Kamis, 28 Januari 2010

nasib mujur menyertaiku

Biru kemerahan… hanya itu yang aku lihat sekarang. Dari pinggiran pantai parangtrirtis di daerah Yogyakarta Aku menerawang kedalam pikiranku sendiri. Aku tak menyangka hal ini akan terjadi. Bertemu lagi dengan sang pujaan hati yang telah lama hilang.
“Sam… pulang yuk! Udah sore!” Senyumnya sekarang menghiasi wajahnya. Manis sekali. Ah, Nadia… wajahmu selalu alihkan dunia dan akherat (lho?).
“Sebentar Nad. Aku masih mau menikmati pantai ini”
“Perasaan udah satu setengah jam deh kamu berdiri disana? Kamu nggak capek”
“Enggak. Apa lagi ada kamu disini” kataku sambil nyengir kuda tanpa menoleh.
“Gombal” Nadia meninju lengan kiriku.
“Tapi… besok lusa pagi-pagi sekali aku udah balik ke Surabaya. Aku mau nikmatin ini lebih lama”
“Kan masih ada besok?”
“Sayangnya besok aku gak bisa pergi-pergi kayak gini Nad. Besok harus nganter papa mama ke rumah temennya, terus pergi lagi ke proyek papa. Jelas gak bisanya Nad. Kalo boleh milih, aku ingin tinggal di kota ini selamanya” aku menunduk.
“Aku bakal temenin kamu”
“Enggak! Bukannya menolak, tapi aku gak mau ngerepotin kamu Nad”
“Jadi… harus berpisah lagi ya…? LDR lagi gitu?”
“Ya, begitulah. Tapi aku janji bakal balik lagi ke sini Nad. Buat ketemu kamu dan menikmati pantai ini lagi”
“Janji ya?” dia menodongkan jari kelingkingnya.
“Janji” aku melingkarkan kelingkingku di kelingkingnya.
Mata Nadia berkaca-kaca. Aku membelai rambutnya yang panjang lalu air matanya mulai mengalir.
“Ah, Nad, jangan cengeng dong!”
“Ih! Siapa juga yang cengeng? Ini kemasukan debu tau…” Nadia cemberut tapi itu sama sekali nggak mengurangi kadar kecantikannya.
“Sini liat. Jangan-jangan bukan debu yang masuk, tapi kapal karam” kataku ngocol.
“Ah, kamu nih Sam. Sebenarnya tadi mau nangis juga, tapi malah start duluan gara-gara kemasukan debu” Nadia keki juga.
“Hahaha… berarti bener kan kamu cengeng?” aku mencibir.
Karna dongkol, Nadia langsung cubit aja. Di perut pula. Jelas aku teriak histeris.
“Duh, panas Nad!” kataku sambil mengelus-elus perutku yang panas dicubit Nadia.
“Salah sendiri malah ngejek?”
“Awas ya?” aku membalas cubitannya tapi Nadia lari menghindar.
Jadilah kami kejar-kejaran. Persis kayak anak TK. Adegan itu terus berlanjut sampai Nadia jatuh tersungkur ditanah. Lututnya berdarah terkena batu, sedang Nadia cuma meringis kesakitan sambil memegangi lututnya itu.
“Kamu nggak apa Nad?” Tanyaku khawatir. Lalu membantunya berdiri dan menopang tubuhnya kedalam All New CR-V hitamku kemudian mengobati lukanya dengan perlengkapan yang ada di kotak P3K dalam mobilku.
“Tuh kan. Salah siapa sekarang kalo udah gini?”
“Ya salah kamu Sam!” ujarnya.
“Lho, bukannya kamu yang lari duluan?”
“Iya, tapi buat menghindari cubitanmu!”
“Yang nyubit duluan siapa?”
“Yang buat aku nyubit siapa?” Nadia balas bertanya. Keki bener dia.
“Hihihi… aku. Iya deh, salah aku. Tapi kalo inget yang tadi jadi pengen ketawa”
“Iya juga sih. Mana ada orang yang matanya kemasukan kapal karam?” ucapannya membuatku tak tahan lagi untuk tertawa. Nadia ikut tertawa. Persis 2 orang gila kabur dari RSJ.
“Udah Nad! Entar ditangkep orang gara-gara disangka gila beneran lagi?” kataku yang malah membuat Nadia tambah parah tertawanya. Sampai matanya kayak garis doang, sampai lebar bibirnya melebihi lebar pantatnya sendiri, dan sampai mukul-mukul aku segala (nah yang ini yang buat aku keki, gimana enggak, mukulnya keras banget).
“Nad! Entar aku telponin RSJ loh?”
“Hahaha… ups, sori” nah, berhenti juga ngakak gokilnya.
“Nah, sekarang kan masih sore. Gimana kalo kita muter-muter sebentar?” ajakku pada Nadia.
Awalnya sih Nadia nolak, tapi setelah dibujuk dengan sekotak ice cream yang gede dan coklat silverqueen, langsung ho-oh aja. Nyebelin juga sih, tapi rasanya nyaman kalo sedang berada disampingnya.
Aku ingat petama kenal sama Nadia. Berawal dari facebook baruku (lho, kok malah nyanyi?). Tapi bener, pertama kenal Nadia itu dari Facebook. Dulu dia tinggal di Surabaya juga, tapi setahun yang lalu pindah ke daerahYogyakarta. Dulu pertama ketemu di taman perumahan. Dan ternyata, Nadia satu perumahan sama aku. Lama-lama, aku jadi suka dia, dan dia juga suka aku. Akhirnya kami memutuskan untuk menjalin hubungan. Baru 3 bulan menjalin hubungan, Nadia harus pindah gara-gara orangtuanya pindah kerja. Terpaksa kami jalani LDR, atau hubungan jarak jauh.
“Sam awas!” kata Nadia membuyarkan lamunanku. Langsung aja aku banting stir karna hampir aja nabrak bus. Sopir bus tersebut jelas misah-misuh gak karuan.
“Woi, kalo nyetir jangan meleng! Mampus, gue sukurin lo!” umpat supir bus tersebut.
“Kamu kalo nyetir jangan sambil ngelamun dong Sam! Hampir aja kita tinggal nama!” Nadia ngamuk-ngamuk karna hampir saja nyawanya melayang.
“Iya,iya… maaf Nad. Aku lagi mengingat-ingat gimana kita ketemu. Kaya lagunya gigi, yang `my facebook`. Berawal dari facebook baruku, kau datang dengan cara tiba-tiba…” belum kelar, Nadia langsung motong.
“Lah, bukannya kamu yang nge-request duluan Sam? Kalo ngomong jangan asal. Ingat! Kalo asal jangan usul, kalo usul gak boleh asal!”
“Lho, itu kan semboyannya asal-usul?”
“Biarin! Suka-suka dong!” jawabnya sekenaknya. Rese banget.
“Iya deh, yang waras ngalah”
“Eh… aku nggak gila! Kamu tuh, Sam yang gila!” ujarnya tak terima. Aku Cuma ngakak.
Setelah 5 menit gak ada topik, aku pasang flashdisk-ku ke tape yang memang ada colokan USB-nya. Sedetik kemudian terdengar alunan musik rock `broken, beat, & scarred`-nya metallica. Dari album death magnetic. Langsung flashdisk-ku dicabut sama Nadia.
“Kenapa sih Nad? Kok sewot?” protesku.
“Mending ini Sam” katanya lalu nyolokin flashdisk-nya. Setelah itu terdengar lagu `wind of change`-nya scorpions. Lagunya bener-bener pas buat para ABG (maksudnya, Angkatan Bokap Gue).
“Nad… dari mana kamu dapet lagu ini? Ini lagu kesukaan aku”
“Masa? Aku copy dari temen aku kok”
“Aku udah pernah nyari tapi nggak nemu-nemu. Boleh copy gak?”
“Banyak yang punya masa susah nyarinya?”
“Iya… boleh gak?” aku mengulangi perkataanku.
“Sure.. why not?”
Langsung dah setelah dapet persetujuan dari yang bersangkutan, langsung aku banting stir lagi. Nyari tempat parkir. Kepala Nadia sampe ketatap.
“Nad, tolong ambilin notebok hitam di belakang!”
“Ih! Emang aku babumu?” Nadia sewot
“Halah… ngambil gitu doang”
“Enggak! Kamu punya tangan sama kaki. Ambil sendiri!” Nadia tetep sewot.
“Haah… ya udah, aku ngalah” Nadia tersenyum menang.
Setelah ngambil laptop dan meng-copy sampai 100-an lagu, kami kembali muter-muter sampe mblenger. Dan tak terasa udah jam 8 malem.
“Nah, Nad… sampai jumpa lagi. Semoga dilain waktu, kita bisa menikmati masa-masa indah seperti tadi lebih lama” kataku saat sudah di depan rumah Nadia.
“Tapi janji, kamu gak akan kepincut cewek lain ya?” katanya riang setengah ngancem.
“Ih, yang kepincut malah cewek-cewek kampusku lagi”
“Idih… pede amat kamu?” Nadia mencibir.
“Hahaha… ya udah Nad, dah…” kataku lalu pergi. Di depan rumahnya, Nadia menitikkan air mata sambil melambai-lambaikan tangannya.
* * *
Keesokan paginya.
“Apa!? Aku mau dijodohin?” kataku kaget begitu mendengar ucapan papa.
“Iya… ini putri dari clien papa disini. Anaknya manis, cantik, sopan, pintar pula. Mau ya Sam? Lumayan memperbaiki keturunan”
“Lulus kuliah aja belom, ini mau dikawinin”
“Eits… siapa bilang dikawinin? Cuma dikenalin. Entar kalo udah lulus kuliah, kamu kerja di perusahaan papa terus kawin”
“Tapi… aku udah punya pacar pa…” kataku meminta pengertian papa.
“Udah, kamu ini nurut aja. Entar kan kesana juga. Kamu bisa ketemu sekaian kenalan. Oke?” terang papa panjang lebar.
“Enggak! Aku Cuma mau sama pacarku itu.” protesku.
“Pokoknya harus mau! Papa nggak mau tahu, satu jam lagi kamu harus udah rapi. Kalo enggak… kamu nggak papa anggap sebagai anak papa” kata papa yang jelas membuatku tidak berkutik.
* * *
Satu jam kemudian.
Aku sudah rapi dengan kemeja putihku dengan kaus hitam didalamnya dan celana jeans sambil duduk dengan muka ditekuk-tekuk di kursi belakang All New CR-V hitamku. Papa yang nyetir karna selain aku nggak tahu tempatnya, papa juga takut malah ditubrukin ke truk kotainer dan akhirnya koit berjamaah.
Di perjalan terdengar alunan indah lagu-lagu yang aku copy dari Nadia kemaren. Papa malah ikut nyanyi girang begitu denger lagu-lagu lama itu.
Aku tak begitu peduli dengan keadaan sekitarku. Aku sibuk merenungi nasibku yang malang bukan main.
Ciittt!!!
Mobil kami direm secara mendadak. Mama ngauk-ngamuk nggak karuan.
“Pa! kalo nyetir yang bener dong! Liat nih, jidat mama jadi benjol” kata mama sambil ngelus-ngelus jidatnya yang benjol. Persis ikan lohan.
“Maaf ma. Tadi ada kucing nyebrang sembarangan” papa meminta maaf.
“Udah! Jadi enggak? Kalo enggak pulang aja!” kataku cuek dari kursi belakang.
Mama sama papa cuma ngelirik dari depan seakan-akan berkata, Udah nurut dikit kenapa sih? Dasar!
Aku tetep cuek sambil melamun ria lagi.
Mobil kami memasuki pelataran parkir sebuah cafe yang gedungnya bergaya minimalis dan gedenya ngujubilah minjalik. Keren juga nih cafe, batinku
“He, Sam, ayo turun! Udah sampe nih!” kata mama dari depan.
“Iya…” katalu malas.
Dengan langkah yang sedikit digeret, aku memasuku cafe ini. Di pojok sana, ada seorang laki-laki dan seorang lagi perempuan. Sepertinya orangtua dari calon yang dibilang papa ini.
“Selamat pagi Zal. Jadi ini anak kamu?” Tanya pria itu.
“Selamat pagi Ndra. Iya nih, perkenalkan namanya Samudra Pasai. Sam, ayo salami om Indra! Dia teman satu kampus papa dulu” kata papi
“Sam…” kataku sambil menjabat tangan om Indra ini.
“Wah, namanya seperti nama kerajaan islam pertama di indonesia ya Zal?” kata om Indra. Aku dan papa Cuma tertawa.
“Lho, Din, Mana putri kamu? Kok nggak kelihatan?” Tanya mama tiba-tiba.
“Itu Rin, sedang di toilet. Oh ya nak Sam, nama tante Dinda. Tante ini teman satu SMA-nya mama kamu” jawab tante Dinda.
“Ooo…” aku cuma mangut-mangut kaya perkutut.
Lama aku menunggu, nggak dateng juga nih anak. Aku melamun lagi sambil melihat keluar. Aku benar-benar kacau sekarang.
“Maaf membuat semuanya menunggu” kata seorang cewek berpakaian coklat dan celana jeans itu.
Betapa kagetnya aku melihat gadis itu “Nadia…!?” hanya itu yang keluar dari mulutku.
“Lho, Sam? Kok ada disini?” Tanya gadis itu yang ternyata Nadia.
“Kalian saling kenal?” Tanya papa heran.
“Nah ini pacar aku pa! Namanya Nadia Zaskia Putri” kataku.
“Oh… jadi ini toh pacarmu Nad?” kata om indra. Nadia Cuma mengangguk.
“Jadi… sejak kapan kamu pacaran sama Nadia, Sam? Kok nggak prnah keliatan ngapelin Nadia?” Tanya tante Dinda.
“Sebelum Nadia pindah kesini te. Ngapel? Biasanya ketemuan di taman perumahan kok te. Karena Nadia pindah, jadi terpaksa hubungan jarak jauh” jawabku.
“Pa… Sam ini yang dibilang papa tadi pagi?” Tanya Nadia masih nggak percaya.
“Yah, begitulah Nad. Kamu senang kan?” om Indra menatap Nadia.
Nadia tersenyum senang bahagia sentausa. Matanya berkaca-kaca karna terharu.
“Nad, matamu kemasukan kapal karam lagi?” cletukku ngasal.
“Dari kemaren ya… mau dicubit lagi?” ancam Nadia. Mama, papa, om Indra dan tante Dinda tertawa melihat tingkah kami yang kaya anak kecil.
“Udah, ah, Nad. Kita nyanyi yuk!” ajakku lalu beranjak kursiku dan berjalan menuju panggung. Dari belakang, Nadia mengikuti.
* * *
“Seneng kan sekarang?” Tanya papa saat diperjalanan menuju hotel.
“Iya… cerewet. Kalo aku tau itu Nadia, aku dari awal gak akan ngomel kaya tadi pagi” kataku sewot. Papa dan mama malah ketawa. Bikin aku tambah keki.
“Yang penting kan sekarang” kata papa.
“Pa!!! Awas bus!!!” kata mama mengagetkan papa. Langsung papa banting stir. Persis kaya kemaren.
“Woi! Mata lo katarak ya? Jelas-jelas ada bus gini ditrabas aje! Mampus gue sukurin lo!” umpat supir bus itu.
“Kalem pak. Belom juga nnyerempet udah ngamuk-ngamuk” sahut papa cuek dari dalam mobil.
Mama jelas ngamuk-ngamuk. Persis kaya kingkong lagi ngamuk. Dan dari belakang, aku Cuma bisa ngakak kaya orang gila baru kabur dari RSJ.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar