Minggu, 01 Juli 2012
Tita...
“Kak…” Tita menggenggam tanganku.
“Iya Tita?” aku berusaha sekuat tenaga menahan air mataku agar tidak jatuh.
“Tita minta maaf ya kak? Tita tau kok kalo kadang Tita suka bikin Kakak jengkel… Tolong maafin Tita ya kak?” wajahnya yang sudah pucat itu membuat hatiku semakin teriris.
“Iya Tita sayang… Kakak maafin kamu kok. Kamu cepet sembuh ya?” aku tak kuat lagi menahannya. Air mataku sudah meleleh membasahi pipiku. Tita hanya tersenyum. Manis sekali…
Tita pun masuk ke ruang UGD. Aku hanya bisa melihatnya dari balik kaca. Bagaimana tangan kecilnya itu ditusuk oleh jarum infuse. Bagaimana dia dikenakan selang oksigen untuk membantunya bernafas. Aku benar-benar takut. Baru beberapa hari yang lalu kita bermain bersama, marah-marahan dan bercanda gurau bersama, tapi kenapa sekarang jadi seperti ini? Aku tak bisa menghentikan air mataku. Aku hanya… Bisa berdo’a dan pasrah kepada tuhan.
“Tolong jangan ambil adikku, Tuhan…”
* * *
Apa ini? Batinku… tempat ini? Putih… Aku melihat seseorang di sana. Seorang gadis kecil yang sudah tak asing lagi bagiku. Itu… Tita!
Aku segera berlari menghampirinya, tapi semakin aku kejar dirinya, dia pun semakin jauh. Aku tetap berusaha berlari mengejarnya. Akhirnya aku dapat mengejarnya. Dia hanya terdiam.
“Tita… Kenapa kamu menjauh dari kakak?” tanyaku padanya. Dia tetap terdiam tak menjawab.
“Tita!” aku berteriak. Air mataku leleh… dia pun berbalik dan memelukku. Hangat… Benar-benar hangat. Akankah ini jadi yang terakhir?
“Kak… Tita minta maaf ya? Tita gak bisa nepatin janjinya Tita ke kakak. Kakak jangan marah ke Tita ya? Tita juga sedih kak. Tita gak mau pergi ninggalin kakak. Ninggalin mama. Ninggalin papa. Tapi Tita gak bisa apa-apa lagi kak. Maafin Tita kak… Maafin Tita…”
“……” aku Cuma bisa menelan ludah. Aku tak tahu harus berkata apa lagi.
“Kak, kakak tahu? Yang namanya kematian itu tidak pilih kasih kak. Ada orang yang meninggal pada umur yang sangat tua, tapi ada juga orang yang akan kembali ke pangkuan-Nya dengan umur yang masih sangat muda. Kakak mau ikhlasin aku kan?”
“……” lidahku masih kelu. Aku tak bisa berkata sepatah kata pun.
“Kakak, Tita sayang banget sama kakak. Ayo kakak jangan sedih terus. Tita ikut sedih kalau kakak masih sedih kayak gini. Tita gak mau liat kakak sedih kayak gini” air matanya mengalir.
Aku mendekapnya lebih erat. Aku tidak mau melepaskannya lagi “Tita… Kakak ikhlas kok. Kakak bakal baik-baik aja asal kamu janji bakal baik-baik di sana dan bisa tenang. Sekarang kakak gak mau ngelepasin pelukannya kakak soalnya mungkin ini bakal jadi terakhir kalinya kakak bisa meluk kamu kayak gini”
“Kakak…” tangis Tita semakin menjadi. “Maafin Tita ya kak? Tita juga minta maaf buat papa, buat mama juga. Aku minta maaf buat semuanya…”
“Iya Tita… Kita semua pasti ikhlasin kamu kok. Pasti…”
* * *
“Nisa…” aku mendengar suara mama.
Aku membuka mataku. Tampak wajah mama yang menangis sejadi-jadinya. “Ada apa, ma?”
“Tita, nak… Dek Tita… Udah gak ada… Dek Tita, Nis…” mama memelukku. Menangis di pelukanku.
Aku pun ikut menangis. Sambil ku elus tubuh mama, aku coba menguatkan mama. “Udah ma… yang namanya kematian itu tidak melihat umur. Dek Tita sendiri yang bilang ke Nisa tadi. Dek Tita tadi juga minta maaf buat semuanya. Kita harus ikhlas ma. Kalau kita gak ikhlas Tita pergi, dek Tita pasti gak tenang di alam. Mungkin mama sedih. Ya… Mama sudah pasti sedih… Tapi kita gak boleh gini, ma! Dek Tita udah janji bakal tenang di sana… sekarang kita ikhlas aja. Terima apa keputusan tuhan. Mama tau? Apa yang udah ditentuin sama Tuhan itu adalah yang terbaik buat kita semua. Kita do’ain aja dek Tita… biar dia bisa berbahagia di alam sana… Ya… Selamat jalan dek Tita… Kita pasti kangen banget sama kamu… Kangeeennn banget!!!” mama memelukku lebih erat. Aku hanya mencoba tersenyum. Aku gak mau buat Tita sedih di sana…
* * *
Hanya ada gundukan tanah merah dengan nisan yang bertuliskan namanya. Semuanya tertunduk. Menangis. Ya… Kita semua tidak menyangka kalau Tita akan diambil secepat ini. Yaaah… Tidak ada yang tahu…
Aku dapat melihat papa yang berusaha menegarkan mama. Mama memang seorang yang paling terpukul atas kejadian ini. Aku sendiri hanya bisa menangis. Tita…
* * *
Sudah dari tadi mention bermunculan di twitterku. Semuanya mengucapkan turut berduka atas kepergian Tita. Aku terus mencoba membalas mention mereka dengan setegar mungkin. Aku bersyukur mempunyai teman seaik mereka. Tapi… Menyuruhku untuk sabar membuatku semakin rapuh. Semakin merindukan Tita. Dan juga… Susah untuk melepas kepergiannya.
Kini aku berada di kamar Tita. Aku lihat semua barang-barangnya yang ia tinggalkan. Semua barang ini menyimpan memori tentang dia. Tentang hari-harinya. Tentang kisah-kisahnya…
Ku ambil foto yang berada di pigora itu. Fotonya ketika menciumku. Hatiku teriris. Untitled dari Simple Plan pun menemanya kacaunya hatiku. Aku menangis. Menggerang. Ku ciumi foto itu. Ku peluk foto itu. Aku merindukanmu Tita… Semoga kamu baik-baik saja di sana. Kakak janji akan segera mengikhlaskanmu. Kakak janji Tita! Demi kamu, kakak bakal lakuin apa aja… Apa aja yang Tita minta!
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar