah, sebagai pelajar, Bohlam kita harus nyala terus” nah keren kan kata-katanya Dedy? Ahda aja sampe shock kok dengerin omongan Dedy ini. Dedy sendiri Bohlam-nya mati terus. Belom diganti sih. Hihihi…
* * *
Besok lusanya, Rega dan Pasukan Bohlam lainnya udah kumpul di gerbang sekolah, lengkap dengan kaos hitam dengan gambar Bohlam menyala ditengahnya. Semuanya pada bawa tas gede. Entah itu buat baksos apa mau minggat. Rega sendiri bawa carrier yang cukup gede. Nisa yang udah penasaran langsung aja nanya ke Rega.
“Eh, Reg, lu bawa apa aja? Kok gede banget bawaan lu?” Nisa bertanya.
“Mmm… Ada pasak, tenda, wajan, panci, baju anget, sama google”
“Lu kira mau kemping apa? Lu itu kalo ditanya gak pernah jawab bener! Sialan lu!” Nisa gondok dan pergi dengan perasaan pingin nelen Rega aja. Rega sendiri malah ngakak gak karuan.
“Semuanya ngumpul!”Ahda memberi perintah, yang lain langsung ngerubungin Ahda. “Kita kumpulin semua bawaan, terus kita bagi. Entar yang merasa dirinya laki-laki ikut sama gue nyari gelandangan dan pengemis. Yang merasa perempuan ikut Nisa ke panti Asuhan. Ngerti semuanya?” Ahda memberi pengarahan.
“Terus yang gak punya kelamin sama hemaprodit macam Dedy sama romy gimana?” Hilmy mulai ngocol deh.
“Mesti gue…” Dedy berkata dengan malas.
“Sompret! Gue congkel entar mata lu! Terus gue robek mulut lu! Biar tau rasa” kini giliran Romy yang dicurigai punya bakat jadi psikopat terkenal itu angkat bicara.
“ Hil, lu itu buat rame aja! Ini penting, geblek!” Lisa, Lita ngomong bareng. Maklum, kembar. Tapi bukan kebar siam.
“Ampun mpok!” Hilmy langsung dapet jitakan ganda dari si kembar.
Setelah itu, mereka mulai membagi barang yang akan dibagikan. Buku tulis dan perlengkapan sekolah lainnya akan diberikan pada panti asuhan, sedang pakaian bekas dan makana akan dibagikan pada gelandangan dan pengemis.
“Linda, kamu ikut rombongan yang kemana?” Rega kini bertanya pada Linda, ceweknya sendiri.
“Aku ikut rombongan yang ke panti asuhan kan? Kamu sendiri kemana Reg?” Linda balas bertanya.
“Aku ke, mmm… Pantianak! Hahaha…”
“Selalu dibuat bercanda! Lagian yang bener itu Pontianak!” Linda keki berat, eh Rega-nya sendiri malah ngakak. Langsung deh, perut Rega dicubit sama Linda. Sekarang malah Linda yang ngakak kaya orang sinting. Rega mah ngelus-elus perutnya yang panas abis dicubit itu.
“Oh, iya, yang cewek naik apa? Kalo yang cowok kan naik motornya sendiri-sendiri, kecuali Romy”
“Naik mobilnya Nisa. Loh, motornya Romy kenapa emang?”
“Dirampok adiknya tadi pagi. Buat apelin cewek barunya katanya. Bisa ilang nyawa adiknya entar di tangan Romy. Hahaha…”
“Hahaha…” Linda ikutan ketawa. “Eh, entar aja lagi, tuh Nisa udah jerat-jerit gak karuan” Sebelum ninggalin Rega, Linda mencium pipi Rega. Rega jadi malu sendiri diliatin dan disuitin sama yang lain, Linda sih tenang-tenang aja.
“Cie… Enak tuh dicium” Hilmy mencibir.
“Ya enak lah…”
“Untung bukan dicium bis. Hihihi…”
“Elu dicium dozer!” Rega keki.
“Udah! Ayo berangkat! Rom, lu mau ikut siapa?” Ahda mulai angkat bicara.
“Ikut… Ikut Linda aja, biar dicium juga! Hihihi…” jawab Romy sambil ngakak.
“Gue tonjok baru nyaho lu!” Rega emosi.
“Lu orang ini pada katrok semua! Gue setiap hari dicium ama cewek!” Dedy yang dari tadi diem sekarang ikutan ngomong.
“Ha? Siapa emang?” Hilmy bertanya.
“Nyokap gue” Dedy nyengir kuda.
“Ye… Kalo itu gue juga, bego!“ semua pada nyambitin sepatu dan tas nya ke Dedy. Dedy malah ngakak
* * *
Rega dan kawan-kawan kini berada di salah satu kolong jembatan yang kumuh. Banyak rumah-rumah kecil dari kardus dan seng-seng yang sudah berkarat. Rega iba melihat anak-anak kecil yang kurus dan berpakaian kumuh itu. Ada juga yang memakai seragam SD sambil membawa kotak kecil yang berisi sikat dan semir sepatu, Rega juga sempat ditawari tadi.
“Bang, semir sepatu bang… Biar sepatu abang bisa mengkilap seperti baru”
“Sori dik, sepatu abang sepatu kain”
“Kalo gitu rambut abang aja yang saya semir” ujarnya sambil nyengir.
“Ye… Enak aja! Ini deh buat kamu yang sudah buat abang pengen bacok kamu” Rega mengeluarkan selembar uang dua puluh rubuan.
“Ih, abang sadis! Hehehe… Makasih deh bang uangnya” bocah itu lalu pergi.
Ada juga waktu Rega diledekin waktu ngebagiin baju bekas.
“Bang, bang, ini keset apa karung sih bang?” seorang bocah berkulit hitam legam yang kebagian sarung bertanya pada Rega.
“Hush! Kamu nggak tau ya, itu bisa buat sembayang, buat selimut, atau mungkin bisa dimakan kalo kamu lagi kelaparan dan gak punya sesuatu yang bisa dimakan”
“Oh… Saya kira ini bekas digigit tikus, eh ternyata abis dimakan abang sendiri. Makasih deh bang”
“Bang… Saya butuh seragam sekolah kok malah dikasi kolor sih? Kegedean pula…” Protes gadis kecil yang berpakaian lusuh itu.
“Bang, sandal jepit saya udah putus. Ada sandal jepit gak bang?” satu lagi bocah yang berpakaian lusuh menunjukkan sandal japitnya yang sudah putus. Rega mengeluarkan selembar uang sepuluh ribuan. Bocah tadi berlarian girang. Mata Rega berkaca-kaca.
Semua barang bawaan yang akan dibagikan sudah habis, namun masih banyak orang yang belum kebagian makanan-makanan serta baju bekas. Hal yang sama terjadi pada kelompok yang pergi ke panti asuhan. Masih banyak panti asuhan lain yang belum mendapat jatah dari teman-teman. Akhirnya mereka berhenti di tukang es untuk beli es (ya iya lah! Masa beli bensin?). ada dua tukang es yang berada di sana, yang satu harganya seribu, yang satu lagi dua ribu. Jelas anak-anak pada berebut beli es yang seribu. Rega dan Linda sendiri gak kebagian. Terpaksa beli es yang harganya dua ribu. Karena penasaran, Rega bertanya pada yang jualan es.
“Bang, kenapa abang jual esnya lebih murah dari yang sebelah? Perasaan banyak, warna dan rasanya sama aja…”
“Sebenarnya harganya sama kaya yang sebelah”
“Lho? Apa gak rugi bang?”
“Ya mau gimana lagi? Tadi abis kemasukan kadal sih. Dari pada gak laku, ya mending dijual murah” ujar tukang es itu malu-malu.
Mendengar itu, yang lain langsung muntahin tuh es.
“Ih, abang! Jorok ah! Masa saya yang manis ini diminumin bekas kadal? Hoek!” Dira langsung misah misuh gak karuan.
“Saya juga bang! Ah, abangnya kok gak bilang dari tadi? Bisa-bisa saya kena diare bang!” giliran Nisa yang ngamuk-ngamuk.
“Ya, kalau saya bilang gak akan ada yang beli. Kalau soal diare itu urusan mbaknya sendiri. Bukan urusan saya”
"Kampret lu bang!" Nisa misah-misuh gak karuan.
“Untung aja kita gak beli yang itu ya Reg?” Linda berkata pada Rega sambil ngikik.
“Iya… Untuuuuuuunnnggg aja! Hahaha…” Rega tambah ngakak.
Setelah itu, Pasukan Bohlam kembali ke sekolah, Dari baksos ini mereka dapat pelajaran yang berarti besar untuk hidup mereka di masa mendatang.
“Nah, teman-teman, hari ini kita sudah melakukan sesuatu yang mulia. Ya, membantu sesame yang kurang mampu. Mungkin belum semua orang bisa kita bantu, tapi toh usaha kita sudah berusaha sebaik mungkin. Mungkin jika semua orang melakukan hal yang sama dengan yang barusan kita lakukan tadi, mereka bisa terbantu semuanya. Kita juga harus selalu ingat momen ini! Jangan dianggap sebagai angin lewat yang terlupakan. Kita juga harus ingat, suatu saat nanti, kalau kita sudah jadi orang besar, jangan kita biarkan mereka-mereka itu. Mereka butuh kita! Maka kita harus menolong mereka, sekecil apapun itu. Semoga apa yang aku katakana barusan bisa berarti bagi kalian dan diriku sendiri. Nyalakan Bohlam di otakmu, dan terangilah dunia yang gelap ini dengannya…” Rega mengakhirinya dengan tatapan bijaksana, Ahda memejamkan matanya sakan berdo’a, Dedy tertunduk, tangannya menggenggam, Dira mengadah menatap langit yang mulai gelap, Hilmy menatap tajam lurus ke depan, si kembar Lisa dan Lita mendekap dada, Linda dan Nisa tersenyum manis penuh arti, dan Romy… Lho, Romy mana? Wah gawat! Romy ketinggalan di tempat tukang es tadi! Langsung mereka ngebut menjemput Romy.
“Kampret lu semua! Masa gue ditinggal sendirian?” umpat Romy saat ketemu.
“Sori bro, kita lupa kalo lu gak bawa motor” ucap Ahda jujur.
“Iya bro, soriii... banget!” Hilmy juga meminta maaf.
“Kampret!” Romy lalu mengejar mereka untuk memenggal kepala mereka semua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar