Minggu, 01 Juli 2012
Bloody story
“Aduuuh… Siapa yang mau ikut organisasi ini?” dia tampak bingung sendiri di depan kelas. Aku mulai capek mendnegarkan celotehannya dari tadi. Dari tadi moodku sangat jelek. Banyak penyebabnya. Aku ingin pulang. Sangat ingin. Tapi karena cewek satu ini bawel banget, kita semua gak bisa pulang.
“Kamu mau ikut, Jeng? Ya mau ya?” dia memintaku. Aku hanya jawab dengan anggukan. Yah, dari pada lebih lama lagi, mending aku turuti saja. Lagi pula hanya organisasi sekolah. Paling juga begitu-begitu aja.
“Yaudah, sekarang baru boleh pulang. Dan Ajeng… Kamu harus bener-bener ngikutin organisasi ini!” ancamnya.
Aku hanya melengos meninggalkannya pergi. Kepalaku sudah panas sekali karena ulangan mendadak tadi. Aku mendengar dia membicarakanku saat aku meniggalkan kelas. Emang apa peduliku? Mau ngomongin aku? Terserah kamu aja. Aku gak peduli!
“Hey, Ajeng…” seseorang dari belakang memanggilku. Itu Dio.
“Ada apa Dio?”
“Kamu beneran ikut Rantai Merah?” dia menyebutkan nama organisasi sekolah tadi.
“Iya. Kamu ikut juga?” tanyaku.
“Enggaaak… Aku mana suka sama organisasi kayak gitu. Tapi kenapa kamu ikut organisasi kayak gitu? Biasanya kamu paling males sama kegiatan sekolah?”
“Terpaksa, io…. Kalo gak gitu aku gak bisa cepet pulang”
“Kamu bakal keluar?”
“Iya. Pasti lah…” Dio tampak tersenyum mendengarku. Dia memang sahabatku sejak dari SMP. Sekarang aku sudah duduk di bangku SMA.
“Nanti main ke rumahku yuk? Aku punya film yang pasti kamu suka banget”
“Resident Evil?” tebakku.
“Hahaha… Bukan, Jeng”
Aku mengerutkan dahi. “Terus apa dong?”
Dio tersenyum iblis. “Lihat aja nanti…” dia lalu berlari pulang mendahuluiku. “Aku tunggu nanti malem ya, Jeng?” teriaknya sambil berlari.
Aku cuma geleng-geleng kepala. Aku hanya berjalan kembali menju rumah.
* * *
“Aku pulang…” aku menutup pintu rumah. Tak ada jawaban. Tampaknya mereka belum pulang.
Aku melihat ke dapur. Tampaknya aku harus masak sendiri lagi hari ini. Aku coba buka kulkas. Ada ikan salmon, daging sapi, telur, dan banyak lagi. Tapi mataku hanya terfokus pada 1 hal. Lobster? Tiba-tiba ponselku bergetar. Itu ibu.
“Halo… Ada apa ibu?”
“Ajeng, hari ini kamu masak sendiri lagi ya? Ibu ada meeting mendadak nih. Tadi mama beliin lobster buat kamu. Dimakan ya? Ajak Dio juga kalo mau”
“Iya, bu…”
“Ya sudah… Ibu tutup dulu ya? Bye sayang…” aku menutup telponnya. Lalu segera menelpon Dio untuk datang ke rumahku.
Tak lama kemudian, Dio datang ke rumahku dengan basah kuyub. Ternyata tiba-tiba hujan. Aku segera mengambilkannya handuk kering.
“Waaah… Enak ya makan lobster. Untung nih diajakin. Hehehe…” Dio terkekeh. “Sambil liat film yuk?” dia menodongkan flashdisknya. Kami pun menonton film The Number 23 dari laptopku. Setelah itu Dio segera pulang dan aku juga harus segera tidur. Ini sudah malam.
* * *
Pagi ini… Seperti biasa. Aku berangkat sekolah. Pelajaran. Istirahat. Pelajaran lagi. Pulang.
“Hey! Mau kemana kamu!?” Seseorang meneriakiku dari belakang. Tampaknya itu Winda. Ketua Rantai Merah.
“Aku? Aku mau pulang. Ada masalah?” jawabku datar dan menantang.
“Kamu berani sekali!?” dia tampak marah dan penuh benci. Tapi… Aku tidak takut. “Ikut aku!” dia lalu menarik dan memaksaku masuk ke dalam ruang Rantai Merah. Dia mendudukkanku dengan paksa.
“Kamu gak akan bisa keluar dari organisasi ini. Gak akan bisa! Dan kalau kamu mau keluar dari Rantai Merah, itu sama aja kayak kamu minta dikeluarin dari sekolah…”
“Baik-baik… Aku mengerti….” Dengan terpaksa aku mengikuti rapat ini. Lama sekali. Kepalaku mulai sakit. Syukurlah tak lama setelahnya rapat ini selesai. Ini sudah jam 9 malam. Pasti aku dimarahi.
* * *
Brak!!! Ayah menggebrak meja di depanku. Dia marah besar karena aku pulang sangat malam. Belum lagi dia sedang ada masalah dengan orang kantornya. Aku yang akan jadi pelampiasannya.
“Ngapain aja kamu sampai pulang malam begini, hah!?”
“Ajeng ada kegiatan sekolah, yah…” aku mencoba menjelaskan pada ayah.
“Alah! Alasan aja! Pasti kamu ngeluyur sama temen-temen kamu! Kamu tahu? Kamu ini perempuan. Bahaya pulang malam sendirian! Kamu bisa dirampok, bahkan bisa diperkosa atau dibunuh!”
“Iya, yah… Tapi—”
“Gak usah banyak alasan! Pokoknya ayah gak mau tahu. Kamu gak boleh pulang malem lagi. Titik!” dia lalu meninggalkanku sendirian di ruang tamu. Sendirian. Dia bahkan menarik ibu dan mematikan lampu. Di saat seperti ini… Aku hanya dapat menangis.
Mungkin sebagian orang menganggapku tidak punya perasaan, cuek setengah mati dan sebagainya. Tapi mereka tidak tahu kalau aku selalu membendung perasaanku. Aku tak dapat menunjukkan pada mereka perasaanku yang sesungguhnya. Aku selalu memakai topeng tanpa ekspresi yang sangat menyiksa. Mereka tak akan pernah tahu. Bahkan Dio sekali pun.
Di tengah isakku, aku mencoba membuka ponselku. Aku membuka foto kakak. Lebih tepatnya mendiang kakak. Dia sudah tidak ada karena semua tekanan yang dia terima membuatnya menembakkan peluru dari pistol kaliber 9mm yang selalu ada di laci mejanya. Sampai sekarang pun masih berada di sana.
“Kakak… Aku sudah sangat sakit, kak. Tapi kenapa tak ada yang mau peduli padaku? Tak ada yang mau menanyakan kabarku? aku sudah terlalu sakit, kak. Dan aku sudah tidak tahan lagi…” air mataku menetes perlahan. Tetes demi tetes. “Aku merindukanmu… Kakak” bisikku lirih.
* * *
“Ajeng?” Dio tiba-tiba sudah duduk di bangku sebelahku.
“Ada apa, Dio?”
“Matamu kenapa? Kok bengkak gitu?”
“Gak apa kok, Dio…”
“Oh iya, katanya kamu gak bisa keluar dari Rantai Merah ya?”
“Iya nih…” aku tersenyum kecut. Dio mengelus punggungku. Dio amat baik. Kalau saja dia cowok, pasti aku udah jatuh cinta padanya. Sayangnya dia cewek.
“Sabar ya, Ajeng…” dia menunjukkan raut muka simpatik.
“Iya Dio sayang. Nanti kita jalan-jalan yuk. Aku lagi pingin duduk-duduk di taman nyari udara segar nih”
“Oke Ajeng. Kita ketemu pulang sekolah nanti ya? Janji?” dia menodongkan jari kelingkingnya.
“Oke…” aku melingkarkan jari kelingkingku di jari kelingkingnya. “Janji kelingking!”
“Janji kelingking!” Dio tersenyum puas. “Udah dulu ya, jeng? Aku mau balik ke kelas dulu. Bye…”
“Bye…” aku melambaikan tanganku padanya. Dia lalu hilang di ujung lorong. Waktu kembali beku.
* * *
“Jeng, nanti ada rapat. Maaf mendadak. Kepsek sendiri yang mau ngomong” tiba-tiba salah seorang anggota Rantai Merah datang menghampiriku dan mengatakan itu tadi.
“Apa!?” aku menggebrak mejaku. Aku sangat marah.
“Ada apa?” jawabnya santai.
“Tidak bisa! Aku tidak bisa!”
“Ah... Aku tidak peduli. Yang penting kamu harus ikut. Kalau tidak... Lihat saja akibatnya” dia lalu meninggalkan kelas. Aku terdiam. Aku sudah muak! Aku pasti mengecewakan Dio...
Benar saja. Saat aku bicara padanya tentang ini, dia tampak amat sangat kecewa. Tapi dia selalu mencoba memahamiku. Aku benar-benar bahagia bisa memiliki teman sebaik dia. Tapi... Di dalam hati, aku masih menangis. Aku butuh kebebasan. Aku menyesal karena terlalu meremehkan. Bodohnya aku...
Beberapa menit kemudian para anggota Rantai Merah sudah berkumpul. Ada pak kepala sekolah yang aku tidak pernah akrab dengannya. Dia mulai berceloteh tentang rencananya. Aku sama sekali tidak peduli dengan apa yang dia ucapkan. Aku cuma diam pura-pura mendengarkan. Tampangnya itu semakin membuatku enek. Aku paksa saja...
Akhirnya selesai juga. Aku lihat jam tanganku. Pukul setengah 6 sore. Beruntung tidak terlalu malam. Aku merasa sedikit lega. Segera kulangkahkan kakiku menuju rumahku.
Rupanya ayah sudah sampai di rumah. Dia tau aku belum keluar dari organisasi sekolah ini. Dia lagi-lagi marah besar padaku. Bahkan aku ditamparnya 2 kali. Pipiku terasa panas. Itu tidak seberapa. Tetapi hatiku benar-benar sakit. Sekarang aku benar-benar membenci ayah. Benar-benar benci. Semua ini berakhir seperti kemarin. Ayah pergi dan mematikan lampu. Ruangan ini sekarang sangat gelap. Dan aku kembali merindukan kakak.
* * *
“Dio...” sapaku pada Dio.
“Oh... Ajeng. Ada apa?”
“Aku sudah gak kuat lagi, Dio. Aku sudah terlalu sakit...” rintihku padanya.
“Udah-udah ajeng. Nanti aku temani kamu bolos aja. Kalo kamu dihukum, aku bakal minta dihukum juga kok” Dio tersenyum padaku. Dia memang sahabat sejatiku.
“Tapi… Aku gak mau kamu dihukum, Dio…”
“Gak apa, Ajeng. Kamu butuh kebebasan. Dan tampaknya sekarang kamu sudah sampai pada batasnya. Kamu gak boleh maksain dirimu, Ajeng sayang. Kasian kamu…” Dio tampak sedih.
“Baiklah… Terima kasih, Dio…” Aku memeluknya. Benar-benar pelukan yang erat.
Sorenya saat kita mau bolos, tiba-tiba tanganku ditarik oleh kakak kelas berwajah garang dengan tangan yang gempal. Aku ditarik paksa kembali ke sekolah untuk rapat Rantai Merah. Aku tidak bisa melawan. Dio tampak sangat sedih. Bahkan menangis. Dalam hati… Aku juga menangis.
* * *
Aku ambil pistol kaliber 9mm milik kakak di lacinya. Ayah dan ibu masih tertidur pulas di kamarnya. Masih kurasakan bekas dan aroma darah di bibirku karena semalam ayah menghajarku habis-habisan. Dan aku sudah tidak kuat lagi. Ini masih pukul 4 pagi. Aku pun segera pergi dari rumah. Mungkin untuk selamanya…
Ku langkahkan kakiku menuju gedung sekolah. Masih sepi. Jelas saja. Ini baru pukul 5 pagi. aku sengaja mengambil jalan memutar agar perjalanan terasa agak jauh. Aku tak ingin cepat-cepat sampai di sekolah.
Aku segera menuju ke atap sekolah. Aku dapat melihat seluruh kota dari sini. Dan semua orang dapat melihatku yang tengah berdiri di sini. Aku lihat jam tanganku. Pukul 6.05 pagi. Aku sudah mendengar banyak orang yang berteriak-teriak dari bawah. Mereka berkumpul memperhatikanku. Mereka tidak akan menyangka apa yang akan aku lakukan bukan? Sesaat kemudian aku melihat Dio dan kedua orang tuaku di bawah. Dio dan ibu tampak menangis. Sedang ayah… Dia hanya menatapku tajam. Aku balas menatapnya. Tatapan tajam penuh benci. Aku yakin dia menyadarinya.
“Semuanya…” aku berbicara dari atas. Semua tampak mendengarkan. “Sekarang kalian dapat melihat aku berada di atas. Aku bisa saja melompat sekarang juga. Tapi… Aku mau mengucapkan beberapa hal”
Keadaan bertambah ricuh. Semua tampak panik. Aku sudah tidak peduli lagi. Mereka sudah sangat membuatku muak.
“Terima kasih untuk kalian semua. Terlebih untuk Dio. Aku sangat menyayangimu, Dio. Akmulah yang selalu memperhatikanku. Lebih dari sekedar teman. Bahkan lebih dari keluarga. Aku sudah tidak kuat lagi menahan semua beban ini. Dan oleh karena itu…” aku menodongkan pistol kaliber 9mm milik kakak di pelipisku. Aku rasakan air mata membasahi wajahku. Ini pertama kalinya aku menangis di depan mereka semua. “Aku tidak bisa apa-apa lagi”
Aku mendengar di belakang pintu sedang didobrak. Tapi itu sia-sia. Aku sudah mengganjalnya dengan besi dan kayu.
“Maaf… Aku harus menunjukkan pertunjukan yang mengerikan seperti ini. Tapi aku sudah cukup sakit. Bahkan sangat sakit! Aku ingin semuanya berakhir sekarang juga. Di sini…”
Aku menarik pelatuknya “Maaf semuanya… Aku selalu mengecewakan kalian” dan peluru itu menembus kepalaku. Aku rasakan darahnya mengalir deras dan sensasinya yang menakjubkan. Aku merasa… Bebas. Mungkin ini juga yang kakak rasakan.
Aku rasakan tubuhku terhempas jatuh ke bawah tanah. Begitu cepat. Tapi aku merasakan seperti dalam slow motion. Darah segar yang terus menetes dari pelipisku. Aku pasti tak terselamatkan lagi. Itu membuatku merasa lega.
Aku dapat mendengar mereka semua. Berteriak. Ketakutan. Menangis. Aku dapat melihat mereka semua sampai akhirnya gelap. Dan tak ada lagi suara yang dapat aku dengarkan.
Kakak. Tunggulah aku. Aku akan segera menyusulmu. Ke tempat yang tenang. Dimana aku Cuma bisa bersamamu. Berdua. Di tempat yang sangat jauh dari sini. Aku pasti akan datang. Tunggulah aku… Kakak
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar