Sabtu, 14 Agustus 2010

Aku berlari sekuat tenaga untuk dapat keluar dari lorong yang penuh dangan genangan darah dan mayat teman-temanku yang berserakan bagai sampah.

Aku terus berlari dan berlari. Tak peduli jantungku serasa mau meledak. Tak peduli tubuhku sudah capai. Tak peduli hujan semakin deras. Yang penting bisa keluar dari tempat mengerikan ini.

“Hah… hah… hah…” nafasku tak beraturan, tapi tubuhku ini tetap kupaksa berlari. Ya tentu. Kalau tidak, nasibku akan sama dengan teman-temanku ini.

Entah sudah berapa jauh aku berlari menyusuri lorong yang gelap ini. Tiba-tiba saja tubuhku terjatuh. Aku tidak tersandung apapun. Hanya kakiku yang sudah tak kuat lagi berlari. Lututku lemas. Bahkan sudah kucoba berdiri dengan bertengger di tembok. Tapi tetap saja. Aku terjatuh lagi.

Tap… tap… tap…

Terdengar langkah kaki dari kegelapan. Suara itu semakin mendekat, sampai akhirnya tampak seorang lelaki mengenakan pakaian dan jubah berwarna hitam. Di tangan kanannya terdapat pedang berwarna hitam sedang di tangan kirinya berwarna putih. Kedua pedang itu berlumuran darah. Wajahnya tertutup oleh penutup kepala dari jubah hitamnya. Tak salah lagi, pasti dia penyebab adanya genangan darah dan mayat-mayat temanku ini.

“S-siapa kau? A-apa mau mu?” tanyaku takut.

Dia tetap melangkah mendekatiku.

“Berhenti!” aku benar-benar takut.

Dia samasekali tidak menghiraukan ku. Tetap melangkah kearahku.

“Kuperingatkan sekali lagi, BERHENTI!” teriakku ketakutan. Tamat sudah riwayatku.

Dia sekarang berdiri tepat di hadapanku. Lalu membuka tutup kepalanya.

“Hah!” aku seakan melihat diriku sendiri. “ A,apa? Apa maksudnya ini?” tanyaku bingung.

Dia hanya tersenyum pahit lalu mengangkat kedua pedangnya tinggi-tinggi. “Good bye!” katanya dan kemudian menebaskan kedua pedang itu bersamaan kearahku.

Aku menutup kedua mataku sebelum pedang itu benar-benar mengenaiku, dan saat aku membuka kelopak mata ini, aku melihat sesuatu yang berbeda dari yang aku lihat tadi. Ya, kamarku.

“Hah… hah… hah…” aku berusaha mengatur nafasku yang tidak karuan.

Aku berusaha meyakinkan diriku kalau aku bukan berada di alam lain. Aku masih hidup dan yang tadi itu hanya mimpi buruk.

“Rox!? Kau sudah bangun?” seseorang berteriak dari lantai bawah. Pasti Leon.

“Hoamh… Sudah!” balasku malas.

“Cepat turun! Kostum kita untuk pesta perpisahan nanti sudah datang!” teriaknya.

“Iya! Tunggu! Aku mau mandi dulu!”

“Cepet ya!?”

“Haduh! Nanti kan bisa? Nyantai dikit kenapa sih? Kaya aku bakal mati besok aja!” aku benar-benar jengkel. Dia selalu berlebihan.

Setelah mandi, aku melihat kostumku untuk pesta perpisahan nanti malam.

Betapa kagetnya aku melihat kostum milikku. Pakaian dan jubah serba hitam. Seperti dalam mimpiku semalam. Membayangkannya saja aku mau muntah, mengingat genangan darah dan mayat-mayat teman-teman yang berserakan, siapapun juga akan muntah.

“Kenapa Rox? Kekecilan? Atau malah kedodoran?” tanya Leon.

“Ah… enggak kok. Cuma…” aku tak melanjutkan kalimatku.

“Cuma apa?” leon bertanya sedikit memaksa.

“Cuma… kayak dalam mimpiku semalam” ujarku ragu.

“Mimpi? Emang semalam kamu mimpi apa?” Leon jadi heran.

“Ah… Lebih baik nggak aku ceritain. Abis itu mimpi buruk”

“Oh…” katanya lalu pergi meninggalkanku disini sendirian. Kami memang bersaudara. Lebih tepatnya bersepupu. Orang tuaku meninggal hampir 7 tahun yang lalu, karena kecelakaan pesawat bersama dengan orang tua Leon. Dan sekarang, harta warisannya yang seabrek adalah hakku. Aku dirumah ini berempat bersama Leon dan 2 pembantu kakak beradik yang sudah mengabdi pada keluargaku sebelum kedua orang tuaku meninggal.

Pagi ini aku sudah berada di dalam kelas. Duduk di bangkuku yang letaknya tepat di sebelah jendela yang mengarah keluar.

“Yo, Rox. Selamat pagi…” seseorang menyapaku. Itu Zack.

“Pagi juga” jawabku singkat lalu membuang pandanganku ke luar. Aku begitu resah. Entah mengapa? Aku tak tahu.

“Kenapa kamu? Pagi-pagi udah murung. Nggak kamu banget” Zack kayaknya khawatir padaku.

“Entahlah Zack. Aku juga nggak tahu. Ada sesuatu hal yang membayangiku” kataku tetap resah.

“Ada yang kamu sembunyikan dari aku. Aku bisa menciumnya”

“Tidak. Hanya saja, mungkin tentang mimpiku semalam”

“Hm… Jadi mimpi. Mimpi apa sih? Jadi pacarnya Marry ya?” ledek Zack yang langsung digugat sama yang bersangkutan. Ya, Marry.

“Apa tadi kamu bilang? Aku hajar kamu kalau berani ngomong gitu lagi” sembur Marry yang langsung menbuat Zack mengkeret. Aku Cuma tertawa melihat adegan ini.

“Jadi bener kamu mau tau zack?” tanyaku

“Ngomongin apa sih? Aku jadi penasaran” Marry yang tadi ngamuk-ngamuk gak karuan, eh, sekarang malah ikutan.

“Mimpinya semalam” jawab Zack hati-hati biar gak kena sembur lagi.

Marry Cuma mangut-mangut.

“Sudah ah. Percakapan ini lebih baik nggak dilanjutkan” ujarku.

“Ah, kamu Rox. Selalu bikin orang penasaran” keluh Marry.

“ Bukan gitu Mar. aku takut kalian shock mendengarnya dan bisa-bisa malah nggak mau ngomong lagi sama aku. Pokoknya ngeri. Ngingat aja takut” kataku. “ Tolong biarkan aku sendiri!” aku pergi meninggalkan mereka.

“Dasar! Selalu begitu!” kata Mary dongkol lalu kembali ke bangkunya.


* * *

Di atap sekolah. Aku melamun sendirian sambil menatap langit yang biru. Hari ini aku fakultatif karena aku memang sudah mau lulus. Lebih baik bolos saja.

Tak lama, Evan tiba-tiba sudah ada di sampingku. Menatapku lekat-lekat.

“Kenapa kamu?” tanya Evan mengagetkanku.

“Wa…!!!” jeritku “ Duh, kamu ini ngagetin aja!” kataku sambil mengelus dada karna jantungku hampir copot. Mana tadi hampir jatuh kebawah lagi.

“Hahahaha…” dia menertawakanku.

“Hei! Apa maksudmu meng endap-endap kesebelahku?” kataku kesal.

“Kamu sendirinya ngelamun aja. Dari tadi aku panggil-panggil kamu tapi kamunya nggak nyahut” bantah Evan sewot. “ Lagian ngapain sih disini?”

“Aku lagi… mikirin sesuatu. Entah aku ngerasain firasat buruk. Bakal terjadi sesuatu yang nggak biasa”

“Yah… aku juga ngerasain hal yang sama Rox. Dan tampaknya bakal terjadi nanti malam. Itu yang hatiku katakan” Evan menunduk.

“Tapi nanti kau akan datang `kan`,Van?” tanyaku pelan.

“Entahlah… Aku usahain datang” katanya. “ Ke kelas yuk! Anak-anak pada asyik mainan. Kamu nggak mau ikutan?” tambahnya.

“Mainan? Mainan apa?” aku penasaran juga.

“Bunuh-bunuhan…” katannya ceria.

“Hah!? Apa kamu bilang?”

“Ya mainan doang kok! Gak mungkinlah sampai bunuh-membunuh sungguhan” jelasnya.

“Maksudmu… perang-perangan gitu?” tanyaku mencoba menebak.

“Yup! Bener 100%”

“Ye… kayak anak kecil aja” ledekku.

“Ikut nggak? Kalo enggak ya udah”

“Eh… ikut deh. Daripada pusing sendiri disini”

Aku mengikuti Evan turun ke kelas, menuruni 3 lantai sekaligus dengan berlari membuatku capek. Dan saat sampai dikelas, anak-anak yang lain sedang asyik main perang-perangan sama anak kelas B, C dan H. sedang kelas D, E, F dan G bermain sepak bola dan basket di lapangan. Sebenarnya, aku ingin ikut main basket diluar. Tapi… ya udah terlanjur perang-perangan. Ya udah nikmatin aja.

Sudah berlangsung satu setengah jam peperangan 4 kelas ini berlang sung sampai akhirnya, kami memutuskan untuk pindah lokasi ke tempat yang lebih luas. Ya, kami pindah ke taman belakang sekolah yang luasnya sama kayak satu lantai sekolah kami.

Setelah puas bermain perang-perangan yang akhirnya dimenangkan oleh gabungan kelas A dan H yang berarti kelasku yang menang, kami mengemasi buku dan pulang ke alamnya masing-masing.


* * *

Ditengah jalan, aku berhenti karna ada yang menepuk pundakku. Dan saat aku menoleh terlihat wajah Leon yang ngos-ngosan. Kayak habis lari marathon gitu.

“Sialan! Kok aku ditinggal sih?” katanya dongkol. Aku cuma tertawa.

“Salah sendiri tadi ditungguin nggak muncul-muncul!”

“Ya, tadi `kan` aku lagi main basket sama yang lain. Kamu aja yang nggak mau nunggu!” ujar Leon sewot.

“ ya deh, iya! Yang waras ngalah!”

“Lama-lama aku tonjok juga kamu nanti!!!” ancam Leon, tapi aku malah melengos ninggalin dia dan seperti tadi, dia mengejarku.

Sampai di depan rumah, Marin pelayan wanita yang muda membukakan kami pintu “selamat siang tuan” ujarnya datar.

“Selamat siang juga” jawab Leon

“Tuan mau apa? Nanti saya buatkan” tanyanya.

“Aku sedang tidak menginginkan apapun. Mungkin kamu leon?” tanyaku pada Leon.

“Aku sedikit haus. Mungkin segelas capucino dingin?”

“Baik tuan” katanya lalu pergi ke dapur membuatkan capucino dingin untuk Leon.

Aku langsung naik ke kamarku lalu mandi. Seusai mandi, aku ingin meliha-lihat isi gudang. Sudah lama aku tidak kesana. Sejak orang tuaku meninggal.

Baru saja aku memegang ganggang pintu gudang, ada yang menegurku “Tuan, untuk apa tuan pergi ke gudang? Kalau perlu sesuatu, biar saya yang mengambilkan” itu Rana kakaknya Marin.

“Tidak. Hanya saja aku ingin melihat-lihat isi gudang ini” kataku.

“Nanti asma tuan kambuh?” katanya khawatir.

“tidak apa-apa kok!” ktaku lalu langsung masuk tanpa meperdulikan Rana.

Aku mulai melihat-lihat. Banyak sekali barang antik di dalam sini, sampai akhirnya aku menemukan sebuah benda yang besar ditutupi oleh kain berwarna putih.. penasaran aku bula saja kain itu.

Aku benar-benar shock melihat sebuah lemari kaca yang berisi dua buah pedang yang cukup besar. Yang satu berwarna hitam, yang satu berwarna putih. Bentuknya persis seperti pedang yang didalam mimpiku.Ah… aku ingat. Ayah membelinya di pelelangan 8 tahun yang lalu. Itu berarti saat umurku masih 10 tahun. Aku meneliti pedang itu secara mendetail. Hm… tempaannya benar-benar bagus.

Aku tertarik untuk mencoba pedang itu, aku keluarkan saja. Ternyata cukup berat tapi entah mengapa sangat mudah menebas-nebaskannya. Terasa ringan jika digunakan.

Aku mulai berfikir untuk membawa pedang ini, entah mengapa ada sesuatu yang membuatku ingin membawanya. Mungkin karena bentuk dan warnanya yang cocok dengan kostumku.

Malam hari. Aku sudah siap dengan kostum hitamku ini. Pedang itu juga ada di dalam tas panjang yang memang dibuat khusus untuknya. Sebenarnya ada 2 jenis. Yang dimasukkan dan yang untuk langsung digunakan. Aku bawa saja dua-duanya.

Aku berangkat bersama Leon naik mobil. Didalam mobil, Leon terus memandangi tas panjang berwarna hitam ini. Sampai akhirnya dia bertanya “ Apa itu isinya Rox? Kok besar?”

“Pedang. Kenapa?” aku balas bertanya.

“Ha!? Pedang sungguhan?”

“Ya iya lah! Masa mau pedang mainan!?” katkaku sewot.

“Buat apa kamu bawa-bawa pedang?”

“Buat ngelengkapin kostumku. Biar keliatan keren”

“Sinting kamu ya?”

“Gak aku buat yang aneh-aneh kok. Cuma buat pajangan aja” kataku lalu menggunakan tutup kepala jubah ini.


* * *

Sampai di tempat pesta. Di depan tampak lorong yang luas dan panjang. Aku mengeluarkan pedangku, lalu menaruhnya di tas yang satunya.

Semua orang melihat ke arahku. Aku tak memperdulikannya. Tetap berjalan menuju gedung. Di dalam gedung juga sama. Semuanay menatapku dengan pandangan heran. Semua tidak tahu kalau ini aku. Sampai akhirnya Marry menyapaku. Ya tentu saja dia tahu, dia yang merancang semua kostum untuk kelas A.

“Ada apa Mar?” kataku sambil membuka tutup kepala ini.

“Ngapain kamu bawa-bawa pedang segala? Mau bunuh siapa kamu?” ujar Marry.

“Enggak kok. Cuma buat pajangan” jawabku enteng.

“Emm… kalo diliat-liat sih memang cocok. Kamu jadi keliatan tambah keren” Marry mengacungkan jempol.

“Hehehe…”

“Eh, ayo! Udah ditunggu yang lain”

“Oke bos!”

Aku mengikuti Marry ke deretan kelas A yang memang udah ramai. Tapi sebelum sampai ke deretan kelasku, aku ditarik seseorang. Itu Ferre. Cih! Mau diapain lagi aku!?

Aku sampai di toilet. Mau apa lagi sih dia? Perasaan aku nggak punya salah sama dia, tapi kok dia benci banget sama aku?

“Hei, apa sih salahku?” bentakku padanya.

“Apa salahmu? Hahaha… aku mau kamu babakbelur. Karna besok aku udah nggak bisa lagi” enak sekali dia ngomong!

Aku coba melepaskan tangannya dan dia melepaskan begitu saja. “ Kena pa sih kamu ini? Orang nggak salah apa-apa juga!”

Bhug!!!

Perutku dipukul. Aku Cuma meringis kesakitan. Dia tertawa senang. Pandanganku kabur lalu gelap sekejap. Tapi hanya sekejap.

Tanpa sadar, aku sudah mencabut kedua pedangku dan… cras!!! Dia kena. Langsung roboh seketika. Tampaknya dia mati.

“Tidak mungkin! Aku membunuhnya!? Ini bohong… aku… bukan… pembunuh…”

Belum sempat aku menenangkan diriku, ada seseorang yang masuk ke toilet ini. Dia melihatku dan mayat ferre. Dia berteriak histeris lalu berlari keluar memina tolong. Tanpa piker panjang, aku penggal kepalanya. Tapi saying, aku sudah diluar toilet. Semua orang melihatku, sedetik kemudian mereka berteriak meminta tolong dan berusaha menyelamatkan diri dariku dengan berlari keluar.

Aku melihat orang yang mau kabur, aku potong tubuhnya menjadi dua, lalu ada lagi di pojok sana, langsung saja aku penggal kepalanya. Di dekat pintu masih banyak lagi, dan yang pertama kutemui adalah Marry. Tanpa berfikir, tanganku mengayunkan pedang itu ke tubuhnya sehingga ada sobekan besar, lalu Zack, Evan dan Leon. Mereka semua mati. Lalu aku habisi mereka satu persatu. Ruangan ini pun menjadi lautan darah. Pikiranku masih kacau. Aku mulai berlari dan menebas kepala mereka yang mencoba lari dariku. Tak kan kubiarkan mereka lolos dan memberi kabar kepada polisi kalau aku telah membantai semua orang disini. Aku sudah di ujung lorong, lalu kembali ke gedung untuk memastikan masih ada orang yang hidup atau tidak. Lantai penuh dengan genangan darah dan mayat-mayat, dinding penuh dengan bekas percikan darah. Bau amis itu menusuk hidungku. Serasa seperti waktu itu. Ya… sama seperti… mimpiku.

Di ruangan besar itu, aku berdiri terdiam di tengah-tengah mayat-mayat ini. Tiba-tiba kepalaku terasa sangat sakit. Pusing serasa disayat-sayat. Serasa kepalaku ini mau meledak. Aku terjatuh dan tak sadarkan diri.


* * *

Ku buka lagi kedua kelopak mataku, aku sudah di ruang putih rumah sakit. Disebelahku ada Leon dan kawan-kawan yang lain. Mereka bercerita akalau aku pingsan saat di toilet karna beban pedang dan pukulan di bagian kepala oleh salah satu teman Ferre.

Ternyata hanya mimpi. Lagi-lagi mimpi. Yah untung lah, aku bukan seorang pembunuh. Lalu aku lihat pedang dari ayah. Aku tercengang seketika. Darah… Ada darah di pedangku. Apa mungkin? Kucoba lagi tatap mereka. Dan… Aku lihat mereka semua tanpa kepala. Mereka semua… Mati… Apa ini hanya mimpi? Apa aku akan terus terjebak dalam mimpi buruk ini? Aku hanya bisa berlari dan berteriak. Berharap ada yang menyadarkanku. Dan mengeluarkanku dari mimpi buruk ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar